Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Gelisah


__ADS_3

Pukul 02.00 pagi, Zee terbangun dari tidur nya. Semalam, sehabis dari kamar mandi Zee langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak ingin kemana - mana lagi, Zee sempat mendengar nenek dan anaknya sedang berbincang di luar dengan seseorang. Tapi Zee tidak perdulikan itu, ia tidak mungkin keluar dalam kondisi mata yang sembab. Awalnya hanya ingin merebahkan diri, tapi lama kelamaan Zee malah tertidur.


Saat bangun Zee melihat ke arah Bulan yang tertidur dengan pulas. Begitu pula dengan Zhea, Zhea juga terlihat sangat pulas, dengan air liur yang terlihat di sudut bibirnya. Zee hanya mengulum senyum melihat adiknya itu.


Zee berniat ke kamar mandi, namun ia sempat melirik ke atas meja rias. Dan melihat sebuah paperbag kecil berwarna putih. Zee melangkah kan kakinya ke arah meja rias, dan mengambil paperbag itu. " Apa ini? ", Zee membuka nya. " Siapa yang memberikan ini? " sembari memegangi obat dan salep nya, Zee menatap ke arah Bulan.


" Apa ini dari tamu yang kata Bulan tadi mencari ku? " Zee kembali membuka paperbag itu, dan melihat ada secarik kertas di dalam nya.


Kamu pasti membutuhkan ini, jangan lupa di minum obat nya ya. Dan oleskan salep nya di sudut bibir kamu, semoga luka nya cepat sembuh. Zhio.


" Astaga, jadi tamu tadi Bang Zhio? Dan Bang Zhio yang memberikan ini. Bang Zhio perhatian sekali kepadaku, Terima kasih Bang. Maaf sudah merepotkan mu " batin Zee. Zee meletakkan obat dan salep tadi di atas meja, lalu ia kekamar mandi. Setelah dari kamar mandi, Zee kembali ke meja rias, sesuai perintah Zhio ia meminum obat itu dan mengoleskan salep di sudut bibirnya yang terluka.


*****


Keesokan harinya...


Zhio tampak gusar, sudah pukul 10.00 pagi kehadiran Zee tidak tampak di puskesmas. " Kenapa dia tidak ada? apa dia sakit? " ingin rasanya Zhio bertanya kepada Bidan Isti dan juga Mawar. Tapi pasien mulai berdatangan, dan Zhio langsung memeriksa pasien itu. Hari ini pasien yang datang lebih banyak dari sebelumnya karena hari ini adalah hari terakhir di adakan nya bakti sosial. Karena esok harinya Zhio dan Celin sudah kembali ke kota, kembali dengan aktivitas nya sehari - hari di rumah sakit.


Sekitar pukul 15.00 sore, tidak ada lagi pasien yang berdatangan. Zhio memilih untuk pulang terlebih dahulu ke rumah karena ia sangat lelah, sedangkan Celin akan pulang bersama Bidan Isti.


" Bidan Isti? boleh saya tanya sesuatu? " tanya Celin.


" Mau tanya apa Dokter Celin? "


" Saya tidak melihat Zee? kenapa dia tidak turun hari ini? "


" Oh Zee, tadi pagi - pagi sekali dia minta ijin kepada saya. Katanya hari ini dan besok tidak bisa membantu kita di puskesmas karena ada hal penting yang akan dia urus "


" Hal penting? boleh aku tau apa itu Bidan Isti? "


" Kata Zee hari ini dia ada panggilan dari pengadilan agama, dan kemungkinan urusan nya besok baru selesai "


" Pengadilan Agama? buat apa Bidan Isti? " Celin terus mencecar Bidan Isti dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


" Zee akan melakukan sidang perceraian, Dokter "


" What... berarti wanita itu sudah menikah, dan dia akan ercerai? kenapa bercerai ya? aku jadi semakin penasaran? kira - kira Zhio tau gak ya hal ini, apa karena ia ingin bercerai makanya dia gatel sama Zhio. Panggil - panggil Abang segala, cihh.. mau ngincer Zhio rupa nya " batin Celin.


" Kalau boleh tau Zee bercerai karena apa ya Bidan Isti? "


" Maaf Dokter Celin, saya tidak tau tentang itu. Lagian itu urusan pribadi Zee. Saya tidak terlalu ikut campur dalam hal pribadi anak buah saya di sini " jelas Bidan Isti, Bidan Isti merasa risih dengan pertanyaan Celin. Sebenarnya dia tau alasan Zee berpisah, namun ia tidak ingin mengatakan hal sebenarnya kepada Celin. Itu urusan pribadi Zee. Tidak seharusnya ia menceritakan hal pribadi Zee kepada orang lain.


" Baik Bidan Isti "


" Ngeselin deh Bidan Isti, kenapa malah jawab nya kayak gitu " batin Celin menggerutu, padahal ia sangat bersemangat mendengar kisah mengenai kehidupan Zee.


****


Sesampainya di rumah, Zhio membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia lelah sekali hari ini, karena memang pasien terlalu banyak. Terlebih lagi ia kurang semangat karena tidak ada Zee di sana.


" Aku tidak sempat bertanya kepada Mawar atau Bidan Isti kenapa Zee tidak masuk hari ini? hmm.. lebih baik aku tanya Bulan " ucap Zhio lalu merogoh ponselnya. Ia hanya mengirimkan pesan kepada Bulan.


Zhio


Bulan, ini Om Zhio.


Bulan


Waalaikumsalam.. Eh Om Dokter, Bulan save ya nomornya.


Zhio


Sipp.. Oh ya, bagaimana kabar Bunda mu. Apa dia baik - baik saja, apa obat yang Om kasih semalam sudah di minum?


Bulan


Sudah Om, Bulan liat Bunda minum obat nya tadi pagi. Apa Om tau Bunda sakit apa? Bulan tanyain Bunda, Bunda bilang cuma kelelahan aja. Tapi sepertinya Bunda bohong Om, obat apa yang Om kasih ke Bunda?

__ADS_1


Zhio


Cuma vitamin Bulan, ia sepertinya Bunda mu memang kelelahan saja. Sekarang Bunda mu di mana?


Bulan


Bunda tadi pagi pergi ke kota Om, katanya ada urusan. Bulan juga gak tau urusan apa.


Zhio


Oh, baiklah. Sekarang Bulan sedang apa?


Bulan


Bulan lagi belajar Om, terus ada om chat deh.


Zhio


Belajar, oh ya udah lanjutin lagi. Maaf Om ganggu ya, yang rajin belajar nya.


Bulan


Siap Om.


pembicaraan Zhio dan Bulan lewat chat berakhir. Zhio menarik nafas panjang. " Urusan apa ya kira - kira? kenapa pagi - pagi sudah harus ke kota. Terus dia kesana sama siapa? apa aku minta nomor ponsel Zee saja kepada Bulan, agar aku bisa tanya langsung ke Zee dan tau keadaan Zee sekarang? tidak.. tidak.. jangan sekarang. Lewat Bulan saja sudah cukup. Besok aku pasti bertemu Zee, semoga saja Zee ada " banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak Zhio sekarang ini.


Dan yang membuat Zhio semakin gelisah karena besok adalah hari terakhir Zhio di desa itu, Zhio akan kembali ke kota besok. Dan kemungkinan Zhio tidak akan bertemu Zee lagi.


" Apakah aku harus mengungkapkan isi hatiku ini kepada Zee sebelum aku pergi, tapi.. apakah sudah tepat, di saat Zee sedang ada masalah dalam rumah tangganya. Aku datang dan mengutarakan isi hatiku kepada nya. Tapi.. kalau bukan besok, kapan lagi? Perasaan cinta ini sudah terlalu lama di pendam. Ya.. harus besok, apapun tanggapan Zee nanti aku harus ikhlas menerimanya. Aku tidak yakin Zee punya perasaan yang sama dengan ku, karena kini ia sudah menjadi istri orang, dan bisa jadi ia masih mencintai lelaki brengsek itu. Aku tidak memaksa Zee untuk membalas cintaku, mungkin tuhan mempertemukan ku sekarang dengan Zee karena Tuhan ingin aku melepas rasa cinta ini. Dan mengutarakan yang sesungguhnya kepada Zee, walaupun akhirnya aku dan Zee tidak bisa bersama "


**Bersambung..


Maaf kalau masih ada typo - typo yang bertebaran, Terima kasih untuk teman - teman yang sudah setia membaca ceritaku. Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan ya, othor masih perlu banyak belajar. Terima kasih juga udah kasih banyak like dan hadiah buat othor. 😊

__ADS_1


Tetap like terus ya, vote dan hadiah nya juga. Dan pasti kritik dan saran kalian itu lohh.. bikin aku tambah semangat ngelanjutin cerita nya buat kalian 😅


Sekali lagi Terima kasih.. salam sayang buat kalian.. 🙏🙏😘**


__ADS_2