
Zhio sudah menyiapkan tempat yang bagus dan romantis untuk Kevin dan Zhea bertemu.
Zhio ingin menghubungi Kevin, namun Kevin lebih dahulu menghubungi nya.
" Baru saja ingin di telpon " ucap Zhio saat ada panggilan masuk dari Kevin.
" Assalamualaikum, Vin "
" Wa'alaikumussalam"
" Aku baru aja mau telepon kamu. Oh ya aku udah siapkan tempat untuk kamu dan Zhea "
" Nah itu baru mau aku omongin Zhi, aku sudah bertemu Zhea "
" Yang benar ? dimana ? jadi gimana ceritanya ? " rasa penasaran Zhio membuat Zhio menanyakan banyak pertanyaan kepada Kevin.
" Panjang ceritanya Zhi, yang jelas aku sudah ketemu Zhea dan aku bilang kalau aku mau menikah dengannya "
" APAA ?? " Zhio terkejut mendengar ucapan Kevin.
" Aku sudah bilang sama Zhea kalau aku mau menikahi nya Zhi " ucap kembali Kevin.
" Serius Vin ? terus Zhea bilang apa ? "
" Dia bilang kalau kedua orangtua nya merestui, dia mau menerima nya Zhi. Zhea mau menikah sama aku "
Dengan penuh semangat Kevin bercerita mengenai pertemuannya dengan Zhea dan tentang Zhea yang memberinya secercah harapan.
Zhio terdiam sejenak, tidak menyangka kalau adik iparnya memilki pemikiran dewasa dan bahkan menyerahkan semua nya kepada orangtuanya. Padahal dengan jelas ia sebentar lagi akan kuliah bahkan di luar negeri, mungkin sebagian wanita pasti akan memilih untuk menolak, tapi tidak dengan Zhea.
" Zhi, kamu masih di sana ? kamu gak jantungan kan dengar kabar ini ? " tanya Kevin dan membangunkan Zhio dari lamunannya.
" Iya, aku masih di sini. Aku hanya sedikit terkejut Vin. Tapi aku turut bahagia mendengarnya "
" Terima kasih Zhio, maaf aku sudah merepotkanmu sampai-sampai kamu harus Carikan tempat untuk aku dan Zhea "
" Gak masalah Vin, santai saja "
" Rencananya dua hari lagi aku dan orangtuaku akan pergi untuk menemui kedua orangtua Zhea. Dan aku perlu bantuan kamu lagi Zhi ? "
" Aku tau, aku sudah bisa menebak. Kamu pasti minta tolong ke aku untuk meyakinkan mertuaku kan ? " tanya Zhio sembari terkekeh.
" Kamu memang sahabat terbaik aku Zhio, tau aja apa yang aku maksud "
__ADS_1
" Iya, in syaa Allah aku akan bantu kamu sampai HALAL " ucap Zhio.
" Maa syaa Allah, makasih banyak Zhio "
" Sama-sama Vin , nanti aku coba bicara dengan Zee juga "
" Baiklah Zhio, sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam "
****
Setelah menghubungi Zhio, Kevin kemudian menghubungi Zhea dan memberi tahu Zhea bahwa dua hari lagi Kevin dan kedua orangtuanya akan datang untuk menemui kedua orangtua Zhea.
Penuturan Kevin membuat Zhea gugup, karena ini saatnya ia harus memberi tahu kedua orangtuanya dan juga kakaknya Zee. Yang paling pertama Zhea harus beritahu adalah kakaknya Zee.
Zee sedang berada di dalam kamarnya, ia sedang mempersiapkan perlengkapan untuk ia bawa dinas malamnya di rumah sakit.
Tok..tok..tok..
" Masuk " teriak Zee.
Mendengar suara Zee, perlahan Zhea membuka pintu kamar. Apa kalian tahu bagaimana perasaan Zhea saat ini ? Zhea begitu gugup.
" Lagi ngapain kak ? " tanya Zhea, Zhea duduk di atas tempat tidur sembari melihat Zee yang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
" Masih dinas malam ya kak ? sampai kapan ? "
" Baru satu Minggu dek, kakak tu dapat jadwal dinas malam dua Minggu. Jadi seminggu lagi "
" Kakak gak capek ? "
" Capek pasti dek, tapi ya mau gimana lagi. Jadi kakak harus semangat terus " ucap Zee lalu tersenyum kepada Zhea.
" Kak "
" Iya kenapa ? kamu kesini pasti mau ngomong sesuatu kan ? " selesai menyiapkan bekalnya, Zee duduk menghadap sang adik dan siap mendengarkan Zhea.
" Kak, bang Kevin itu teman kakak ? "
" Tumben tanya bang Kevin, dulu bang Kevin itu kakak tingkat kakak waktu SMP. Sama kayak bang Zhio , ya lebih tepatnya sih bang Kevin itu sahabat nya bang Zhio. Kamu pasti sudah tau itu kan ? "
" Menurut kakak, bang Kevin orangnya gimana ? " tanya Zhea.
__ADS_1
" Hmm..bang Kevin itu orangnya baik, Sholeh, dan tampan " ucap Zee sembari terkekeh.
" Emang kenapa dek ? kamu suka sama bang Kevin ya ? " ejek Zee, karena tumben sekali sang adik bertanya mengenai Kevin.
" Gimana kalau bang Kevin ngajakin aku nikah kak ? "
" Bentar dek, bentar. Maksud kamu ? " Zee ingin mencerna pertanyaan yang baru saja Zhea tanyakan.
" Gimana kalau bang Kevin ngajakin aku nikah ? kakak setuju ? menurut kakak gimana ? "
Zee membulatkan kedua matanya, dan tak lama ia tertawa. Tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang adik.
" Hahaha..kamu jangan bercanda dek "
" Zhea gak bercanda kak, Zhea serius "
seketika tawa Zee terhenti, " Kamu serius ? " Zee menatap dalam wajah sang adik.
" Iya kak, Zhea serius "
" Kok bisa dek ? bukannya kamu sama bang Kevin gak terlalu dekat, gimana bang Kevin bisa ngajakin kamu nikah ? "
" Aku juga gak tau kak, tapi bang Kevin beneran ajakin aku nikah kak "
" Terus ? kamu mau ? kamu siap menikah ? " tanya Zee.
" Aku siap kak ? kalau bapak sama ibu setuju, aku setuju " jawab Zhea.
Zee menarik nafas dalam,dan mencoba berpikir. Bukannya ia tak setuju sang adik menikah dengan Kevin. Tapi apa benar adiknya dengan mantap dan siap untuk menikah dan menerima Kevin. Zee kembali teringat bagaimana dulu ia menikah di usia muda, tidak semudah itu. Dan Zee tidak mau nantinya sang adik mengalami hal yang sama seperti dirinya. Apalagi sang adik baru saja lulus SMA.
" Kak " panggil Zhea.
" Gimana kak ? " tanya Zhea kembali.
" Bang Kevin mau ketemu bapak sama ibuk, dua hari lagi kak, bang Kevin dan orangtuanya mau ke rumah kita ngelamar aku kak "
" Secepat itu dek ? " tanya Zee dan di jawab anggukan oleh Zhea.
" Bantu Zhea ngomong sama bapak ibuk ya kak. Biar nanti bapak sama ibuk gak kaget kalau bang Kevin dan kedua orangtuanya kerumah kita kak "
" Iya dek, kakak coba pikirkan dulu gimana kata-kata yang tepat buat kasih tau bapak sama ibuk "
" Iya kak "
__ADS_1
Raut wajah bahagia dari Zee tidak terlihat oleh Zhea. Bahkan Zee belum menjawab pertanyaan Zhea mengenai ia setuju atau tidak. Entah mengapa Zhea merasa sedikit sedih.
Zhea pun keluar dari kamar Zee setelah memberi tahu kakaknya itu dan kembali ke kamarnya. Di kamar Zhea memilih untuk mengambil air wudhu dan sholat, meminta petunjuk kepada Allah, dan kemudahan. Zhea menyerahkan semuanya kepada Allah, atas apa yang terjadi, ia yakin Allah pasti akan memberi jalan terbaik untuknya, dan juga untuk Kevin.