
Zhio membawa Bulan ke taman yang tempatnya tidak jauh dari kantor polisi. Zhio memberikan sapu tangan nya kepada Bulan agar Bulan menghapus airmata nya yang sejak tadi membasahi wajah Bulan.
" Bulan sudah tenang sekarang ? " tanya Zhio.
Bulan hanya menganggukkan kepalanya dengan masih sesegukan.
" Sekarang, Bulan tatap Abi " Bulan pun mengikuti apa yang di pinta oleh Zhio.
" Sebelumnya Abi dan Bunda minta maaf ya Bulan, ada hal yang belum Abi dan Bunda ceritakan ke Bulan "
" Apa ini ada kaitannya dengan Ayah ? " tanya Bulan dan di balas anggukan dan senyuman oleh Zhio.
Zhio mulai menceritakan segalanya kepada Bulan, dan Bulan kembali menangis saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
" Maafkan Abi dan Bunda ya Bulan, Abi dan Bunda gak ada maksud untuk merahasiakan semua ini dari Bulan. Hanya saja Bunda dan Abi masih belum siap dan menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya, terutama Bunda yang selalu mengkhawatirkan Bulan "
" Abi dan Bunda gak salah, Ayah yang salah karena selalu menyakiti Bunda. Hiks..hiks..hiks.. " Bulan kembali menangis, anak mana yang hatinya tidak hancur mendengar jika ayahnya sendiri telah melakukan kejahatan kepada Bundanya dan hal itulah yang membuat ayahnya harus mendekam di penjara.
Zhio kembali membawa Bulan kedalam pelukannya, walaupun Bulan bukan anak kandungnya, tapi perasaan yang Zhio saat ini rasakan sama halnya dengan yang di rasakan oleh Bulan.
Cukup puas menangis, Bulan melonggarkan pelukannya. " Bunda sekarang dimana Bi ? Bulan mau ketemu sama Bunda "
Zhio melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya, sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan seharusnya sudah saatnya Zee pulang. Zhio pun mengajak Bulan untuk ke Rumah sakit dan menjemput Zee, sedangkan Pak Niko kembali ke kantor.
Sesampai di rumah sakit, Zhio dan Bulan menunggu Zee di parkiran. Sebelumnya Zhio sudah menghubungi Zee dan memberi tahu jika dirinya dan Bulan sudah menunggu nya.
Melihat Zee dari kejauhan, Bulan bergegas turun dari mobil dan berlari ke arah Zee.
" Bunda... " teriak Bulan lalu memeluk erat Zee. Zee merasa kebingungan, tidak biasanya Bulan ikut menjemputnya, dan sekarang tiba - tiba saja datang dan memeluknya dengan erat sekali.
Zee melihat ke arah Zhio, Zhio hanya tersenyum lalu menghampiri Zee.
__ADS_1
" Bunda..bunda baik - baik saja kan ? maafkan Bulan ya Bunda, selama ini Bulan gak tau apa yang terjadi dengan Bunda " ucap Bulan dengan masih memeluk Zee.
Zee menatap Zhio, dan Zhio menganggukkan kepala nya seolah mengerti apa yang ada di pikiran istrinya saat ini. Zee pun tak kuasa menahan airmatanya, Bulan pasti sudah mengetahui semuanya.
" Bulan.." Zee melonggarkan pelukannya lalu menangkup wajah Bulan.
" Bulan gak perlu minta maaf nak, Bunda yang seharusnya minta maaf. Karena Bunda gak ceritakan masalah ini dari awal "
" sekarang ayah sudah dapat balasannya Bun "
" Maksud Bulan ? "
" Ayah ada di kantor polisi sekarang Bun, tadi nenek telepon Bulan dan bilang kalau Ayah di tangkap polisi. Jadi Bulan langsung ke sana, dan Abi sudah cerita semuanya ke Bulan " jelas Bulan.
" Benar bang ? " tanya Zee dan di balas anggukan oleh Zhio.
" Bulan janji akan selalu melindungi Bunda , Bulan sayang Bunda " ucap Bulan lalu kembali memeluk Zee.
*****
Zhio baru saja pulang dari rumah sakit, begitu masuk kedalam kamar. Ia tidak mendapati istrinya , namun suara gemercik air di dalam kamar mandi menyadarkan Zhio jika istrinya itu berada di sana saat ini.
" Abang sudah pulang ? " Zee baru keluar dari kamar mandi, melihat Zhio ia menghampirinya dan salim kepada sang suami "
" Abang sudah lama pulangnya ? "
" Baru aja sayang "
" Ya udah, tunggu bentar aku siapin air hangatnya dulu " Zee ingin kembali ke kamar mandi, namun Zhio menarik lengan nya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
Jantung Zee berdetak begitu cepat saat kedua matanya dan kedua mata Zhio saling bertemu, bahkan jarak mereka begitu dekat sehingga Zee bisa merasakan hembusan nafas Zhio.
__ADS_1
Zee tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, bahkan saat bersama Satria dulu. Walaupun dulu ia begitu mencintai Satria, tapi perasaan ini belum pernah ia rasakan.
" apa kau baik - baik saja sayang ? " tanya Zhio yang akhirnya membangunkan Zee dari lamunan nya.
" A..aku..baik bang " ucap Zee terbata-taba, ia masih belum bisa menetralkan degup jantungnya yang masih berdetak kencang.
Zhio terus menatap wajah cantik sang istri, membuat Zee semakin gugup di depan Zhio.
" Bang, lepas. Jangan menatap ku seperti itu " ucap Zee berusaha mengalihkan pandangannya.
" Kenapa belum tidur, Hmm ? bukannya Abang sudah bilang kalau kamu gak perlu nungguin Abang pulang " ucap Zhio dan kini semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
" A..aku..aku gak nungguin Abang, tadi aku udah tidur bang cuma lagi kebelet jadi bangun deh " bohong Zee.
" yang bener ? kamu gak bohong kan ? " Zhio semakin suka menggoda Zee dan kini menciumi leher sang istri.
" Abang..geli..udah yuk Abang mandi dulu udah malam nih " ucap Zee berusaha menghindar dari Zhio sembari terkekeh.
" Abang tau kamu bohong, lain kali gak usah nungguin Abang ya, sekarang kita tidur " Zhio menarik lengan Zee dan membawa Zee ke tempat tidur.
" Loh, Abang gak mandi dulu "
" abang sudah mandi tadi di rumah sakit, Abang juga udah makan. Jadi sekarang Abang cuma perlu pelukan kamu " Zhio membawa Zee kedalam pelukannya dengan sesekali menciumi pucuk kepala Zee.
" Oh ya yank, gimana keadaan Bulan ? dia baik - baik aja ? dia sudah gak keliatan sedih lagi kan ? " tanya Zhio, sejak di kantor dan di rumah sakit Zhio masih kepikiran mengenai Bulan. Zhio tau ini semua tidak akan mudah untuk Bulan.
" Sudah bang, sehabis makan Bulan langsung ke kamar dan tidur. Kata Bulan besok dia mau jenguk ayahnya bang, gak apa kan bang ? "
" Tentu boleh sayang, Abang gak akan melarang. Terlepas dari semua yang Satria lakukan, bagaimana pun dia adalah ayahnya Bulan dan akan tetap seperti itu. Kita gak boleh melibatkan Bulan dalam hal ini, jangan hanya karena Satria jahat, kita juga jadi jahat karena melarang Bulan untuk menemui ayahnya. Bulan itu anak yang pandai dan juga cerdas, Abang yakin Bulan pasti tau yang mana yang baik dan yang mana yang tidak " jelas Zhio.
Zee tersenyum lalu memeluk Zhio. " terima kasih bang " Zee tersentuh sekali dengan ucapan Zhio, lagi - lagi Zhio selalu bersikap bijak dalam segala hal. Zee benar - benar bersyukur telah memilki suami seperti Zhio.
__ADS_1
Bersambung..