Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Akhir


__ADS_3

Dimas masih melongo bengong seperti ayam terkena struk, ia masuk saja menatap kepergian Bella walau sudah sepuluh menit lalu


"Kak, loe sehat?" tanya Damar yang melihat Dimas masih diam


"Wah g salah lagi nih orang pasti kesurupan, kesempatan gue mempraktekkan apa yang gue tahu, gak sia-sia gue sellau nonton live streaming penampakan, akhirnya ilmu gue berguna" gumam Damar, ia langsung komat Kamit merapalkan sesuatu, kemudian mulutnya langsung menyembur Dimas


"Astaghfirullah Damar, loe gila apa???" tanya Dimas sudah kembali ke alam sadar


"Alhamdulillah, akhirnya sadar juga"


"kepala loe bau menyan, loe pikir gue kesurupan apa, dasar adik laknut, orang lagi ngelamun di kira kesurupan.


Loe kebanyakan nonton live streaming acara kaga jelas gitu, lagi Huek, loe makan apa sih baunya kaya spitank nguap???' ucap Dimas mual


"Gue gak gosok gigi dari pagi ahahha" ucap Damar nyengir kuda


"Damar sialan" teriak Dimas muntah-muntah di kamar mandi, sementara Damar hanya tersenyum lebar, ia coba menutup mulutnya dan mencium bau nafasnya sendiri


"Pantesan kak Dimas mabok bau mulut gue, lupa kemarin habis makan jengkol kwkwkkw" ucap Damar langsung berlari ke kamarnya lalu mandi, sebelum Dimas menghakiminya


Benar saja tak lama kemudian terdengar pintu terbuka dan keluarlah Dimas dengan mata memerah


"Damarrrr, Adik gak punya akhlak loe, sialan bikin gue mabok" maki Dimas lalu kembali masuk ke kamar mandi, ia sukses muntah-muntah hingga lemas


Damar sedang duduk memandang kamar kakaknya, kini Bella sudah tersingkir, Damar harap Dimas bisa belajar dari pengalaman, bahwa menjadi laki-laki itu harus tegas, bukan berarti kejam, namun harus bisa menarik Galur lurus ap ayang harus dan tidak, paa yang bisa dan tidak.


Hari sudah menjelang sore, namun Dimas tidak juga keluar dari kamarnya, Damar hendak memeriksa, namun ia ragu, tapi penasaran, walhasil ia meminta Mbok Iyah yang memeriksa keadaan Dimas.


Damar juga sudah memberitahukan prihal Bella yang di bawa oleh orangtuanya, mereka berjanji akan menjauhkan Bella dari Dimas, mereka juga akan melakukan pengobatan untuk Bella, jika terpaksa Bella akan di karantina dan apabila parah, ia akan di taru di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Damar ingin memberitahukan info tersebut, walau bagaimanapun Bella adalah istri sirih kakaknya yang artinya dimata Agama, Bella adalah tanggung jawab Dimas, peliknya ia belum menceraikan Bella sebagi istri sirihnya


Sementara di kamar


Dimas terlihat masih memejamkan matanya, bukan karena ia tertidur karena sepasang alisnya menurut tanda ia sedang berfikir keras sambil memejamkan matanya, sesekali terdengar ia membuang nafas berat


"Gue udah kehilangan segalanya, ini semua karena kebodohan gue, Sial, kenapa gue bodoh banget gak berfikiran panjang main masuk ke rencana Bella, sekarang gue sudah menceraikan Kinar, dan gak ada yang gue selamatkan, Arrrrggghhhhh, sial" ucap Dimas melempar gelas di nakas sebelah tempat tidurnya, hingga gelas itu pecah dan serpihannya jatuh berserakan di lantai


Mbok Iyah yang sudah berdiri di depan pintu terkejut, ia langsung mundur dengan tubuh bergetar karena terkejut


"Mbok gak kenapa-napa kan???" tanya Damar memeriksa mbok iya yang langsung jatuh terduduk karena terkejut.


"Mbok, gak kenapa-napa den" ucap mbok Iyah lirih


"Maaf ya mbok, harusnya damar yang ke kamar Kak Dimas, maafin damar"


"Gak apa-apa mbok hanya sudah terlalu tua" ucap mbok Iyah yang di papah damar duduk di sofa, damar segera mengambilkan air putih untuk mbok Iyah, karena ia masih merasakan tubuh wanita tua itu bergetar


"Sudah mbok bilang enggak apa-apa, sudah lihat kmu bagaimana" perintah mbok Iyah


Damar mengetuk pintu, namun tak terdengar jawaban dari dalam sana.


Ia kembali mengetuk pintu kamar Dimas, masih sama Tak ada jawaban.


Damar perlahan membuka pintu kamar Dimas, ia melihat pecahan kaca di lantai, sementara terlihat Dimas sedang duduk sambil menunduk, suara lirih tangisan, apa kakaknya sedang menangis??? tapi mengapa? bukannya bebannya sudah di bawa pergi, Bella sudah di bawa orangtuanya??? lalu buat apa ia menangis???, Beribu pertanyaan melintas di otak Damar, ia perlahan berjalan mendekati kakaknya dengan hati-hati karena serpihan kaca bisa saja melukai kakinya


"Kak, loe kenapa??? bukannya harusnya loe lega karena Bella dan di bawa papanya???


loe kenapa nangis??? apa loe sekarang merasa menyesal karena Bella pergi atau loe masih cinta dia???" tanya Damar namun Dimas malah semakin kencang menangis hingga tubuhnya bergetar

__ADS_1


"Kak, loe ngomong dong, sebenarnya kenapa??? gue kan jadi bingung" ucap Damar sambil menepuk punggung Dimas menenangkan


"Gue bodoh damar" ucap Dimas kemudian


"Alay itu gue juga tahu" celetuk Damar namun anehnya Dimas tak marah


"Gue bodoh dan melakukan kesalahan fatal" ucap Dimas lirih


"Maksud loe??? loe emang ngelakuin kesalahan, gue gak yakin Kinar bs maafin loe"


"Bukan itu masalahnya, sekarang semuanya sudah berakhir damar, berakhir dan gue menyesal karena gue yang mengakhiri semuanya karena kebodohan gue sendiri" ucap Dimas membuat Damar makin tak mengerti dengan ucapan Dimas


"Loe ngomong muter-muter kaya gangsingan gak jelas, maksud loe apa sih kak????”


"Gue udah menceraikan Kinar demi menyelamatkan dia, itu perjanjian gue sama Bella, tapi itu gak berpengaruh karena Bella sudah menariknya sendiri atas permintaan papanya, gue gak bisa menyelamatkan Kinar, dan gue kehilangan Kinar, tolong gue Damar, bantu gue bujuk Kinar agar mau rujuk sama gue" ucap Dimas.


Damar langsung mendorong kakaknya dan menghadiahkan Dimas dengan bogem mentah bertubi-tubu, ia seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, hingga Dimas babak belur, mbok Iyah yang melihat hal itu berteriak histeris, hingga ia memaksa masuk dan kakinya tertusuk beling.


Karena teriakan kesakitan mbok Iyah berhasil menyadarkan Damar dari kalap nya, ia mendekati mbok Iyah dan membopongnya, membawa mbok Iyah ke sofa, lukanya lumayan dalam dan lebar, Damar tanpa minta persetujuan mbok Iyah langsung membopong wanita yang sudah seperti ibunya sendiri, menuju klinik terdekat


Sepanjang jalan Damar hanya diam, mbok Iyah juga tak bisa berkata apa-apa, ia merasa sakit dan perih di kaki yang terkena pecahan beling, hingga sampai klinik, nanar memilih membopong mbok Iyah alih-alih mendorongnya dengan kursi roda


Setelah setengah jam luka mbok Iyah sudah di jahit dan di perban, damar menghampiri mbok Iyah yang meringis kesakitan


"Mbok gimana masih sakit?" tanya Damar lembut


"Susah enakan den, itu kamu, obati luka di tangani" ucap mbok Iyah melihat tangan Damar yang berdarah karena sebelum keluar ia menonjok meja rias hingga kacanya menancap di tangannya, ia sangat emosi, bisa-bisanya Dimas tak punya akal sama sekali, ia merutuki kebodohan kakaknya itu


"Damar gak apa-apa mbok, yang penting mbok sudah diobati"

__ADS_1


"Kamu juga harus, atau mbok akan marah padamu" ucap mbok Iyah protes, akhirnya luka damar di obati dan di perban, beruntung lukanya tak patah, hanya banyak pecahan beling yang menancap di tangannya sehingga setiap kali di tarik, ia meringis kesakitan


"Dimas sialan" gumam Damar kesal tak terkira,


__ADS_2