Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Arogan


__ADS_3

”Dok bagaimana kondisi anak saya???"tanya Bella khawatir


"Sepertinya kanker ada benjolan tak normal didinding rahim anda, saya khawatir ini adalah sel kanker yang kembali aktif karena anda punya riwayat kanker.


Kondisi janin dalam kandungan anda juga ada masalah, detak jantungnya tidak normal saya khawatir janin anda punya kelainan jantung”


Jegeeeerrr


Seperti petir di siang hari, berita yang di sampaikan oleh dokter Brian membuat Bella kaku, matanya melotot tak percaya, air matanya meleleh dari sudut matanya, bibirnya kelu, tubuhnya terlihat lemas


"Kita perlu pemeriksaan lanjutan Bu, agar kita tahu tindakan yang selanjutnya kita lakukan, saya harap ibu segera melakukan pemeriksaan lanjutan agar tidak membahayakan kesehatan ibu" ucap dokter Brian


"Do..dokter aaapa yang dokter katakan benar bahwa...”


Bella tak mampu meneruskan ucapannya, bibirnya bergetar dengan air mata berlinang,


Bella mengigit bibirnya mencoba menguatkan hatinya


Ia sangat shock dengan kenyataan ini, anak yang dianggap bisa menyelamatkan dirinya untuk kembali pada Dimas malah kondisinya tak baik, ia tak bisa kehilangan anaknya, atau Dimas akan meninggalkannya, dan Bella tak mau itu terjadi


"Apa benar jantung anak saya tidak normal? apa itu berindikasi sesuatu dok?" tanya Bella masih berharap janin dalam kandungannya hanya karena ia sedikit stress sehingga berpengaruh pada anaknya


"Itu saya belum bisa memastikannya Bu, namun saya khawatir itu gejala lemah jantung bawaan, tapi untuk memastikan ibu harus kembali lagi seminggu lagi, sekalian pemeriksaan menyeluruh.


Saya harap ibu banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, kita lihat perkembangannya seminggu lagi"


ucap dokter Brian merapihkan alatnya, ia lalu kembali duduk di belakang meja kerjanya, mencatat hasil pemeriksaan tadi, sementara Bella masih terdiam di tempatnya, air matanya terus berlinang


"apa yang harus gue lakukan??? gue harus mempertahankan anak ini karena dia jackpot gue untuk kembali pada Dimas, jika anak ini tak ada mati gue" ucap Bella masih melamun, ia menangis bukan karena sedih dengan kondisi anaknya, namun ia sedih karena memikirkan nasib nya, ironis, seorang ibu yang egois.


"Bu, maaf sudah selesai pemeriksaan” ucap seorang perawat membuyarkan lamunan Bella


"Aaa, iiya, maaf" ucap Bella membenarkan kembali pakaiannya, setelah selesai ia langsung duduk di depan meja kerja dokter Brian


"Apa ada keluhan dengan kondisi Bu Bella?? misalnya sakit perut, keram, mual atau yang lain??"

__ADS_1


"Hmm, saya hanya sering pusing dok, beberapa hari ini pusingnya sangat parah, lalu ada rasa tak nyaman di bagian bawah pertu serta keram. saya pikir itu karena kehamilan saya"


"Apa ibu konsumsi obat selama ini??" tanya dokter Brian


"Iya dok, jika sudha sakit sekali saya minum obat sakit kepala" ucap Bella


"Apa selama kehamilan anda masih merokok atau minum minuman keras???" tanya dokter Brian lagi


Bella terlihat diam, ia tak menjawab pertanyaan Brian


" Mana mungkin gue gak ngerokok hanya karena hamil, dan baru semalam gue pulang dugem, masa iya gak minum?? apa yang harus gue omongin ke nih dokter ya?? kalau gue bilang masih, nanti dia pasti berfikir gue wanita gak baik-baik, udah tahu hamil tapi masih minum dan merokok, duh gue harus jawab apa dong?m” Bella tak tahu harus berkata jujur atau tidak, ia lebih menimbang reputasinya di depan dokter Brian karena jika besok ia datang dnegan Dimas, bisa habis kena damprat Bella oleh Dimas.


"Bu, anda baik-baik saja???" ucap dokter Brian membuat lamunan Bella buyar


"Ahh, iya dok, maaf saya melamun.


Tidak dok, tapi hanya sesekali saja saya merokok dok, saya lagi belajar untuk berhenti merokok karena kehamilan saya" ucap Bella tersenyum canggung


"Sebaiknya anda berhenti Bu, rokok tidak baik buat kesehatan, terlebih dengan kondisi anda hamil.


Saya akan menuliskan resep untuk sakit kepala dan kram ibu, ingat ya Bu, di minum saat ibu sudah sangat kesakitan, lalu saya juga akan meresepkan obat penguat kandungan dan vitamin, ingat jangan stres dan cape.


"Baik dok, terima kasih. permisi" ucap Bella bangkit lalu keluar dari ruang dokter.


Bella melangkah gontai, ia lalu menuju toilet, membasuh wajahnya dengan air,


"Apa yang harus gue lakukan?? gue harus mempertahankan anak ini apapun caranya" ucap Bella lirih.


Setelah selesai menebus obat, Bella langsung menuju rumah untuk istirahat, kepalanya kembali berdenyut-denyut


Sesampainya di rumah, pintu utama terkunci, Bella memencet bell rumah beberapa kali, namun asisten rumah tangga tidak juga membukakan pintu rumah, sangking kesalnya Bella langsung menggedor pintu rumah dengan marah, hingga security menghampirinya karena suara gaduh yang ia buat


"Malam Bu, apa belum ada yang buka??" tanya security yang bernama pak Asep


"Sudah lihat pakai nanya lagi" teriak Bella marah

__ADS_1


"Astaghfirullah" ucap pak Asep lirih sambil mengelus dadanya, wanita ini sungguh berbeda dengan nyonya rumah yang terdahulu yaitu Kinar.


perbedaan mereka bagai langit dan bumi.


Jika Kinar sangat sopan dan menghargai para pekerja di rumahnya, Kinar tidak pernah memandang rendah mereka, sangat berbeda dengan istri majikannya yang satu ini. wanita ini sangat arogan, kasar dan suka merendahkan para pekerja di rumah ini, bahkan ia tak sedang mencaci maki jika mereka berbuat salah, membuat para pekerja gerah dan sakit hati di buatnya.


Mereka berharap jika Kinar kembali kerumah ini.


"Apa kamu bilang pak tua??? mau saya pecat ya kamu??? Cepet tunggu apa lagi, bantu saya buka pintu atau perlu kamu dobrak sekalian, sial kemana pembantu sialan itu jam segini, saya mau masuk pake di kunci" ucap Bella berkacak pinggang


"Baik Bu" ucap pak Asep. Pak Asep tidka mau kehilangan pekerjaannya, ia memilih diam dan membantu mengetuk pintu rumah, karena mbok Ratmi menjaga nyonya besar ( Mariska) sehingga di rumah ini hanya ada seorang pembantu, Dian.


Pak Asep hidup sebatang kara, ia dipekerjakan oleh Kinar yang kala itu melihat pak Asep berjualan rokok di pinggir jalan, lalu Kinar menawarkan ia pekerjaan, walau hanya security pak Asep tak keberatan, selain mendapatkan gaji besar, pak Asep juga mendapatkan tempat tinggal yang bisa di katakan nyaman, serta jam kerja yang di buat singkat hanya dari jam dua belas sampai jam sembilan malam


Tak lama kemudian pintu di buka, Dian masih mengenakan mukenanya, rupanya ia habis sholat


Plaaak


Sebuah tamparan mendarat di wajah wanita muda itu, ia meringis menahan sakit, tak menduga mendapat tamparan dari Bella


"Kemana saja kamu d*ngu?? saya mengetuk pintu dari tadi sampai kaki saya pegal ga di buka juga.


Mau saya pecat kamu?? kenapa semua pekerja di rumah ini tidak ada yang becus, sia-sia suamiku menggaji kalian, sial" gerutu Bela melangkah masuk tanpa perduli suara isak tangis lirih Dian.


Dian merasakan pipinya panas dan sakit, ia tak menyangka jika majikan barunya itu tega menamparnya hanya karena hal sepele.


Dulu Kinar begitu sayang dan perhatian padanya, tak pernah sekalipun Kinar membentak ataupun memarahi Dian, justru Kinar malah menganggapnya adik dan menyekolahkan Dian, Namun wanita ini....


"Yang sabar, namanya kita pekerja ya nasibnya seperti ini. Gak semua nyonya rumah seperti ibu Kinar yang baik hati. Lain kali gak usah di kunci kalau kamu sholat, ada bapak yang jaga di depan sama si Syarif.


sudah masuk sana kompres mukamu sama batu es biar gak bengkak" ucap pak Asep mengelus puncak kepala Dian. Pak Asep sangat kasian pada bocah malang itu.


Dian hanya mengangguk pelan dan masuk ke dalam rumah, ia masuk ke kamar dan menangis, bukan karena sakit di wajahnya namun perlakuan kasar Bella padanya.


"*Ya Allah, bagaimana kedepannya nanti jika bu Kinar beneran cerai dari pak Dimas?? bakal jadi neraka rumah ini karena wanita itu" gumam Asep mengelus dada.

__ADS_1


Sementara Dian tak berminat mengompres wajahnya ia langsung masuk ke dalam kamar dan menangis*.


"Mba Kinar, Dian gak betah di rumah ini, huhuhu"


__ADS_2