Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Mengejar bahagia


__ADS_3

Setelah Reyhan dan Adam pergi, Arfan memanggil Wawan ke kamarnya, mereka memang kerap kali berbincang santai di kamar Arfan, jika ke ruang kerja mereka takut kedua orangtua mereka mencuri dengar obrolan mereka.


Sebagai Orangtua sangat senang kedua anaknya akur dan kompak, walau sifat keduanya bagai langit dan bumi, namun tak membuat mereka berdua jauh, justru perbedaan itu yang membuat kedua saudara itu saling mengisi.


Wawan yang sudah menduga maksud kakaknya segera mengekor Arfan menuju kamar kakaknya


Setelah masuk, mereka langsung menuju balkon rumah


"Kak aku gak tega lihat Adam seperti itu, dia seperti kehilangan jiwanya.


Yang aku dengar dari papa jika Adam adalah dokter jenius yang berbakat, sayang saja dia telat menyadari perasaanya, Aku yakin dia akan menyesalinya seumur hidup" ucap Wawan menggeleng pelan


"Apa kau yakin dia sangat mencintai Jui( panggilan kecil Amanda Juwita)"


"Yakin kak, lihat aja. wajahnya tadi , maksud Wawan sorot mata putus asa nya"


"Tunggu kakak di mobil, setengah jam, beri waktu kakak setengah jam, kakak akan menyusul ke mobil".


"Hah, mau apa kak???" tanya Wawan bingung


"Menyelesaikan sesuatu yang harus di selesaikan, dan aku butuh bantuan mu setelah aku berbicara pada mama dan papa"


"Jangan bilang......" namun Arfan mengangguk penuh keyakinan


"Kak, ini gak adil buat kak Arfan, kakak juga berhak bahagia" protes Wawan tak senang


Sementara Arfan hanya tersenyum hangat dan memegang kepala adiknya


"Berhenti memperlakukanku seperti anak kecik kak. jangan mengabaikan ucapan ku kak" protes Wawan kesal


"Justru karena kakak menghargai ucapan mu, kakak bangga kamu sudah tubuh dewasa, tidak seperti dulu lagi.


Percayalah, baik menurut orang lain, belum tentu baik menurut kita.


Amanda mencintai pria itu, dan begitu pula sebaliknya.


Kakak membiarkan Adam merasakan sakitnya memperjuangkan apa yang ia cintai dan putus asa, sama seperti yanag amanda alami dulu, kini impas.


Jika kakak menikahi Amanda, kakak gaya mendapatkan tubuh tanpa jiwa, apakah kakak atau Amanda akan bisa membentuk keluarga bahagia???? apakah kamu bisa bertahan lama??? jawabannya tidak, jadi lebih baik melepaskan apa yang tidak seharusnya di genggam" ucap Arfan santai


"Tapi kak, bagaimana dengan papa dan mama??????"


"Susah percaya sama kakak, ini yang terbaik" ucap Arfan menepuk bahu adiknya


"Jika menurut kakak ini yang terbaik, aku hanya bisa mendukungmu"


"Thank adikku, tunggu aku di mobil ya" ucap Arfan masih dengan senyum lebar


Wawan hanya menghela nafas dan langsung menuruni tangga berpamitan kepada kedua orangtuanya, lalu menunggu Arfan di mobil.


Sementara Arfan meminta kedua orangtuanya untuk berkumpul


"Tumben kak, ada apa.nih pagi-pagi sudah mengumpulkan kami" ucap Lilis penasaran


"Ma, pa, Arfan mau mohon maaf sudah mengecewakan mama dan papa, Arfan mau membatalkan pernikahan Arfan sama Jui"

__ADS_1


"Apaaaa???" teriak Lilis dan Adji bersamaan, keduanya sambil bangkit dari duduknya karena terkejut


"Nak, ku sedang tidak demam atau mungkin kamu sedang gugup, tapi ini beneran gak lucu sayang.


Kita sudah melamar Jui, apa kamu pikir pernikahan itu main-main????" ucap Lilis sambil memegang kening anaknya


"Arfan, papa sedang tidak ada mood untuk bercanda"


"Aku gak bercanda pa, Adam dan Amanda saling mencintai, aku hanya orang ketiga........." Arfan mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, sementara kedua orangtuanya hanya mendengarkan tanpa berniat memotong ucapan Arfan


"Jadi menurutmu ini yang terbaik??? apa keluarga pak Gilang akan menerimanya???


Jika papa boleh jujur, papa tidak setuju, hanya saja papa punya prinsip tak mau memaksa masalah pernikahanmu, sejak awal kamu yang ingin melamar Jui, kini kamu berubah. Mau di taruh di mana wajah papa nak???"


"Papa bisa menghukum Arfan apapun, tapi please biarkan Amanda bahagia, Arfan kn sangat bersalah jika membiarkan Amanda tetap di sisi Arfan"


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu???" tanya Lilis meyakinkan hatinya, Arfan mengangguk pasti


"Yakin" ucap Arfan tanpa ragu


"Baiklah, kamu juga harus siap menerima kemarahan om Gilang dan istrinya, apa kamu siap???"


"Siap pa, Arfan sekarang mau kerumah Jui menjelaskan semuanya pada om dan Tante"


"Hufh baiklah, papa hanya berharap kejadian ini tak membuat persahabatan kami pecah" ucap Adji pasrah


"Apa perlu kami ikut nak??? " tanya Lilis khawatir dengan putranya


"Enggak usah ma, percaya sama Arfan ya?"


Empat puluh menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Gilang, Arfan langsung turun di ikuti oleh Wawan yang terlihat tegang


Setelah menunggu beberapa menit kedua orangtua Amanda menyambut kedatangan Arfan dan Wawan


mereka memang sudah kenal sejak kecil dengan kedua anak itu dan sudah menganggap keduanya putra mereka, terlebih sebentar lagi Arfan akan menjadi menantu mereka, lengkap sudah kebahagian mereka


"Tante, om, Arfan datang kesini ada yang perlu Arfan bicarakan dengan om dan Tante.


ini mengenai pernikahan Arfan dan Jui"


"Maksud kamu apa nak???" tanya Sinta gelisah, ia takut Arfan tahu jika Jui menemui lelaki lain, dan lelaki itu adalah pria yang amat Jui cintai.


mengingat cerita Juita bahwa pria itu awalnya datang dengan Wawan.


"Arfan ingin membatalkan pernikahan kami"


"Apaaaaaa" teriak Gilang dan Sinta serentak dengan mata membelalak tak percaya


"Kamu mempermainkan anak om dan nama baik keluarga Arfan!!!!" teriak Gilang mulai tersulut emosi


"Om dengarkan penjelasan Arfan dulu"


"Apa lagi yang mau kamu jelaskan???? Om gak menduga ya kamu tega berbuat begini pada kami"


"Om, tolong dengarkan penjelasan Arfan lima menit saja om," ucap Wawan berusaha membantu kakaknya

__ADS_1


"Pa, biar Arfan menjelaskan alasannya" bujuk Sinta menarik suaminya untuk duduk kembali


"Jelaskan semuanya Arfan, sungguh Tante dan om kecewa sama kamu" ucap Sinta tajam


"Pernikahan tetap berlangsung, hanya bukan Arfan mempelai pria nya om"


"Apa maksud kamu??? kamu sudah gila???" bentak Gilang makin emosi


"Adam, pria yang beberapa waktu lalu kerumah Amanda, adalah orang yang berhak menjadi suami Amanda.


Arfan mohon maaf jika awalnya Arfan egois ingin memiliki Jui sebagai pelarian, namun Jui berhak bahagia dengan pria yang ia cintai.


Jika pernikahan ini di teruskan bukankah sama saja dengan kebohongan??? Arfan bisa menikahi Jui, tapi hatinya tetap milik orang itu, bagaimana kami bisa langgeng dan harmonis???


Om, Tante, biarkan Jui menikahi pria itu, Arfan bisa menjamin pria itu akan mencintai dan menghargai Jui.


Pria itu juga sudah menyadari kesalahannya, ia sangat mencintai Jui"


"Kak Arfan..." Amanda menatap Arfan tak percaya, lelaki yang sewaktu kecil ia idam-idamkan jadi suaminya, rela melepaskannya.


Ia memang sangat mencintai Adam, tapi ia tak tahu paksa Adam memiliki perasaan yang sama padanya


"Om tidak bisa memutuskan begitu saja, kamu benar-benar gila Arfan!!!!"


"Demi melihat Jui bahagia, Arfan rela om, Tante,


karena Arfan sudah berjanji akan menjaga Jui. kali ini janji Arfan sebagai seorang kakak memberikan kebahagiaan buat adiknya"


"Kak Arfan huhuhu" Amanda berlari memeluk Arfan, ada rasa bersalah dan lega tidak harus membohongi perasaanya pada Arfan


"Jangan menangis, kejarlah dia, sebelum dia kembali ke negaranya. Dia sangat mencintaimu" ucap Arfan menghapus air mata Amanda


"Maaf Jui sudah menyakiti hati kakak"


"Justru kakak yang tak mau kamu tersakiti jika kita menikah nanti, segera kejar dia dan bawa dia menghadap papa dan mamamu"


"Kak????" tanya Amanda ragu, ia menoleh pada mama dan papanya, Sinta mengangguk sambil menghapus air matanya, sementara Gilang hanya menghela nafas sambil memijit kepalanya yang berdenyut karena ulah anak-anaknya


"Pergilah nak, kejar kebahagiaanmu.


Bawa ia kehadapan kami" ucap Sinta mewakili suaminya yang masih shock


"Ayo kakak antar" ucap Miko mengulurkan tangannya


"Kak Arfan, Jui sayang kakak.


terima kasih" ucap Amanda memeluk Arfan sekilas dan langsung menyambut tangan Miko


"Ayo, aku antar kalian " ucap Wawan bangkit,


"Miko, jaga adikmu dan bawa baj*Ngan yang sudah membuat kacau adikmu"


"Papa...." Sinta melotot kearah suaminya


"Siap pa, kita hukum orang itu menikahi Jui" ucap Miko mengedipkan sebelah matanya, mereka langsung tancap gas menuju jakarta

__ADS_1


"


__ADS_2