
Sementara di meja makan
"Ma, sepertinya hubungan kak Dimas dan kak Kinar sudah mulai membaik" bisik Damar begitu melihat kakak dan kakak iparnya meninggalkan meja makan
"Iya mama juga lihat, mama lega sayang, akhirnya hati Dimas luluh.
Mama tak salah pilih kan??? Kinar memang wanita yang luar biasa, mama suka sejak perkenalan pertama kami" ucap Mariska mengenang saat pertama berjumpa Kinar
"Damar juga percaya kak Kinar bisa meluluhkan hati kak Dimas.
Ini baru dua bulan, Damar harap Kak Dimas bisa secepatnya melupakan si Bella model sialan itu"Umpat Damar benci, karena ulahnya kakaknya sampai bermusuhan dengan mamanya hingga akhirnya mempermalukan keluarga besar mereka dengan pergi menjelang hari pernikahan mereka
"Sudahlah sayang, yang terpenting masa depan kakakmu dengan Kinar, mama sudah tidak mau membahas wanita itu. Semoga wanita itu tidak pernah datang dan mengganggu kehidupan kakakmu lagi" ucap Mariska
"Semoga ma”
Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat Kinar berjalan ke arah mereka
”Sudah jalan mereka sayang?" tanya Mariska tersenyum lembut
"Sudah ma, baru saja” jawab Kinar
"Apa kamu sudah sampaikan pada suamimu mau meneruskan kuliahnya yang tertunda?"tanya Mariska
”Iya kak, sayang kan kakak gak lanjutkan. tinggal beberapa semester trus skripsi, ya walaupun nantinya kakak di izinkan kerja atau gak itu urusan nanti, yang penting cita-cita kakak gak gantung di tengah jalan, rugi waktu dan biaya kak" ucap Damar menimpali
"Aku belum bilang sama mas Dimas ma, tunggu waktu yang pas.
Aku juga berfikiran begitu, aku mau jadi dokter bedah karena...sudahlah, nanti aku akan bicara pada mas Dimas" ucap Kinar tidak meneruskan ucapannya
ia ingin mengatakan karena mama kandungnya menderita kanker dan ia tergerak untuk menjadi dokter, namun Kinar urungkan, ia teringat pesan kakek neneknya untuk membiarkan semuanya seperti sekarang, bahwa hanya Satria dan Anggi orangtuanya. Bukan Kinar tak mengakui orangtua kandungnya sendiri, namun Mariska tidak pernah bertanya detail tentang hidupnya di masa lalu, dan ia tak mau membahas itu.
Bagi Kinar mereka semua orangtuanya, satu yang melahirkan dan satu yang merawat dan mendidiknya.
"Karena apa kak???"tanya Damar penasaran
"Ma, mau makan apa untuk siang nanti???"tanya Kinar pada Mama mertuanya, ia bukan tak mendengar pertanyaan Damar, namun ia pura-pura tak mendengar.
Mariska juga turut merasa penasaran dan heran, mengapa Kinar mengalihkan pembicaraan dan bahkan mengabaikan pertanyaan Damar, namun ia tak mau bertanya lebih jauh, ini privasi mantunya, dan ia tahu batasannya.
"Mama apapun yang kamu masak, mama suka sayang.
Masak yang segar-segar untung siang hari"
"Uhm, sayur asem , ikan asin, tempe goreng, tahu goreng sama ikan bandeng presto di goreng, sambal nya sambal terasi. Gimana ma?" tanya Kinar tak yakin mertuanya pernah makan itu
"Kelihatannya enak,mama setuju" ucap Mariska
__ADS_1
"Enak ma, kak jangan lupa jengkol balado ya campur teri" timpal Damar menelan Saliva nya
"Jengkol ini,???" Kinar ragu takut Mariska tidak suka aromanya
"Masak kan saja, entah ini anak pernah makan dimana, kalau dia minta berarti dia suka" ucap Mariska
"Suka banget ma, makan di depan kampus, kan ada masakan khas Betawi, Damar sering makan di situ ma, ikan asinnya jambal roti, beuh gak nengok kali ada cewe lewat saking asiknya makan" ucap Damar
Kinar hanya bisa tertawa menertawakan Damar, walaupun mereka kaya raya, namun Damar tipe yang sederhana dan apa adanya berbeda dengan sosok Dimas yang maunya serba sempurna, perfeksionis.
Mariska hanya menggeleng melihat putra sulungnya yang lebih mirip dengan almarhum suaminya
"Tenang aja kakak buatkan yang kamu mau, dijamin gak kan bau jengkol balado ya" ucap Kinar tersenyum
"Mantab kak, tapi siap-siap ada yang complain haha, anak kesayangan mama kan gak pernah makan kaya gitu" sindir Damar
"Biarkan dia makan apapun yang istrinya masak, kamu juga nanti harus menghargai masakan istri, apapun yang dia masak, kamu harus syukuri dan nikmati" ucap Mariska menasihati putra bungsunya
"Damar nanti mau cari calon suami lewat test dulu ma, kalau bisa masak lolos seleksi" ucap Damar tersenyum
"Oh gitu, jadi mba Sum bisa dong daftar????" goda mbak Sum yang sejak tadi ikut tertawa
"Mba Sum, ih gak boleh" sungut Damar memanyunkan mulutnya, semua orang di sana tertawa melihat Damar yang kesal.
Siang harinya
Siang ini hanya ditemani mba Sum, sedang Mariska pergi sejak sarapan pagi nanti dan akan kembali jam satu siang nanti.
Damar berjalan menuju meja makan karena ia sudah mencium bau sedap balado jengkol
Ia langsung duduk, menyendok nasi dan makan,
Kinar hanya tersenyum melihat Damar yang makan dengan lahan, sesekali terlihat ia menyeka keringatnya karena kepedesan
"Assalamu'alaikum"Dimas pulang untuk makan siang
Damar melihat heran kearah kakaknya namun kembali cuek, asik menikmati makanannya
"Makan apa loe de? kayanya enak banget sampai keringetan gitu" sapa Dimas yang langsung duduk di samping Damar
"Ini kak, loe harus coba, gue jamin loe pasti suka, ini makanan ternikmat sedunia"
"Alay, cuma sambel goreng aja juga, mama sering masak dulu" jawab Dimas, ia meneguk air putih yang di siapkan Kinar lalu menerima piring berisi nasi yang sudah di sendok kan istrinya
"Wah gak percaya, ini tuh kancing Levis, alias daging unta, loe harus coba" ucap Damar sambil meminta Kinar menyendokan nasi lagi ke piringnya
Dimas mengerutkan alisnya ketika melihat menu di meja makan, dia tidak pernah makan sayur dan daging unta atau kancing Levis seperti ucapan adiknya, darimana adiknya bisa tahu masakan itu, pasti Damar sembarangan makan di kaki lima lagi.
__ADS_1
"Kamu masak apa sayang?"tanya Dimas mengedarkan pandangannya
Damar hampir tersendak mendengar ucapan Dimas, mengapa kakaknya terlihat romantis sekali, sementara Kinar juga terlihat terkejut dengan kedua pipi merona merah
Dengan tangan kirinya, Damar memegang kening Dimas dan tersenyum
"Gue kira loe panas jadi lupa ingatan, ternyata sehat" ucap Damar cekikikan berjalan ke arah wastafel, meletakkan piring kotornya dan cuci tangan
"Rese loe" Dengus Dimas yang Awalnya mau romantis jadi di tertawa kan adiknya, sial
"Kak, mantab masakannya, kapan-kapan lagi ya" ucap Damar mengacungkan jempol lalu mengambil tasnya dan pergi kuliah
" Damar kamu gak gosok gigi dulu?"tanya Kinar yang melihat adik iparnya langsung pergi
"Gak usah kak, ini pelet alami biar cewek nempel" ucap Damar sekenanya
"Nempel kaga, di usir iya" timpal Kinar yang di jawab tawa panjang Damar
"Sudah jangan hiraukan, adikku itu sedikit sakit otaknya" ucap Dimas santai
"Hus, gak baik, adik sendiri. Mas mau lauk apa?" tanya Kinar yang lupa menyendokan lauk ke piring suaminya
"Ini apa sayang? mas belum pernah liat" tunjuk Dimas ke mangkuk besar berisi sayur asam
"Ini sayur asam, mas coba dulu aja,pasti mas suka"
Dimas hanya mengangguk pelan
"Mas mau coba yang kancing Levis atau apalah daging unta itu, mas belum pernah makan, kamu beli dimana??? apa supermarket jual daging unta???" tanya Dimas bingung
"Itu mas, anu" Kinar bingung harus menjawab apa
"Sudah sini mas juga mau" ucap Dimas karena istrinya terlihat ragu-ragu
Dimas mencium sekilas, ia menggeleng pelan, lalu memasukkan ke mulutnya, ekspresinya biasa , lalu mengambil lagi dan menyuapi lagi kemulut nya
"Rasanya gak buruk, enak, empuk dan ada tested legit, tapi bukan seperti daging??? mengapa di sebut daging unta???, tapi baunya memang kurang enak" ucap Dimas namun ia terus memakannya hingga habis.
Dimas juga menyukai sayur asam. Tumbuh besar di negeri orang membuatnya tak mengenal masakan negaranya sendiri khususnya masakan daerah.
Setelah makan siang Dimas langsung pamit kembali ke kantor karena Kelvin sudah menghubunginya jika akan ada meeting setengah jam lagi.
Kinar mengantar Dimas hingga teras depan, Kinar mencium punggung tangan Dimas, lalu tiba-tiba Dimas mencium kening Kinar dan buru-buru masuk kedalam mobil karena malu
Kinar terdiam di tempatnya, ia sangat terkejut sekaligus bahagia, Dimas membunyikan klakson mobil nya dan melambai.
Setelah mobil Dimas keluar dari halaman rumah, Kinar masih diam menatap kepergiannya, perlahan dia meraba keningnya sendiri dan tersenyum lebar
__ADS_1
"Terima kasih ya Rob, engkau sudah membuka hati mas Dimas untukku" gumam Kinar pelan