Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Nasihat Wanita Tua


__ADS_3

Hari sudah sore, Kinar masih duduk terpaku di depan danau, dari suasana ramai banyak yang bermain atau sekedar duduk-duduk santai di daerah itu hingga sepi, menyisakan beberapa orang yang masih betah duduk di sana.


Beberapa penjual juga sudah mulai meninggalkan area itu, terlihat seorang ibu penjual pecel yang sudah selesai berdagang, membereskan bakulan nya, ia sejak tadi memperhatikan Kinar yang termenung, walau Kinar tadi berinteraksi dengannya sebentar karena membeli pecel dagangannya, wanita itu bisa melihat jika Kinar sedang di runding masalah.


"Nak, sudah malam, apa kamu tidak pulang??? tak baik terlalu lama berdiam disini, kalau kamu gak perduli dengan dirimu, setidaknya kamu perduli dengan anak dalam kandungan mu, pulanglah nak, suami mu pasti sedang mencari mu.


seberat apapun masalahmu, jangan pernah lari dari masalah, hadapi dan selesaikan masalahmu, karena kabur dari masalah tak akan menyelesaikannya justru malah memperkeruh dan menambah masalah saja” ucap wanita tua itu


Kinar tak tahu harus berkata apa, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, Kinar menangis tersedu-sedu, hingga bahunya berguncang


Wanita tua itu mendekati Kinar menepuk bahu Kinar pelan


"Keluarkan, keluarkan tangis mu, jika itu bisa membuatmu sedikit tenang dan menghilangkan sesak di hatimu, tapi setelah ini jangan biarkan dirimu menangis lagi" ucapnya membiarkan Kinar menangis didepannya, dengan sabar ia menunggu Kinar hingga tenang


Satu jam kemudian Kinar baru bisa menguasai dirinya, ia terlihat malu karena menangis dan lepas kendali di depan orang yang baru saja di temui ya


"Maafkan saya Bu, saya malah menyusahkan ibu" ucap Kinar malu


"Gak Apa-apa, ibu juga sudah selesai jualan.


Apa kamu sudah baikan?" tanya wanita itu terlihat khawatir


"Alhamdulillah Bu, sudah lebih baik" ucap Kinar lirih


"Dimana rumahmu?? ayo ibu antar kamu pulang" ucap wanita itu menawarkan bantuan.


Kinar terenyuh bagaimana wanita tua ini memiliki hati yang mulia, membantu walau ia sendiri bukan orang yang berkecukupan, ia juga membelikan Kinar teh hangat dan roti karena khawatir dengan Kinar


"Nama ibu siapa?" tanya Kinar


"Sumiati, nama anak siapa??"


"Kinar Bu.


Makasih ya Bu sudah mau membantu Kinar.


Kinar bisa pulang sendiri Bu" ucap Kinar pelan


"Apa kamu yakin??? pulanglah.


ibu tak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi, tapi seberat apapun masalahmu kamu harus hadapi dengan hati tegar, insha Allah, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya"ucap Sumiati lembut


"Iya bu”

__ADS_1


"Ayo pulang, ibu antar sampai depan komplek" ucap Sumiyati.


Kinar menatap wanita tua itu, ia melihat sorot kasih sayang di mata tuanya


"Enggak usah Bu, aku bisa sendiri, kasian ibu jauh jalanya"


"Tak apa nak, justru ibu pegal sejak tadi duduk terus, hitung-hitung olah raga meluruskan pinggang tua ini" ucap Sumiati tersenyum , akhirnya Kinar mengangguk tak bisa menolak, sambil berjalan pelan, mereka berbincang santai.


"Ibu sudah lama jualan disini?” tanya Kinar


"Sudah nak, sudah lima tahun"


"Owh lumayan lama ya Bu, ibu tinggal dimana??”


"Ibu tinggal dekat danau itu ada kontrakan petakan” ucap Sumiati sambil menunjuk perumahan penduduk yang berada tak jauh dari danau


"Bu Sumiati tinggal sama siapa, maksud saya anak ibu berapa?" tanya Kinar penasaran, karena ia sangat kasian pada Sumiati yang sudah tua namun masih harus membanting tulang


"Anak saya, sudah dipanggil yang maha pencipta nak, saya tinggal sendirian" ucap Bu sumiati tersenyum getir


"Maaf Bu, Kinar gak bermaksud...”


"Tak apa nak, sudah takdirnya seperti ini, ibu ikhlas.


"Bu, bisa Kinar bertemu ibu lagi lain waktu??” tanya Kinar


"Tentu nak, datang saja ketempat ibu biasa gelar dagangan atau ke rumah kontrakan ibu, tanya saja nama ibu Sumi, semua sudah tahu"


"Baik Bu, Kinar pamit dulu Bu, Assalamu'alaikum” ucap Kinar mencium punggung tangan wanita tua itu


”Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan nak" ucap Sumiati menatap kepergian Kinar


Sementara di tempat lain


"Bagaimana??? apa masih belum ketemu??"tanya Dimas panik


"Belum, anak buah ku belum berhasil menemukan keberadaan istrimu, tapi satu yang pasti, dia tadi siang ke apartemenku, lalu setelah itu tak terlihat” ucap Kelvin


"****, apa yang kalian lakukan, mencari satu wanita saja tidak becus”teriak Dimas kesal


"Dimas, loe gak lagi menyembunyikan sesuatu kan??? gak mungkin Kinar menghilang tanpa jejak setelah dari apartemen loe” selidik Kelvin.


Kelvin baru siang tadi pulang sehabis menyelesaikan urusannya di kantor cabang selama seminggu lebih. ia pernah curiga jika Dimas masih berhubungan dengan Bella, namun karena kesibukannya ia tak sempat menyelidikinya, ditambah pikirannya juga bercabang memikirkan Mariska yang masih koma

__ADS_1


"Berhenti berkomentar tentang hidupku, cukup cari istriku sampai dapat" ucap Dimas lalu memutuskan panggilan teleponnya, ia memukul meja kaca di depannya hingga hancur, darah bercucuran dari tangannya yang terkena pecahan kaca


"Bellaaa,,,, awas saja jika ini semua adalah ulah mu, aku akan membuatmu membayar semuanya.


Ku tak akan melepaskan mu karena sudah menyakiti Kinar" ucap Dimas marah


"Mas, tangan mas Dimas berdarah" ucap asisten rumah tangga yang melihat tangan majikannya itu mengeluarkan banyaj darah


"Mba Dian, tolong bereskan pecahan kaca ini, saya mau istirahat" ucap Dimas pelan


"Tapi tangan mas nya?" tanya Dian ngeri melihat tangan Dimas


"Saya akan obati sendiri, makasih" ucapnya lalu melangkah pergi


Sejak sore tadi ia tak bisa menghubungi Kinar, saat menelpon kerumah Dian, asisten rumahtangga mereka mengatakan jika Kinar keluar rumah, namun saat di cari di rumah mertua dan mamanya, Kinar tak berada disana, membuat Dimas sepanjang sore hingga malam mencari istrinya, baru beberapa menit lalu ia pulang dan menemukan jika istrinya belum juga kembali


"Dimana kamu sayang, mas sangat khawatir" ucap Dimas lirih tak memperdulikan tangannya yang luka.


Ia lebih khawatir lagi saat tahu Kinar pergi ke apartemennya, pasti Bella sudah melakukan sesuatu pada Kinar, Harusnya ia mendengarkan apa yang sahabat dan mamanya katakan, kini ia sangat menyesal.


Sementara di luar kamar,


Kinar sudah sampai di depan rumah nya, Kinar nampak ragu-ragu, ia juga hanya tersenyum tipis saat satpam rumahnya menegurnya, rasanya ia enggan masuk ke dalam rumah itu, rumah yang harusnya menjadi tempat yang paling ia rindukan, dimana ia dan suaminya serta anak-anaknya lelah bertumbuh, namun kini ia sadar jika itu hanya harapannya, karena kenyataan tak seindah impiannya, terlebih suaminya tidak mencintainya.


Kinar berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya, ia melihat asisten rumahtangganya sedang jongkok di ruang tamu


"Mba Kinar? mba kemana saja, sejak sore mas Dimas mencari mba" ucap Dian terlihat khawatir


"Aku hanya sedang mencari angin, kenapa kaca nya bisa pecah?" tanya Kinar pelan


"Itu , Anu, mas Dimas tadi nonjok kaca ini, tangannya terluka tapi g diobati malah masuk kamar" ucap Dian


Kinar terdiam, ia membenci pria itu, namun rasa cintanya lebih besar dari apapun, ia jadi khawatir setelah mendengar penjelasan Dian, Kinar lalu berjalan menuju kamarnya, ia terlebih dahulu mengambil kotak p3k.


Cekreeek


pintu kamar terbuka, terlihat Dimas yang menunduk dengan tangan yang masih mengeluarkan darah.


Dimas tidak sadar jika Kinar masuk ke dalam kamar,


Kinar mendekati Dimas lalu menyentuh tangannya dengan handuk basah ditangannya


"Sayang, kamu kemana saja??" tanya Dimas mendongakkan kepalanya, terlihat pria itu menangis, namun hati Kinar kini sedang membeku

__ADS_1


__ADS_2