
Suasana menjadi canggung setelah insiden kedatangan Dimas yang ternyata dalma pengaruh alkohol.
Kinar terlihat murung, ia tak banyak bicara saat semua keluarganya asik bercengkrama dan berbincang santai.
Anggi mendekati putrinya yang sedang duduk di tepi kolam renang dengan kaki yang di masukkan ke dalam kolam, sambil sesekali tangannya memercikkan air dengan tangannya, pikirannya melayang jauh
"Apa boleh mama duduk di sini?" tanya Anggi membuat lamunan Kinar buyar
"Ah mama" lirih Kinar tersenyum canggung
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Anggi menatap putrinya, ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Kinar
"Mama mau tanya yang mana?? kalau tubuhku sudah lumayan, kakiku sudah bisa di gerakkan walau masih linu, beruntung tidak terlalu parah, tapi kalau tangan yang patah, masih sakit di gerakkan.
Kalau perasaan Kinar yang mama khawatirkan, percayalah, Kinar baik-baik saja ma" ucap Kinar.
Anggi tak menyangka putrinya sangat tahu apa yang ada di pikirannya.
"Mama berharap kamu bisa tegar sayang, mama tahu semua tak mudah, namun kamu harus ikhlas.
memang kedengarannya mudah, namun ikhlas itu sulit, dengan ikhlas kamu akan tanpa beban menjalaninya.
Mama percaya putri mama wanita yang kuat" Anggi mengelus puncak kepala Kinar
"Semua karena mama dan papa, Kinar kuat karena kalian ma, terima kasih”
"Sudah kewajiban kami sayang, ngomong-ngomong apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Anggi
"Entahlah ma, Kinar mau melanjutkan kuliah yang pasti, Kinar sudah cuti terlalu lama, selain itu Kinar belum kepikiran"
"Lakukan apa yang kamu mau, mama dan poa akan sellau mendukungmu" ucap Anggi lembut
"Terima kasih ma, maaf Kinar masih menyusahkan kalian dan belum bisa membahagiakan kalian"
"Sayang, melihatmu sehat saja sudah kebahagiaan bagi kami. Waktu kamu koma, mama tidak punya gairah hidup, sekaan jiwa kami ikut tertidur, syukurlah Allah mengabulkan doa kami, sehingga kamu bisa kembali pada kami" ucap Anggi terisak
"Ma, Kinar sudah tak apa-apa, maafkan Kinar membuat kalian khawatir" Kinar memeluk Anggi menenggelamkan kepalanya di bahu mamanya
"Maafkan mama memaksamu bercerai dengan Dimas, mama harap kamu tidka membenci kami.
Mama terlanjur sangat kecewa pada Dimas"
"Kinar tak masalah ma, Kinar juga memang mau berpisah”
"Mama tahu kamu masih mencintainya" tebak Anggi, membut Kinarembulatkan matanya tak menyangka mamanya masih bisa melihatnya padahal ia berusaha keras menyembunyikan perasaannya
__ADS_1
"Sayang, mama yang merawat musejak kecil, tak ada rahasiaa.yang bisa kamu dari mama" ucap Anggi tersenyum lembut
"Itu...., "
"Mama hanya mau mengatakan satu hal, mungkin saja Dimas di jebak atau apapun itu, sekali seorang pria tak jujur dalam rumah tangga, ia akan mengulangi lagi suatu saat, ya walaupun banyak juga yang berubah, namun suamimu menutupi banyak fakta darimu, ia berhubungan kembali dengan mantannya, lalu menghamili wanita itu, lalu menikahinya setelah itu ...
Jika saja ia jujur mengatakan padamu jika terjadi kecelakaan dan membuat wanita itu hamil, kejadiannya tak kan seperti ini.
mama sangat yakin kamu akan memberikan izin suamimu, tapi itu lebih baik daripada berbohong bukan?? demi apapun alasannya, kebohongan cepat atau lambat akan menghancurkan seseorang”
Kinar membenarkan ucapan mamanya, jika Dimas jujur, mungkin ia mengizinkan suaminya menikah lagi, pertama untuk menebus kesalahan suaminya, kedua untuk mencegah suaminya zinah kembali, ketiga demi nama.baik, karena Kinar wanita berhati lembut dan baik hati.
Kinar hanya diam tak menyahut, apa yang mamanya katakan benar adanya
Kinar memhela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan
"Semua sudha terjadi ma, tak perlu di bahas" ucap Kinar lirih
"Baiklah, jika kamu ingin curhat, mama akan selalu ada buat anak mama yang cantik ini" ucap Anggi mencubit hidung Bangir Kinar
"Owh jadi yang cantik cuma kak Kinar?" tanya Aisya sambil cemberut , lalu duduk di samping Anggi
"Siapa bilang?? anak mama yang satu ini juga cantik" ucap Anggi , kedua anak perempuannya langsung menyandarkan kepalanya di bahu kanan dan kiri Anggi
dengan manja, sementara Anggi mengelus kepala keduanya sambil tersenyum.
"Tentu tidak, kamu putri kecil mama yang paling cantik" ucap Anggi terkekeh
"Mama, gak usah pke putri kecil segala sih, Amera sudah kelas tiga SMP mah, bukan kecil lagi" protes Amera yang di balas tawa mama dan kedua kakaknya
"Mama muji sekalian mengejek, kakak dengar kan aku yang paling cantik diantara kalian" ucap Amera bangga , ia tak mau kalah dari kakak-kakaknya, Amera memeluk Anggi dari belakang, ikut menyenderkan kepalanya di Mamanya
"Sedang apa para wanita papa yang cantik nih?? kaya teletabis berpelukan gitu?" goda Satria menghampiri istri dan putri-putrinya
"Biasa pa, anak cewe gitu" ucap Raffa dan Raffi
"Bilang aja ngiri bos" ucap Amera dan Aisya bersamaan lalu mereka tertawa berbarengan
"Cih mana ada, mimpi ya kan kak Rey " tanya Raffa begitu melihat kakaknya mendekat
"Nggak tahu" jawab Reyhan cuek membuat semua orang tertawa, sementara Raffa kesal karena Reyhan. tak membantunya
"Ah kak Rey gak asik" gerutu Raffa kesal, Satria mengelus puncak kepala putra kembarnya itu
"Apa sih pa, Raffa bukan kucing di elus-elus" ucapnya tambah kesal lalu masuk ke dalam kamar
__ADS_1
"Nah loh, dia ngambek tuh Rey" ucap mamanya
"Ah bocil mah gitu ma, biarin aja, bentar lagi juga di kasih permen baik lagi" ucap Reyhan cuek langsung duduk di samping Kinar
"Kamu ya suka banget ngerjain Raffa" ucap Anggi memarahi Reyhan
"Lah Rey beneran ga tau tadi ma, maksud Raffa apa, baru datang langsung di todong pertanyaan" ucap Rey tak mau di salahkan
"Raffi sini kakak bilang.
Kamu bilang sama Raffa, kalau dia masih ngambek gak kakak kasih pinjam char Dewa kakak lagi, cepat gih" perintah Reyhan pada kembaran Raffa
Raffi hanya mengangguk menggaruk kepalanya, ia akin Raffa langsung hilang ngambeknya cuma dapat iming-iming game .
Sementara Di Tempat Lain
Bella sudah berpakaian rapih dan datang ke kantor suaminya, Hari ini merupakan jadwalnya cek up kandungan, ia sengaja menjemput suaminya di kantor agar ia bisa memamerkan statusnya pada semua karyawan di kantor Dimas, terlebih karena Kinar dan Dimas sedang proses perceraian, ia ingin semua tahu jika ialah nyonya pemilik perusahaan ini.
Sesampainya di kantor, ia malah di halang-halangi oleh Kelvin.
"Maaf pak Dimas tidak ada di tempat Bu " ucap Kelvin sopan
"Jangan bohong kamu, jam sebelas tadi dia masih di kantor" ucap Bella kesal
"Buat apa saya bohong, beliau memang sedang tak ada di kantor" ucap Kelvin kesal, Kelvin membenci wanita didepannya ini, jika bukan karena dia, Kinar mungkin tak akan mengalami kecelakaan
"Awas minggir, apa kamu lupa aku istri Dimas satu-satunya yang artinya atasanmu juga" cibir Bella langsung mendorong Kelvin
Bella menerobos masuk ke ruangan Dimas, hingga sekertaris Dimas terkejut
"Kemana suami saya??" tanya Bella berteriak
"Maaf Bu, bapak tidak ada di kantor
"Kemana dia pergi??? "
" Saya tidak tahu Bu" ucap sekertaris Dimas
"Owh mending kamu berhenti aja jadi sekertaris suami saya kalau posisi atasannya dimana saja tidka tahu.
Saya bisa meminta mas Dimas untuk memecat mu" ucap Bella Arogan
Kelvin hanya menggeleng pelan melihat kelakuan wanita itu, ia sungguh sangat tak suka dengan Bella.
"Dimas, Dimas, loe masuk dalam kubangan kotoran karena memilih berurusan dengan wanita ini.
__ADS_1
Bella akan menyeret loe jauh ke dalam lubang kehancuran" gumam Kelvin menatap Bella yang sedang memaki kedua sekertaris Dimas.