
Kinar sedang berfikir, merangkaikan kejadian demi kejadian, akhirnya menyimpulkan sesuatu.
Bella sudha merencanakan semua sejak awal ia sudha menargetkan Kinar dan berusaha dekat dengan Kinar.
dan kejadian siang tadi semua termasuk dalam rencananya.
Kinar bergidik ngeri mengetahui siapa Bella, satu sampah dan satu lagi penerima sampah, cocok. sama-sama bau.
sekarang suaminya pergi menemui wanita itu, apa yang mereka lakukan??? bayangan tentang mereka sedang berduaan membuat Kinar tertawa sinis
mungkin saja mereka kini sedang menari diatas penderitaannya, atau mereka bersulang karena sudah berhasil membuat dirinya terlihat bodoh.
Kinar sungguh merasa dadanya sesak.
Ia berjalan kembali ke kamar, namun bukan kamarnya melainkan kamar tamu, ia tak mau menemui Dimas, ia merasa jijik mengetahui fakta suaminya tidur dengan wanita lain dan lebih parahnya wanita itu adalah Bella, kekasih yang pernah mencampakkan dirinya.
Entah apa yang akan terjadi nanti dengan mertuanya jika saja Mariska tahu anaknya sudah menikah dnegan Bella??
Kinar sulit untuk membayangkannya.
Karena kelelahan akhirnya Kinar tertidur.
Keesokan paginya
Kinar terkejut mendapati dirinya di sebuah kamar yang asing, namun ingatannya kembali menyadarkannya bahwa ia berada di kamar tamu rumahnya karena menghindari suaminya.
Kinar segera keluar kamar, mengambil mukenah dan sholat, nampak tempat tidur yang masih rapih seperti terakhir kali ia tinggalkan, tak ada Dimas di sana, yang artinya Dimas tidak tidur di kamar ini, atau mungkin dia tak kembali semalam
Kinar mengelus dadanya, ia merasa sangat sakit hati melihat itu. Belum juga ia bercerai, suaminya dengan terang-terangan tak kembali kerumah.
Apakah itu tandanya ia telah memproklamirkan. hubungan resminya dengan Bella, sungguh memalukan
Setelah Sholat Kinar memasak, walau ia sedang marah dengan suaminya, namun statusnya masih istri Dimas, ia masih harus melayani suaminya itu.
Perutnya sejak pagi terasa sakit, si kecil dalam perut Kinar terus menendang-nendang nya seolah tahu keresahan dan kesedihan yang kinar rasakan
"Nak, apa kamu tahu mama sedang sedih?? sabar ya, papamu sedang keluar" ucap Kinar mengelus perutnya sambil berbicara,
Kinar lalu berjalan menuju kamar utama Yaang memang seharusnya menjadi kamarnya, ia menaiki tangga rumahnya, saat panggilan telepon seseorang masuk
"Adriana atau Bella, Mau apa wanita itu meneleponku?” gumam Kinar terdiam di anak tangga, ia membiarkan panggilan itu terputus lalu terdengar nada panggilan masuk lagi, dengan geram Bella mengangkatnya, ia menarik nafas panjang dan berusaha tegar
__ADS_1
"Hallo Kinar, kau sudah tahu siapa aku kan??? aku Bella Adriana, maaf ya sayang aku pakai nama tengahku" ucap Bella dengan wajah di buat sedih
"Kau licik" cibir Kinar
"Aku??? aku tak merasa , itu bukan licik , tapi aku mengambil apa yang menjadi hak ku.
Priaku dan semua fasilitas yang kau terima harusnya milikku" ucap Bella
"Haha, jika itu milikmu, kemana saja kamu selama ini, kenapa kamu kabur saat akan menikah, jangan membuatku tertawa" cibir Kinar
"Itu bukan untukmu, rumahmu itu atas namaku, aku bisa saja mendepak mu keluar dari sana, rumah itu tanda cinta Dimas untukku. aku selama ini mengalah karena Dimas memintaku, tapi kini tidak. anakku juga butuh status sebagai anak yang sah, sebaiknya kamu sadar jika Dimas tidak mencintaimu dan tidak akan pernah jatuh cinta padamu, dia hanya memanfaatkan mu hahaha"
"Tutup mulutmu, kalian sama saja, sampah dengan penampung sampah "
"Kau...??? apa aku tak tahu kenapa kamu mau menikah dengan kekasihku???
Please Kinar jangan memandang tinggi dirimu, kamu tak lebih dari jal*Ng yabg menjual dirinya demi uang, apa kau lupa bagaimana kamu bisa mendapatkan statusmu, dengan MENJUAL DIRI" ucap Bella sengaja mengeja ucapan di akhir kalimatnya
"Apa yang kau mau dariku?” tanya Kinar marah
"Pergilah, pergi jauh dari hidup kamu. Dima Shanta bersikap baik padamu karena mamanya, dia anak yang berbakti, tapi dia tak akan pernah mencintaimu, buktinya aku hamil anaknya hahah
Jika Tante Mariska mati, apa kamu pikir Dimas masih mau denganmu?? kamu pergi sekarang atau kamu menunggu di depak, pikirkan baik-baik Kinar sayang hahaha”
"Ah satu lagi, look it" ucap Bella mengganti kamera belakang ponselnya, nampak seorang pria sedang tertidur di sofa, walau wajahnya tak jelas namun Kinar bisa mengenali pakaian yang dipakai pria itu
"Mas Dimas..????" ucap Kinar lirih
"Hahaha, kau akhirnya bisa lihat bukan??? ya dia mas Dimas ku, kekasihku
Dia lebih memilih denganku di banding menenangaknnya yang sedang marah, karena apa??? karena dia mencintaiku bukan kamu" ejek Bella.
Kinar langsung memutuskan panggilan telepon Dimas, ia merasa kepalanya berputar, nafasnya sesak karena melihat kenyataan Dimas beranda disana.
Kinar masih berharap Dimas menjelaskan semuanya, nyatanya ia memilih berada di sisi wanita itu.
Air mata Kinar menetes, pandangannya gelap dan....
Brugh Bumm
Kinar jatuh dari tangga, ia berguling-guling hingga sampai bawah, darah segar keluar dari balik kakinya dan keningnya,, Kinar meringis sejenak lalu tak sadarkan diri
__ADS_1
Dian yang sejak tadi melihat Kinar sedang menerima telepon sebenarnya khawatir, baru saja ia akan beranjak menyapu lantai, Kinar terjatuh dari tangga, tubuhnya menghantam anak tangga
"Mba Kinar ya Allah , Allahu Akbar" teriak Dian panik menghampiri Kinar, ia melihat darah keluar membanjiri lantai, dengan menangis dan gemetaran ia memeriksa nafas Kinar, ia masih merasa hembusan lemah Nafas Kinar.
Dian berlari sekencangnya keluar rumah memanggil security rumah, mereka lalu membawa Kinar ke rumah sakit, baju Dian penuh dengan darah, asisten rumah tangga yang berusia masih belia itu terus menangis melihat keadaan Kinar, ia sangat menyayangi dan menghormati Kinar, karena selain bisa bekerja ia juga di sekolahkan oleh Kinar, Kinar tak pernah menganggap Dian pembantu, justru ia diperlakukan bak adiknya sendiri
"Mba Kinar bertahanlah, sebentar lagi kita sampai" ucap Dian masih terus menangis.
Sesampainya di rumah sakit, tim dokter langsung bergegas melakukan tindakan karena luka yang dialami Kinar juga pendarahan hebat yang dialaminya
Dian masih terus menangis menatap cemas ruang operasi yang sudah satu jam lalu tertutup, mereka terpaksa menyetujui karena darurat.
Dian langsung mengabarkan orangtua Kinar, sedang security mengabarkan suami Kinar, Dimas.
Orang tua Kinar datang dengan wajah panik, Anggi bahkan tak kuasa terus menangis, ia mendekati Dian yang memberi kabar padanya
"Apa yang terjadi pada anakku?" Tanya Anggi langsung pada Dian, terlihat Dian masih shock, bibir dan tangannya bergetar, anak itu juga belum berganti pakaian, masih mengenakan pakaian yang berlumuran darah Kinar yang sudah mengering
"Dian minumlah dulu, ceritakan apa yang terjadi" ucap Satria menyodorkan air minum pada Dian, Dian meneguknya dan mulai bercerita
"Dimana Dimas sekarang? " tanya Satria geram, ia tak terima anaknya di sia-siakan oleh Dimas, pria yang sudah ia titipkan amanat untuk menjaga anaknya
Terlihat dari kejauhan Dimas berlari kearah mereka, keringat membasahi wajah dan pakaiannya, sepertinya ia berlari menuju ke mari
Buuughhh
Sebuah bogem mentah berhasil Satria darat kan di wajah Dimas
"Baji**an, kemana saja kamu" ucap Satria langsung meraih kerah baju Dimas, ia sangat marah, darahnya seakan mendidih hingga ia ingin membunuh pria yang jadi suami anaknya itu
**Tahukah kalian wahai reader ku???
like dan komen kalian adalah motivasi author untuk menulis dan terus berkarya, upload rajin.
Jadi please, jangan baca aja ya.😔😔
bantu author berikan like di tiap chapter ya
seperti kalian yang butuh membaca, author juga doping untuk mood booster author😘
Yang sudah kasih jempol manisnya dan komen di setiap chapter ya author ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya🥰🥰
__ADS_1
Sehat dan sukses selalu untuk kalian🙏
Terima kasih 🙏🙏🙏**