
Pagi itu Albert masih merasakan sakit di lambungnya, saat buang air besarpun ada darah yang keluar, menandakan tubuhnya tidak baik-baik saja.
Tubuhnya masih lemas dan kepalanya berdenyut sakit walau terkadang sakit kepalanya hilang, namun terkadang timbul.
"Tuan, silahkan makan sarapan pagi anda, ini obat anda dimakan setelah makan, semoga lekas sembuh" ucap seorang suster ramah
Albert hanya mengangguk tanpa menjawab, ia memang terkenal dingin dan cuek.
Sebuah rombongan dokter datang ke ruangan Albert dan Albert seperti mengenali siap
"Om Ridwan??? kok om bisa disini??"tanya Albert langsung mengenali Ridwan
"Loh, kamu gak tau memangnya ini rumah sakit om?"
"Ehh hehehe gak om, papa gak pernah cerita, om apa kabar?" tanya Bert nyengir kuda
"Alhamdulillah baik, om senagaja datang langsung karena papamu menelpon om, kenapa kamu bisa ceroboh gitu??? tensi mamamu sampai tinggi, Tante irine sedang memeriksanya" ucap Ridwan menatap anak sahabatnya itu
"Biasa om anak muda" ucap Albert santai
"Ckckck, om meminta cucu keponakan om yang memeriksa kamu, apa kamu sudah bertemu dengannya??? dia dokter muda yang cekatan"
"Belum om, kayanya belum kesini" ucap Albert sok yakin
"Dari kemarin yang rawat gue kan dokter gadungan itu, gak mungkin kan dia keponakan om Ridwan, lagian kulit dokter itu hitam khas orang Asia, sedang om Ridwan putih dengan mata sipit" gumam Albert dalam hati
"Masa sih?? padahal om sudah minta dia rawat kamu dari malam, mungkin dia sibuk, sebentar ya om telepon"
Ridwan berjalan menjauh lalu menelpon seseorang, tak lama kemudian dia kembali
"Bagaimana perasaan kamu, apa ada yang di rasa???"
"Kepala saya sakit om, perut juga sakit sekali sama buang air besar ada darahnya" terang Albert malu karena Ridwan datang bersama beberapa dokter.
Ini pasti ulah papanya, ia selalu melebih-lebihkan sesuatu, maklum ia adalah anak sebatang kara, ya walau ia punya adik perempuan tapi adik angkat yang di adopsi oleh kedua orangtuanya
"Assalamu'alaikum, wa rame sekali nih" ucap Lucky Clodio papa dari Albert dan wanita setengah baya yang masih terlihat cantik bernama Amara wanita berkebangsaan Indonesia.
Sementara di samping mereka berdiri seorang wanita muda yang cantik parasnya bernama Mikhayla anak angkat mereka
"Hallo bro apa kabar" sapa Ridwan melihat pria berkebangsaan Jerman yang merupakan teman semasa kuliahnya, hanya mereka beda jurusan.
"Baik-baik, kamu apa kabar?"
"Ya seperti yang terlihat, semakin tua" seloroh Ridwan yang di sambut tawa Lucky
__ADS_1
"Tua tapi masih gagah" timpal Amara
"Jangan berkata itu, aku takut di sebelahnya merajuk karena cemburu" goda Ridwan membuat suasana menjadi ramai tawa
"Oh ya, kenalkan ini Mikhayla, anak perempuan kami" ucap Amat. memperkenalkan Mikhayla
"Rasanya aku tak tahu kamu punya anak perempuan Bro, tapi bagus kau jadi ada teman untuk amara yang suka kau tinggal bepergian bisnis"
"Aku sudah menyerahkan perusahan pada anakku, tapi ..
sekarang aku harus bekerja lagi dan meninggalkan istriku karena anak nakal ini sakit"gerutu Lucky kesal
""Assalamu'alaikum" salam seseorang memasuki ruangan
"Sayang, sini papa kenalkan teman papa" ucap Ridwan langsung berbinar melihat cucu keponakanya
"Kau, kau punya anak perempuan juga????" tanya Lucky antusias sambil melirik putranya yang memandang wanita yng baru saja datang tanpa berkedip.
Kinar hari ini sepulang kampus langsung ke sini dan belum berganti pakaian
Kinar menciumi punggung tangan kedua orang tua Albert setelah kakeknya
"Kenalkan bro ini cucu keponakanku, namanya Kinar, dia dokter yang ku tugaskan merawat anakmu" ucap Ridwan bangga
"Cantik dan pintar, perpaduan pas" ucap Amara mengelus rambut Kinar, Kinar hanya tersenyum kikuk
Terlihat Mikhayla tidak senang, ia mencibir dengan mulutnya apalagi melihat Albert terlihat diam menatap.wanita di depannya itu
"Apa semalam sehabis jaga malam kmu tidak merawat Albert?"
"Rawat kok om, siapa bilang??" tanya Kinar
"Itu om, saya gak tahu kalau dia ponakan om Ridwan" ucap Albert gugup
"Nah sekarang sudah kenal kan??? Om tinggal dulu kamu urus Albert dengan baik, dia anak sahabat om"
"Baik om" ucap Kinar lirih, jika bukan karena permintaan om nya, Ridwan enggan merawat pria menyebalkan ini.
"Jadi kamu ponakan om Ridwan??? ponakan asli?" tanya Albert begitu orangtua dan rombongan Ridwan keluar dari ruangannya
"Menurut kamu bohongan gitu, dasar orang aneh"
"Orang nanya baik-baik juga jawabnya gitu"cap Albert tak senang
"Loh saya harus jawab pa, bukanya pertanyaan kamu tuh aneh ya??? memang kenapa kalau saya cucu ponakan beliau????" ucap Kinar mau keluar dari ruangan itu
__ADS_1
"Sok banget sih dia kak" ucap Mikhayla tak senang
Kinar hanya menoleh dan menggelengkan kepala melihat orang-orang itu, ia harus berganti pakaian dan langsung bertugas.
Setengah jam kemudian Kinar sudah kembali dengan pakaian putihnya,
"Tuan Albert, kita periksa ya?" ucap Kinar ramah, ia langsung memeriksa tekanan darah Albert, masih tinggi.
lalu semuanya secara terperinci.
Sementara Mikhayla terlihat tidak suka melihat kedekatan mereka
"Bagaimana kamu bisa cucu keponakannya Ridwan???"
"Entah, aku juga gak minta, apa perlu ku tanya orangtuaku??"
"Aku serius, setiap orang yang melihat pasti juga tak akan percaya jika kau..."
"Karena aku hitam??? dan papa Ridwan putih seperti warga keturunan Tionghoa?? begitu maksud kamu??? tanya Kinar tersenyum simpul.
bukan hal yang baru jika ia mendengar pertanyaan itu.
Saat melihat kedua orangtua Kinar pun mereka akan bertanya, apakah benar ia anak merek?? namun Kinar sudah biasa dan menganggap semuanya bukan sesuatu yang harus ia bawa ke hati, tok kenyataannya memang ia bukan darah daging mereka, begitu pula Ridwan, Namun kakek putu yang mempersatukan mereka dalam satu keluarga, satu ikatan batin yang sulit terpisahkan.
"Maaf bukan maksud saya..."
"It's Ok, sudah biasa, karena saya anak keponakan om Ridwan, Jelas orangtua kamu berbeda"
"Baik tuan Albert, istirahat yang cukup, makan teratur dan minum obat anda, mungkin tiga hari kedepan anda bisa pulang"
"Saya mau pulang sekarang"
"Anda masih butuh perawatan disini, jika anda memaksa pulang akibatnya akan fatal" ucap Kinar memperingati
"Hanya berikan saya surat izin keluar, saya yang lebih tahu bagaimana kondisi tubuh saya sendiri"
"Tapi...
"Anda hanya cukup memberikan apa yang saya pinta" bentak Albert tak sabaran
"Baiklah, jika terjadi sesuatu di luar tanggung jawab kami karena anda yang memaksa keluar rumah sakit" ucap Kinar lalu berjalan keluar ruang rawat Albert
"Apa pria itu bodoh??? jelas-jelas kondisinya belun sehat tapi masih keras kepala minta pulang. Dasar orang kaya pikirannya sudah di mengerti"gerutu Kinar lalu berjalan menuju ruangannya dan menyerahkan surat keluar pada seorang suster dan memberitahukan kabar tersebut pada Ridwan.
Beruntung Ridwan dan kedua orangtua Ridwan masih di ruangan Ridwan berbincang-bincang, sehingga setelah mendengar kabar tersebut, Mereka langsung menuju ruangan Albert, sementara kedua orang tua Albert terlihat menahan marah.
__ADS_1
"Anak itu, mengapa sangat keras kepala" gerutu Lucky