Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Suasana Baru


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, mereka akhirnya sampai di Jerman, Irine dan putranya Rasya sudah menyambut kedatangan sepupu dan papanya


Sudah lama Rasya tidak kembali ke Indonesia, sehingga Kinar pangling dengan Rasya


"Assalamu'alaikum nenek Irine" sapa Kinar sambil memeluk Irine


"Wa'alaikum salam sayang, ya Allah Kinar kamu makin cantik" ucap Irine, tepatnya dokter irine, dokter spesialis kandungan yang merupakan istri kakek Ridwan


Sebenarnya ia lebih tepat dipanggil Tante karena wajahnya yang masih terlihat awet muda dan usianya yang tak terpaut jauh dari mamanya, membuat sapaan nenek terdengar aneh.


"Ah nenek bisa aja, nenek tuh yang masih saja cantik" puji Kinar membuat wajah irine merona merah


"Hallo sepupuku yang cantik" sapa Raya membentangkan tangannya ingin di peluk juga


"Ini Rasya??? ya Allah udah gede, ganteng lagi" puji Kinar


"Ih kak Kinar masa lupa. sama Rasya sih, ya ganteng dong, liat bibit siapa dulu" ucapnya menaiki turunkan alisnya membuat irine menggelengkan kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya


"Pede bener sih" ucap Kinar lalu memeluk sepupunya itu, tubuh Rasya lebih tinggi dari Reyhan, namun keduanya sama-sama tampan.


Kinar memnag sudah sangat lama tidak bertemu Rasya, mungkin sejak Rasya menginjak masuk sekolah menengah atas.


ketika acraa pernikahannya dengan Dimaspun Rasya tak hadir, hanya kedua orangtuanya saja yang datang ke Indonesia


"Sudah ayo kita pulang, kakakmu itu pasti sudah kelaperan dan lelah karena perjalanan panjang" tegur irine, mereka lalu menaiki mobil yang di kendarai Rasya keluar dari bandara.


Sepanjang perjalanan Kinar menatap pemandangan sekeliling,


Mereka lalu mampir disebuah restoran, maklum irine wanita sibuk, ia masih bekerja walau di rumah sakitnya sendiri, jadi tak punya waktu memasak, sehingga mereka sekeluarga makan malam di restoran ketika arah pulang.


Setelah selesai makan mereka lngsung pulang kerumah, karena baik Kinar maupun Ridwan sudah kelihatan kelelahan.


Kediaman Ridwan lumayan besar, terdapat enam kamar tidur dan empat kamar pembantu yang letaknya di belakang rumah.


Begitu masuk ke kmr Kinar langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur, tubuhnya terasa sakit semua, walau sepanjang jalan ia memilih memejamkan mata, namun tak bisa tidur, kini Kinar sangat mengantuk dan akhirnya ia tertidur tanpa mengganti pakaiannya


Matahari sudah tinggi, cahayanya masuk ke dalam kamar Kinar, walau tidka bisa dikatakan panas, namun tetap saja sudah terang benderang


Rasya yang sejak pagi sudah terbangun, terlihat mondar mandir di depan kamar Kinar, ia sangat semangat karena sepupunya itu akan menetap dan bersekolah di tempat mereka.

__ADS_1


Namun karena mamanya melarang menggangu istirahat Kinar, Rasya hanya bisa menunggu sepupunya itu bangun dari tidurnya atau ia akan kena omel mamanya.


"Kak Kinar tidur apa pingsan sih, sudah jam sepuluh belum juga bangun" gerutu Rasya yang terus melihat kearah pintu kamar Kinar


"Jangan membangunkan kakakmu atau mam akaan potong uang jajan mu" ancam Irine yang memperhatikan Rasya sejak tadi


"Mama..."


"Sudah mending ikut mama ke dapur buat cake untuk kakakmu nanti" ucpa irine


Rasya akhirnya bangkit dengan malas ia mengikuti mamanya menuju dapur.


Setengah jam kemudian Kinar baru bangun, ia terkejut melihat jam ponsel yang otomatis berganti menyesuaikan tempat dimana ia berada, Kinar langsung bangun menuju kamar mandi tak lama kemudian ia sudah keluar dengan handuk melilit menutupi tubuhnya dan rambut terbungkus handuk yang di gulung ke atas


Semalam ia sampai tak mengganti pakaiannya dan tidak sempat mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper, Kinar hendak meletakkan beberapa pakaian yang ia bawa, namun begitu pintu lemari terbuka, terlihat beberapa potong pakaian tertata rapih Disni, juga sepatu, tas dan di meja rias ada beberapa make up yang terlihat masih baru, Kinar urung memasukkan pakaiannya karena berfikir jika ia salah kamar, mungkin saja kamar ini tadinya di tempati kekasih Rasya atau mungkin keponakan nenek Irine


Setelah berpakaian rapih, Kinar langsung keluar dari kamarnya, Kakek Ridwan mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga sampai tukang kebun semua berwarga negara Indonesia,


"Pagi non Kinar" spa seorang wanita setengah baya yang semalam menyambut kedatangan mereka


"Pagi Bu Susan, kemana semua orang ya?" tanya Kinar karena melihat rumah sepi


"Biak Bu, terima kasih"


Kinar langsung menuju dapur, nampak dari kejauhan dua orang yang kompak membuat sesuatu, Rasya dan mamanya nampak sedang sibuk


"Siang nek, maaf Kinar kesiangan" ucap Kinar begitu mendekat


"Ah gak apa-apa, kalian pasti lelah karena perjalanan jauh, jadi wajar saja kamu kesiangan sayang, apa kamu suka kamarnya???"


"Owh iya nek, apa Kinar g salah kamar?? itu..."


"Tentu gak dong sayang, itu kami yang mengatur semuanya dari cat dinding, dekorasi sampai perabotan semua nenek dan Rasya yang pilihkan loh


ah sama baju-bajunya, paa kamu sudah melihatnya sayang???"


"Ah jadi pakaian di dalam lemari di persiapkan nenek Irine dan Rasya"


"Kinar sayang, apa kamu menyukainya???" Tya nenek Irine mengulangi ucapannya

__ADS_1


"Suka, suka sekali, terima kasih nenek, Rasya, maaf merepotkan" ucap Kinar tak enak hati


"Kau tahu sayang, nenek sangat ingin punya anak cewek, hanya saja nenek cuma punya anak nakal ini.


kalau aja nenek masih bisa mengandung setelah melahirkan Rasya...." ucap Irine sedih, Rasya langsung memeluk mamanya, ia tahu mamanya amat mendambakan anak perempuan, saat mendengar Kinar akan tinggal bersama mereka, irine adalah yang paling antusias sampai-sampai mereka shopping berjam-jam demi mendapatkan pakaian dan semua keperluan Kinar selama.disini.


"Anggap saja Kinar anak nenek jika nenek berkenan" ucap Kinar spontan


"Nah Rasya setuju, tapi kayanya aneh kalau panggil mama yang masih cantik ini nenek kak, bagaimana jika panggil mama, Rasya agak terganggu dengan panggilan nenek karena mamaku ini masih **** dan cantik" goda Rasya yang mampu membuat wajah Irine merona merah karena malu


"Mama tergantung Kinar, apa Kinar mau atau tidak"


"tentu aja mau, mama Irine memang masih cantik " ucap Kinar, mereka bertiga langsung berpelukan dan tersenyum bahagia.


Semoga keputusannya memanggil neneknya mama irine keputusan yang benar.


"Ada apa ini kok pada berpelukan??? kaya film yang kurcaci itu"


"Teletubbies pa" ralat Rasya


"Ah terserah, Kinar apa kamu sudah makan???" tanya Ridwan


"Ini baru mau mama siapkan sarapan, tamunya sudah pulang pa ?" tanya Irine


"Sudah baru saja" ucap Ridwan singkat, mereka lalu menemani Kinar dan Ridwan sarapan pagi.


Rasya juga memberitahu papanya jika mereka sepakat memanggil mamanya dengan panggilan mama Irine sementara Ridwan akan di panggil papa Ridwan.


Ridwan melihat rona bahagia di wajah istrinya, sejak dinyatakan tak bisa hamil lagi, irine menjadi murung walau ia tak menunjukkan ya padanya, Ridwan tahu jik istrinya berduka karena musibah yang menimpanya, namun irine berusaha tegar di depan mereka


Matanya tak lepas memandang ke arah Rasya dan Kinar yang sedang berbincang-bincang, sesekali terdengar tawa keduanya


"Sayang, apa kamu bahagia dengan kedatangan Kinar?" tanya ridwan menyentuh tangan istrinya


"Sangat pa, papa gak maslaah kan jika Kinar memanggil kita mama dan papa???" tanya Irine ragu


"Apapun yang membuatmu bahagia , aku akan setuju"


"Terima kasih sayang" ucap Irine lirih, tak terasa air matanya menetes, ia menangis bahagia.

__ADS_1


__ADS_2