Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Bukan kecelakaan Biasa


__ADS_3

"Sayang maafkan Bella ya? aku janji padamu dia tak akan bisa menyakitimu lagi.


Apa kamu cidera??" tanya Dimas terlihat penuh penyesalan


"Urus saja istri muda mu, jangan biarkan wanita barbar itu bertindak sesuka hatinya.


kamu ya mas, dia sudah menyiksa Dian, bisa-bisanya kamu gak tahu???? majikan macam apa kami sampai gak tahu, liat tangan Dian sampai parah gitu gara-gara wanita itu, Aku kecewa ya mas sama kamu, setelah semua ini selesai, aku akan membawa Diam bersamaku, dan kamu tidak bisa melarangnya.


Atau aku....”


"Kamu mau apa sayang???" tanya Mariska yang entah sejak kapan sudah berada di dekat mereka dengan kursi rodanya, menatap tajam kearah mereka berdua


"Ma...mama???" ucap keduanya terkejut


"Kenapa kamu marah-marah sayang??? apa yang Dimas lakukan?" tanya Mariska mendekati Kinar


"Anu ma, itu....."


"Itu ma, tangan Dian kena air panas, Kinar memaksa dia yang mau bawa sendiri, padahal aku udah nawarin biar aku sendiri yang bawa takut mama mencari Kinar" ucap Dimas memotong ucapan Kinar


"Apa mama mendengar ucapan kami???? bagaimana mas Dimas bisa berbohong begitu lancar, aku hampir jantungan karena tiba-tiba mama disini" gumam Kinar dalam hati


" Apa benar begitu sayang???" tanya Mariska yang tak percaya dengan ucapan putranya


"iiiya ma" jawab Kinar gugup


"Pergilah nak, mama tak apa kau tinggal, mama tahu kamu sudah menganggap Dian adikmu sendiri, hati-hati di jalan ya" ucap Mariska lembut


"Terima kasih ma, Kinar jalan sekarang, Assalamu'alaikum" salam Kinar


"Wa'alaikum salam" jawab Dimas dan Mariska


"Argh jawaban gue malah buat Kinar bisa keluar rumah, dia pasti ketemuan sama pria sialan itu, gue harus ikut Kinar ke rumah sakit!!!" ucap Dimas dalam hati


"Ma, Dimas mau antar Kinar ya?" ucap Dimas mau menyusul Kinar


"Mama mau bicara padamu" ucap Mariska langsung meninggalkan Dimas, ia menuju taman belakang rumah Dimas, kursi roda Mariska memenang di design bisa jalan tanpa harus di dorong karena ia akan lumayan lama berada di kursi roda pasca kecelakaan yang membuatnya koma.

__ADS_1


Berbeda dengan Kinar yang masih muda, tulang-tulang tua Mariska memerlukan waktu yang lebih lama untuk pulih.


Sementara Kinar masih memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya.


"Apa yang mau mama tanya kan??? apa tadi ia mendengar percakapan kami???, Apa yang harus aku katakan pada mama???


Mama pasti kecewa padaku, ia sangat menyayangi Kinar."


"kok malah bengong??? apa yang kamu tunggu???" tanya Mariska menghentikan kursi rodanya, menoleh pada Dimas


"Ah iya ma, maaf" ucap Dimas langsung berjalan mengikuti mamanya


Kini mereka sudah berada di taman. Dimas menunggu mamanya berbicara dengan sabar, sementara Mariska terlihat masih diam menikmati pemandangan sore hari di taman.


"Ma, apa yang mau mama bicarakan???" tanya Dimas membuka percakapan, melihat dari sikap mamanya, sepertinya Mariska bukan akan membahas tentang Bella, karena jika ia, mamanya tak akan diam lama seperti ini


"Nak tahukah kamu hal yang terberat yang di rasakan seorang ibu???" tanya Mariska menatap putranya.


Dimas menggeleng pelan


Hal yang terberat bagi kami adalah saat kehilangan anak. Seakan separuh jiwa kami pergi bersama anak, Mama pernah merasakan kehilangan saat hamil kakakmu dan keguguran, saat mama menantikan dan mendambakan buah hati yang kami tunggu, namun Allah mengambilnya, Ikhlas?? tentu saja kami berusaha ikhlas, namun kata ikhlas tak semudah yang terucap.


Mama sampai depresi selama setahun lebih sehabis keguguran, mama sensitif terhadap semua hak yang berhubungan dengan bayi, termasuk iklan bayi di televisi. Hingga kesedihan mama hilang saat mama di nyatakan hamil kamu.


Begitu juga kondisi Kinar saat ini, walau ia terlihat tegar, ia sedang terluka dan sedih karena kehilangan anaknya.


aku sebagai suami harus bisa membuatnya nyaman dan melupakan kesedihannya"


Dimas hanya mendengarkan ucapan mamanya tanpa membantah, ia menatap lantai, merenungi ucapan mamanya, kini hubungannya dengan Kinar sudah diujung tanduk. Harusnya saat seperti ini ia bisa membuat Kinar tak sedih, namun justru ia menambah kesedihan Kinar, bisa Dimas bayangkan bagaimana perasaan Kinar kini, ditambah ia terlihat marah besar melihat keadaan Dian, ini semua karena Bella, namun apa yang bisa Dimas lakukan, keduanya istrinya kini.


"Mama harap kamu bisa lebih sabar menghadapi istrimu dan terus hibur dia"


"Baik ma"ucap Dimas lirih.


"Ada satu lagi yang penting yang mau mama sampaikan. Jika Bella.mengatakan anak dalam kandungannya adalah anakmu, jangan percaya nak" ucap Mariska serius


"Maksud mama???”

__ADS_1


"Apa mama tahu Bella hamil denganku????" gumam Dimas dalam hati,


"Mama tahu jika Bella saat ini sednag hamil, dan mama bisa memastikan jika anak dalam kandungan Bella bukan anakmu" ucap Mariska tanpa ragu


"Ma, Dimas tahu mama membenci Bella, namun ank itu tidak bersalah" ucap Dimas bingung bagaimana menyampaikan pada mamanya jika ia pernah melakukannya dengan Bella sepanjang malam


"Apa kamu...?" Mariska menduga sesuatu, matanya melotot tak senang pada anaknya


"Maafkan aku ma"ucap Dima lirih


Plak


Sebuah tamparan mendarat di wajah Dimas


"Mama sungguh kecewa sama kamu, teganya kamu selingkuhi Kinar. Mama tak habis pikir kemana jalan pikiranmu nak??


" Ma dengarkan dulu, itu kecelakaan, terjadi begitu saja , seorang rekan bisnisku meracuni minumanku dengan obat perangsang dan kebetulan Bella ada di sana dan membawaku pergi dan karena obat itu, aku ...." Dimas menunduk makin dalam


Mariska melotot, rahangnya mengeras, ia tadinya tak tahu jika Dimas tidur dengan Bella sehingga akan sulit memastikan anak dalam kandungannya, walau Mariska sudah melakukan penyelidikan dan mendapatkan bukti Bella sudah tinggal satu rumah dengan pria bernama Kristian di Paris, namun sekarang kondisinya tak sama.


"Dengan Dimas, wanita itu sedang menjebakku, kita akan segera melakukan tes DNA ketika usia kandungan nya memasuki usia enam bulan.


Kita lihat itu anakmu atau pria lain.


Mengenai kecelakaan yang mama alami, itu bukan karena murni kecelakaan, tapi Bella yang mendorong mama karena mama punya rahasia nya, sehingga ia mau melenyapkan mama"


Dimas tak percaya sungguh tak percaya, wanita yang pernah ia cintai tega berbuat itu.


Bella.mungkin orang yang arogan dan berpikiran pendek, namun untuk membunuh?? Dimas tak percaya begitu saja. Ditambah Mariska sangat membenci Bella, bisa saja Mamanya itu berkata yang berlebihan.


Namun Dimas jadi merasa hampa, di lain sisi mamanya tak mungkin berbohong hal besar seperti itu, namun di lain sisi, ia juga sudah lama mengenal Bella lama.


Dan kecelakaan itu????


"Ya Allah Bella...


Aku tak akan pernah mengampunimu karena sudah mencelakakan mamamu, pantas saja kamu ketakutan setengah mati saat tahu mamaku sadarkan diri" geram Dimas mengepalkan tangannya marah.

__ADS_1


__ADS_2