Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Sebuah Rahasia Keluarga


__ADS_3

Sudah Tiga hari mereka menginap di rumah orangtua Kinar, Dimas sengaja ingin membuat istrinya senang karena nanti tak ada alasan lagi istrinya itu menunda bulan madu mereka.


Dimas juga semakin mengenal sosok Kinar, wanita berhati lembut dan sangat penyayang.


Ia sangat menyayangi dan hormat pada orangtuanya, ia bisa menjadi sosok yang mengayomi dan mengarahkan untuk adik-adiknya.


Semua adik-adiknya menuruti perkataan Kinar bukan karena takut namun karena Kinar memberi contoh terlebih dahulu sebelum ia meminta adiknya melakukan hal yang sama sehingga adiknya respek dengan kakaknya itu.


Dimas tetap berangkat kerja, ia berangkat dan pulang kerja dari rumah Kinar.


Mamanya terkadang menelpon untuk menanyakan kondisi Kinar dan dirinya, mungkin mamanya kesepian karena hany ada Damar di rumah itu, itu pun kalau Damar tidak kuliah atau hang out dengan teman-temannya.


Hari ini Dimas sengaja berangkat kantor agak siang, ia sedang berolah raga di sekitar rumah Kinar.


Dimas kini berada di halaman belakang rumah Kinar, duduk di sudut taman menikmati keindahan halaman rumah tersebut.


Tiba-tiba Dimas mendengar dua orang sedang berbicara. di dekatnya, kedua orang itu tidak melihat keberadaan Dimas karena terhalang pepohonan


”Pa, apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus memberitahu kakek Ridwan dan Bagus?" tanya seorang pria muda


” Jangan, papa gak mau merepotkan mereka trus”


”Lalu kita harus bagaimana pa? apa harus rumah ini kita jual?” tanya Pria muda itu lagi


”Jangan, ini milik mamamu, papa akan cari cara agar kita bisa mempertahankan perusahaan buyut mu, papa akan merasa sangat bersalah jika perusahaan ini sampai bangkrut" ucap Si pria satunya


Dimas di balik pohon mendengarkan dengan seksama, ia bisa mengenali dari suaranya jika itu adalah papa dan adik Kinar.


Dimas bukan ingin bersembunyi , namun ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan diri, ia ingin mendengar semuanya, walau tak sopan, namun sebagai seorang menantu ia merasa harus bisa membantu mertuanya itu .


" Ini semua gara-gara om Harry sialan itu, Rey janji jika bertemu dia akan Rey bunuh" geram Reyhan marah


"Rey istighfar, jaga ucapan mu gak baik nak” ucap Satriaenasihati putranya


”Habis Rey benci pa, semua gra-gara om Harri menodai kepercayaan papa, tega-teganya dia bawa kabur uang perusahaan di saat kita kena musibah” ucap Rey berapi-api.


"Semua karena kesalahan papa nak, papa yanv terlalu percaya pada orang yang salah,. sekarang kita gak usah menyalahi dan memgutuh orang itu, lebih baik kita cari. jalan keluar. Tiga hari lagi tengat waktu pembayran bank, papa akan meminta pihak bank memberi kita kelonggaran waktu.


Papa akan bertemu dengan rekan kerja papa, semoga saja ia mu menanamkn modalnya di perusahaan kita” ucap Satria penuh harap

__ADS_1


"Semoga pa" jwab Reyhan lirih


ini sudah sekian kalinya papanya meminta bantuan rekan kerjanya, namun hanya satu kata yang mereka dapat, gagal.


Reyhan menatap papanya yang terlihat tegar, ia sangat salut dan bangga memiliki orang tua seperti Satria.


"Rey, percayalah, Allah akan selalu membantu umatnya, jika kita berusaha. jadi jangan pernah lelah berusaha dan berdoa, hasilnya serahkan pada Allah”


"Iya pa" ucap Rey berusaha tersenyum membalas senyuman papanya, walau dalam hatinya gundah.


"Senyumlah, jangan buat mama, kakak dan adikmu khawatir. Kakakmu Kinar orang yang perasa, jangan buat ia berkorban lagi, ia sudah banyak berkorban untuk keluarga kita. termasuk membuang impiannya demi pengobatan mamamu” ucap Satria sedih


"Maksud papa??? apa???”


"Ya, kakakmu menikah demi mendapatkan uang untuk pengobatan mamamu dan dia juga berhenti kuliah demi kalian bisa kuliah." ucap Satria menitikkan air matanya.


Anak sulungnya yang sudah seperti anak kandungnya sendiri memiliki hati malaikat.


Reyhan tak bisa berkata apa-apa, ia terkejut sekaligus sedih untuk kakaknya, kakak yang amat ia sayangi.


"Jaga rahasia itu, papa gak mau kakakmu tahu jika PPA sudah mengetahui semua. terutama dari mama dan adikmu serta Aisya.


Jika mamamu tahu kebenarannya, mamamu lebih memilih sakit dan meninggal daripada harus membuat anaknya menderita" ucap Satria menghapus air matanya.


"Sudah sana kamu masuk duluan, nanti papa susul, sekalian pamit sama mama dan kakakmu, kita pergi ke kantor."


Reyhan kembali mengangguk lalu berjalan masuk kedalam rumah, sementra Satria terlihat beberapa kali menghela nafas, ia kemudian menyusul Reyhan masuk ke dalam rumah.


Kini tinggallah Dimas terdiam membisu, ia merasa terenyuh mendengr percakapan barusan.


dalam hatinya ia makin merasa bersalah pada Kinar.


Dimas bertekat akan membantu keluarga Kinar apapun caranya, namun agar papanya Kinar mau menerima bantuannya, ia akan bersikap seolah-olah tidak tahu dengan masalah keuaangan perusahaan papanya Kinar


Setelah melihat tak ada orang, Dimas berjalan menuju teras depan rumah, seolah ia sedang berolah raga di sana. Ia masuk ke dalam rumah dari pintu utama, berpapasan dengan Reyhan yang menyapa sopan dirinya.


"Kamu mau berangkat kantor Rey??" tanya Dimas tersenyum


"Iya kak, iseng-iseng isi waktu libur kuliah" ucap Reyhan

__ADS_1


”Oh ya bagaimana nanti siang kita makan siang bersama???? ”


"Itu, bagaimana ya? Reyhan gak tahu kak, tapi nanti Rey tanya papa dulu ya kak” ucap Reyhan


”Ada apa pakai tanya papa?" tany Satria tiba-tiba berada di samping mereka


"Pa..." sapa Dimas sopan


"Owh nak Dimas habis olah raga, gak ke kantor???”


"Ini baru selesai keluarin keringat mau bersiap ke kantor pa" ucap Dimas


"Apa yang kalian bicarakan tadi?” tawanya Satria penasaran


”Dimas mau ajak papa nanti makan siang, bagaimana pa??” tanya Dimas penuh harap


"Baiklah nak, kamu kirim alamatnya, papa dan Rey akan bertemu ditempat yang nak Dimas pilih"


"Baik pa, ,nanti Dimas kan kirim alamatnya, atau Dimas saja yang ke kantor papa??? sekali-kali mendatangi kantor mertua" ucap Dimas


"Ah papa malu, kantor pao kecil" ucap Satria beralibi


” Dimas mau berkunjung gak lebih pa"


Satria terlihat ragu, ia takut menantunya akan tahu jika perusahaannya tak baik-baik saja, ia dilema antara menyetujui atau tidak.


Akhirnya dengan terpaksa Satria menyetujuinya.


"Baiklah nak, ini kartu nama papa" ucap Satria menyodorkan kartu namanya,


"Kalau begitu papa jalan duluan , Assalamu'alaikum” ucap Satria


"Wa'alaikum salam" jawab Dimas


Setelah mobil mertuanya keluar halaman rumah, Dimas masuk ke dalam rumah, bersiap untuk berangkat kantor.


Seperti biasa Kinar menemani suaminya hingga di depan pintu, mencium punggung tangan suaminya.


"Mas nanti siang mau makan siang dengan papa dan Rey, kamu tidak perlu. menunggu pas pulang makan siang” ucap Dimas mengecup kening Kinar

__ADS_1


”Ada acara apa mas makan siang bareng?" tanya Kinar penasaran


”Rahasia..”


__ADS_2