
Setelah perkenalan singkat mereka, kini semua orang berkumpul di ruang keluarga.
Freya terus menempel pada Kinar seolah ia takut Kinar di rebut oleh Amera yang terlihat kesal melihat kedekatan Kinar dengan orang asing.
Amera memang terkenal manja pada kakak-kakaknya tak terkecuali pada Kinar, melihat Kinar memangku Freya terlihat kecemburuan yang mendalam membuat Anggi yang memahami karakter putrinya tersenyum lembut
"Sayang, tidakkah kau lihat adik kecil itu lucu??" tanya Anggi pada putri bungsunya
"Tidak lucu" ucpa Amera langsung tanpa berfikir
"Bukankah dia cantik??" tanya irine menggoda
Freya mengalungkan tangannya di leher Kinar, seolah menandakan Kinar hanya miliknya membuat Kinar tertawa kecil sambil mengelus puncak kepala Freya.
Anggi yang melihat interaksi putrinya dengan gadis kecil itu hatinya tersentuh.
Ia jadi membayangkan jika saja cucunya masih ada, tentu Kinar akan menjadi ibu yang baik dan penyayang.
seperti yang ia lihat di depannya saat ini.
Anggi merasa hatinya sakit mengingat penderitaan yang pernah putrinya hadapi.
"Ma lihat itu , siapa sih gadis kecil itu???" tanya Amera berbisik pada Anggi
"Sayang, anak itu calon anak tiri kakakmu, Mak dari itu..."
"Aku tak setuju" ucap Amera bersedekap dada
"Kenapa??? bukankah anak itu lucu dan cantik.
dia sangat menggemaskan membuat mama ingin menciumnya" ucap Anggi sengaja memancing putrinya
"Mama, aku tidak suka ya tidak suka, gak ada alasan" ucap Amera mendengus kesal
"Apa kau cemburu karena kakakmu tidak memanjakan mu???"
"Bu..bukan begitu ma, aku..., aku...
Sudahlah aku lebih baik min dengan kak Rasya" ucpa amera.menghentakkan kakinya kesal
"Amera kenapa Anggi??? cemburu ya???" tanya Irine tersenyum
"Iya sepertinya" bisik Anggi tertawa
"Loh ma, Amera mau kemana???" tanya Kinar yang melihat adiknya berjalan cepat
"Dia cemburu" ucap Anggi sambil memberi kode Kinar
"Dengan dia??? hahaha masa sih ma???"
tanya Kinar tak percaya
"Biasa deh, diakan ikut mama sama papa karena merindukan kamu dan pengen manja-manjaan, tapi begitu sampai sini kamu nya ...."
__ADS_1
"Masa sih ma??? aduh Kinar jadi gak enak sama Amera"
"Sudah biarin saja, nanti juga hilang sendiri ngambeknya.
Anak cantik tadi nama kamu siapa, maaf ya Oma lupa" ucap Anggi menatap Freya sambil tersenyum.
Freya menyembunyikan wajahnya di dada Kinar malu-malu
"Tuh, Oma Anggi bertanya, anak baik harus menjawab" ucap Kinar lembut
"Freya" ucap Freya langsung patuh membuat Anggi kagum melihatnya
"Freya usianya berapa sayang???"tanya Anggi lagi, Freya hanya mengacungkan tujuh jari tangannya lalu menatap Kinar
"Freya anak baik kan ma???"
tanyanya meminta di puji sudah membalas pertanyaan Anggi membuat semua orang gemas melihatnya
"Kita makan dulu ya ma, sudah siang, mama, papa dan Amera pasti sudah lapar"ucap Kinar mendudukan Freya di samping nya
"Mama Kinar" ucap Freya tak mau jauh dari Kinar
"Katanya Freya mau jadi anak baik, temani Oma Anggi dan Oma irine disini, mama mau siapkan makan siang untuk semua" ucap Kinar lembut, Freya dengan enggan mengangguk
Setelah Kinar pergi Freya duduk terdiam memandang Anggi dan irine bergantian.
jika dengan irine ia sudah kenal, namun dengan Anggi ia baru mengenalnya beberapa menit lalu, ia memainkan gaun nya tanda gugup
Anggi berjalan mendekati Freya dengan tersenyum membuat Freya sedikit membuka diri
"Iya dong, Oma datang karena ingin menjenguk mama Kinar, Freya gak percaya kalau Oma mamanya mama Kinar???" tanya
"Habis Oma cantik dan masih terlihat muda.
Oma lebih cocok jadi kakaknya mama Kinar" ucap Freya tersenyum.
Anggi dan irine yang mendengar ucapan Freya tertawa
"Astaga anak ini mengapa mulutnya manis sekalian seperti madu, siapa yang mengajarimu memuji begitu???" tanya Anggi mencium pipi Freya gemas.
Freya seperti boneka hidup, cantik dan menggemaskan
"Freya gak ada yang ngajarin Oma,
Oma irine sama Oma Anggi kedua nya cantik.
Freya kalau sudah besar mau seperti kalian" ucap Freya lagi membuat irine dan Anggi senang
"Cih anak kecil sudah pintar menjilat" ucap amere yang berdiri di eblkng Freya
"Menjilat itu apa kak??"
"Ameraa.... mama gak ngajarin kamu ketus begitu ya??"
__ADS_1
"Habis dia pintar sekali bersilat lidah" ucap Amera tak senang
"Jangan karena mam memnjakan kamu kamu bisa berbuat sesukamu ya?" ucap Anggi tak senang
"Oma jangan marah, kak Amera sepertinya tidak menyukaiku," ucap Freya dengan mata memerah ingin menangis, Amera jadi merasa bersalah.
sejak awal Freya tak bersalah padanya, mengapa ia harus ketus pada anak kecil itu???
"Maaf, aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya, hanya...."
Amera bingung harus berkata apa, ia memandang mamanya meminta bantuan
"Amera hanya bingung harus bagaimana karena kalian baru kenal, ya kan Amera" ucap Anggi
"Iya, benar, maaf ya.
bagaimana kalau kita main " ucap Amera pada akhirnya.
mereka bermain di sana.
Amera terlihat seperti sosok kakak yang baik
"Apa kau lihat interaksi anakmu dan gadis kecil itu???
Mereka seperti ibu dan anak" ucap Irine
"Iya, aku melihatnya dan entah mengapa aku menyukainya" ucap Anggi jujur
"Aku menyukai gadis kecil itu, sejak pertama Kinar membawanya.
Kinar lalu menceritakan tentang kehidupan anak itu.
Anak itu tak pernah melihat wajah mamanya itulah mengapa begitu mengenal Kinar ia langsung lengket seperti lem"
"Apa mama nya sudah meninggal??" tanya Anggi penasaran, Irine menggelengkan kepala pelan
"lalu??? kemana mamanya???" tanya Anggi penasaran
"Pergi meninggalkanku setelah melahirkan Freya dengan kekasihnya"
"Astaghfirullah, mengapa ada wanita seperti itu??? dia tidak pantas disebut seorang ibu" ucap Anggi emosi
"Aku juga berfikiran yang sama.
Sebagai seorang ibu saat mendengar itu darahku mendidih" ucap Irine
"Kasihan sekali Freya" Irine mengangguk pelan setuju dengan perkataan Anggi
"Makan siang sudah siap, ayo makan dulu" ucap Kinar memanggil semua orang.
ia juga memanggil papanya dan Ridwan yang sedang asik berbincang dengan Michael
wajah Michael terlihat tegang, sepertinya papanya sedang berbicara serius dengannya, namun begitu melihat Kinar Michael memaksakan tersenyum seolah tak ada maslah apapun.
__ADS_1
Beberapa bulan kedekatan mereka sudah memberikan Kinar gambaran bahwa Michael sosok pria yang humoris, dewasa dan sosok ayah penyabar dan penyayang, ia juga bisa jadi imam yang baik jika kelak mereka menikah, masalahnya akankah mereka berlabuh ke mahligai pernikahan jika perahu mereka berbeda???