Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Rahasia Bella


__ADS_3

"Wanita itu merusak semua rencana gue, sial.


Dia harus gue singkirkan secepatnya, dan nenek tua itu, tidak bisa dibiarkan begitu saja, dia punya bukti.


Gue harus hancur bukti itu secepatnya" ucap Bella lalu segera menuju kamarnya yang sudah di rapihkan Dian beberapa saat lalu


Bella berjalan mondar mandir sedang memikirkan rencana yang harus ia lakukan, kali ini ia harus keluar dari masalah dulu, Bella tak akan pernah rela Kinar kembali pada Dimas, apapun yang terjadi, karena Dimas hanya miliknya seorang.


"Benar-benar buntu, tak ada jalan keluar" gumamnya mengigit jari tangannya sambil berfikir keras


Karena tegang, ia merasa sakit di bagian perutnya, dengan meringis Bella membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ahhh, sungguh sial, saat punya anak malah cacat, walau ku paksakan lahir juga tak berguna" gumam Bella memandang perutnya yang membuncit.


karena merasa sangat nyeri akhirnya Bella meminum obat penghilang sakit dan akhirnya ia tertidur.


Dimas yang sudah selesai di perban ingin mengusir Bella, namun lagi-lagi ia tak tega melihat Bella tertidur.


Dimas ingin mengambil baju gantinya, namun terdengar suara rintihan dari arah tempat tidur


"Aduhhh, sakitttt" ucap Bella merintih kesakitan.


Rupanya ia masih merasakan sakit, peluh membasahi wajahnya yang sudah pucat pasi.


"Bell, Bella bangun" ucap Dimas mengguncang badan Bella, namun Bella hanya merintih saja


Dimas memanggil Kinar dan mamanya, untuk mengabarkan kondisi Bella, tadinya ia akan mengatakan jika setelah anak itu lahir ia akan segera menceriakan Bella, karena dalam muslim, haram seorang suami menceraikan istrinya saat hamil.


Namun kini Dimas harus menahan rencananya.


Mariska menyuruh Dimas membawa Bella ke rumah sakit. Bagaimanapun ia seorang ibu, ia tahu bagaimana rasanya saat hamil. Se benci apapun ia pada Bella, ia tak bisa mengabaikan begitu saja nyawa wanita itu.


Dimas segera membopong tubuh Bella yang tak sadarkan diri, ia membawa mereka menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit, team dokter segera memeriksa Bella, sementara Dimas Dan Kinar terlihat khawatir.


Mereka memang benci Bella, tapi bagaimanpun Bella sedang kesakitan, mereka masih memiliki hati nurani dan merasa kasian.


Setengah jam kemudian seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan, itu adalah dokter kandungan yang sama dimana dulu Kinar di periksa, sehingga kInar kenal dengan dokter tersebut.


"Dokter Brian??" sapa Kinar


"Bu Kinar??? apa yang ibu lakukan disini??"


"Saya sedang menunggu Bela, wanita hamil yang beberapa waktu lalu masuk ke dalam" ucap Kinar


"Owh Bu Bella, anda siapanya???" tanya dokter Brian pemasaran


"Saya... ah rumit dok buat di jelaskan, yang pasti Bella dan saya punya ikatan" ucap Kinar tak ingin membahas lebih jauh dengan pria Asing.

__ADS_1


"Kemana suami Bu Bella, ini yang kesekian kali belia kontraksi, jika di teruskan nyawanya bisa terancam" ucap dokter Brian


"Ah Mas Dimas sedang membelikan ku minuman dok.


Apa yang terjadi dengan Bella??" tanya Kinar penasaran


"Itu saya tidak bisa mengatakannya pada anda maaf"ucap dokter Brian


”Boleh kita bicara di ruangan dokter??" ucap Kinar yang curiga jika Bella menyembunyikan sesuatu dari mereka.


Dokter Brian nampak ragu, namun beberapa saat kemudian ia mempersilahkan Kinar mengikutinya ke ruangannya


"Begini dok, saya akan menjelaskan suatu rahasia.


Bella adalah istri ke dua suami saya" ucap Kinar lirih.


Nampak dokter Brian terkejut, namun beberapa saat kemudian ia terlihat sudah bisa menguasai dirinya


"Saya harap dokter bisa memberitahukan kondisinya pada saya, saya akan membantu membujuk suami saya untuk pengobatan Bella, karena suami saya lebih percaya saya” ucap Kinar


Dokter Brian nampak ragu, ia memandang kinar, terlihat wajah Kinar serius,


"Kondisi Bu Bela sangat mengkhawatirkan. Ia terkena kanker, maksud saya, ia punya riwayat penyakit kanker, dan karena kehamilannya, sel kanker itu berkembang lagi walau sebelumnya sudah pernah di operasi.


Ditambah kondisi anaknya terdeteksi memiliki gagal jantung bawaan, sehingga kami menyarankan untuk mengangkat rahimnya"


"Astaghfirullah, dia sedang hamil, mengangkat rahim artinya??? apa???"


"Astaghfirullah, bagaimana Bella tidak memperhatikan anaknya" Kinar merasa marah, kesal pada Bella.


ia hidup seenaknya sendiri tanpa memperdulikan anak dalam kandungannya. Dia tidak tahu bagaimana Kinar menderita karena kehilangan anaknya, sedang dia malah menyia-nyiakan


"Saya akan memberitahukan pada suami saya, semoga Bella tidak menolak melakukan operasi" ucap Kinar


"Semoga Bu, kalau begitu saya harus kembali ke ruangan Bu Bella untuk memeriksanya lagi


"Baik dok, terima kasih atas infonya" ucap Kinar lalu keluar dari ruangan dokter Brian


Kinar merasa tubuhnya tak bertenaga, ia berjalan sambil memegangi dinding, takut terjatuh. Kemudian ia duduk di bangku yang tersedia di koridor rumah sakit.


"Bella, manusia seperti apa dia??? wanita bagaimana dia???Dia tega menyingkirkan aku demi bersama mas Dimas, lalu berusaha mempertahankan bayinya hanya agar Dimas tetap disisinya, egois, kejam, licin" ucap Kinar di liputi rasa marah.


My hubby calling.......


Ponsel Kinar berdering, rupanya Dimas yang menelponnya, Kinar segera mengangkat panggilan telepon dari Dimas


"Assalamu'alaikum mas"

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, kamu di mana sayang??? mas cari-cari gak ada" ucap Dimas khawatir


"Aku sedang ke toilet, maaf membuatmu khawatir, tunggu aku akan kesana" ucap Kinar lalu mengakhiri panggilannya sebelum Dimas menjawab.


Kinar langsung menuju ruang IGD dimana Bella sedang di tangani.


Terlihat dari kejauhan Dimas tersenyum begitu melihatnya


"Lain kali kalau pergi kabari aku, kamu membuatku takut" ucap Dimas langsung menarik Kinar dalam pelukannya.


"Bagaimana Bella mas??" tanya Kinar


"Mas belum masuk ke dalam, mas menunggumu. Mas hanya tak mau kamu salah paham lagi tentang perasaan mas padamu, bagi mas kamu yang paling terpenting dalam hidup mas" Dimas menggenggam tangan Kinar erat, sementara Kinar tersenyum canggung.


Sementara di dalam ruang pemeriksaan


Bella membuka matanya, ruangan putih dan bau disinfektan menyengat.


"arrggh sakit" ucap Bella lirih.


Dokter Brian yang sedang memberikan arahan pada perawat langsung bergegas menghampiri Bella


"Alhamdulillah Bu Bella sudah siuman, apa yang ibu rasakan??"


"Dok perut saya sangat sakit"ucap Bella lirih


"Kondisi ibu makin parah, jika kita tak segera melakukan operasi, saya khawatir kanker ibu semakin menyebar"


"Siapa, siapa yang membawa saya ke rumah sakit??" cecar Bella tak memperdulikan ucapan dokter Brian


"Suami anda dan ibu Kinar" ucap Dokter Brian


"Ah, wanita itu" gumam Bella


"Apa Bu???" tanya dokter Brian


"Dok bisakah saya minta tolong pada dokter??? jangan katakan kodisi saya pada suami saya dok, saya mohon dokter, atau suami saya akan menceraikan saya, Taka da gunanya saya hidup jika itu terjadi.


wanita itu, Kinar. Dia wanita yang jahat, dia pasti akan langsung menyuruh mas Dimas menceraikan saya, saya mohon dokter" ucap Bella menangis histeris


Dokter Brian hanya diam, dalam hatinya ia tak percaya wanita seperti Kinar bisa berbuat jahat, ditambah Kinar habis kehilangan bayinya beberapa waktu lalu, Brian menduga jika Bella adalah orang ketiga di rumah tangga Kinar melihat perangai Bella.


Namun ia hanya seorang dokter, tak punya hak untuk ikut campur dengan kehidupan pribadi pasiennya,.


"Saya mohon dokter, atau saya harus bersimpuh di kaki dokter??" tanya bella ingin bangkit


"Ah Bu Bella, jangan begitu, anda masih perlu banyak istirahat, baik , baik, saya akan merahasiakan pada suami anda, namun hany sampai seminggu. Besok rekan saya yang akan menggantikan saya, tapi setelah saya pulang dari seminar, saya harap anda sudah memberitahukan kondisi anda pada suami anda, atu terpaksa saya yang akan mengatakannya sendiri" ucap dokter Brian

__ADS_1


"Baik dok, saya janji, makasih" ucap Bella.


Dokter Brian hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan tersebut.


__ADS_2