
"Jadi, apa kamu mau jujur sama mama??? " tanya Mariska menatap anaknya tajam.
Saat mengetahui Dimas tidak pulang, Mariska langsung menelpon Dimas, bukan melalui telepon, ia meminta Dimas menemuinya ketika jam makan siang,
”Jujur tentang apa ma, Dimas tak mengerti" Dimas tahu arah pembicaraan mamanya, tapi ia tak menduga jika mamanya akan langsung ke pokok permasalahan tanpa basa-basi
"Kemana kamu dua hari lalu?, Kinar mengatakan jika kamu tak pulang.
sejauh yang mama sangat tahu jika kamu paling enggan jika menginap di hotel atau di manapun. kamu lebih suka kamarmu sendiri atau apartemen" ucap Mariska meneguk air putihnya membersihkan tenggorokan nya sehabis makan siang dengan anggun
Dimas tak berkutik, ia tak memiliki alasan untuk menghindar, karena Mariska tahu kebiasannya.
"Dimas tidak ke hotel atau tempat penginapan manapun ma" ucap Dimas lirih, karena kenyataannya memang ia tak disana.
Yang Dimas tak tahu adalah, mamanya tahu jika Bella di apartemen miliknya, namun untuk alasan apa Mariska belum tahu dan ia akan menanyakan masalah serius ini.
"Apa bisa mama percaya???”
"Maaaa, aku lelaki dewasa ma, mama tidak bisa terus mengawasi dan menanyakan apa yang ku lakukan" ucap Dimas karena merasa terpojok
"Mama tahu, tapi sikapmu masih seperti anak kecil, tidak dewasa seiring usiamu.
Dan kamu harus ingat kamu juga lelaki yang sudah berkeluarga"ucap Mariska dengan sorot mata dingin
"Aku tak pernah lupa statusku, aku mencintai keluargaku, aku juga mencintai Kinar"ucap Dimas di akhir kalimat nya, namun Mariska mendengarnya, senyum simpul terhias di bibirnya.
"Mama harap apa yang kamu katakan berasal daruli lubuk hatimu yang paling dalam sayang.
Mama jadi penasaran siapa yang menempati kamar apartemenku sekarang???" tanya Mariska menaikan alisnya melirik kearah putranya
"Sial gue lupa kalau mama seorang yang mengerikan, mama bisa tahu secepat ini, tentu bukan dari Kelvin, walau Kelvin membenci Bella, tapi ia tak akan pernah mengkhianati gue" gumam Dimas dalam hati.
Dimas yakin jika informan mamanya sungguh bisa diandalkan.
"Mama tidak usah berpura-pura tak tahu siapa yang tinggal di sana, aku hanya akan mengatakan jika aku hanya membantunya, ia di usir dari rumah oleh orangtuanya, dan setelah dapat pekerjaan, ia akan keluar dari sana"
"Nak, sekali dia tak benar, ia tak akan pernah lurus lagi jalanya, kamu pasti menduga jika mama mengatakan ini semua karena mama tidak menyukainya bukan???
memang mama tidak menyukainya, namun mama punya alasan lain untuk mengatakan kepadamu.
__ADS_1
Wanita itu bukan di usir, tapi ia keluar dari rumah setelah bertengkar dengan adik-adiknya dan berujung dengan serangan jantung mamanya.
Mama baru saja menjenguk mamanya Bella sebelum mama kesini, walau kami tak jadi besar, wanita itu tetap teman mama, Hanya saja ia bernasib buruk memiliki putri yang berkelakuan ....
Sebaiknya kamu pikirkan lagi nak untuk menampungnya, mama berfikir ia memiiki maksud lain, terlepas dari niatnya tulus atau tidak, demi menghindari hal yang buruk, batasi semua tentangnya" ucap Mariska menatap lurus anaknya
"Dimas tahu batasannya ma, mama tak perlu khawatir"
"Justru mama khawatir nak, kamu biarpun sikapmu dingin dan tak berperasaan, tapi kamu sesungguhnya pria yang lembut dan lemah hati jika di depan wanita, terlebih wanita yang pandai bermain trik, kamu akan terjebak suatu saat nanti.
Tendang wanita itu jauh-jauh wanita itu sebelum kau menyesal, demi kebaikanmu dan kelurga kecilmu" Mariska menekankan setiap kata-katanya, hatinya muram memikirkan Dimas masih saja lunak dengan Bella, sungguh ia khawatir Bella akan memanfaatkan kebaikan Dimas
"Aku mengerti ma, beri aku satu bulan lagi, aku akan mengusir Bella"
Mariska menghela nafas , ia kehabisan kata-kata.
Sifat Dimas mengingatkannya pada Almarhum suaminya, keras kepalanya menurun padanya, suatu kombinasi yang rumit.
"Mama sudah mengatakan apa yang mama ingin katakan, mama sudah menasihatimu sebagai orangtua, mama sudah memperingati mu sebagai orang yang telah memakan asam garam kehidupan, semua pilihan di tanganmu.
Satu hal yang mama mohon padamu, jangan sakiti Kinar, bukan saja karena dia menantu yang mama sayang, dia juga Dewi penolong mama"
"Dimas mengerti ma"
"Hati-hati di jalan ma" ucap Dimas mencium punggung tangan mamanya
mereka keluar bersamaan dari restoran itu
"Oh ya, saat kamu tak pulang, kemana kamu pergi dengan Bella??? apa kamu menghabiskan malam mu dengan wanita itu??? ingat Dimas langkahmu menentukan masa depanmu, mama harap tak terjadi apapun antara kamu dan Bella" ucap Mariska langsung masuk ke dalam mobilnya dan meminta supirnya langsung jalan
"Rupanya mama tahu semua, itulah mengapa mama memintaku untuk menemuinya, aku seperti kucing yang ketangkap makan ikan dan masih di paksa jujur saat bukti sudah di depan mata.
Mamaku benar-benar wanita cerdik" gumam Dimas menatap kepergian mamanya.
Sementara di dalam mobil, Mariska terlihat menghela nafas, Dendi asisten pribadinya melirik dari kaca spion.
Dendi sangat tahu apa yang sedang dipikirkan bos nya itu
"kita mau kemana lagi Bu Mariska?" tanya Dendi membuyarkan lamunan Mariska
__ADS_1
"Kita langsung pulang" ucap Mariska singkat
"Apa Bu Mariska tidak mau mengunjungi nona muda?" tanya Dendi menunggu reaksi atasannya itu
"Aku lelah, lain kali aku akan mengunjungi menantuku itu" ucap Mariska masih memandang pemandangan yang di lalui melalui kaca jendela mobil
Suasana kembali hening
"Dandi, apa yang akan kamu lakukan jika menjadi aku? " tanya Mariska tiba-tiba
"Apa Bu Mariska menanyakan pendapatku atau menanyakan apa tindakan yang akan kulakukan bila berada di posisi nyonya??" tanya Dendi membuat Mariska tersenyum
Pemuda ini persis seperti ayahnya yang sudah pensiun , namun kecerdikannya menurun pada putranya ini
”Kamu seperti ayahmu, aku suka kamu langsung to the poin
"Terima kasih Bu Mariska, saya masih harus banyak belajar dari ayah. saya akan mengatakan sejujur nya apa yang ada dalam pikiran saya.
Jika saya adalah anda, saya akan menendang Bella jauh, tanpa pengetahuan mas Dimas.
namun sebelumnya mencari bukti kebusukan wanita itu, membukanya di depan mas Dimas, tapi menggunakan tangan orang lain, sehingga saya tetap seperti saya sebenarnya,maksud saya, nama saya tetap bersih.
Maaf jika pemikiran saya sedikit ..."
"Sepertinya itu masuk akal" ucap Mariska memotong ucapan Dendi.
"Aku lihat perkembangannya dulu, jika buruk, kita bertindak" ucap Mariska.
Sementara di tempat lain
"Dimas brengsek" teriak seorang wanita frustasi, ia melempar apa saja yang ada di dekatnya, matanya menyala penuh benci.
"Bisa-bisanya dia...
kenapa harus jatuh cinta dengan wanita itu? kenapa?
bukankah dia sangat mencintaiku? kemana rasa cinta itu pergi, dasar penipu, aku benci kamu mas" teriak Bella mengamuk, kamarnya seperti kapal pecah, Asisten rumah tangga yang biasanya datang untuk membersihkan apartemen terkejut mendengar kegaduhan dan teriakan Bella di kamar, ia lalu menelpon Dimas memberitahu apa yang terjadi di apartemen itu.
"*Terima kasih Bu, laporkan terus apa yang wanita itu lakukan" ucap Dimas di ujung telepon
__ADS_1
"Baik den"
Panggilan berakhir*