Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Dokter umum


__ADS_3

Setelah sampai rumah Kinar memilih masuk ke kamarnya, Rasya dengan dekatkan membawakan kompres berisi es untuk mengompres wajah Kinar, setelah itu ia mengoleskan obat memar di wajahnya


Berkali-kali Rasya meminta maaf, namun berkali-kali pula Kinar meyakinkan Rasya bahwa ia baik-baik saja, itu bukan salahnya, semua karena salah paham, jadi tak ada yang bisa di persilahkan.


Sore itu Anggi menelpon putrinya karena baru beberapa hari di tinggal ia sudah sangat rindu, Kinar bingung bagaimana ia bisa mengangkat video call dari mamanya jika kondisi wajahnya seperti sekarang, yang ada Anggi akan histeris dan langsung memintanya kembali ke Indonesia, Kinar paham sekali sifat mamanya itu.


"Aduh gimana nih mama pakai video call lagi, lebih baik ku biarkan saja dari pada urusannya panjang" gumam Kinar melirik ponselnya yang terus berbunyi


tok tok tok


"Kinar papa kira kamu sudah tidur, dari tadi ponselmu berbunyi, kenapa gak kamu angkat????" tanya Ridwan yang sudah berdiri di depan pintu kamar Kinar


"Itu, mama yang telepon pa" ucpa Kinar serba salah


"Loh kenapa gak diangkat, palingan mamamu rindu sama kamu" ucap Ridwan mendekati Kinar


"Iya pa, nanti kinar telepon balik mama"


"Kenapa pa???" tanya Irine mendekati suaminya


"Itu, Kinar gak angkat telepon ya, papa kira sudah tidur" ucap Ridwan pada istrinya


"Owh, kamu gak enak badan kah sayang??" tanya Irine perhatian, namun langkahnya terhenti ketika sudah dekat Kinar


"Eeengak ma, Kinar baik-baik aja" ucap Kinar berusaha menyembunyikan wajahnya


"Tunggu, tunggu, wajah kamu kenapa????, apa yang terjadi??? pa, papa sini" panggil Irine yang kini sudah duduk sambil memegang wajah Kinar


"Kenapa ma???"


"Lihat wajah Kinar bengkak" ucap Irine histeris, pasalnya Kinar kini menjadi tanggung jawab mereka, baru beberapa hari di sini, wajah Kinar bengkak seperti habis dianiaya orang


"Siapa ??? siap yang melakukan ini sama kamu???


jelas ini seperti habis di tampar keras"


"Mama Irine ini gak apa-apa" ucap Kinar tak enak hati

__ADS_1


"Gak apa-apa gimana??? lihat bibirmu sampai pecah" ucapnya langsung memeriksa Kinar


"Rasyaaaaaa, Rasya" teriak Ridwan kencang memanggil putranya


"Bego, bego, kenapa gue bukan pura-pura tidur aja ya, jadi runyam km urusan" gumam Kinar makin tak enak hati


"Jelaskan sama papa kenapa wajah kakakmu seperti itu??? itu bukan gambar tanganmu kan??? kalau kamu berani main tangan pada saudarimu sendiri papa pastikan kamu akan papa coret dari kartu keluarga Rasya" ancam Ridwan dengan tatapan tajam


"Itu bukan Rasya pa, itu, itu....." Rasya bingung harus mengatakan apa pada papanya, jujur salah, tak jujur lebih salah lagi, bisa di pastikan Ridwan akan murka


"Itu apa???? kamu laki-laki apa wanita???? laki-laki harus tegas bukan plin-plan.


Kamu baru papa titipkan kakakmu sebentar sudah seperti itu, bagaimana papa harus bertanggung jawab pada orangtua kakakmu???"


"Ini orang salah paham pa.


Bukan salah Rasya” ucap Kinar menengahi, karena memang pada kenyataanya bukan salah Rasya


"Papa masih menunggu penjelasan mu, jangan sembunyi di balik kakakmu, anak laki harus gentle"


Rasya kemudian menceritakan semuanya, terlihat Ridwan menggelengkan kepala beberapa kali, sementara Irine menghela nafas


wajah cantik saja tak akan cukup jika tak di barengi dengan sikap yang baik.


namun jika siftanya baik, wajahnya tak terlalu cantik dengan make up dan teknologi sekarang tak ada wanita yang jelek hanya wanita yang perduli akan dirinya dan yang tidak, karena pada hakekatnya semua wanita itu cantik dengan porsinya masing-masing.


Jadikan ini pengalaman ya nak, kamu juga gak boleh mengasari wanita, jika memang harus berpisah secara baik-baik" ucap Irine menasihati putranya


"Cari yang cantik, pintar dan baik, seperti mamamu" ucap Ridwan melirik istrinya


"Iya ya ya, bagi papa kan cuma mama ynag paling cantik" ucap Rasya yang sudah hapal dengan ucapan papanya


"Apa masih sakit?" tanya Irine mengalihkan pembicaraan


"Udah gak kok ma,"


"Mama gak mau kejadian ini terulang lagi, kamu mengerti Rasya???"

__ADS_1


"Iy ma"


"Ku sudah makan??? papa beli pizza ketika tadi pulang, ayo kita ngobrol di ruang tengah" ajak Ridwan , mereka semua lalu bangkit dan menuju ruang tengah yaitu ruang keluarga.


Lima Tahun Kemudian


Kinar sudah menyelesaikan gelar doktornya, lebih cepat dari mahasiswa lainnya, semua berkat otak encer kinar.


di Jerman terdapat dua tipe jurusan kedokteran, yaitu Regelstudiengang dan Modellstudiengang. Regelstudiengang membagi waktu perkuliahan ke masa teori (Vorklinik) dan praktik (Klinik). Sedangkan Modellstudiengang lebih menekankan teori dan praktik secara bersamaan dari masa awal perkuliahan. Waktu perkuliahan dari kedua tipe tersebut berkisar sekitar 6,5 sampai 7,5 tahun,


Kedua, tipe jurusan kedokteran di Jerman menerapkan sistem Staatsexamen (ujian negara). Yang mana dalam sistem ini tidak dibutuhkan untuk menulis skripsi seperti sistem S1 di Indonesia, ataupun tesis seperti S2, melainkan mahasiswa yang studi di jurusan dengan sistem Staatsexamen ini (seperti Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Hukum, Farmasi) wajib mengikuti ujian negara setelah beberapa fase perkuliahan


Kinar juga sudah mengambil Doktorarbeit, "Dr.Med" (doctor medicinae)


Kinar sengaja menyelipkannya di antara proses perkuliahan karena untuk menghemat waktu, sehingga menghemat jangka waktu studi kedokteran itu sendiri.


Kinar sudah mengabarkan keluarganya prihal berita bahagia itu, Satria dan Anggi sangat bahagia dan bangga pada putri mereka, dan mereka rencananya akan menetap selama dua Minggu di Jerman demi melepas kerinduan dengan putri mereka dan juga untuk menghadiri acara wisuda Kinar.


Walau wisuda masih dua bulan lagi, Kinar sudah bekerja di rumah sakit milik kakeknya sebagai dokter umum.


Karena Kinar sudah mengantongi surat izin praktek atau Facharzt für Allgemeinmedizin terlebih dahulu


Kinar tak mau membuang waktu, ia langsung melanjutkan ke jenjang spesialis dirumah sakit lain, ia akan bekerja sebagai Assistenzarzt (seperti Residen kalau di Indonesia).


Semua keluarga sudah mendukung keputusan Kinar, walau awalnya mereka keberatan karena takut Kinar merasa tertekan dan kelelahan karena harus fokus belajar, namun Kinar meyakinkan seluruh keluarganya bahwa ini yang ia mau, demi cita-citanya


Kinar juga tak merasa terbebani, ia menikmati hidupnya yang sekarang dengan enjoy.


Walau pada awalnya Kinar kesulitan karena harus menguasai bahasa Jerman, namun hanya dalam hitungan bulan ia sudah bisa menguasainya, semua berkat bantuan Ridwan dan keluarganya yang akhirnya membiasakan diri berbahasa Jerman agar Kinar lancar dan terbiasa,


Note:


Bab sebelumnya ada revisi, karena ternyata ada beberapa perbedaan perkuliahan di Jerman,


ini hanya sebagai gambaran saja, lebih dan kurangnya author mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan atau informasi yang salah.


terima kasih

__ADS_1


pooh


__ADS_2