Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Reyhan


__ADS_3

"Kinar setuju" ucap Kinar, sementara Dian yang sudah berada di dekat mereka langsung menutup wajahnya malu dan berlari masuk ke dalam rumah, karena terburu-buru, ia tak melihat jika Reyhan sedang berjalan dengan membawa segelas kopi di tangannya lalu...


"Brughh, aaaaaaawwww"


Suara teriakan Dian membuat semua orang terkejut dan langsung berlari menuju sumber suara


namun sampai di tempat semua orang lebih terkejut lagi, Reyhan berada diatas tubuh Dian dengan cangkir kopi di tangan kiri dan tangan kanan menahan tubuhnya


"Astaghfirullah Reyhaaaaan" teriak Anggi terkejut


"Sepertinya Rey sudah ga sabar ma" ucap Satria menahan senyum


"Papa ngaco, cepat bantu rey bangun" ucap Anggi kesal dengan suaminya yang berbicara sembarangan


"Anu pa, tadi Dian nabrak Rey" ucap Reyhan kikuk, wajahnya merona merah, tak beda jauh dengan Dian yang merah padam karena malu


"Apa kamu baik-baik saja Dian???" tanya Kinar yang melihat baju Dian kena tumpahan kopi


"Itu, cuma kena sedikit" ucap dian malu


"Ayo ganti bajumu, dan obati tanganmu tuh kena tumpahan kopi.


Dan kamu Rey, kalau jalan mata di pake" ucap Kinar marah, lalu berjalan masuk sambil menuntun Dian.


Kinar marah karena melihat tangan Dian memerah karena tumpahan kopi panas.


"Lain kali lebih hati-hati, bisa saja adik mu Amera yang kena apalagi Amera sedang aktif-aktifnya"


"Iya ma" ucap Reyhan lesu karena kena omel kakak dan mamanya,. Reyhan berjalan dengan malas menuju pantai di mana Farel dan kedua adik kembarnya sedang bermain gitar


"Kenapa loe???" tanya Rafa yang melihat kakaknya lesu


"Loe mah bikin kopi cuma satu, tinggal setengah lagi" gerutu Farel


"Minum aja sama.loe, gue gak mood" ucap Rey datar, lalu mendudukkan bokongnya di kursi malas di sebelahnya


"Jangan di mood lah bro, diminum" seloroh Farel menggoda Reyhan


"Sok-sok an galau loe Rey" goda Raffi


"Anak kecil tau apa loe" Dengus Reyhan


Reyhan tak lagi bersemangat menikmati malam sambil bermain gitar, ingatannya melayang membayangkan wajah cantik Dian,

__ADS_1


"Ternyata si jutex itu cakep juga, hidungnya mancung dan bulu matanya lentik sekali, cantik alami.


Apa tangannya baik-baik saja ya???


Apa perlu gue wa dia ya?? tapi gue gak punya nomernya, kalau minta sama Aisyah bisa-bisa bocah rese itu mulutnya bocor lagi" gerutu Reyhan gelisah


Sementara di kamar Dian


Kinar terus menggerutu kesal, ia melihat tangan dan perut Dian yang melepuh memerah, ia mengoleskan obat oles untuk luka bakar pada Dian


"Mba, jangan marah lagi, ini semua bukan salah Reyhan" ucap Dian tak enak hati


"Jangan membelanya, dia selalu urakan, jalan gak pernah hati-hati" ucap Kinar masih terlihat kesal


"Aku gak belain Rey mba, memang aku yang menabrak Reyhan" ucap Dian menundukkan kepalanya


"Sudah gak usah bahas lagi, lebih baik kamu tidur"Ucap Kinar setelah selesai mengoles obat di luka Dian


"Mba jangan marah-marah terus, entar cantiknya hilang"


"Biarin" ucap Kinar acuh, Dian langsung memeluk Kinar dengan manja


"Gak usah rayu mba, kamu pasti belain Rey kan mentang-mentang suka"


"Ih mba siapa yang suka Rey, kalau Dian suka, Rey juga gak mungkin suka" ucap Dian tanpa ia sadari Reyhan sedang berdiri di depan kamar Dian, niat awalnya ingin meminta maaf namun urung ia lakukan malah tak sengaja menguping percakapan kakaknya dengan Dian


"Ih mba ya, Bima cuma teman Dian kan cuma anak gak jelas, dia tuh sukanya yang orangtuanya jelas gak kaya Dian"


"Kamu gak usah minder, gak ada orang yang berfikiran seperti itu"


"Entahlah"


"Beneran kamu sama.Bima cuma teman?? dia tampan dan sopan loh" goda Kinar


"Beneran cuma temenan mba" dian meyakinkan


"Teman tapi mesra kaya lagunya Pingkan Mambo"


"mbaaaa" teriak Dian langsung menggelitik Kinar keduanya terdengar tertawa


Reyhan merasa tersentuh dengan ucapan Dian, memang selama ini ia tak pernah menganggap Dian karena Dian di angkat anak oleh orangtuanya, latar belakangnya saja gak jelas, siapa orangtuanya.


Reyhan merasa bersalah pada wanita itu.

__ADS_1


Reyhan lalu melangkah menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya, ucapan Dian seperti perekam yang di putar, Rey bisa merasakan kegetiran dan kesedihan di nada suara diam.


Sementara Dian dan Kinar kini memilih tiduran sambil terlentang menatap langit-langit kamar mereka


"Mba, kalau ada waktu sempatkan pulang dan jangan lupa mampir ya mba, jenguk Bu Mariska.


Sejak mas Dimas depresi ..."Dian buru-buru menutup mulutnya karena keceplosan, ia sudah di wanti-wanti semua orang agar tak mengatakan sesuatu apapun tentang Dimas, namun kini ia malah lancang mengatakan pada Kinar.


"Depresi???"tanya Kinar menoleh pada Dian


"Ah gak, itu, mba Dian ngantuk" ucap Dian gugup


"Dian, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku???? katakan" ucap Kinar tegas


"Anu, aduh Dian gak boleh bilang mba, bisa-bisa Tante sama om marah sama Dian"


"Mba gak akan ngomong apapun, apa yang terjadi pad Dimas???"tanya Kinar kini sudah duduk Tegal menunggu penjelasan Dian


"Setelah setahun perceraian mba, Bu Bella makin parah sakitnya, dia menjalani kemoterapi hingga rambutnya habis dan tubuhnya kurus kering.


Pak Dimas setia menunggui Bella, hingga Bu Bella tak kuat dan di panggil sang pencipta.


Sejak itu pak Dimas depresi, sekarang pak Dimas di rawat di rumah sakit.


Entah apa yang Bella ucapkan sampai Pak Dimas seperti kehilangan jiwanya, kejadiannya tidak ada seorangpun yang tahu.


Sejak itu kesehatan ibu menurun"


"Astaghfirullah, lalu...


bagaimana dengan perusahaan mama Mariska, Damar sedang meneruskan kuliahnya"


"Enggak ada, asisten almarhum bapak, suami ibu Mariska yang mengelola, ibu hanya mengontrol semua dari rumah"


"Ya Allah , pasti ini berat buat mama" ucap Kinar lirih. Dian mengangguk kecil, ia menyeka air matanya yang menetes. Kini Kinar tahu alasan kenapa Dian lebih memilih tinggal di rumah Mariska


"Dian, mba mau ucapin makasih ya kamu mau ngerawat dan menjaga mama Mariska"


"Gak perlu terima kasih mba, ibu Mariska sudah Dian anggap ibu Dian sendiri. Apalagi ibu udah banyak jasa juga buat Dian"


Setelah selesai berbincang-bincang, Dian tertidur lebih Awal, sementara Kinar masih melamun memikirkan orang-orang di masa lalunya


"Semoga Allah mengampuni dosa-doanya Bella.

__ADS_1


Dan mas Dimas, semoga Allah sembuhkan luka batinku" ucap Kinar lirih.


Ia lalu membaca alfatihah untuk Bella, betapa buruknya Bella di masa lalu, Kinar sudah ikhlas memaafkan.


__ADS_2