
Kinar sudah memberikan surat keterangan jika Albert ingin pulang, ia pun segera menuju ruang rawat albert untuk membuka infus dan memeriksa kondisi Albert sebelum pulang, mencatatnya dalam sebuah kertas yang nantinya digunakan saat Albert akan cek up dua hari kemudian.
Tiba-tiba pintu di ketuk dan masuklah ridwan yang masih bersama dengan kedua orangtua Albert, Kinar dapat melihat air muka kedua orangtua Albert sangat buruk, mereka terlihat marah dan kecewa dengan putra mereka
"Bener kamu mau pulang???" tanya Lucky membuka pembicaraan karena melihat Albert meminta adiknya membereskan pakaiannya yang baru saja Amara bawa beberapa waktu lalu
"Iya pa, Albert sudah baikan, gak betah di rumah sakit" ucapnya santai.
Namun wajah Amara merah padam karena marah
"Albert, mau kamu apa sih??? gak puas kamu siksa mama dan papamu ini??? apa kau bisa pikirkan bagaimana perasaan kami sedikit aja, betapa stress nya kami punya anak kamu Albert" ucap Amara emosi, wanita yang biasanya terlihat lemah lembut tak banyak bicara itu meluapkan emosinya
"Ma bukan begitu, hanya saja Albert tidak suka bau rumah sakit" sangkal Albert
"Kamu hampir saja mati karena konsumsi alkohol dan lambungku luka, serta jantungmu bermasalah, semua karena wanita yang kau bela selama ini.
Dimana wanita itu hah??? demi dia kamu menentang kami orangtua kamu, tapi sekarang mana dia, mana????" teriak Amara
"Sepertinya anak ini baru puas kalau kita mati ma" ucap lucky menyiram minyak diatas bara, Amara menangis tersedu-sedu, Albert merasa bersalah melihat wanita yang sudah melahirkannya itu menangis tersedu-sedu, ia menyalahkan semuanya pada Kinar, jika saja dokter itu tidak memberitahukan kepulangannya, tentu kedua orangtua nya tidak akan marah dan mempermalukannya di depan umum begini.
Albert tidak menduga jika kedua orangtuanya masih berada di ruangan Ridwan.
Kinar merasa serba salah dan bingung harus bagaimana, di satu sisi ia mau menghibur Amara, namun ia baru mengenalnya beberapa.waktunlalu, rasanya tak etis jika i berusaha masuk ke dalam permasalahan keluarga mereka
sementara Albert melotot tajam pada Kinar, Albert melimpahkan semua kesalahannya pada Kinar, semua karena wanita itu, entah mengapa ia membenci wanita itu, atua semua wanita????
padahal Kinar tak tahu menahu aja berada di tempat yng salah dengan orang yang kondisi jiwanya sedang labil dan kecewa.
"Ma, maafkan Albert.
mama kan tahu sendiri jika aku tak suka bau rumah sakit ma, aku benci bau rumah sakit" ucap Albert naik satu oktaf.
Bukan maksud membentak ,namun setiap kali melihat rumah sakit, hatinya akan sakit dan kembali mengenang kejadian itu, kejadian yang membuatnya trauma!!!.
Amara yang tadinya terlihat murka lalu melembut, ia mendekati putranya dan memeluk tubuh Albert,
Amara tahu rasanya itu, bagaimana mereka sekeluarga terpukul akan kejadian itu, namun yang paling terpukul adalah Albert yang melihat adiknya menghembuskan nafas di dalam pelukannya
#Flash Back
"Kita mau kemana sih kak???" tanya Gabriela penasaran
"Diam dan ikut, kamu pasti suka" ucap Albert tersenyum lebar.
__ADS_1
Hari itu adalah ulang tahun adik perempuannya semata wayang, Albert sudah menyiapkan kado kekuatan untuknya, sementara kedua orangtua mereka sudah menunggu di tempat acara untuk mengejutkan putri mereka.
Gabriella mengerucutkan bibir mungilnya kesal karena kakaknya tidak mengatakan apapun, di tambah kedua orangtua mereka ponselnya tidak aktif, sepertinya mereka berniat mengerjai Gabriella
"Kak, kakak, aku mu ice cream" ucap Gabriella melihat mobil ice cream yang terparkir di pinggir taman dimana sebuah taman di sulap menjadi tempat ulang tahun ala princess,
"Kita kesana dulu sayang, nanti kakak akan belikan kau ice cream apapun yang kamu mau" ucap Albert merayu adiknya
"Belikan atau gak sama sekali" ucap Gabriella bersedekap dada.
Demi membuat adiknya senang, Albert keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju mobil ice cream
Albert yang fokus berjalan kedepan tak melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang mengarah ke padanya.
Gabriella yang melihat hal itu berlari ke arah kakaknya dan mendorongnya sekuat tenaga.
Tubuh Arjuna terdorong ke sisi jalan, sementara Gabriella terpental beberapa meter setelah di tabrak dengan keras oleh sebuah mobil, mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan dan supirnya mati di tempat.
Sementara Gabriella tergeletak bersimbah darah.
Semua orang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu, Albert langsung mengangkat tubuh adiknya dan membawanya ke rumah sakit, saat sampai di rumah sakit, Gabriel menggeleng lemah dan berkata lirih
"Syukurlah kau selamat kak, aku bahagia.
Gabriella menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia meninggal tanpa sempat di selamatkan.
Bau rumah sakit menyesakkan dada Albert hingga ia akhirnya tumbang tak sadarkan diri.
Keesokan harinya ia baru siuman, geger otak ringan dan lengan yang patah tidak ia rasakan waktu mengangkat tubuh adiknya yang bersimbah darah, kini tangannya harus di pasang pin dan kepalanya di perban, bukan rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya, namun rasa sakit kehilangan, ia teringat Gabriella, adik kesayangannya
Terlihat mamanya yang pucat pasi masih menangis di pelukan papanya
"Ma, mama , Gabby..., dimana adikku ???" ucap Albert tak mendapati keberadaan Gabriella di sana
"Huhuhu, tuhan sayang adikmu, dia sudah di surga" ucap Amara memeluk putranya sambil menangis
"Enggak ma, ini gak mungkin, Gabby masih hidup, mama.psti bohong kan??? Gabby masih hidup.
Albert akan lihat Gabby, awas ma, Albert mau lihat Gabby" teriak Albert menolak kenyataan walau ia tahu adiknya memang sudah tiada
Amara makin menangis histeris, Lucky memapar wajah Albert untuk menyadarkan putranya itu
"Plaaaakkk"
__ADS_1
"Papaaaa..." pekik Amara
"Sadarlah nak, adikmu sudah pergi untuk selamanya, kami tidak bisa menunggu mu siuman untuk mengebumikan jasadnya, kasian adikmu,"
"Enggak, enggak mungkin, Gabby....
Gabriella maafkan kakak...." ucap Albert meraung menangis meratapi kepergian adiknya.
Brugh
Tubuh Amara limbung dan jatuh, beruntung lucky langsung menangkap tubuh istrinya yang tak sadarkan diri, Amara sangat tertekan dan sedih karena kepergian putri kesayangan mereka.
"Mamaaaaa" Albert tak kalah panik, ia berusaha bangun, namun selang infus menghalangi gerakannya
"Tetaplah di sana, jangan membuat mamamu tambah khawatir, kami sudah kehilangan satu anak, jangan tambah kesedihan yang lain.
Baik-baiklah dan sembuh lah secepatnya " ucap lucky berusaha tegar, ia membopong tubuh istrinya.
Amara di pindahkan keruangan perawatan yang berada di sebelah Albert, ia depresi dan shock, Amara menolak makan dan minum sejak kemarin.
"Gabby, maafkan kakak, mengapa kau menyelamatkan kakakmu, lebih baik aku yang mati gabby" Isak Albert sedih
"Bro, gue turut berduka cita. loe gimana keadaan nya???"
tanya Carl sahabat baik Albert
"Lebih baik gue yang mati Carl daripada Gabby, dia, dia yang menyelamatkan gue.
Gue gak berguna sebagai kakaknya gak bisa melindungi dia" ucap Albert penuh penyesalan
"Loe gak salah, tapi mereka lah yang salah dan mereka harus membayar mahal ini semua" ucap Carl mengepalkan tangannya menahan marah.
Seperti halnya Albert, Carl sangat menyayangi Gabby, bahkan gadis kecil itu mengidolakan Carl dan berkata akan menikahi Carla suatu saat nanti, namun...
Canda dan tawa Gabby sudah tak ada lagi seiring kejadian naas itu
"Apa maksud loe???"
"Sepertinya ini bukan kecelakaan murni" ucap Carl mengeram marah
"Maksud loe?? itu...." Albert terkejut, ia tahu kemana arah pembicaraan sahabatnya itu
"Pembunuhan terencana"ucap Carl tanpa ada keraguan sedikitpun di kalimatnya
__ADS_1