
Hari ini Kinar di panggil untuk menjalani sesi tanya jawab, statusnya yang masih saksi bisa saja berubah sewaktu-waktu tergantung apa yang Kinar katakan, sejak semalam kedua pengacara yang mendampingi Kinar memberi masukan kepada Kinar dan memberitahu apa yang boleh Kinar jawab dan tidak, karena tim penyelidik bagai dua mata pisau, salah sedikit bisa fatal akibatnya.
Kinar sudah menjalani pemeriksaan sejak pagi tadi, ia hanya berhenti ketika makan siang, ditemani dua pengacara mendampinginya, semua bukti mengarah padanya begitu juga saksi mata.
Dimas terlihat menunggu dnegan cemas di luar, Dimas juga di panggil sebagai saksi.
Setelah Kinar keluar dari ruangan interogasi, Dimas menghampiri Kinar
"Sayang bagaimana?? apa yang mereka tanyakan" cecar Dimas
"Mas, aku lelah, dari pagi tadi ku terus di hujani pertanyaan. aku lelah hati dan pikiranku mas, Kalau kau ingin membantuku, diam lah, jangan bertanya lagi mas, aku sudah sangat tertekan" jawab Kinar lirih
"Sebaiknya loe punya kata-kata baik yang bisa membuat Kinar lepas dari kasus ini" cibir Reyhan langsung menuntun kakaknya keluar dari Kapolsek tersebut
Dimas hanya diam memandang kepergian istrinya yang terlihat sangat tertekan
"Bella sialan, gue gak akan lepasin loe begitu aja, tunggu gue akan membereskan semua sayang, terlalu banyak kamu tersakiti, biar kali ini aku tanggung sendiri, sekalipun aku harus mati untuk menutup mulut Bella" gumam Dimas menatap Kinar yang masuk ke dalam mobil dan pergi
"Pak Dimas????, Pak, silahkan masuk" panggil seorang penyelidik. Kini waktunya ia di interogasi.
Hampir Empat jam Dimas di cecar pertanyaan sehubungan kaitannya dengan Kinar dan bela serta hubungan mereka bertiga.
Dimas harus berhati-hati menjawab semua pertanyaan tim penyelidik.
Ia shock karena bukti mengarah pada istrinya semua, a menyesal membiarkan Kinar berangkat sendirian ke rumah sakit saat dokter Brian memintanya, harusnya ia menemani istrinya tersebut, namun Kelvin mengabarkan ada rapat yang tak bisa di wakilkan, kini ia sangat menyesal.
Setelah Empat jam yang melelahkan, Dimas akhirnya keluar dengan wajah kusut, ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Wanita iblis itu sengaja melakukan ini semua, sialan kau Bella" teriak Dimas memukul kemudi mobilnya, ia langsung menuju rumah sakit di mana Bella di rawat
Dengan perasaan marah, ia turun dan langsung menuju ruangan Bella.
Sesampainya di ruangan Bella, terlihat wanita itu sedang bersenandung sambil memainkan ponselnya, sangat bahagia.
Wajahnya tak lepas dari senyum, berbeda dengan Kinar yang kini tertekan dan stress karena ulahnya, ingin sekali Dimas memb*n*h wanita ini jika ia tak ingat Tuhan
Dimas langsung masuk , membanting pintu tersebut hingga berbunyi nyaring dan Bella yang terkejut menatap Dimas
"Mas Dimas apa kamu gila??? ini rumah sakit" teriak Bella marah
"Aku gila??? kamu yang gila.
Aku minta kamu cabut laporan kamu segera" ucap Dimas sudah mencekik leher Bella, alih-alih Bella takut, ia justru tertawa kencang
__ADS_1
"Sekalipun kau bunuh aku, aku tak akan mencabut tuntutan, silahkan bunuh, bunuh aku mas!!!!" teriak Bella menantang
Dimas menghempas tubuh Bella, Bella tersenyum sinis, ada kepuasan di wajah Bella karena seperti dugaan nya, Dimas lelaki lemah
"Kenapa??? berubah pikiran??? bersujud lah, mungkin aku bisa berubah pikiran jika kamu memohon padaku.
Akan ku pastikan Kinar membusuk di penjara, ia sudah membuatku kehilangan anak kita" ucap Bella marah
"Bella, aku mohon Bella, demi aku cabut laporan mu, aku mohon"
"Cih setelah ku cabut lalu kamu hidup bahagia dengannya setelah menceraikan aku??? mimpi.
Kau pikir aku bodoh, tanpa anak apa yang membuatmu masih mau bersamaku??? Jika aku tak bisa mendapatkan kamu, maka dia pun tak akan dapat.
Aku mau lihat waniita yang kamu cintai membusuk di penjara, ahhahaa"
"Kau sakit, kau sudah tak waras"
"Aku seperti ini karena kamu mas, kamu yang membuatku seperti ini" ucap Bella sinis
"Aku?? apa kau gila??? kau yang meninggalkanku.
Kinar menyelamatkan nama baik keluargaku, dia rela menikah denganku tanpa cinta, membuang semua masa mudanya, dimana kau bell?? dimana????.
Jelas-jelas kamu yang pengganggu tapi malah melimpahkan kesalahan ke orang lain, Sifat egoismu tak pernah berkurang sedikitpun, sekarang ditambah sifat licik dan jahat, kamu sungguh mengerikan bel, aku menyesal mengenalmu, sungguh menyesal.
Jika waktu bisa di putar, aku tak akan Sudi pernah sangat mencintaimu, kamu tak layak di cintai"
Braaakkk
Dimas membanting pintu ruangan Bella, ia tak perduli Bella yang berteriak-teriak memanggilnya, Dimas langsung melajukan mobilnya menuju kediaman orangtua Kinar, entah mengapa ia sangat merindukan Kinar
"Kamu akan menyesal mas, aku akan buat wanita yang kamu cintai tak akan pernah bersamamu!!!!”
Sementara di Tempat lain
"Loh bukanya itu sepupu gue ga, Adrian??? ngapain dia disini???" gumam David
Ia melangkah mendekati table dimana Adrian duduk sendirian.
David sebenarnya jarang sekali mau diajak ke diskotik, ia tak suka suara musik yang memekakkan teling, namun demi sohibnya yang baru kembali dari luar negeri ia terpaksa datang dan malah tanpa di duga melihat sepupunya yang sedang minum sendirian.
"Woi bro , ngapain disini??" tanya David menepuk bahu Adrian
__ADS_1
"Ah David sepupu gue, sini minum sama gue, kita enjoy , happy-happy" ucapnya melantur, rupanya Adrian sudah mabuk, nampak beberapa botol minuman keras tergeletak di mejanya.
Bau alkohol menyengat keluar dari mulutnya
"Gue gak nyangka bisa ketemu loe disini, seorang dokter hebat dengan prestasi segudang bisa juga mabuk-mabukan" decak David menggelapkan kepalanya
"Sebenarnya loe kenapa sih bro, kalau ada maslaah kan bisa selesaikan baik-baik, bukan begini caranya, ini bukan loe banget" gerutu David
"Gue sedih, gue salah, gue gak berdaya.
Satu sisi dia anak Tante gue , wanita yang udah ngerawat gue sejak kecil yaitu mama loe, di lain sisi wanita itu ga bersalah"
"Apa maksud loe??? jangan bilang ini ada kaitannya sama kakak tiri gue” tanya David
"David gue harus apa??? Gue dokter, tapi gue ....
Gue udah ngingkati sumpah gue sebagai dokter" Adrian menangis tersedu-sedu layaknya wanita, membuat David langsung membekap mulutnya, ia memanggil pelayan dan membayar semua minuman yang Adrian minum, setelah itu meminta bantuan pelayan memapah tubuh Adrian yang sudah mabuk berat ke mobilnya.
Setelah Adrian berada di mobil, David memasangkan seltbel lalu menghubungi sohibnya membatalkan janji, ia langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Sesampainya di rumah, satpam yang bekerja di rumah mereka membantu David memapah tubuh Adrian yang mabuk berat.
"Astaga ap yang terjadi pada Adrian" teriak Marwan , papa dari David
"Mabuk pa, ayo pak bantu bawa masuk ke kamarnya" ucap David terengah-engah memapah sepupunya itu
Setelah mereka menidurkan Adrian di kasur, David langsung menemui papanya yang terlihat marah
"Pa Kita harua bicara sekarang" ucap David dengan wajah serius.
Karena saat di perjalanan Adrian berceloteh apa yang membuatnya tertekan hingga mabuk-mabukan, pria pendiam itu sungguh sangat merasa bersalah
"Apa ini serius??" tanya Marwan pada putranya
"Sangat pa, ini urgent, kita bicara di ruang kerja" ucap David dengan mimik wajah tegang
"Baik ikut papa" ucap Marwan berjalan menuju ruang kerjanya
"Pa, ada apa ribut-ribut??" tanya Heny turun dari tangga
"Adrian mabuk ma, sudah di urus mbok Surti, mama istirahat saja, mama.kan belum fit benar" ucap Marwan lembut
"Mama mau melihat Adrian, apa yang terjadi pada anak itu bisa mabuk-mabukan" ucap Heny menolak kembali ke kamarnya
__ADS_1
"Besok mama bisa menanyakannya, sekarang biarkan ia istirahat, biar papa antar mama naik" ucap Marwan menuntun istrinya kembali ke kamar, sementara David langsung menuju ruang kerja, menunggu papanya.