
Setelah mendapat perawatan di rumah sakit, mereka kembali kerumah, nampak Mariska sedang berbincang dengan dokter Rizky, dokter pribadi keluarga mereka, melihat kedatangan Damar dan mbok Iyah, Mariska langsung menoleh dengan pandangan sulit di artinya, sementara dokter Rizky langsung pamit pulang
"Mama, sejak kapan mama di sini??" tanya Damar
"Sejak kamu memukuli kakakmu membabi buta dan meninggalkannya dengan luka seperti itu, kakakmu hampir sekarat kamu buat, kamu apa-apaan sih Damar???? mama sudah katakan berapa kali sama.kamu, jangan pernah main tangan dengan saudaramu sendiri, kamu berpendidikan Damar, bukan orang barbar" ucap Mariska meninggikan suaranya
"Apa mama sudah tanyakan pada kak Dimas mengapa sampai Damar naik pitam??? sudah???" tanya Damar lirih
"Apapun alasannya, mama tidak suka!!!" ucap Mariska
" Maafkan damar ma" ucap Damar melangkah meninggalkan Mariska, ia memilih masuk ke kamarnya
"Damar, damar, kamu mau kemana???? Astaga anak ini makin susah diatur" ucap Mariska menghela nafas
"Nyonya silahkan minum dulu airnya" ucpa mbok Iyah mencoba meredakan kemarahan nyonya besarnya itu
Mariska lalu meneguk teh hangat buatan mbok Iyah, pandanganya lalu melihat kaki mbok Iyah yang terluka
"Kakimu kenapa mbok???" tanya Mariska meletakkan cangkir teh mya
"Ini nyonya, tadi, anu mbok gak hati-hati kena pecahan beling pas mau melerai den Damar dan mas Dimas" ucap mbok Iyah
"Apa mbok tahu mengapa Damar bisa seperti itu???"
"Anu nyonya, sebaiknya nyonya bertanya pada den Damar atau mas Dimas saja, saya merasa lancang bicara takutnya” ucap mbok Iyah ragu
"Mbok, mbok sudah ikut saya bertahun tahun, tentu mbok paham dengan karakter kedua anak itu, lebih baik mbok ceritakan semuanya pada saya" ucap Mariska
Mbok iya terlihat bimbang, ia menimbang-menimbang sebelum bicara, karena masalah ini sangat sensitif, ia . tak mau Mariska shock dan akan memicu penyakit jantungnya. lagi, bisaa berbahaya jika Mariska kena serangan jantung lagi.
"Sebentar ya nyonya saya panggilkan den Damar” ucap mbok iyha langsung menuju kamar damar zebelum Mariska menjawab
Setelah mengetuk pintu beberapa kali lahirnya damar keluar dengan muka lusuh, ia seperti habis menangis.
Walau sifat Damar ceria namun ia pemuda yang tertutup soal pribadi, bahkan ia akan menyembunyikan perasaanya sebaik mungkin agar tak seorangpun tahu apa yang ia rasakan.
"Ad apa mbok?"
__ADS_1
"Anu den, nyonya minta penjelasan alsan den Damar memukul mas Dimas, mbok takut salah bicara"
"Bilang saja aku lepas kontrol setelah mendengar ia menceraikan kak Kinar" ucap Damar santai
"Tapi nanti jantung nyonya kaget den, kan tua sendiri nyonya sayang banget sama non Kinar" ucap mbok iya panik
" Ya sudah bilang sama mama tunggu lima belas menit, dama r mau mandi dulu"
"Den, tangannya jangan Kena air dulu"
"Iy mbok, damar.ingta, makasih sudah di ingatkan" ucap Damar tersenyum.
Ia segera mandi, sementra mbok Iyah kembali
menemui Mariska
"Nyoba, den Damar nya mandi dulu, sebaiknya nyonya istirahat dulu, nanti kalau den Damar sudah selesai, mbok bangunkan"
"Say gak bisa tenang mbok sebelum tahu permasalahannya, saya tidak mau dan tidak suka anak saya saling kontak fisik, bisa jadi mereka akan menusukan pisau suatu saat jika tidak di beritahu dari sekarang"
"Mbok mengerti apa kekhawatiran nyonya, namun den Damar punya alsan sendiri, dan maaf kali ini mbok setuju" ucap Mbok Iyah hati-hati
"Bukan gitu maksudnya nyonya, kita sama-sama tahu sifat Damar, dia orangnya penyayang dan ceria, jik ia bertindak seperti saat ini, ia pasti punya alasan Kuat" ucap mbok membuat Mariska terdiam, apa yang mbok Iyah katakan benar adanya, Damar anak yang penurut, hanya saja kadang di luar nalar dan sedikit berjiwa bebas, berbanding terbalik dengan dengan Dimas
Mariska memijit alisnya yang berdenyut
Setelah lima belas menit Damar terlihat menghampiri Mariska, kemudian ia duduk di depan Mariska
"Ma, pertama-tama Damar minta maaf, Damar tahu ini salah, hany. Damar ....
maaf ma" ucap Damar sengaja men jeda kalimatnya, ia menghela nafas mengumpulkan keberanian dan memilih kata yang tepat dan benar agar mamanya tidak shock
"Sebelum Damar melanjutkan, mama harus menguatkan hati mama, mungkin ini jalan Allah yang terbaik, yakinkan itu .
Kak Dimas sudah menceraikan kak Kinar"
"Ja..jadi???"
__ADS_1
"Ya, dia bodoh" ucap Damar tanpa Tedeng aling-aling
"Bukankah Bella sudah di bawa pulang keluarganya dan tuntutan sudah di cabut? kenapa Dimas???"
"Dia melakukan sesuatu yang sia-sia, dia dengan mudah percaya pada Bella bahwa Bella akan mencabut berkasnya, namun justru keluarganya yang meminta Bella mencabutnya, jadi apa yang kak Dimas lakukan sia-sia"
"Astaghfirullah" ucap Mariska memegang dadanya
"Ma, seperti yang damar katakan, mungkin ini jalan Allah, jik mereka teruskan pun kasian kak Kinar karena kak Dimas bukan pria yang baik untuk KK Kinar, jika mama menyayangi kak Kinar, biarkan ia bebas, kit sudah mengekangnya demi ego kita, sekarang kit harus membiarkan ia bebas dengan pilihannya”
Mariska menangis sesegukan, ia sangat menyayangkan Kinar tidak jadi menantunya lagi, hatinya hancur
"Ma, Damar tahu ini berat buat mama, ikhlaskan ya ma" ucap Damar memeluk Mariska, Mariska menangis dalam pelukan putra bungsunya hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
Sementara Dimas mengurung diri di kamarnya
Di kediaman Orangtua Kinar
Malam ini Marwan dan David segera menuju kerumah orangtua Kinar, mereka ingin memberi kabar jika tuntutan sudah di cabut.
Walaupun pengacara keluarga mereka mungkin sudah memberitahunya, namun mereka tetap harus datang sekalian meminta keringanan pada keluarga Kinar, karena Marwan takut jika orangtua Kinar akan menuntut Bella mengingat apa yang sidah Bella lakukan pada Kinar
Siang tadi saat Bella menjenguk mamanya di di rumah sakit, mereka juga membawa Bella untuk di periksa ke psikiater dan hasilnya membuat hati Marwan miris, Bella ternyata mengidap Gangguan stres pasca trauma ( PTSD )
Sepertinya gejala itu muncul beberapa waktu belakangan ini, psikiater yang menangani Bella menduga jika awalnya Bella mengalami bipolar( ) namun berkembang menjadi PTSD.
orang dengan gejala PTSD dapat berkembang serius setelah orang tersebut mengalami kejadian traumatik atau karena kehilangan orang yang berarti dalam dirinya, orang yang menderita ini akan sulit melupakan peristiwa-peristiwa. yang menyakitkan , dalam hal ini Bella mengingat momen saat Bella masih kecil.
ia di dorong keras oleh papanya, Bella sampai memegang kaki papanya yang kala itu membawa wanitanya pulang, ia juga melihat papanya menyiksa mamanya, ia berusaha menahan keras papanya tidak pergi meninggalkan mereka, justru papanya itu menendangnya hingga kepalanya membentur batu di belakangnya, dengan darah mengucur Bella dari kepalanya, namun Bella masih berusaha menarik kaki papanya.
Elias, papa kandung Bella justru menginjak jari kecil Bella hingga akhirnya Bella harus di rawat di rumah sakit selama sebulan penuh,dan ia harus merasakan sakit karena jarinya patah hingga memerlukan berbulan-bulan untuk sembuh.
Sejak kejadian itu, Bella menjadi anak yang pendiam dan penyendiri, hingga Marwan datang dan mengisi hari nya, menggantikan kasih sayang papanya yang hilang, namun Marwan tak mengira jika Bella masih menyimpan dendam, kesedihan, kecewa, dan putus asa hingga ia beranjak besar.
Traumanya makin parah saat Marwan seolah mengabaikannya dan tak perduli padanya saat ia kembali beberapa bulan lalu, di sanalah ia kembali merasa di buang, tak dianggap, tak berarti, dan kesepian hingga membuat jiwa nya tak stabil.
Ia teringat jik Dimas di masa lalu sangat menyayanginya, sehingga obsesinya muncul ingin di perhatikan dan di sayangi Dimas, namun Kinar menghalangi keinginan karena itulah menyakiti Kinar.
__ADS_1
Orang dengan penyakit PTSD bisa menyakiti dirinya sendiri atu orang di dekatnya