
Adam sudah tiba di tanah air, Sebelum berangkat ia menghubungi Reyhan, sehingga Reyhan menawarkan diri menjemput Adam di bandara.
Kedua sahabat beda usia itu terlihat berpelukan erat karena sudah lama tidak berjumpa, mereka tidak langsung menuju apartemen Adam, melainkan menuju cafe yang berada di bandara itu.
Reyhan yang sudah tidak sabar ingin tahu alasan apa yang membuat Adam kembali ke indonesia, karena sahabatnya itu tidak mengatakan alasannya, seperti ada yang ia sembunyikan darinya, membuat Reyhan bersemangat ingin tahu.
Setelah mereka duduk dan memesan minuman Reyhan yang sedari tadi sudah tak sabaran ingin tahu
"Jadi kenapa loe balik ke indo??? ada perlu apa bro???”
"Penasaran banget sih loe???" ucap Adam sambil menyeruput ice cappucino nya
"Tentu, soalnya yang gue tahu loe nyusul kakak gue ke Jerman, lah tahu-tahu malah disini, sendirian malah gak sama kak Kinar, jangan bilang loe di tolak lagi sama kakak gue" tebak Rey membuat Adam tersenyum kecut
"Kakak loe punya standar yang tinggi buat calon suaminya, gue tergeser sebelum masuk finalis" ucap Adam asal membuat Reyhan terkekeh geli seolah itu hal yang membuatnya bahagia
"Teman laknut, bukannya bantuin kek rekomendasiin gue sama kakak loe, eh gue di tolak loe seneng banget, temen blangsak" gerutu Adam membuat Reyhan menahan tawanya
"Ya Sorry bro, gue sumpah pengen banget loe jadi kakak ipar gue, cuma ya belum nasib loe aja, belum jodoh bro, karena jodoh gak bisa di paksakan, gak baik" nasihat Reyhan membuat Adam gemas dan langsung men jitak kepala sahabat beda usianya itu
"Wah ini nih yang bikin gue berfikir ribuan kali buat Nerima loe jadi kakak ipar gue, kalau gue geger otak, tanggung jawab loe" ucap Reyhan mengelus kepalanya yang berdenyut
"Biar sekalian geger otak, biar pisau operasi gue bisa bongkar tuh kepala loe yang error" Dengus Adam malah di tanggapi ketawa Reyhan
"Ok, ok sorry, sensi banget loe, Kya cewe pms"
"Loe punya pacar juga gak, gaya-gayaan bilang PMS kaya tau artinya aja"
"Tahu dong, back to laptop, ada perlu apa loe ke Indonesia??? oh ya bagaimana kondisi Tante Caroline??"
"Alhamdulillah mama baik, gue kesini mau mencari seseorang, dan untuk itu gue butuh bantuan loe bro.
Loe tahu kan daerah Bandung, gue perlu lie bantu gue cari seseorang, dia tinggal di Bandung" ucap Adam serius
"Kok gue menangkap kalau loe lagi cari kekasih loe yang kabur???? bener gak??"
" Ya cewek tapi bukan kekasih gue, di cuma teman" sangkal Adam, namun wajahnya terlihat serba salah
__ADS_1
"Bukan atau belum menjadi kekasih???" goda Reyhan menaik turunkan alisnya
"Terserah loe bro, pokoknya gue butuh bantuan loe bro"
"Gue akan selalu bantu loe, kapan kita jalan????"tanya Reyhan
"Besok bagaimana???"
"Apa loe gak cape??? istirahat dulu lah, loe habis menempuh perjalanan jauh bro" ucap Reyhan
"Gue gak punya waktu bro, harus secepatnya atau gue akan terlambat"
"Gak ada waktu apa itu perempuan di jodohkan Mak bapaknya??? ada-ada aja, bilang aja loe kangen ma tuh cewek" ucap Reyhan tertawa mengejek
melihat wajah tegang Adam
"Jadi beneran????" tanya Reyhan tak percaya
"Kita jalan sekarang" ucap Reyhan tiba-tiba membuat Adam melotot tak percaya
"Rey woi , seenak jidat loe main mutusin, gue belum siap ketemu sama dia" ucap Adam malu-malu membuat Reyhan ngakak
"Nanti gue ajarin, udah ayo cepetan, keburu cewek loe di halalin orang" ucap Reyhan membuat Adam akhirnya mengekor Reyhan yang berjalan lebih dulu di depannya
Mereka lalu langsung menuju Tol lingkar luar, menuju Bandung, Reyhan meminta Adam untuk istirahat di bangku belakang agar nyaman kebetulan kasur mobil milik si bungsu masih berada di mobilnya lengkap dengan boneka dan bantalnya
Awalnya Adam menolak, namun Reyhan mengancam tak akan mengantarkannya, sehingga akhirnya ia mengalah dan tidur, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus Adam, ia sudah terlelap tidur
Dua jam kemudian, Reyhan sudah keluar dari pintu tol, kini mereka sudah berada di Bandung, Reyhan langsung melirik ke arah alamat yang ia akan tuju, namun sebelumnya ia menghubungi sahabat nya baru saja pulang dari luar negeri dan sekarang menetap di Bandung
"Assalamu'alaikum Bro,
"Wa"Alaikum salam, woi bro ada apa loe, tumben loe telepon gue" ucap seseorang di ujung telepon
"Dasar spiker aktif, bisa gak sih loe kalau ngomong kecilkan volumenya dikit, bisa budeg gue cuma nelpon loe sebentar" gerutu Reyhan yang di balas tawa sahabatnya itu
"Sorry bro, udah logat gue dari orok, susah, kalo loe mau protes, loe protes sama Mak bapak gue, kali aja gue pas di dalam perut Mak gue nyidam toa mesjid, puas loe??"
__ADS_1
"Hahaha, sensi aja loe bro, loe dimana nih, gue butuh bantuan loe bro"
"Bantuan apa, gue free, sini lah main, sombong bener loe"
"Ye gue udah di depan kantor loe, cepet keluar"
"Anjir loe gila Rey, serius??? teriak Wawan sahabat Reyhan
"Iya lah, udah bawel, cepetan" ucap Reyhan langsung memutuskan panggilan teleponnya
Sepuluh menit kemudian seorang pria tampan sudah turun dan menghampiri Reyhan
"Dasar bocah sableng, kesini dadakan, untung gue gak ada acara penting" gerutu Wawan
"Gayanya , mentang-mentang CEO " cibir Reyhan memeluk sahabatnya
"Jadi ada apa nih, apa yang perlu gue bantu, gue akan bantu bro"
"Gue mau ke alamat ini, ini menyangkut nyawa Sahib gue yang datang dari jauh-jauh untuk mencegah kekasihnya di gondok orang" ucap Reyhan membuat Wawan menggeleng pelan
"Emang nya loe kira ikan di gondol, mana orangnya???" tanya Wawan karena memang kaca mobil Rey gelap
"Dia tidur di dalam" ucap Reyhan menunjuk dengan mulutnya
"Mana alamatnya cepetan, gue penguasa Bandung jadi tahu seluk beluk daerah ini" ucap Wawan ambigu
"Cih loe kira loe bupatinya apa??? nih, awas aja loe gak tahu" ucap Reyhan menyodorkan alamat yang di berikan Adam
"Jl. mawar.... what, loe gak salah kasih alamat kan???" pekik Wawan tak percaya menatap kertas bertuliskan alamat yang mereka cari
"Kenapa bro???" tanya Reyhan bingung melihat sahabatnya seperti orang linglung
"Ini udah jam makan siang, sebaiknya kita makan siang dulu, kasian sahabat loe jika kan habis menempuh perjalanan jauh belum makan"
"Oke lah, loe yang bawa mobil gue, bawa gue ke tempat yang makanannya enak"
"Serahkan sama gue" ucap Wawan menutupi sesuatu, matanya menatap Adam dari kaca spion mobil yang masih pulas tertidur
__ADS_1