
mereka semua sedang duduk di tepi pantai sambil menikmati air kepala anda yang baru saja di petik, rasa manis dan segar membuta pikiran tenang dan dahaga hilang.
Carl yang tahu mereka sedang meninjau resort terbaru mereka ikut datang, karena Carl akan menjadi rekanan mereka, Carl memiliki perusahan design sehingga ia yang nantinya mendesign semuanya.
Kini mereka sedang menikmati keindahan sunset sambil menikmati air kelapa dan cemilan
Tiba-tiba ponsel Albert bergetar dan muncullah wajah mamanya yang melakukan video call , Albert ingin menolaknya, namun ia tak tega, akhirnya dengan malas Albert mengangkat video call mamanya
"Ya ma"
"Sayang kau masih di lokasi??? kapan pulang? kita akan makan malam sayang" ucap Amara kesal melihat anaknya bahkan melupakan ulang tahunnya, sementara Bernard yang notabene nya hanya anak angkat begitu perhatian, Amara merasa sedih di dalam hatinya
"Maaf ma, Albert agak telat ya, ga enak masih di lokasi" ucap Albert bangkit dan berbicara setengah berbisik
"Apa Bernard disana??? berikan pinsel mama pada Bernard" ucap Amara kesal
"Masa, Bernard juga akan telat"ucap Albert kehabisan akal
"Bernard lebih menyayangi mama di banding kau, mama seperti tak punya anak saja.
Apa bisnis lebih penting dari mama?" Rajuk Amara sedih
"Bukan begitu ma, tapi...."
"Berikan pada Bernard ,please" ucap Amara sudah parah hati pada putrany
Albert dengan berat hati memberikan ponselnya pada Bernard
"Siapa?" tanya Bernard tanpa suara
"Mama"ucap Albert langsung menyodorkan ponselnya
"Ya ma, tunggu sebentar ya Bernard akan pulang, mam jangan khawatir, Bernard pasti akan datang tepat waktu" ucap Bernard melihat guratan kesedihan di wajah cantik mama angkatnya
"Hallo Tante cantik, happy b'day ya , semoga Tante selalu sehat dan panjang umur" ucap Carl tahu-tahu merebut ponsel Arjuna di tangan Bernard
"Caaarl, terima kasih sayang, apa kau mau datang juga ke rumah Tante malam ini sayang???
Tante sudah masak banyak dan yang terpenting, chef nya langsung dari Indonesia" ucap Amar. sumringah menyorot Kinar yang sedang sibuk memasak di dapur, rambutnya di Cepol menampilkan lehernya yang jenjang dan tubuhnya yang mungil membuatnya terlihats eperti peri kecil Yang sedang memasak.
Amara juga mengarahkan kameranya pada masakan yang sudah di tata oleh Kinar di meja makan
"Aku akan ikut Tan, tapi bisakah aku mengajak teman ku Tan???"
"Tentu saja, Tante senang malah rumah jadi ramai" ucpa Amara
"Baiklah Tante cantik, kami akan meluncur.
tolong Jawa.wanita masa depanku yang sedang memasak itu" ucap carl.menunjukkan ketertarikannya
"Hahaha kau bermata jeli sayang, dia wanita luar biasa,
kalau begitu, Tante matikan ponselnya ya, hati-hati dijalan
"Okey Tante, byee"
panggilan berakhir
"Apa ...???" Albert bertanya
__ADS_1
"Bro, maukah kau bergabung dengan kami.
hari ini mama dari Albert ulang tahun, dan beliau memasak masakan Asia bro.
oh ya for you info, Tante Amara orang Indonesia asli"
"Benarkah?? kalau begitu aku akan ikut sekaligus berkenalan dengan beliau" ucap Erlangga
Albert tak bisa menolak, terlebih lagi Erlangga ikut, jadi merek akhirnya memutuskan kembali agar tidak telat sampai di kediaman orangtua Albert.
Sementara Amara tersenyum puas, dengan meminta Bernard pulang yang di ikuti Carl, ia yakin anaknya juga akan pulang, Amara menghapus air matanya, sebenarnya ia juga benci mengingat momen bersejarah ini, dimana kelahirannya juga merupakan pengingat yang pahit.
karena hari lahir Amara sama dengan hari lahir Gabriel, putrinya yang sudah meninggal dunia.
"Tan, apa Tante baik-baik saja???" tanya Kinar menatap amara yang terlihat pucat
"Tante hanya sedikit kecapean sayang, bisakah...."
"Tante istirahat saja, sebentar lagi selesai, tinggal desert nya saja. Apa perlu Kinar periksa Tante???"
"Tidak, tidak perlu sayang, Tante hanya kurang tidur sehingga mudah kelelahan."
"Kinar akan periksa sebentar, mba aku tinggal sebentar ya" ucap Kinar pada asisten rumah tangga yang membantu mereka masak.
Kinar memapah Amara menuju kamarnya, lalu ia menuju kamar tamu, tempat ia meletakkan tasnya,ia sellau membawa alat tensi dan stetoskop, serta beberapa obat-obatan lalu mulai memeriksa Amara
"Tante kelelahan dan tensi Tante tinggi, sebaiknya Tante istirahat dulu, nanti setelah semua beres, Kinar akan bangunkan Tante.
Sekarang minum dulu obatnya, lalu setelah ini Tante istirahat"
"Maaf Tante jadi merepotkan kamu"ucap Amara merasa tak enak hati
"Gak masalah Tante, Kinar senang dan gak merasa keberatan. Kinar balik ke dapur dulu ya Tan, " Amara mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya
melihat kondisi Amara, Kinar lalu membuat pudding buah untuk Amara, agar pikirannya relaks.
setelah jadi ia meletakkannya di dalam lemari pendingin.
Satu jam kemudian semua sudah siap, Kinar sedang membereskan meja dapur, sementara asisten rumah tangga Amara mencuci perabotan
Kinar lalu memotong buah dan menghiasnya membentuk burung merak setelah itu meletakkannya di meja yang sudah di siapkan.
Terdengar suara bel pintu, kepala asisten rumah tangga keluarga lucky langsung bergegas membuka pintu untuk tamu mereka, lalu terdengar suara tak lama suara tersebut mendekat
"Dia...???" tanya pria berusia tiga puluh lima tahun dengan wajah tampan
"Beliau adalah tamu nyonya Amara, dokter Kinar"
"Dokter? di dapur??" tanya pria tersebut mengerutkan alisnya menatap Kinar dari atas hingga bawah.
Kinar memang masih mengenakan celemek nya
"Benar tuan Michael, dokter Kinar membantu nyonya memasak" ucap kepala asisten rumah tangga bernama Jhon
"Hello nama saya Michael"
"Kinar"
"Anda mau minum apa?" tanya Kinar dengan bahasa Jerman nya yang fasih
__ADS_1
"Apa saja ok" ucap Michael yang tak lepas memandang Kinar, membuta Kinar merasa tak nyaman
"Kemana kakak ipar saya Jhon?"
"Beliau sedikit tak enak badan dan sedang istirahat, sementara kakak anda di ruang kerjanya" ucap Jhon sopan
"Kinar saya tinggal ke ruang kerja ya" ucap Michael sambil mengedipkan sebelah matanya
Kinar melongo, rupanya adik ipar Amara bisa berbahasa Indonesia, Kinar di kerjain.
Bel pintu berbunyi lagi, Jhon meminta bawahannya membukakan pintu.
"Nona Kinar, biar layla yang membuatkan minum, anda pasti lelah, sebaiknya istirahat saja dulu" ucap Jhon yang tahu sejak Kinar tiba, ia sudah berkutat di dapur, tubuhnya yang kecil dengan lincah memotong, mencacah lalu memasak semua bahan makanan yang kini terhidang di atas meja, tak lupa beberapa cake slice dan desert lainnya di buat atas arahan Kinar.
" Gak apa-apa Jhon, ini sudah jadi" ucap Kinar menunjuk gelas berisi lemon grass buatannya
"Biar saya saja yang antar nona" ucap Jhon sopan yang di balas anggukan Kinar.
"Hei bidadari ku pantas ruangan ini terasa indah, ternyata bidadari ku sedang memasak" ucap Carl lebay membuat Kinar tertawa kecil
"Kau sungguh hiperbola Carl"
"Aku mengatakan yang sebenarnya, benarkan Nard? tanya Carl pada Bernard
Benard tersenyum dan mengangguk sementara Albert memutar bola matanya malas, mendengar dua sahabatnya sediri
Begitu Kinar melihat seseorang di belakang Albert, senyumnya menghilang
"Mas Dimas???" ucap Kinar lirih
"Ki....Kinar???" ucap Dimas tak kalah terkejutnya dengan Kinar, sementara Albert, Carl dan Bernard bingung melihat interaksi antara Erlangga dan Kinar
"Kau mengenal dokter Kinar ?" tanya Bernard
"Ya, kenal" ucap Erlangga lirih dengan sorot mata penuh kerinduan...
Dimas Erlangga, mantan suami Kinar yang menggoreskan luka di hati Kinar
Sementara mata Kinar memerah menahan tangis, ia tak tahu harus bersikap apa, walau Dimas sudah menyakiti begitu dalam, namun Kinar masih mencintainya sebenar bencinya pada Dimas.
sekian tahun pergi dari tanah air tidak serta Merta bisa mengobati luka hati Kinar, dan kini pria itu berdiri di depannya. Pria tampan yang dulu menjadi suaminya itu terlihat lebih kurus dan wajahnya di tumbuhi jambang
"Aku, aku permisi" ucap Kinar lalu berjalan menuju kamar tamu, samar ketiga pria itu melihat ada yang janggal pada Kinar dan Erlangga, mereka bukan sekedar kenal.
"Apa anda teman dekat Kinar sewaktu di Jakarta???" tanya Albert to the point
"Itu... kami..." Dimas bingung bagaimana harus mengatakannya, disini Kinar memiliki kehidupan barunya, sepertinya Kinar tak mengatakan statusnya
Sementara tiga pria di depan Dimas menunggu kalimat Dimas selanjutnya dengan tak sabar
"Dia... Kinar, mantan istriku" ucap Dimas tak pelak membuat tiga pria di depannya terbengong.
ca malah tertawa
"Hahaha bro, loe bisa buat joke juga" ucpa Carl mengira Erlangga bercanda
"Dia beneran mantan istri loe bro?" tanya Bernard yang melihat wajah rumit Dimas
"Jadi..." Carl kehabisan kata-kata
__ADS_1
"Dia gak lagi becanda, dokter Kinar adalah mantan istri Erlangga" ucap Bernard lirih, ada rasa tertusuk di hatinya, sejak pertama melihat Kinar, ia sudah menyukai wanita tersebut, begitu juga Bernard.
"Tapi kalian sudah pisah, itu artinya Kinar bisa menikah dengan siapapun kan?" ucap carl tak masalah dengan status Kinar, namun Bernard melihat pandangan mata Erlangga, pria itu masih mencintai mantan istrinya....