
"Amanda,.jaga kesehatanmu..." ucap Adam membuat langkah Amanda terhenti, ia mengangguk tanpa menoleh dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Adam sendirian.
Adam terdiam, rasanya dadanya sakit melihat punggung seseorang yang pernah mencintainya pergi, Adam tak mengerti ada apa dengan perasaanya, apa mungkin karena ia merasa bersalah atau Karena hal lain, ia tak tahu. yang jelas rasanya sakit sekali, terlebih melihat Amanda menangis.
Adam berjalan dengan gontai keluar rumah Amanda, Amanda mengintip kepergian Adam, ia berlari sampai balkon seakan tak rela melepas kepergian dam, walau ia sendiri yang meminta Adam pergi
"Maafkan aku mas, semoga kamu mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan tulus, selamat tinggal" ucap Amanda lirih
Amanda menangis sejadi-jadinya di balik pintu balkonnya, ia harus belajar ikhlas melepaskan Adam, walau jujur ia tak akan bisa melupakan pria yang ia cintai ' selama lima tahun lebih, Pria yang menyelamatkannya saat ia terdampar di negeri orang, pria yang senyumnya selalu menjadi penyemangat bagi amanda.
Kini Amanda hanya tinggal menunggu hari untuk dipersunting dan menjadi istri orang lain, namun cintanya pada Adam tak akan pernah tergantikan.
Bisakah ia mencintai dan menerima suaminya????
Sementara Adam, Wawan dan Reyhan sudah pergi meninggalkan rumah itu, Adam terlihat murung dan sedih.
Ia menutup matanya,menghalau semua perasaanya, namun bayangan wajah Amanda justru semakin jelas, Adam tak mengerti dengan perasaanya, apa ia mulai menyukai Amanda????
Wawan menatap Adam dari kaca spion mobil, ia melihat pria yang baru beberapa jam ia kenal seperti orang stress, berkali-kali Adam meremas rambutnya dan mengusap wajahnya kasar, Wawan menyadari satu hal, Adam mencintai Amanda.
sementara tadi saat mereka meninggalkan Amanda dan Adam, Wawan melihat sorot mata Amanda yang penuh cinta dan kerinduan saat menatap Adam.
sorot mata yang tak pernah wawan lihat.
Wawan jadi berfikir jika pernikahan Amanda nanti adalah sesuatu yang salah, siapa yang mau menikahi seorang wanita yang hanya fisiknya saja namun jiwanya kosong????
Itu sama saja menikah dengan zombi dalam arti tubuhnya saj, sementara perasaanya melayang jauh memikirkan Adam.
Setelah sampai di kediaman Orangtua Wawan, Adam langsung pamit masuk kamar, Wawan memandang Reyhan, sementra rehan mengangkat bahunya tak tahu apa-apa, mereka berdua memilih menuju ruang keluarga lalu memainkan PlayStation.
Sementara Adam di dalam kamar terlihat gelisah, ia awalnya ingin tidur saja, mungkin saja pikirannya bisa sedikit lega, namun ia makin gelisah hanya bolak balik di atas kasur, dan pikirannya tambah kusut.
Adam mengusap wajahnya kasar, jika tidak ingat dia berada di mana, ingin rasanya Adam berteriak sekeras-kerasnya, namun ia kini hanya menahannya.
ia hanya memukul dadanya yang terasa sesak, harusnya ia merasa lega karena Amanda tak lagi memujanya dan mengejar-ngejar dirinya, namun ia merasa kehilangan.
"Apa gue udah jatuh cinta sama Amanda???? kenapa gue merasa sangat tidak rela dia menikah dengan pria lain???
arrrrgghhh, gue bisa gila lama-lama begini" ucap Adam frustasi
__ADS_1
Sudah dua jam lebih Adam berdiri di balkon kamarnya, pandangannya lurus menatap kota Bandung malam itu, ia tak bisa memejamkan matanya, pikirannya penuh dengan Amanda.
Reyhan yang melihat kamar Adam masih menyala memberanikan diri mengetuknya
Tok tok tok
"Adam buka, gue tahu loe masih belum tidur" ucpa Reyhan karena Adam tidak juga membuka pintu kamarnya
"Adam, gue akan nunggu loe buka pintu"
Cekrek
pintu kamar Adam terbuka, terlihat Adam yang acak-acakan, wajahnya kutu dan rambutnya yang berantakan membuat Reyhan merasa kasian pada Adam sekaligus Ingin mengumpatnya, mengapa pria ini bodoh sekali dan membohongi hatinya sendiri.
pria ini terlalu bodoh untuk menyadari perasaanya, butuh dorongan agar pria ini sadar
"Kenapa masih berdiri disana???" tanya Adam yang langsung berjalan masuk menuju balkon kamarnya
Reyhan tersenyum lalu menyusul Adam menuju balkon kamarnya
"Ada rokok???" tanya Adam tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke depan
"Hufh, jangan sampi ketagihan merokok nantinya, bisa kena marah kak Kinar gue" gerutu Reyhan namun tetap memberikan bungkus rokoknya pada Adam
Adam mengambil sebatang dan menyalahkannya, ia terbatuk-batuk karena memang ini pertama kalinya ia merokok membuta reyhan tertawa meledeknya
"Gue bilang juga apa, mending loe ngisep permen aja dari pada ngerokok, hahahaha" Reyhan tertawa meledek
"Sial loe, sahabat apa loe temen tersendak malah ketawa" gerutu Adam berjalan menuju meja di sudut kamarnya lalu menuangkan air putih dan meminumnya
"Loe kayanya kusut banget bro, mikirin Amanda ya???" tebak Reyhan membuat Adam gelagapan dan salah tingkah
"Si...siapa yang mikirin dia, gue cuma lagu bad mood aja" sangkal Adam membuang pandangannya ke arah lain karena ia tak mau Reyhan tahu ia berbohong.
" Ikutin kata hati loe" ucap Reyhan sambil menepuk punggung Adam membuat Adam menoleh ke arah Reyhan dengan alis berkerut
"Ikuti kata hati loe, biarkan dia menuntun loe apa yang harus loe lakukan.
buang semua gengsi dan rasa malu loe, sebelum semuanya terlambat" ucap Reyhan dengan mimik muka serius
__ADS_1
"Gue gak ngerti maksud loe???" ucap Adam datar
"Gue yakin loe ngerti maksud gue.
Loe gak mungkin tinggal di indo terlalu lama, nyokap loe butuh loe, tapi loe gak harus meninggalkan masa depan loe disini, pergi dan temui dia,"
"Rey...." ucap Adam tercekat
"Gue tahu segalanya, kak Kinar udah cerita sama gue.
Segera temui dia sekarang dan yakinkan dia untuk membatalkan pernikahannya" ucap Reyhan menyodorkan kunci mobilnya,
"Rey...gue takut dia nolak gue." ucap Adam lemah, karena sore tadi Amanda malah mengusirnya secara halus
"Selama ini dia yang mengejar, sekarang waktunya loe yang memperjuangkan ya, loe gak akan tahu jika gak mencoba, jika gagal setidaknya loe udah mencoba dan tak akan ada penyesalan" ucap Reyhan bijak
"thanks" ucap Adam ,ia langsung menyambar kunci mobil Reyhan dan mengemudikannya menuju kediaman Amanda, ia tak bisa menunggu besok lagi, wajah amanda terus menari-nari di pelupuk matanya
"Tunggu aku Manda, aku akan memperjuangkan mu" ucap Adam memacu mobilnya menuju rumah Amanda.
Sementara Reyhan tersenyum lebar, hanya ini yang bisa ia bantu.
#Flash Back
Wawan langsung menuju kamar kakaknya begitu mendapat pesan singkat dari Arfan, mereka terlihat sedang berdiskusi sesuatu
"Apa kakak yakin dengan keputusan kakak??? bagaimana dengan kak Arfan???" tanya Wawan tak setuju dengan keputusan Arfan
"Aku lebih bahagia melihat dia bahagia.
setidaknya itu balasan untuknya karena hutang nyawa di masa kecilku kini sudah terbayarkan"
"Kak, tapi bukan dengan cara seperti ini, bagaimana kakak mengatakan semuanya pada mama dan papa???,, mereka pasti akan sangat kecewa" pekik Wawan
"Seiring waktu kekecewaan mereka akan sembuh..."
Wawan meremas rambutnya frustasi dan memandang kakaknya sambil menggelengkan kepala, tak pernah mengerti dengan jalan pikiran kakaknya itu.
Kakaknya seorang yang amat Wawan hormati dan sayangi, orang yang sangat baik hati dan penyayang
__ADS_1