
Dua Minggu sudah berlalu, walau kondisi Mariska masih stabil, namun ia belum melewati Wasa kritisnya, Mariska belum juga membuka matanya pasca operasi membuat semua orang sangat khawatir, tak terkecuali Kinar.
Kinar sampai stress dan mempengaruhi janinnya hingga ia harus di rawat di rumah sakit, kondisi kehamilannya yang lemah juga tekanan pikiran membuat kesehatannya menurun hingga dokter menyarankan ia bed rest selama seminggu.
Masalah silih berganti membuat Dimas makin pusing, ditambah informasi dari bawahannya yang mengatakan jika Bella sungguh-sungguh hamil membuat Dimas makin frustasi, ia tak tahu harus bagaimana.
Dimas bergantian menjaga istrinya lalu mamanya, ia sampai memilih tidak masuk kantor dan menyerahkan urusan kantor pada Kelvin asisten sekaligus sahabat nya, sehingga ia bisa fokus mengurus istri dan anaknya.
Dimas tak tega jika Damar terus yang menjaga mamanya bergantian dengan Dendi, ia khawatir kuliah Damar akan berantakan.
Siang itu seperti biasa ia menunggui Kinar, karena lelah Dimas berjalan keluar ruangan perawatan untuk mencari udara segar dan sekedar merenggangkan tubuhnya yang pegal karena terlalu banyak duduk
Ekor matanya menangkap seseorang yang tak asing sedang duduk di taman dengan selang infus menggantung di sampingnya, dan duduk di kursi roda, seorang suster berdiri di sampingnya
"Bella??? kenapa dia di sini??? aku harus memastikan" ucap Dimas berjalan menuju seorang wanita yang mirip Bella
langkah kaki Dimas terhenti setelah jarak dua meter, itu adalah Bella, Dimas nampak ragu untuk menghampiri Bella, namun rasa penasaran menuntunnya mendekat.
"Bella" panggilan Dimas pelan
Bella.menoleh dan terkejut mendapati Dimas berdiri disana dan menatapnya
"Mas Dimas? apa yang kamu lakukan disini??" tanya Bila gugup
"Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? apa yang terjadi??" tanya Dimas
"Suster tolong tinggalkan kami sebentar, saya perlu bicara dengan dia"ucap Dimas
Setelah suster yang menemani Bella meninggalkan mereka, Keduanya masih diam
"Apa yang terjadi sampai kamu di rawat disini??"
"Aku hanya kehabisan cairan karena kehamilanku, mual muntah parah dan tak bisa makan apapun" ucap Bela tanpa menoleh ke arah Dimas.
Dimas merasa bersalah, karena ia wanita ini hamil, perlahan sikapnya mulai melunak
"Apa sekarang baik-baik saja?? apa yang kau rasakan?"tanya Dimas pelan
"Tak ada, aku hanya lemas dan sedikit pusing. tolong panggilkan suster tadi, aku mau ke kamar" ucap Bella lemah. untuk kali ini ia bener-benar lemah.
__ADS_1
Demi anak ini ia rela berkorban, walau dokter tidak menyarankan ia hamil mengingat belum lama ia baru saja menjalani operasi.
"Biar aku bantu kamu, tunjukan kamarmu" ucap Dimas lalu mendorong kursi roda Bella, ada senyum yang samar terlukis di bibir Bella
Sesampainya di kamar, dengan telaten Dimas mengangkat Bella ke kasur, membaringkan dan menyelimutinya, ia juga mengambilkan air minum, walau bukan karena cinta Bella tahu lelaki ini perhatian padanya.
"Mas kenapa ada di rumah sakit?" tanya Bella lirih
"Mama masuk rumah sakit karena kecelakaan dan istriku juga sedang di rawat"
"Oh, apa yang terjadi pada Tante Mariska??? apakah kondisinya baik-baik saja??" tanya Bella khawatir
"Lebih baik" ucap Dimas tak mau banyak bicara
"Ah sial, kenapa tidak mati saja sekalian, nenek tua itu seperti punya nyawa cadangan saja.
Oh istri istri Dimas di rawat juga? aku belum pernah melihat wanita itu dari dekat, tapi dari jauh pun ia tak lebih dariku, kenapa mas Dimas bisa cinta sama.wanita kampung itu sih, menyebalkan harus bersaing dengan wanita yang bukan di levelku,
"Bel, Bella, kok kamu melamun, apa ada yang bisa mas bantu atau kamu mau apa??" tanya Dimas lembut
"Gak usah mas, aku akan minta suster saja mencarikan.
lagi pula aku sudah biasa sendiri, aku sudah katakan aku bisa tanpamu" ucap Bella dengan wajah sedih
Apa dia baik-baik saja?" tanya Dimas ragu
"Bayiku baik-baik saja, aku akan menjaga dan merawatnya sendiri"
"Bella, jangan menekan ku, aku tak tahu harus bagaimana. Bolehkan aku menyentuhnya?" tanya Dimas yang merasakan dorongan ingin memegang perut Bella. itu mungkin karena rasa bersalahnya bukan karena cinta.
"Apa yang kau mau setelah memegang anak ini?? apa kamu mau menertawakan aku mas?" Air mata sudah membasahi wajah pucat Bella
"Bella, maafkan mas, mas tidak bermaksud...” Dimas mencoba menenangkan Bella, namun tangannya di tepis oleh Bella, akhirnya Dimas memeluk Bella, Bella.menangis dalam pelukan Dimas.
Dimas makin di dera rasa bersalah
Tok tok tok
suara ketukan pintu membuat Dimas melepaskan pelukannya pada Bella, seorang dokter memasuki ruangan tersebut di dampingi seorang suster.
__ADS_1
"Siang pak, Bu, saya mau periksa Bu Bella dulu" ucap dokter tersebut ramah, lalu mulai melakukan pemeriksaan,
"Pak, sebaiknya istri anda jangan kelelahan atau banyak pikiran yang akan menganggu kehamilannya.
kandungan istri anda sangat lemah, ditambah ia punya riwayat penyakit kandungan, saya sarankan bapak ektra perhatian pada ibu.
perbanyak makanan bergizi dan buah-buahan. juga support dengan vitamin. Sepertinya ibu Bella terlalu banyak makan junk food , itu tidak baik di masa kehamilannya. tolong lebih diperhatikan istrinya ya pak, saya permisi"
"Tapi dia Bu..."
"Baik dok, terima kasih. saya akan lebih perhatikan itu" jawab Dimas memotong ucapan Bella membuat Bella memandang kearahnya
Setelah dokter itu pergi, bella.tak bisa menahan diri
"Mas apa maksudmu, jelas-jelas kamu bukan suamiku, aku tidak mau di katakan memaksamu atau menjadi perusak rumah tanggamu.
lebih baik kamu tinggalkan ruangan ini" ucap Bella membuang wajahnya tak mau menatap Dimas, tubuhnya terguncang karena menangis
"Bella, aku akan menikahi mu, tapia secara sirih. aku akan bertanggung jawab sebagai ayah anakmu.
tapi aku tak bisa menjanjikan lebih, karena aku sangat mencintai istriku, aku harap kamu bisa merahasiakan pernikahan kita.
Setelah anak itu lahir, maaf aku akan menceraikan kamu, tapi aku akan tetap menafkahi kalian dan anak kita sampai kapanpun anak itu tetap anakku DNA punya hak yang sama dengan anak-anakku yang lain. Hanya itu yang bisa ku tawarkan padamu.
Please jangan meminta lebih karena aku juga tersiksa .
"Baiklah mas, aku hargai keputusanmu, asal anak ini punya papa itu sudah cukup" ucap Bella lirih.
Dimas kembali memeluk Bella, walau keputusannya akan tak adil buat Kinar, namun sebagai seorang lelaki, ia pantang lepas dari tanggung jawab dari perbuatannya.
Selama itu pula Dimas berfikiran merawat Kinar lalu Bella, juga mamanya, ia merasa sangat kelelahan merawat ketiga wanita dalam hidupnya.
Bela juga sering mengunjungi ruang rawat Kinar tanpa Dimas ketahui, ia bahkan sempat berbincang dnegan Kinar dan mereka mulai akrab.
entah apa yang ada di pikiran Bella saat ini.
tentu saja Kinar yang berfikiran terbuka dan tidak pernah punya prasangka buruk tidak menaruh curiga sedikitpun.
Bahkan Bella bercerita tentang dirinya , tentu saja dengan sedikit bumbu kebohongan kalau dia hamil karena di paksa oleh mantan kekasihnya yang sudah mempunyai istri dna karena itulah Kinar merasa simpati pada Bella.
__ADS_1
Setelah Bella di perbolehkan pulang, mereka lalu melakukan akad nikah secara sirih di apartemen Dimas, kini Bella sudah sah menjadi istri kedua Dimas, namun tak ada raut bahagia di wajahnya, berbanding terbalik dnegan wajah Bea yang sumringah
"Maafkan aku sayang, aku sudah menodai kepercayaan mu, aku juga sudah menduakan kamu dan menikahi dia, semua demi anak dalam kandungannya, aku harap kamu mengerti" gumam Dimas menenggak wine di tangannya sambil memandang Bella yang sedang berbincang dengan teman-temannya