
Seminggu sudah berlalu, Dimas belum juga kembali dari Bali, ia masih tetap berusaha untuk bertemu dengan Kinar, namun walaupun kedua orangtua serta adik-adiknya sudah kembali ke Jakarta, Kinar memilih tetap berada di Bali.
Satria sengaja meminta Rey untuk menjaga kakaknya, karena Satria tahu jika Dimas masih berada di Bali, Satria takut jika Dimas akan memanfaatkan situasi dan bertemu dengan Kinar.
Surat gugatan sudah masuk pengadilan yang artinya hanya menunggu hari saja untuk pemanggilan.
Anggi ingin sekali tetap di Bali, namun si kecil Amera dan kedua kakaknya si kembar masih sekolah, mereka harus dirumah untuk melakukan tugas sekolah mereka.
"Kinar please beri aku kesempatan, aku gak mau bercerai denganmu" Teriak Dimas yabg sudah satu jam lebih berdiri di depan Villa Putu
"Pak, sebaiknya anda segera pergi, mba Kinar tidak akan menemui anda" ucap Security yang menjaga pintu gerbang
"Pak , saya mohon beritahu istri saya jika saya ingin bertemu, tolong pak.
Dalam agama istri yang belum cerai dengan suaminya masih punya hak untuk mematuhi perintah suaminya" ucap Dimas berharap security itu mau membukakan pintu gerbang
"Maaf pak Dimas, saya hanya bawahan, tolong jangan mempersulit posisi saya.
saya juga tidak bisa membantu anda, terlepas didalam Bu Kinar adalah istri anda, saya hanya mematuhi perintah majikan saya pak, atau saya di pecat.
Saya punya istri dan anak yang masih kecil-kecil" ucap Security itu balik memohon Dimas untuk pergi
"Kinaaaar, aku tahu kamu mendengar ku, maafkan aku, aku sangat mencintai kamu" ucap Dimas masih berteriak.
beruntung villa keluarga besar Putu berada jauh dari pemukiman warga, sehingga tak jadi bahan tontonan, hanya saja para pekerja yang berada di sana sedang berbisik-bisik bergosip.
Sudah seminggu sejak kedatangan Kinar, Dimas selalu berteriak memanggil nama istrinya, ia juga di sana sejak pagi hingga malam.
Jegeeeerrr
Suara Guntur bersautan, di sertai kilat yang menyambar, langit sore itu mendung, seperti hati Dimas yang sedang sedih, tak lama kemudian hujan turun di sertai petir, semua orang enggan untuk keluar rumah karena hujan yang sedikit ekstrem, namun di depan gerbang terlihat seorang pria yang masih berdiri memanggil-manggil nama istrinya.
Kinar mengira jika Dimas sudah pergi karena hujan, ia menutup telinganya rapat-rapat, walau tak tega, ia harus demi semua orang.
Kinar sebenarnya sempat goyah melihat tekad Dimas meminta maaf padanya, namun Rey langsung menghalangi Kinar yang ingin bertemu dengan Dimas,
__ADS_1
Sudah dua jam hujan mengguyur kota Bali, Kinar kini sendang menikmati makan malamnya seorang diri karena Rey memilih pergi dengan anak pertama kakek Bagus bernama Aditya.
Aditya dan Reyhan selisih dua tahun, sehingga mereka seperti adik kakak, ditambah wajah Aditya mirip dengan Rey.
Telepon pararel berbunyi, seorang asisten rumah tangga langsung mengangkat teleponnya
Beberapa saat kemudian dia menyodorkannya pada Kinar
"Bu Kinar, pak Aji mau bicara dnegan ibu, katanya ada hal penting"
"Pak Aji siapa mba?" tanya Kinar bingung
"Pak Aji security depan Bu, " ucap asisten rumah tangga, Kinar lalu menerima telepon
"Ya pak Aji ada apa???" tanya Kinar penasaran
"Anu Bu, gimana ya saya ngomongnya, itu pak Dimas masih berdiri di depan pintu pagar Bu, beliau sudah sejak pagi disana, sepertinya belum pergi kemana-mana.
Dan sekarang sedang hujan lebat, saya hanya..."
"Tapi Bu, anu , sekarang hujan Bu, pak Dimas sudah dua jam di bawah hujan,"
Kinar bimbang harus bagaimana, tak mungkin juga ia mempersilahkan Dimas masuk, saat ini tak ada Rey ataupun kakek Bagus, Kinar takut Dimas melakukan sesuatu di luar nalar, mengingat ia selalu berteriak tidak mau bercerai
"Astaghfirullah Bu, pak Dimas sepertinya tak sadarkan diri Bu" ucap pak Aji di ujung telepon.
Kinar tanpa pikir panjang langsung berlari keluar rumah, ia tak perduli hujan deras langsung berlari menuju gerbang villa
"Bu Kinar hujan Bu" ucap pak Aji dan rekannya Wawan
"Tolong bawa suami saya masuk" ucap Kinar panik, ia membenci Dimas namun juga masih sangat mencintai pria yang sebentar lagi akan ia ceraikan itu
"Kenapa kamu seperti ini mas, kamu membuatku bertindak kejam padamu, kamu membuatku susah, semuanya jadi tak mudah buatku.
Aku sudah mengikhlaskan mu bersama wanita yang kamu cintai, tolong jangan buat aku tersiksa lagi dnegan bersikap seolah kamu benar-benar perduli padaku" gumam Kinar dalam hati
__ADS_1
Setelah sampai dalam rumah, Kinar meminta mereka membawanya ke dalam kamar tamu, Kinar mencari pakaian papanya yang memang ada beberapa di tinggal di villa ini, ia meminta tolong pada ok Aji dan Wawan Untuk menggantikan pakaian Dimas, setelah selesai Kinar meminta dua security itu berganti pakaian karena pakaian kerja mereka basah kuyup begitu juga Kinar, namun Kinar memilih mengoleskan minyak angin ke tubuh Dimas, menggosok-gosokkan tangan Dimas yang terasa dingin, bulir air mata lolos begitu saja dari mata Kinar, ia takut sesuatu yang buruk menimpa Dimas, walau se- benci apapun ia pada Dimas, bohong jika ia sudah tak mencintai Dimas
"Ya Allah mas, badan kamu dingin sekali, kenapa kamu bodoh sekali mas, Kenapa kamu tidak melepaskan ku begitu saja??? aku bukan wanita yang kamu cintai mas, please jangan membuatku goyah mas" ucap Kinar terisak.
Dimas masih belum sadar, kini tubuhnya menggigil kedinginan, Kinar menyelimuti tubuh Dimas,Ia mengompres kening Dimas yang terasa sangat panas.
"Bu, itu, baju ibu basah kuyup, sebaiknya ibu ganti baju dulu biar pak Dimas saya yang jaga.
Nanti ibu bisa sakit kalau ga buru-buru ganti baju.
Itu saya buatkan teh hangat,"ucap asisten rumah tangga menunjuk dua gelas teh hangat satu untuk Kinar
"Jika pak Dimas bangun, saya akan segera kabarkan ibu, sebaiknya ibu segera mandi air hangat dan ganti baju" ucap asisten rumah tangga tersebut.
"Baik mba, saya tinggal ya, terima kasih" ucap Kinar melangkah keluar menuju kamarnya.
Asisten rumah tangga itu sudah mengabari keadaan rumah kepada Bagus, kini bagus menuju ke Villa ini, karena mereka sedang berada di tempat lain.
Bagus memerintahkan asisten rumah tangga yang bernama Tini ini untuk tak jauh-jauh dari Kinar, untuk mencegah hal yang tidak di inginkan
"Kinaaaar, maafkan aku" ucap Dimas mengigau
Tini hanya tersenyum mengejek, ia sudha tahu permasalahan Kinar dengan pria ini, jika saja tuan besarnya masih ada pria didepannya ini sudah di pastikan tidak akan bisa menginjak tempat ini, bahkan Bali.
"Kinar jangan pergi, kinaaarrr" Dimas berteriak dan langsung terduduk, ia terbangun dari tidurnya
"Dimana aku??" tanya Dimas lirih
"Syukurlah anda sudah sadar, sebaiknya anda segera pergi dari sini karena anda menyusahkan" ucap Tini judes
"Siapa yang..."
"Anda pikir siapa lagi??? Bu Kinar sampai basah kuyup tak perduli dengan kesehatannya sendiri, sejak tadi ia yang merawat anda masih dengan pakaian basah kuyup.
Jika anda benar mencintai Bu Kinar, biarkan ia bahagia dengan pilihannya, itu hanya saran dari orang rendahan seperti saya, permisi" ucap Tini meninggalkan Dimas yang terdiam dengan ucapan Tini yang langsung menusuk perasaannya
__ADS_1
"Dia masih perduli padaku..." gumam Dimas lirih