
Dimas sangat frustasi mengetahui status Kinar naik menjadi tersangka, ia merasa sangat bersalah, hingga rasanya ia ingin mencekik Bella.
Beberapa kali ia membujuk Bella untuk menarik tuntutannya, namun Bella bersikeras jika meninggalnya anaknya karena Kinar mendorongnya hingga terjatuh, sementara kesehatan Mariska kian memburuk.
Mariska meminta semua orang merahasiakan kesehatannya dari Kinar, kini Kinar sedang di runding masalah, ia tak mau jika Kinar makin sedih karena mendengar dirinya sakit
"Loe ya, kapan sih loe bisa buat ibu bahagia??? mau sampai kapan??? apa loe mau nyiksa ibu terus Dimas???" Tanya Dendi yang sudah tak kita memendam perasaannya karena kesal.
Dendi sangat menyayangi Mariska yang merupakan ibu angkatnya, ia geram melihat ibu angkatnya itu menderita hidupnya karena punya anak tak berguna seperti Dimas.
"Loe gak berhak mendikte hidup gue Den, loe cuma anak panti yatim piatu yang di pungut mama, loe bukan keluarga gue" cibir Dimas tak terima di pojok kan Dendi
"Tutup mulut kakak. kakak yang seharusnya malu, apa yang telah kakak beri untuk mama??? kebahagiaan??? kebanggaan??? tidak satupun.
Kakak terus menyeret mama dalam masalah kakak.
Mau sampai kapan kakak begini terus??? Damar malu kak, benar-benar malu punya kakak seperti kak Dimas.
Lihat kak Dendi, walau cuma anak angkat, tapi kak Dendi sangat menyayangi dan perhatian pada mama, selalu membuat mama bangga, sedang kakak???
Apa kakak mu menunggu mama mati dulu baru bisa membuatnya bahagia????
teriak Damar meluapkan emosi yang selama ini di pendam ya.
Dimas hanya diam, ia menyadari ucapan adiknya semua adalah benar, ia selalu menyusahkan mamanya dan membuat mamanya terus khawatir hingga serangan jantung beberapa kali karena ulahnya
Ia juga bukan anak yang berbakti, selalu melawan dan menuruti egonya sendiri tanpa memikirkan perasaan Mariska
"Ayo kak Dendi, percuma kita bicara dengan manusia yang hati dan pikirannya buntu.
Lebih baik kita jaga mama dan sementara waktu jangan birkan berita apapun lolos ke dalam jangkauan mama" ucap Damar menarik kakak angkatnya itu
Dendi seakan segan meninggalkan ruangan itu, ia masih diliputi emosi dengan telapak tangan terkepal
Damar langsung menariknya, setengah memaksa menyeretnya keluar.
Sepeninggalan kedua adiknya, Dimas jatuh terduduk, setiap perkataan mereka terus terngiang-ngiang di telinganya, terlintas satu persatu kesalahan yang pernah ia perbuat yang membuat mamanya menangis, tak terhitung jumlahnya berapa kali ia membuat Mariska kecewa hingga menangis.
Dimas menangis sesegukan, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, kali ini sakitnya mamanya karena memikirkan Kinar, menantu yang ia sayangi seperti anaknya sendiri.
Dimas meremas rambutnya, ia menangis dan berteriak meluapkan semua perasaanya, hingga satu jam kemudian ia hanya terdiam tanpa melakukan apapun
Dimas tiba-tiba bangkit, terlintas satu cara yang bisa menyelamatkan Kinar, satu cara yang akan di setujui oleh wanita itu, walau pada akhirnya ia kembali menyakiti Kinar untuk keputusannya, namun itu lebih baik daripada melihat Kinar menderita karena ulah Bella.
Dimas tak perduli jika ia akan tersiksa nantinya, dulu Kinar banyak berkorban untuknya, kini saatnya ia membalas lunas apa yang pernah ia utang pada Kinar, dalam pikirannya hanya satu, Kebebasan Kinar.
__ADS_1
Dimas menelpon pengacaranya, meminta sesuatu segera di urus, lalu ia sendiri ingin melihat Kinar sebelum keputusannya itu.
Kinar dan David serta Aisyah masih berada di danau buatan yang masih berada di dekat lingkungan komplek tempatbyinggal orangtua Kinar.
Kinar menghampiri seorang wanita tua yang berjualan nasi pecel, wanita yang pernah menolongnya dan menasihatinya tempo hari.
"Nak Kinar????" pekik Bu Sumiati girang
"Ibu apa kabar???" tanya Kinar yang senang wanita ini tak melupakannya
"Baik, Alhamdulillah, masih bisa beraktivitas" ucapnya tersenyum lebar
"Owh ya Bu, perkenalkan ini adik-adik saya, ini Aisya, dan ini David" ucap Kinar memperkenalkan David dan Aisya pada Bu Sumiati
Aisyah memandang kakaknya bingung, bagaimana ia bisa kenal penjual asongan di danau ini?
Dan yang lebih menyebalkan David diakui adiknya, Aisyah tidak terima punya saudara seperti David.
"Kak, aku gak mau punya saudara cowok sinting itu" bisik Aisyah memprotes Kinar
"Hehe jika kalian nanti pacaran dan menikah kan jadi adik kakak. jodoh tak ada yang tahu" bisik Kinar yang berhasil membuat bila mata Aisyah melotot hendak keluar
"Kakak, menyebalkan.
Amit-amit" ucap Aisyah langsung menjauhi mereka berdua
"Dia cuma bilang kamu chicken, gak berani nembak dia" ucap Kinar sedih dibuta-buat
"Haha dasar cewek error nantangin gue dia, tunggu di sini kak, kalau dia gak jadi cewe David, jangan panggil nama David lagi” ucap David tersulut emosi
Ia tak sadar jika sedang di provokasi Kinar
Kinar sengaja membuat mereka berdua sibuk berdebat sementara ada yang akan ia bicarakan dengan Bu Sumiati, entah mengapa ia merasa nyaman berbicara dengan Bu Sumiati yang notebene nya baru ia kenal
"Tapi kak, emang kakak setuju kalo aku jadi adeknipar kakak??" tanya David ragu
"Seratus persen yakin"
"Walau aku berasal dari keluarga yang gak mampu dan gak kakak kenal???" tanya David memastikan, Kinar mengangguk yakin
"Walau mungkin saja aku adik orang yang kakak benci??" tanya David lagi
"Kan kamu, kamu, dia dia, tak ada hubungannya karena kalian dua orang yang berbeda" ucap Kinar membuat hati David terasa damai.
David langsung menuju tempat dimana Aisyah duduk dengan marah
__ADS_1
Sementara Sumiati sudah merapihkan barang dagangannya yang sudah ludes terjual
"Alhamdulillah habis ya Bu?"
"Iy Alhamdulillah nak, namanya juga orang jualan kadang untung banyak, kang untuk dikit kadang rugi.
semua sudah Allah atur" ucapnya bijak
"Kamu tumben disini, sepertinya adikmu itu sering kesini dengan adik-adiknya bermain, apa ..."
"Orangtua saya tinggal di dekat sini" ucap Kinar mengerti arah pembicaraan Sumiati
"Sepertinya wajahmu sedang banyak masalah, sekarang apa lagi???”, tanya Sumiati ynag sudah duduk di samping Kinar
"Kinar merasa malu Bu, datang kesini hanya jika ada masalah" ucpa Kinar tertunduk malu
"Sudah katakan saja, ibu tahu kamu anak yang tertutup.
mungkin nyaman bicara dengan wanita tua ini hehehe" ucap Sumiati menepuk nepuk punggung kinar
Kinar mulai menceritakan semuanya, terkadang di sela ceritanya terdengar Bu Sumiati menghela nafas, lalu berkali-kali menggeleng, ia tak memotong cerita Kinar, hanya mendengarkan sampai selesai.
"Jadi begitu Bu, kini Kinar tersangka pembunuh anak dalam kandungan wanita simpanan suami Kinar.
padahal Kinar sungguh gak melakukannya" Isak Kinar pecah, Bu Sumiati membawanya dalam pelukannya
"Ibu percaya. ibu percaya kamu wanita yang baik dan lurus. kamu tidak mungkin melakukan itu., seburuk-buruknya mahluk adalah manusia yang memiliki hati dengki dan iri hati di dalam hatinya, wanita itu sangat mengerikan, namun tindakan wanita itu tak lepas dari peran suamimu.
Benar jika suamimu ingin bertanggung jawab, namun apakah tidak sebaiknya ia mencari kebenaran dulu baru membuat keputusan.
ketika langkahnya menikahi wanita itu.
ia membuka peluang wanita itu untuk berandai dan serakah.
Kamu memang bisa memaafkan kelakuan suamimu tapi benalu yang kalian tanam cepat atau lambat tetap menghancurkan keluarga kalian.
Ketidak tegaskan suamimu memberi peluang wanita itu berbuat sesuatu yang jahat.
lepaskan nak, lepaskanlah dia, anggap dia tak berjodoh denganmu.
Bukan ibu menyarankan yang tidak baik, memang perpisahan sesuatu yaang di benci, namun jika kau bertahan dan akan lebih menderita buat apa?? kecuali kamu punya hati seluas samudra, karena manusia memiliki batasnya sendiri. Tapi keputusan kembali padamu nak, ibu hanya wanita bodoh yang memandang sesuatu dari kacamata ibu sendiri, pengalaman banyak mengajarkan ibu bagaimana bersikap dan bertindak.
wanita memang mahluk lemah bukan berarti kita bisa di tindas dan menerima apa adanya, kita berhak menentukan hidup dan tujuan kita sendiri, karena kabahagaiaan terletak disini" ucap Sumiati meletakkan tangan Kinar di dadanya
”Sekaya, sesukses apapun seseorang kalau ini gak pernah bersyukur tak akan bahagia.” tunjuk Sumiati ke dada Kinar.
__ADS_1
"Kinaarrr" suara Barito pria yang tak asing membuat Kinar menoleh ke arah sumber suara itu dan ia terkejut