
Mikhayla merasa sangat tersiksa, ia tak bisa makan enak, dan hanya makan seadanya.
Sementara Amara dan keluarga nya. masih akan beberapa hari di sana.
Amara juga baru dua kali menelponnya, itu pun hanya menanyakan apakah paketnya sudah sampai atau belum dan setelahnya ia buru-buru memutuskan panggilan teleponnya
Miki juga sudah memberitahu mamanya jika papanya sudah memblokir kartu kreditnya, namun Amara hanya mengatakan jika mereka akan membicarakannya setelah mereka kembali ke Jerman.
Mikhayla ingin berteriak marah pada mama angkatnya, namun ia tak bisa, bagaimanapun ia harus menekan amarahnya demi kelangsungan hidupnya.
Jika Amara tersinggung, tak ada seorangpun yang akan mendukungnya untuk tetap tinggal di rumah tersebut.
Mikhayla tidak mau hidup menderita lagi, susah makan dan memakai pakaian Kumal, ia tidak mau lagi.
Namun kini ia memang hidup di rumah mewah, berpakaian bagus, namun di depan matanya ada sepiring nasi dengan telor ceplok saja, ini menyedihkan.
Tanpa mikhayla sadari, itu semua sengaja lucky lakukan untuk menghukum Miki, jika Amara, ia tak akan tega.
Sementara di resort pulau Dewata
Bernard dan Albert sedang berselancar.
Sementara lucky dana mara lebih suka duduk manis sambil menikmati keindahan pantai dan semilir angin.
Tiba-tiba ponsel lucky berbunyi, sebuah pesan singkat masuk, entah mengapa lucky yang biasanya selalu serius kini terlihat tersenyum senyum sendiri
"Mas apa ini maslaah kantor??? gak biasa-bisanya kamu cengar-cengir gitu?? apa ada yang lucu??" tanya Amara penasaran
"Haha bukans ayayang, ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, yang mengirimiku pesan singkat adikmu"
"Michael???" tumben, ada apa???"
"Dia meminta izin padaku mendekati Kinar, dia tertarik pada dokter Kinar" ucap lucky
"Wow, tumben duda dingin itu bisa kepincut?? aku harap dia tidak mempermainkan Kinar" ucap Amara sudah mulai menyayangi Kinar
"Aku sendiri yang akan mengebiri ya, ia meminta beberapa info dasar tentang Kinar, sepertinya aku akan mendukung adikku dengan Kinar ma"
"Aku tadinya berharap Kinar menjadi menantu kita, tapi melihat kelakuan Albert, aku sangsi Albert bisa menjadi suami yang baik untuk Kinar
Jik akibat dengan Albert, dia akan menajdi adik ipar ku, itu tidak buruk juga" ucap Amara bersemangat
"Aku juga berfikir begitu, anak kita pria yang kaku dan dingin, ya walau Mic mirip Albert namun Mic lebih dewasa dan bertanggung jawab" Amara mengangguk setuju
"Tapi yang jadi masalah adalah Freya, dia anak yang keras kepala dan sulit di dekati"
"Ponakanmu malang, jika melihat Freya, hatiku sakit mas. Rasanya aku ingin menjambak mama Freya, bagaimana seorang ibu bisa begitu kejam pada putrinya sendiri".
"Sudahlah, jangan habiskan energi mu memikirkan wanita sialan itu" ucap lucky menepuk tangan istrinya
__ADS_1
"Hufh, kau harap Freya bisa menjadi anak yang baik dan penurut"
"Suatu saat aku yakin ia akan menurut juga, aku pikir kehadiran seorang ibu memang bisa membentuk karakternya.
Dalam sebulan ini saja dia sudah empat kali ganti pengasuh, semuanya menyerah"
"Mengkhawatirkan mas, bagaimana jika saat kita kembali, biarkan Freya tinggal di rumah kita, aku yakin ia merindukannkeluarga lengkap.
kau tahu sendiri Mic jarang di rumah"
"Aku setuju denganmu sayang.
Kita serahkan pada waktu, apakah Kinar akan menjadi keluarga kita atau tidak, namun jikapun tidak, aku sudah terlanjur menyukai anak itu.
Aku jadi penasaran dengan keduanorangtuanya"
"Aku juga ingin mengenal mereka" ucap Amara menimpali
Sementara di rumah sakit
Kinar malam ini piket, ia kebagian menjaga ruang instalansi gawat darurat.
Beruntung besok adalah hari liburnya sehingga ia bisa tidur puas setelah piket malam ini.
Tiba-tiba ambulance datang dan petugas langsung mendorong pasien, seorang anak kecil yang berlumuran darah
"Pasien terjatuh dari lanti dua rumahny, kondisinya patah tulang kaki dan tangan kanannya,
"Segera telepon dokter franco, kita akan mengoperasinya malam ini juga" ucap Kinar, ia segera melakukan tindakan pertolongan pertama.
Kinar merasa sangat kasian, hatinya terenyuh.
melihat usia anak ini, ia jadi teringat dengan putrinya yang meninggal. Jika saja putrinya selamat, mungkin usianya akan sama dengan anak malang ini, Kinar menutikkan air mata.
Setelah setengah jam, anak malang itu segera di operasi, sayangnya hanya ada seorang asisten rumah tangga dan pengasuh anak itu, itu terlihat dari apakaian yang mereka gunakan
"Kinar dipaksa oleh dokter franco ikut dalam operasi sebagai asistennya, sementara ruang IGD di jaga oleh dokter lain.
Kinar bersuka cita di beri kesempatan menjadi asisten dokter bedah ternama itu, di samping itu ia juga penasaran dengan konsisi anak malang itu.
setelah operasi pemasangan pen di kaki dan tangan operasi selesai.
beruntung anak itu cerdas menutupi kepalanya dengan tangannya, sehingga ia hanya mengalami geger otak ringan, setelah itu anak tersebut di pindahkan ke ruang perawatan.
"Pasien sudah selesai operasi, tak usah khawatir, kondisinya sudah stabil" ucap Kinar pada asisten rumah tangga dan pengasuh anak itu
"Terima kasih dokter, terima kasih" ucap asisten rumah tangga itu lega.
Kinar memilih untuk mengawasi perkembangan anak itu, ia sudah meminta izin pada Ridwan, dan Ridwan selaku pemilik rumah sakit sekaligus kepala rumah sakit meluluskan keinginan Kinar walau Ridwan tak tahu alasan apa yang membuat anak keponakannya itu berbuat demikian.
__ADS_1
Namun begitu mendapat laporan jika pasien yang di tangani Kinar adalah anak kecil,
Ridwan jadi teringat bagaimana depresinya Kinar saat ia harus keguguran karena terjatuh dari tangga.
mungkin hal itu yang membuat Kinar menaruh empati pada gadis malang itu, gadis kecil itu mengingatkan Kinar akan anaknya.
Kinar memang terlihat tegar dan selalu tersenyum, namun siapa yang tahu di dalam hatinya???
Kinar sejak dulu tak mau menyusahkan siapapun, itulah mengapa Satria dan Anggi sangat khawatir pada Putri angkat mereka.
Kinar terus berjaga di samping gadis kecil itu, hingga akhirnya terdengar rindtihan kesakitan gadis itu
"Aaaawwww sssssshhhh"
"Kau sudah terbangun sayang?, ayo minum dulu" ucap Kinar lembut
terlihat wajah kebingungab anak tersebut, namun ia tetap menerima air putih dari Kinar, dan meminumnya melalui sedotan
"Apa yang kamu rasakan? apa mual dan pusing?" tanya Kinar dengan bahasa Jerman nya
"Aku pusing sekali, apa aku di rumah sakit?" tanyanya lagi melihat sekeliling
"Ya, kamu terjatuh, tapi sekarang kamu baik-baik saja" ucap Kinar berusaha menghibur
"Baik-baik saja??? dengan kaki dan tangan seperti ini??? dokter aku kira Anda tak sehat" ucap pedas gadis kecil tersebut.
"Nona Freya, itu tak sopan.
dokter itu hanya mencoba menghiburmu.
beliau sendiri yang merawat dan menantimu sejak kau masuk rumah sakit sampai setelah operasi, apakah itu sikap yang baik?" ucap asisten rumah tangga itu tegas.
terlihat gadis kecil itu menunduk
"Itu sudah tugasnya sebagai dokter. kita membayar mahal untuk di rawat disini" ucapnya masih dengan menunduk
"Nona, anda keterlaluan ini..."
"Sudah tak apa, apa yang dikatakan anak ini ada benarnya.
karena dia sudah sadar, saya pamit.
ini kartu nama saya jika ada sesuatu bisa hubungi saya" ucap Kinar menyodorkan kartu namanya pada asisten rumah tangga tersebut, sepertinya wanita paruh baya itu dekat dengan gadis kecil
"Anak cantik, Tante pamit dulu ya, habiskan makan mu dan minum obatnya" ucap Kinar lembut mengelus puncak kepala anak itu yang di perban
Freya menatap sekilas lalu memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sore harinya Kinar datang lagi dan membawa boneka, namun gadis kecil itu tak merespon, ia juga memeriksa kondisinya walau Freya terlihat tak suka dan masih melontarkan kata-kata sinis.
__ADS_1
Keesokan harinya Kinar mengunjungi anak itu, itu memeriksa kondisinya juga, namun masih dengan ucapan sinis nya anak itu mengusir Kinar.