Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Jebakan


__ADS_3

"Terima kasih dok" ucap Kinar begitu sampai di ruangan dokter Brian


"Terima kasih untuk??? kenapa Bu Kinar berterima kasih pada saya?" tanya dokter brian


tersenyum


"Karena dokter sudah menyelamatkan saya dari suasana memuakkan tadi" ucap Kinarbtanla di duga-duga


"Well, niat saya memang mau memeriksa anda, namun jika bisa sekali dayung dua tiga pulau terlewati itu lebih baik" ucap dokter Brian


"Kedengarannya bagus" ucap Kinar.


kinar lalu diperiksa dan kondisinya sudah tidak ada masalah


"kondisi Bu Kinar sudha tidak ada masalah, tinggal pemulihan saja"


"Alhamdulillah, terima kasih dok"


"Sama-sama Bu, owh ya Bu.


Apa pak Dimas masih memiliki orangtua?? maksud saya mamanya" tanya dokter Brian tiba-tiba


"Masih dok, suami saya hanya tinggal punya mama beliau baru sadar dari koma stelah terjatuh dua bulan lalu, tepatnya setelah saya periksa kandungan beberapa hari sebelumnya di tempat dokter.


Ada apa ya dok???"


"Beberapa hari setelah kamu periksa, Ada seorang ibu-ibu yang mengaku orangtua suami anda, Dimas, Awalnya saya juga sedikit bingung karena dia menanyakan wanita lain dan bukan anda.


Sebagai seorang dokter pantang bagi kami untuk membocorkan rahasia pasien. Namun wanita itu membawa sesuatu yang membuatku ingin membantunya. dia menanyakan kehamilan ibu Bella, usia kandungannya dan hasil usg kandungan ibu bella.


Saya tidak tahu apa, tapi sraan saya, anda berhtai-hati dengan dia."


"Terima kasih dok atas informasinya" ucap Kinar


"ITS ok, sebenarnya ini tak patut ku katakan, namun sebagai dokter yang telah merasakan asam garam, aku tahu wanitabitu tak sesederhana terlihat"


"Dokter anda terlalu lebay, kulihat usia kita tak jauh beda" ucap Kinar terkekeh, ternyata dokter Brian orang yang menyenangkan terlepas dari sikapnya yang bawel


"Ah aku sampai lupa, ini akibat aku terlalu banyak bergaul dengan ibu-ibu" keluhnya dengan muka sedih


"Haha, bisa jadi dok" ucap Kinar terkekeh


"Apa yang kalian tertawaan???" tanya Dimas sudah berdiri di depan pintu menatap Kinar dan dokter Brian bergantian


"Oh mas Dimas, kami hanya bicara santai

__ADS_1


, tak ad yang penting" ucap Kinar menyentuh tangan Dimas


"Saya permisi dok, terimakasih" ucap Kinar langsung berpamitan, karena ia tahu jika Dimas cemburu.


Kinar sengaja buru-buru pergi dari sana sebelum Dimas terlalu banyak bicara.


"Apa yang kamu tertawakan dengan dokter itu??? sepertinya kalian akrab sekali” cibir Dimas


"Mas please jangan mulai, dia dokter kandunganku, tentu saja kamu sharing tentang kandunganku paska keguguran.


Apa kamu berminat ingin tahu bagaimana anakmu bisa terenggut dari ku" ucap Kinar emosi


"Maafkan aku, aku hanya..."


"Cukup mas, aku memberikan mu kesempatan, bukan Berti aku sudah Memaafkanmu sepenuhnya. ku harap kau tak lupa" ucap Kinar melangkah menuju pintu keluar rumah sakit


"Kamu mau kemana???" tanya Dimas melihat istrinya justru menuju pintu keluar bukan ke IGD tempat Kinar menunggu


"Kau pikir kamu lupa bahwa istrimu itu sedang sakit, lalu buat apa kau ikut menungguinya???? untuk melihat kalian bermesraan???” Kinar langsung berjalan meninggalkan Dimas


"Aku antar" ucap Dimas menarik tangan Kinar


"Mas, aku bisa pulang sendiri, sebaiknya kamu kamu jaga Bella"


"Aku tak perduli, urus Istrimu itu atau dia akan mengamuk dan mencelakakan orang lagi, kalau perlu kerangkeng macan betina mu itu" ucap Kinar langsung menyetop taxi lalu meninggalkan rumah sakit tersebut.


Seminggu Kemudian


Bella masih di rawat di rumah sakit karena kondisinya yang masih lemah.


Hari ini hari terakhir dimana dokter Brian menunda memberitahu Suami Bella karena permintaan pasiennya itu, namun Bella belum juga memberitahu Dimas prihal kondisinya.


Terlalu banyak pertimbangan dan yang paling ia takutkan adalah Dimas langsung menceraikannya begitu tahu ia harus mengangkat rahimnya.


Bella meminta Suter menemaninya jalan-jalan, ia suntuk karena sejak ia di rawat, Dimas hanya mengunjunginya dua kali saja, pertama saat ia tak sadarkan diri dan kedua beberapa hari lalu, Bella merasa sangat marah dan ia menduga semua karena Kinar, walaupun pada kenyataannya berbeda.


Bella yang berada di lantai satu memilih untuk pergi ke taman, pikirannya yang kusut mungkin bisa sedikit tercerahkan jika ia keluar kamar.


Bella berjalan menuruni anam tangga, ia memang tak mau memakai kursi roda, ia tak mau terlihat seperti orang cacat yang harus di dorong kesana kemari dengan bantuan kursi roda.


Dari kejauhan ia melihat Kinar, sepertinya ia ingin menjenguk dirinya, Bella. meminta pada suster yang menjaganya untuk meninggalkannya dan mengatakan bahwa adik tirinya datang sambil menunjuk Kinar yang berjalan ke arah mereka, stelah hanya tinggal dia di anak tangga, Kinar berdiri di depannya


"Sepertinya kamu sudah baik-baik saja?? atau pura-pura tak apa-apa????" goda Kinar


"Apa kau datang kesini untuk memprovokasi ku??? atau untuk melihat betapa aku menderita???, sayangnya aku baik-baik saja" cibir Bella pura-pura tegar

__ADS_1


"Aku datang kesini karena dokter Adrian memintaku dan suami tercintaku untuk datang.


uhmm sepertinya ada hal besar yang akan di sampaikan oleh dokter Adrian mengenai kamu"


"Apa maksudmu???" ucap Bella bergetar, ada nada ketakutan di suaranya yang berusaha ia sembunyikan


"Seperti yang kamu dengar, aku dan Dimas diminta ke sini, kira-kira apa yang akan di sampaikan dokter Brian ???


apa ini menyangkut penyakitmu?? atau anak itu" tunjuk Kinar pada perut buncit Bella


"Apa yang kau tahu???” Bentak Bella tak senang


Ia menduga kinarbsudha tahu semuanya dan kini ia datang untuk menonton dirinya yang di ceraikan Dimas,.


"Enggak, gue gak mau. Dimas harus jadi milik gue bagaimanapun caranya, bila perlu Kinar harus gue singkirkan selamanya" gumam Bella menatap Kinar dengan kebencian yang teramat dalam


"Biasa aja dong liatnya, bikin merinding" ucap Kinar menggoda Bella


"Loe gak akan bisa melakukan apapun sama gue dan gue pastikan loe akan menyesal udah datang ke sini" seringai jahat terlihat di wajah Bella


Ia kemudian menggenggam tangan Bella dan mulai menangis


Bella melihat ada beberapa orang yang sedang duduk di koridor rumah sakit, dan ia tersenyum licik


"Aku tahu aku salah, tapi aku sudah memohon maaf padamu, bukan salahku suamimu menikahi aku, huhuhu"


Beberapa orang mulai memperhatikan mereka berdua, Bella melirik sekilas dan tersenyum


"Sepertinya ini jalan satu-satunya, maaf boy, kamu tidka di perlukan lagi" gumam Bella melihat perut buncitnya sekilas, dimana bayi dalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki,


"Bell, apa yang kamu lakukan?? kamu sudah Gila??" ucap Kinar melangkahkan kaki hendak naik keatas tangga meninggalkan Bella


”Loe bisa membenci gue, tapi anak dalam kandungan gue gak bersalah, dimana hati loe mau bunuh anak ini?" teriaknya sambil menangis,


"Loe bener-bener gila, seharusnya loe masuk rumah sakit jiwa Bella, loe pikir orang percaya sama ucapan loe??"Kinar berusaha melepaskan tangannya,


Kinar tahu Bella sedang menjebaknya, mencari simpati orang sekelilingnya seperti yang ia lakukan tempo hari.


Namun Kinar salah, justru reaksi itu yang di tunggu


Kinar sama.sekali tak mendorong Bella, ia hanya berusaha melepaskan cengkraman tangan Bella di mana kuku Bella menancap di kulit lengannya, tak mendorong Bella sama sekali, namun Bella seakan di dorong kencang oleh Kinar hingga tubuhnya menggelinding jatuh dari tangga, walau mereka ada di anak tangga ke enam itu sangat menakutkan, tubuh Bella membentur beberapa anak tangga hingga akhirnya ke lantai, darah segar keluar dari kepalanya dan sela kakinya


Kinar menjerit memanggil nama Bella, ia langsung berlari mendekati Bella yang sudha tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari kepala dan paha nya


"Astaghfirullah Bella..... tolong, tolong" teriak Kinar histeris.

__ADS_1


__ADS_2