
Dimas berjalan menuju kamarnya, ia terlihat sangat marah setelah mendengar ucapan mamanya, bukan hanya itu, ternyata Mariska memiliki bukti bahwa kecelakaan yang ia alami bukan murni kecelakaan melainkan karena Bella.
"Bella, bellaaaa" teriak Dimas memanggil Bella, namun Bella tak ada di dalam, ia memeriksa kamar mandi, terdengar air shower menyala, rupanya Bella sedang mandi.
Dimas sengaja duduk di tepi ranjang menunggunya selesai mandi, sambil memikirkan tindakannya selanjutnya
Pintu kamar mandi terbuka, Bella keluar dengan handuk masih melilit dan tubuhnya yang kini mulai berisi karena kehamilannya, rambutnya di gulung keatas dengan handuk kecil
"Loh mas, masuk kok aku gak tahu?" sapa Bella membuat Dimas mendongak menatap Bella
"Kenapa mas Dimas sepertinya benci sekali denganku?? apa yang terjadi???, apa wanita itu sudah berhasil membujuknya??? apa yang di katakan pada mas Dimas??" gumam Bella dalam hati
Dimas mangkir menghampiri Bella membuat Bella mundur beberapa langkah, namun Dimas terus maju tanpa bersuara
"Mas, mau apa kamu mas??" ucap Bella ketakutan
Dimas langsung mencekik leher Bella, matanya penuh dengan amarah
"Aku tak akan pernah bisa mentolerir siapapun yang menyakiti mama ku, tidak juga kamu Bell" ucap Dimas dingin
"Mas lepaskan, sakit mas" ucap Bella merasakan skait di lehernya karena cengkraman Dimas, alih-alih mengendurkan cengkeramannya, Dimas makin mengencangkan cengkeramannya pada leher bela
"Mas, sakit mas, kamu mau membunuhku???? aku sedang hamil anakmu" ucap Bella berharap dengan ucapannya Dimas akan sadar
"Aku akan melakukan tes DNA begitu anak itu' genap tujuh bulan, jika terbukti anak itu bukan anakku, aku akan membuatmu masuk ke dalam penjara dan membusuk di dana Bella,dan satu lagi, jangan pernah menyakiti mamaku atau Kinar lagi, atau aku akan membunuhmu" ucap Dimas menghempaskan tubuh Bella kedinding, Bella terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang memerah bekas cekikan Dimas
"Sial, ternyata nenek sihir itu, kenapa dia gak ku bunuh sekalian" geram Bella
Dimas langsung keluar kamar sambil membanting pintu kamar, amarahnya masih di ubun-ubun
Ia pergi ke halaman belakang, membuka pakaiannya lalu terjun ke kolam renang, begitulah Dimas jika sedang emosi, ia lebih suka mendinginkan kepalanya dinkolam renang
"Sial, aku tak bisa melakukan apapun pada Bella saat ini, aku belum tahu anak itu anakku bukan, di lain sisi aku sudah jadi anak durhaka katena melindungi wanita yang sudah mencelakakan mamaku, arrrggghhh ...
semua berawal ketika Bella kembali, dia sumber Maslah seperti yang Kelvin katakan"
Hampir dua jam Dimas berada di kolam renang, Kinar menatap dari balkon kamarnya, ia memandang pria ybg sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu dengan pandangan datar, kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.
Pintu kamar di ketuk seseorang, dan tak lama terdengar suara Dian memanggil
"Mba, mba Kinar" ucapnya lirih
"Masuk Dian" teriak Kinar dari dalam kamar
__ADS_1
"Mba, sepertinya Bu Bella sedang bertengkar dengan pak Dimas, sekarang bu Bella sedang mengamuk di kamarnya" ucap Dian masih berbisik, seolah takut seseorang mendengarnya
"Biarkan saja dia mengamuk" ucap Kinar malas
"Lalu nyonya besar akan tahu jika mba beda kamar dengan pak Dimas??" tanya Dian mengingatkan
"Ah sial, benar katamu, aku lupa jika mama Mariska masih disini," ucap Kinar bangkit
menuju kamar utama, Dian mengekor di belakang Kinar sambil celingak-celinguk takut jika Mariska mendengar itu semua
"Apa kau sudah gila??? mama Mariska sedang di rumah ini” teriak Kinar begitu masuk ke kamar yang sepenuhnya sudah porak poranda karena kemarahan Bella, pecahan kaca dimana-mana,
"Keluar kau, dasar j*l*Ng " umpat Bella melempar vas bunga di sebelahnya, beruntung Kinar menghindar, hingga pot itu menimpa daun pintu di belakangnya
Brrruk
Vas bunga membentur pintu lalu jatuh ke lantai berhamburan
"Ada apa ini???" teriak Mariska membuat Bella dan Kinar terkejut bukan main, Kinar langsung buru-buru menghampiri Mariska
"Mama, mama kenapa keluar kamar???" tanya Kinar panik
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari mama??? mengapa wanita itu ada di rumah ini, dan kamar ini adalah kamarmu, mengapa seolah-olah ini kamarnya???
Kinar nampak ragu, ia berjalan mendekati Bella namun pandangannya menatap Mariska.
"Apa yang harus aku lakukan??? kenyataanya adalah sekarang kamar ini memang milik Bea dan Dimas, jika aku tak mengusir Bella, mama akan curiga, namun jika aku mengusir Bella, aku yakin mulut wanita ini tak bisa diam"
"Mau apa kamu???" bentak Bella melihat Kianr mendekat
"Bella, kamu harus keluar, aku mohon" ucap Kinar lirih
"Ini kamarku, kamu tak punya hak lagi di rumah ini.
Apa aku harus berbohong di depan mama Mariska???" ucap Bella tersenyum licik
"Apa maksudnya ini?? jelaskan pada mama" Mariska bingung dengan perkataan Bella
"Apa mantu mama mertuaku tersyang, ah bukan apa mantan mennatu mama itu tidka memberitahu mama jika ia dan mas Dimas akan segera bercerai.
Dan aku sama mas Dimas sudah menikah.
Aku kira mama mertuaku tersayang tahu segalanya" ucap Bea sinis
__ADS_1
"Mata Mariska terbelalak tak percaya, ia menatap Kinar meminta penjelasan, bahasa tubuh Kianr seakan menjawab pertanyaaan Mariska tanpa bersuara
"Ma, mama, Kinar bisa menjelaskan" ucap Kinar mencoba meraih tangan Mariska
"Lalu jelaskan lah, ikut mama. Dian tolong cari anak saya dan minta ia temui saya di kamar" ucap Mariska tanpa menunggu jawaban Dian, Mariska kembali ke kamarnya.
"Sekarang gue mau lihat, bagaimana reaksi nenek sihir itu setelah tahu mantu kesayangannya tega membohonginya ahahha, Kinar, Kinar, loe yang mulai duluan buat gue kesel" cibir Bella
"Mas Dimas gak akan melepaskan mu" ucap Kinar dingin
"Haha, kota lihat, bahkan setelah anakmu mati, apa dia menghukum ku?? kamu lihat sendiri bukan???
sedang aku hamil anak mas Dimas, posisi siapa yang lebih diuntungkan???"
Kinar menelan Saliva nya yang terasa pahit, ia memilih segera menyusul Mariska ke kamarnya, apapun konsekuensinya, Kinar harus siap, sekalipun ia mendapat amarah Mariska, ia siap.
Seharusnya ia mengatakan sejak awal dan buka melalui bela kenyataan ia dan Dimas akan bercerai, kini Mariska pasti merasa Kinar tak menganggapnya
Tok Tok Tok
"Masuk" ucap Mariska dingin, kini ia menatap kedatangan Kinar
"Ma, Kinar akan jelaskan, tapi mama tenang dulu ya" ucap Kinar takut masalah ini berdampak buruk untuk kesehatan Mariska
"Katakan saja segera, jangan perduli kan kesehatan mama"
"Ma, ...
"Sudah Kinar katakan, mama tunggu" ucap Mariska menghela nafas
"Mas Dimas sudah menikah lagi dengan Bella, aku juga baru mengetahuinya dua bulan lalu sebelum kecelakaan yang menimpaku.
Dan aku memang sedang proses perceraian dengan mas Dimas , maafkan aku ma, seharusnya aku memberitahu mama kebenarannya, namun menimbang mama baru saja sembuh, aku menunggu waktu yang tepat.
percayalah ma, aku tidak ada niat menyembunyikan kenyataan ini, dan aku minta maaf tidak menepati janjiku pada mama"
Mariska tak mengatakan apapun, ia memijit keningnya yang terasa berdenyut,
"Keluarlah, dan tolong minta dia membawakan ku teh hangat"ucap Mariska
Kinar keluar dari kamar Mariska dengan ragu, namun ia tahu Mariska masih shock menerima kenyataan ini, dan ia butuh waktu.
Tak berapa lama Dian datang membawa nampan berisi teh hangat lalu masuk ke dalam kamar Mariska
__ADS_1