
"Ma, kami akan pindah ke rumah baru kami" ucap Dimas membuka pembicaraan, Mariska metapa tak suka pada putranya tersebut
"Mama gak setuju” ucap Mariska
"Ma, Dimas berhak menentukan bagaimana rumah tangga kami, Dimas kepala keluarga ma.
Kami pindah bukan berati melupakan mama. seminggu sekali kami akan menginap disini atau bila mama mau, mama bisa menginap di rumah kami" ucap Dimas membujuk mamanya, namun Mariska tetap diam
"Ma, kami mau belajar mandiri. selama ini semuanya mama yang siapkan, kapan Kianr bisa mandiri dan jadi istri yang baik
Sebentar lagi Kinar akan punya anak, Kinar harus belajar jadi istri sekaligus ibu untuk anak Kinar.
Masrisk seakan tak rela, ia hanyaenatap mantunya dengan wajah sedih.
"Ma, benar kata kak Kinar, lagian kan mama bisa mengunjungi mereka, mama percaya sama kak Dimas ya. Lagi pula kan masih ada aku” ucap Damar membantu membujuk mamanya
"Tapi kamu sering meninggalkan mama, kamu sibuk diluaran, mama sendiri, sejak ada Kinar mama jadi ada teman"rujuk Mariska
"Mama mau teman??? baiklah, Damar akan mencari kekasih dan segera menikah" ucap Damar mantab
Pletaaak
Sebuah jitakan keras mendarat sempurna di kepala Damar, membuat si empunya kepala meringis kesakitan
"Adaaawww, mama, sakit tahu.
kalau damar geger otak gimana???" protes Damar sambil mengelus kepalanya yang berdenyut
"Biar sekalian geger otak, kamu ga di jitak mama aja sudah kurang sekilo otaknya, biar sekalian.
Masih kuliah pikirannya mesum" gerutu Mariska kesal
Kinar yang melihat ingin tertawa mendengar ucapan mamanya, namun melihat Damar kesakitan ia hanya bisa me nyengir.
Namun Dimas tak bisa menutupinya, ia tertawa mengejek adiknya.
Melihat kakaknya senang diatas kesaktiannya melotot kearah Dimas dengan ganas.
"Belajar yang benar ya, jangan mikir macam-macam, masih kecil.
__ADS_1
kencing aja belum lurus , hahahaha" ledek Dimas membuat Damar mendengus tak senang
"Jangan salah , kecil-kecil juga bisa buat anak kecil" balas Damar tak senang di bilang anak kecil
"Maa" ucap Dimas, Mariska yang mendengar ucapan Damar makin gregetan dengan putra bungsunya itu
"Aduuuhhh maaaaa, sakit" ringis Damar kini gantian memegangi kupingnya yang di jewer dengan gemas oleh Mamanya
"Bener ya kamu, dibilangin mama malah makin, apa mau buat anak kecil belum nikah, mau mama sunat sampai habis hah???” ucap Mariska melotot
"Ampun ma, ampun, cuma becanda pun mama percaya" bela Damar, namun ia melirik kearah Dimas yang menjulurkan lidahnya menggoda adiknya.
Kinar hanya bisa menggeleng, namun juga ia senang karena akhirnya Dimas dan damar bisa akur.
Kinar baru pertama kali melihat Dimas tertawa lepas seperti ini,
"Kamu lebih tampan mas saat tertawa lepas"gumam Kinar menatap suaminya.
.Sementara Mariska masing mengomeli putra sulungnya.
"Kamu iseng aja, pasti kamu sengaja kan buat Damar ngomong gitu????" ucap Kinar membuat Dimas terdiam. dan kembali bersikap seperti biasa.
Setelah menghabiskan makanannya, Dimas pamit berangkat kekantor diantar oleh Kinar sampai depan pintu, setelah Kinar mencium punggung tangannya, Dimas langsung bergegas kekantor.
"Apa sakit???" tanya Kinar meringis
"Tentu sakit, aku jadi sangsi, sebenarnya mama , mamaku atau bukan, sadis" ucap Damar dengan wajah memelas
"Owh belum kapok, sekarang ngomongin mama juga??" ucap Mariska yang menghampiri mereka dengan membawa segelas coklat hangat untuk Kinar
"Ampun ma....Tuhan tolong mamaku monster" teriak Damar langsung loncat dan berlari, ia takut kena amukan mamanya lagi membuat Kinar tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Damar seperti anak kecil saja, padahal usianya sudah dua puluh dua tahun.
"Awas kamu ya, kalau kena mama Pires"teriak Mariska geram di bilang monster
”Kutu kali di Pires, ampunnn maaaa"teriak Damar
menggoda mamanya dari balik pintu kaca yang membatasi ruang keluarga dan taman
Mariska berjalan menuju tempat di mana Damar berdiri lalu mengunci pintunya, ia memanggil Asisten rumah tangga untuk mengunci pintu depan, kini Damar sukses berada di luar tanpa alas kaki
__ADS_1
"Ma, bukain pintu please"rengek damar yang masih memakai kaus singlet dan celana pendek
"Rasakan"ucap Mariska menahan senyum lalu kembali mendekati menantunya yang sejak tadi tertawa melihat kelakuan adik iparnya
"Nak, Elus perutmu, jangan sampai punya anak sifatnya kaya adikmu itu,bikin Mama sakit kepala di buatnya" ucap Mariska mengelus perut Kinar, Kinar hanya tersenyum canggung, tak tahu harus berkata apa-apa
”Damar sangat lucu ma" ucap Kinar kemudian
"Lucu atau konyol, ah mama sulit membayangkan bagaimana jika nanti dia punya istri dan anak, apakah cucu mama akan seperti dia???"
"Buah tak akan jauh dari pohonnya, kecuali kelelawar membawanya” ucap Kinar tertawa kecil
"Sepertinya Damar mengikuti sifat mendiang papanya" ucap Mariska tersenyum lembut mengenang suaminya yang telah lama meninggal dunia
"Sayang apa kamu benar-benar ingin pindah rumah??? kamu yakin?"tanya Mariska kemudian
"Iya ma, Kinar yakin. Kinar akan sering-sering mengunjungi mama"ucap Kinar
"Baiklah, nanti mama saja yang mengunjungi kamu, ingat jangan terlalu cape, mama gak mau cucu mama kenapa-napa"
"Iya ma, Kinar mengerti"ucap Kinar menggenggam tangan mamanya, Kinar sangat mengerti sikap Mariska semata-mata karena ia sangat menyayangi dirinya dan calon cucu dalam kandungannya.
”Kalau begitu mama mau ke halaman belakang, mama sudah lama tidak merawat anggrek mama"ucap Mariska yang di balas anggukan Kinar, kinar tidak berusaha mencegah ataupun mengikuti mertuanya, ia tahu Mariska sedang sedih karena rencana kepindahan mereka
Sementara di bumi belahan lain
Bella terlihat habis menangis, siang ini ia mendapat kabar jika kondisi mamanya kritis, setelah kabur dari rumah, Bella tidak pernah menghubungi kedua orangtuanya.
Kini mendapat kabar bahwa mamanya sakit, Bella merasa sangat sedih dan bersalah.
Beberapa hari ini ia juga sudah memikirkan ingin kembali, pertama karena Dimas orang yang ia cintai sudah kembali ke tanah air, ia ingin kembali merebut hati Dimas dari istrinya dan kini mamanya, walau sedih Bella merasa kabar tentang mamanya yang sakit membuat ia punya alasan tambahan untuk kembali ke tanah air.
Entah mengapa Bella sangat bersyukur berita sakit mamanya menguntungkan dirinya.
Kali ini Kristian tidak bisa ikut kembali ke tanah air karena ia bekerja sebagai tenaga medis di sana, sehingga dengan berat hati Kristian melepas kepergian Bella.
Bella terlihat bosan dan jenuh dengan semua ucapan Kristian, lelaki itu berubah menjadi nenek-nenek yang tak hentinya berbicara, hingga akhirnya Bella merasa lega setelah memasuki pintu keberangkatan bandara setelah melewati pos pemeriksaan.
"Ya Tuhan, bisa tuli aku Lama-lama dekat Kristian, kenapa sih laki-laki itu berubah berisik sekali seperti radio rusak, menyebalkan"gerutu Bella kesal
__ADS_1
Namun senyumnya segera mengembang tak kala teringat jika ia akan berada di negara yang sama dengan Dimas.
"Tunggu aku sayang, aku akan membuatmu kembali padaku, dan terima kasih mamaku sayang, berkatmu putrimu ini bisa mengejar kebahagiannya"ucap Bella tersenyum licik