
Sementara Dimas masih duduk manis di tempatnya, ia menatap Kinar sekilas, mengelap mulutnya dengan tisu, lalu berdiri.
"Ikut aku" ucap Dimas tanpa menoleh lalu ia menaiki tangga berjalan menuju kamar mereka.
Sepanjang perjalanan menuju kamar mereka, Kinar sudah menduga jika Dimas akan sampaikan.
Kinar harus bersiap untuk kemungkinan terburuk sekalipun
Setelah memasuki kamar, Dimas langsung duduk di sofa yang terdapat dalam kamar tersebut, sementara Kinar berdiri. Kinar ragu apakah ia harus duduk di samping di mas atau...
”Duduk" perintah Dimas
Kinar lalu duduk di tepi sofa, sofa yang sama dengan Dimas, hatinya dah Dig duk, entah apa yang akan Dimas katakan. Sejauh ini ekspresi wajah Dimas datar
”Aku tahu kamu sudah mengerjai Tante Winda.
Aku pikir kamu punya keberanian luar biasa atau tepatnya tidak punya otak” ucap Dimas menatap Kinar
Deg
hati Kinar membeku dengan perkataan Suaminya, begitu menusuk.
"Walaupun Tante Winda arogan, tapi kamu jangan lupa dia Tante ku, adik dari ibu mertuamu. Apakah kamu punya hak berbuat seperti itu??? dimana tata krama kamu sebagai seorang anak menantu???dan sebagai keponakan ipar??
Rupanya beberapa hari ini aku diam kamu salah artikan” ucap Dimas menatap tajam istrinya.
Kinar hanya bisa menunduk menatap lantai di bawahnya.
”Lihat aku!!!!!!”teriak Dimas tertahan, ia tak mau mamanya tahu jika ia sedang mengintrogasi Kinar, kasih sayang mamanya sudah tidak relevan lagi menurut Dimas, ia harus segera mencari solusi agar tidak tertekan.
Dengan rasa takut Kinar menatap Dimas, badannya sedikit bergetar, justru Dimas yang dingin seperti ini berbahaya, Kinar tahu saat ini Dimas sedang menahan emosinya yang kentara dari sudut matanya yang memerah dan tangan yang mengepal kencang
”Maafkan aku" ucap Kinar lirih
"Maaf kamu bilang? kamu tahu aku sudah menahan semua demi tak ingin melihat mama sedih, tapi kamu bahkan tidak bisa bersikap baik. Apa salahnya Tante Winda sama kamu, dia itu seperti mamaku sendiri, dia yang merawatku sejak kecil,. saat mamaku sendiri sedang terpuruk oleh kematian papaku, dan kamu menyakiti Tante Winda sama saja menyakitiku, apa kamu paham hah” ucap Dimas penuh emosi, mencekik leher Kinar, Kinar yang tak menyangka suaminya akan mencekiknya terkejut, ia berubah melepaskan cekikan tangan Dimas dari lehernya yang terasa sakit hingga ia sulit bernafas
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat cekikan dileher Kinar terlepas, Kinar memegangi lehernya yang terasa sakit sambil batuk-batuk, suaminya main tangan pada usia pernikahan mereka yang baru seumur jagung, Kinar ngeri membayangkan apa yang akan Dimas lakukan dimasa mendatang jika ia berbuat kesalahan, apakah hidupnya akan berakhir????
”Cepat bukakan, dan jangan pernah kamu mengadukan apa yang aku lakukan padamu, atau aku akan membuat mamamu tahu apa yang di lakukan putrinya untuk biasa operasinya, mengerti kamu??? Ancam Dimas lalu berjalan menuju kamar mandi
Sementara Kinar menahan air matanya yang ingin jatuh, ia tak menyangka Dimas akan bermain tangan juga padanya, lengkap sudah penderitaannya
Kinar berjalan ke arah pintu , terdengar suara Tante Winda di luar sana
Begitu pintu di buka, Tante Winda langsung menerobos masuk hingga menabrak Kinar, sehingga tubuh Kinar terdorong ke samping
__ADS_1
"Mana Dimas? tanyanya sambil celingak celinguk
"Mas Dimas di toilet Tan" ucap Kinar lirih
”Tante ada perlu apa kesini??" tanya Dimas sopan
"Sayang, kamu percaya kan sama Tante??? dia, istri kamu sudah mengerjai Tante"Adu nya pada Dimas
"Maafkan Kinar Tante"ucap Kinar yang ditatap tajam Dimas
"Kinar sudah minta maaf Tan, jangan di perpanjang lagi ya???” rayu Dimas lembut
" Huh, kamu harus banyak-banyak ajarkan wanita kampung itu sopan santun" Dengus Winda masih kesal karena teringat kejadian beberapa waktu lalu
"Iya, Dimas sudah mengajarkan Kinar bagaimana bersikap, Tante jangan marah lagi ya? nanti cantiknya hilang loh" ucap Dimas menenangkan Winda
"Baiklah, karena keponakan tersayang Tante yang ngomong,Tante maafkan Kinar" ucap Winda manja
"Itu baru Tante ku tersayang, karena Tante sudah memaafkan Kinar, Tante Dimas ajak jalan-jalan ke mall, Tante boleh minta tas yang Tante suka" ucap Dimas memamerkan deretan giginya yang putih
"Beneran, serius Dim, Tante mau banget, kapan kita jalannya Dim?
"Besok kebetulan weekend, bagaimana?"
"Oke besok ga ponakan ku tersayang, kalau begitu Tante mau istirahat, lelah perjalanan tadi" ucap Winda mencium Dimas lalu keluar dari kamar itu.
Keesokan harinya
Setelah makan siang, Dimas mengajak Tante Winda dan Kinar pergi ke mall S, karena kesehatan Mariska belum begitu baik, Mariska tidak ikut mereka, selain itu ia tidak suka keramaian.
Damar berusaha mengingatkan Kinar bahwa Kinar tak akan aman jalan dengan kakak dan tantenya, ia yakin kedua orang itu memiliki rencana licik, namun Kinar tetap bersikukuh ikut, walau bagaimanapun ia harus mendengar ucapan suaminya
Mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah mall besar di wilayah selatan ibukota, mereka langsung menuju pertokoan.
Dimas mengajak tante ya berkeliling, Sementara Kinar mengekor mereka kemana saja, dari satu toko ke toko lainnya.
Dimas juga membelikan banyak barang untuk Winda dari pakaian tas sampai make up, terlihat sekali Dimas sangat menyayangi Winda, Dari semua toko bermerk yang mereka kunjungi, tak satupun Dimas membelikan sesuatu untuk istrinya itu, Kinar hanya berjalan mengikuti mereka seperti pembantu dengan kantong belanjaan penuh di tangannya, hingga ia lelah dan kakinya sakit.
Empat jam berkeliling hingga akhirnya mereka memutuskan masuk ke sebuah cafe shop.
Kinar berdiri terdiam karena baik suaminya maupun Tante Winda, mereka malah asik mengobrol tanpa memperdulikan Kinar, seolah kinar tak ada disana.
Kinar tersenyum kecut, ia duduk di sofa lain dan memesan minuman karena tenggorokannya sudah terasa kering, beruntung ia selalu membawa uang cash.
Pesanan Kinar tiba, ia menyeruput ice cappucino kesukaannya, ia tak lagi memperdulikan suami dan tantenya , hingga suara seorang laki-laki membuyarkan lamunannya
"Kinar? benar kamu Kinar???" tanya si pria seolah tak percaya jika yang di depannya saat ini adalah Kinar
__ADS_1
"Ya benar anda siapa???”tanya Kinar mengerutkan alisnya tak mengenali pemuda tampan di depannya itu
"Aku Adam, masa kamu gak ingat??? tanya pria tampan itu
"Adam? Adam siapa ya, maaf" tanya Kinar bingung
"Kamu sungguh kejam , aku Adam mu. Teman masa kecilmu.
Kin kin, aku kecewa padamu sudah melupakan anak setampan aku" ucap pemuda itu menghela nafas kecewa
"Adam??? kamu Adam yang dulu ingusan itu? yang hobby nya ngupil???tanya Kinar keras membuat wajah tampan Adam memerah karena malu
"Bisa gak di ingat yang baiknya saja, gak usah pake ingetin kelakuan buruk ku saat kecil, dan suaramu membuat semua orang dengar"ucap Adam tersenyum kecut
"Hahaha Sorry, sorry, Adam kapan pulang? tanya Kinar antusias
"Kamu gak mau memeluk ku??" tanya Adam merentangkan tangannya, Kinar langsung bangkit dan memeluk sahabat kecilnya itu
"Baru beberapa hari lalu dan aku langsung mendapat kabar buruk, harusnya aku beberapa bulan lalu kembali ke Indonesia untuk menikahi mu, sayangnya aku telat" gumam Adam memasang wajah sedih
Kinar yang sejak tadi kesal dan lelah melihat sabahat kecilnya itu berceloteh membuat semua keluh kesah di hatinya hilang
"Apa kamu seyakin itu aku mau menerimamu menjadi suamiku?? " tanya Kinar menahan tawa
"Aku tampan, punya kerjaan mapan, idola banyak wanita, aku punya rumah dan mobil, coba katakan apa kurangnya aku????"tanya Adam dengan kepercayaan dirinya
"Baik kamu kandidat terbaik, tapi sayangnya aku sudah istri orang" ucap Kinar tersenyum tipis, mengatakan statusnya kini ada rasa ngilu di hatinya, istri, seorang istri yang bahkan tidak dianggap ada oleh suaminya sendiri, miris.
"Itulah salahku, dan aku menyesal tidak memberikanmu label ku" ucap Adam serius menatap Kinar.
Selama ini hubungan mereka walau jauh tetap lancar. Kinar kerap kali mengirimkan Adam foto dirinya atau mereka sekedar bertelepon, namun Adam tak pernah mengirimi foto dirinya, itulah mengapa Kinar tidak tahu wajah Adam kini, mereka terpisah saat Adam di bawa mamanya ke luar negeri saat sekolah menengah pertama, dan akhirnya rumah tangga dokter Nugraha hancur, karena istrinya lebih memilih tinggal di negaranya ketimbang ikut menetap di Indonesia.
Sejak itulah Adam mencintai Kinar, gadis lugu dan baik hati, wanita yang cantik luar dalam di mata Adam, namun Adam memendam sendiri perasaannya, hingga suatu ketika ia menelpon papanya karena Kinar sulit di hubungi, tepatnya Kinar mengganti nomor ponselnya agar David berhenti mengganggu hidupnya
Dari papanya lah Adam tahu jika Kinar sudah menikah demi oeprasi mamanya, Adam menyalahkan
papanya yang tidak memberitahukan dirinya tentang kondisi gadis pujaannya itu, sehingga setelah mendapat kabar itu, Adam langsung pulang ke Indonesia.
"Adam tak tahu apakah keputusannya kembali adalah benar atau salah, yang ia tahu adalah ingin melihat Kinar bahagia walau dari kejauhan, setelah itu ia kembali ke negaranya, memulai hidup yang baru tanpa Kinar.
Nyatanya ia tak melihat raut kebahagiaan si wajah Kinar, ia sejak tadi melihat Kinar berdiri seperti orang bodoh, sementara kedua orang beda usia itu asik berbicara.
Adam hanya menduga jika Kinar tak memprotes keadaan tersebut karena mungkin pria itu adalah suami Kinar yang diceritakan papanya.
Rasanya dan mau menonjok wajah pria itu, namun ap hak nya, kini Kinar istrinya.
Adam dan Kinar terlibat pembicaraan serius mereka terdengar sesekali tertawa lepas, di kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan marah, dia adalah Dimas.
__ADS_1