
Sudah sebulan lebih Kinar koma, bukan karena lukanya yang masih parah, namun kejiwaan Kinar yang tergoncang, ia seakan lebih nyaman berada di alam bawah sadarnya , ketimbang harus menerima kenyataan pahit jika ia telah di manfaatkan oleh suami dan mantan kekasih suaminya.
Selama itu pula Adam selalu berada disisinya, begitu pula Dimas, dan sesekali Davin melihat Kinar dari kejauhan.
Jika Adam yang menunggui Kinar, ia akan berlagak keluar untuk sholat atau membeli makan, ia memberi kesempatan Davin melihat Kinar, jujur Adam masih marah pada Davin, namun sesuatu yang sangat berharga telah di korbankan Davin, setelah mengetahui betapa besar cinta Davin pada Kinar, Adam sedikit mengalah.
Terkadang orang mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaanya, begitu pula Davin, ia rela melepaskan Kinar karena ia tahu, Kinar akan merasa sangat tertekan karena papa kekasihnya orang yang telah membuat perusahaan papanya di ujung tanduk dan hampir gulung tikar, demi kebaikan bersama, Davin lebih memilik mencintai Kinar dalam hati, namun keputusannya salah, saat ia kembali ke tanah air justru malh Kinar menikah tanpa cinta dan hanya untuk memperoleh biaya untuk pengobatan mamanya.
Davin merasa dirinya terutama papanya ikut andil dalam kehidupan Kinar yang memilukan, sehingga ia berkorban demi kekasihnya itu.
Adam sudha berjanji tidak akan memberitahu kepada siapapun rahasia besar ini, tidak pada Kinar maupun Reyhan.
Adam melihat dari kejauhan Davin yang menangis di ujung ranjang rumah sakit, ia begitu mencintai Kinar begitu juga dirinya, mereka sama-sama bersalah karena tak memperjuangkan Kinar, namun kini Adam tak mau lagi salah, ia harus memperjuangkan cinta Kinar walau apapun yang terjadi, sampai Kinar bisa menerimanya.
Namun jika pada akhirnya Kianr tak bisa mencintainya, ia akan pergi jauh dari hidup Kinar, selamanya.
Davin keluar dari ruang perawatan, ia terkejut melihat Adam sudah berdiri di sana, Davin buru-buru menghapus air matanya
"Apa yang akan loe perbuat jika Kinar bangun?" tanya Adam langsung, karena Adam terus di hantui rasa penasaran
"Gue??? gak akan ada yang berubah, gue akan menjauh dan melihat dia di kejauhan.
melihat dia bahagia itu sudah cukup buat gue"ucap Davin tersenyum kecut
"Apa loe gak mau memperjuangkan lagi??" tanya Adam membuat Davin yang tadinya menunduk menatap mata sahabat kecilnya itu
"Kalau gue jawab pakai hati pengen, namun jika gue jwab pakai logika enggak, Kinar sudah banyak mengalami kesusahan, dia sangat menyayangi keluarganya, gue gak mau hatinya tertetakn karena harus mencintai anak seorang koruptor anak seornag penghianat keluarganya, gak Adam, gue cukup tahu diri.
Gue harap dia bisa bahagia dengan loe, hanya loe yang gue yakin bisa bahagiain Kinar.
Perjuangkan cinta loe, loe gak kan tahu dia cinta loe apa gak sebelum loe mencobanya, jangan menyesal di kemudian hari karena loe ga gentle sobat, gue pamit dulu. Kerjaan menari gue, see you later" ucap Davin menepuk punggung Adam
__ADS_1
Adam mengangguk dan tersenyum, beban di hatinya sudah hilang.
Kini tinggal menanti Kinar siuman, ia harus sering mengajak Kinar bicara, karena orang yang sedang koma sesungguhnya ia bisaa mendengar apa yang kita ucapkan dan membuatnya memiliki motivasi hidup.
Adam percaya itu.
"Sayang, kapan kamu sadar, aku sangat merindukan kamu yang ceria dan usil. Aku berjanji akan memperjuangkan perasaanku dan tidak sembunyi lagi, aku cinta kamu Kinar.
Aku ingin membuatmu bahagia dan melindungi mu selamanya" Adam menggenggam tangan Kinar erat, ia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al Qyuran.
kegiatan ini lah yang sebulan ini Adam lakukan, selesai membaca Al Qur'an , Adam akan kembali bercerita tentang banyak hal.
Dari masa kecil mereka , kenakalan mereka hingga kejadian saat Adam sudha dewasa, Adam menceritakannya.
Terkadang ia juga menangis tersedu-sedu sambil menggenggam dan menciumi tangan Kinar.
Rambut Adam sudah mulai panjang, kantong mata menghias wajah tampannya yang sudah di tumbuhi kumis dan jambang, ia seperti kehilangan semangat lagi, walau Adam masih tetap bekerja, namun ia tak perduli dengan penampilannya.
Sebentar lagi waktu Dimas yang berjaga, masih tiga puluh menit lagi sebelum kedatangan orang itu.
Mereka kini bekerjasama walau tidak di katakan berteman mereka hanya berkonsentrasi untuk penyembuhan Kinar.
Adam hendak pergi, ia memakai baju dokternya, tak melihat pergerakan jari Kinar, pikirannya sedang melayang entah kemana. saat ia sudah melangkah dan berdiri di depan pintu, Kinar mengerang
"Aduh, sakit" ucap Kinar lirih
Adam berhenti sejenak karena seperti mendengar suara Kinar. Dam menengok ke arah Kinar, namun wanita itu masih memejamkan matanya, belum sadar dari komanya
"Ah hanya khayalanku saja, mungkin karena aku terlalu lelah"ucap Adam lalu memegang handle pintu
"Dimana aku" ucap Kinar lirih.
__ADS_1
Adam menajamkan pendengarannya, kali ini ia tidak Edang berhalusinasi, ia langsung mendekati Kinar, Adam langsung memeriksa kondisi Kinar, matanya sudah peka terhadap cahaya, perlahan ia membuka matanya.
Beberapa kali ia terlihat menutup matanya, mengerjapkan, beberapa kali cahaya yang masuk membuat pandangannya kabur, kemudian akhirnya ia melihat siapa yang berdiri di sampingnya
"Mas Adam" ucap Kinar lirih
"Ya ini Adam, apa yang kamu rasakan hmm? "tanya Adam lembut
"Kepalaku sakit sekali mas dan tangan kiri ku tak bisa di gerakkan, kakiku juga" ucap Kinar memegang kepalanya yang terasa amat sakit
"Baik mas akan periksa ya" ucap Adam penuh kasih sayang
Kinar meraba perutnya, ia tersentak dan sadar, sesuatu telah hilang di sana
"Mas, apa yang terjadi denganku mas?? dimana anakku?? katakan mas kemana anakku???
Gak mungkin kalau aku melahirkan, ia baru enam bulan, mas mengapa kamu diam saja?? katakan kemana anakku" Kinar mulai histeris, ia terus berteriak mencari anaknya
"Kinar, kamu yang tabah ya" ucap Adam tak mampu meneruskan kata-katanya, Kinar berhenti berteriak, ia terdiam lama lalu tiba-tiba ia meronta melepas semua alat yang terdapat di tubuhnya, tak terkecuali selang infus ditangannya, hingga darah yang keluar dari selang infus yang di cabut muncrat kemana,Kinar berteriak sambil menangis
"Anakku, mas anakku, kembalikan anakku, huhuhu"
"Kinar istighfar sayang" ucap Adam berusaha menenangkan Kinar, namun tak berhasil
"mas, aku mau lihat anakku, lepaskan aku, anakku mas, dimana dia??? aku tak mau kehilangan dia" teriak Kinar menangis histeris.
Karena sangat shock mengetahui anaknya meninggal, Kinar tak sadarkan diri.
"Kinar, Kinar bangun sayang, ya Allah kuatkan Kinar" ucap Adam langsung memasang selang infus lagi di tangan Kinar, beberapa suster juga sudah datang dan membantu Adam.
Ridwan dan Nugraha yang sedang berada di rumah Satria langsung meluncur setelah mendengar kabar bahwa Kinar sudah siuman namun kembali shock dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Anggi bersikeras ikut ke rumah sakit, ia paham betul bagaimana rasanya kehilangan anak, Ia harus ada di dekat Kinar, karena Kinar kini butuh dirinya.