
"Maksud loe?? itu...." Albert terkejut, ia tahu kemana arah pembicaraan sahabatnya itu
"Pembunuhan terencana"ucap Carl tanpa ada keraguan sedikitpun di kalimatnya
"Apa kau serius???, aku sedang tidak ingin bercanda"
"Setelah kejadian, aku sendiri yang meminta beberapa anak buah ku menyelidiki karena aku merasa ada kejanggalan di sana.
Pertama itu taman bermain, seharusnya mobil tidak melaju cepat.
kedua, mengapa pas sekali ketika kamu menyebrang jalan dan mobil Ice cream itu ilegal, dalam arti tidak pernah masuk ke taman tersebut, tapi mengapa pada saat itu bertepatan dengan acara ulang tahun Gabriel, mobil itu ada di sana, setelah ku cari tahu, keesokannya mobil itu tidak ada lagi berjualan di sana, ini seperti sudah di rencanakan dengan cermat, hanya saja targetnya kau dan meleset,dan mengenai supir yang di menabrak meninggal di tempat, mereka bukan murni karena kecelakaan tapi..."
"Tapi?????"
"Tapi mereka di latih untuk bunuh diri jika tersudut. Dan itulah yang di lakukan oleh pria itu, bunuh diri karena kakinya terhimpit dan tak bisa melarikan diri"ucap Carl
"Ba..bagaimana mungkin, aku tak memiliki musuh, aku baru kembali kuliah beberapa bulan lalu" ucap Albert mengingat-ingat
"Tentu bukan musuh mu, tapi bagaimana dengan orangtuamu??? makin tinggi pohon, makin banyak goncangan, makin banyak orang yang iri" ucap Carl membuat Albert bersandar lemas pada sisi tempat tidurnya
Ia tak menduga manusia akan berpikiran gelap untuk melenyapkan seseorang hanya karena uang,
Albert tanpa sadar berteriak sekeras-keraanya, ia menggila, melempar bantal dan mencabut selang infusnya
"Bert, sadar, loe masih cidera" ucap Carl merasa bersalah memberitahukan sebuah bukti tanpa melihat kondisi Albert, ia sungguh menyesal.
Jelas saja reaksi Albert akan seperti ini.
Gabriella gadis imut yang menggemaskan, Carl saja sayang menyayanginya dan sangat terpukul atas kepergian ya, bagaimana dengan Albert?
Pria itu merasa sangat marah seakan darah mendisih dari ujung kepala hingga kakinya.
Sangat sedih dan tercabik-cabik hatinya
"Carl, loe harus bantu gue balas dendam, harus bantu gue menemukan siapa pelakunya Nyawa di balas dengan Nyawa ucap Albert penuh dendam
Setelah pencarian dua bulan akhirnya dalang kecelakaan itu terkuak, ia adalah adik tiri mamanya sendiri.
Pria yang selama ini bersikap baik namun ternyata di hatinya menyimpan borok.
Albert ingin membunuhnya sebagai balasan meninggalnya Gabriela, namun ia melihat istri om nya itu sedang mengandung, dengan terpaksa ia hanya mematahkan kedua kaki om nya dan mengirimnya ke hotel prodeo menjalani hukuman seumur hidup.
Jika kedengkian dan iri hati sudah menguasai jiwa, bahkan ikatan persaudaraan pun tak ada artinya.
#Flash Back Off
"Tinggal lah satu atau dua hari lagi nak, mama mohon.
Mama tahu kamu benci rumah sakit, tapi setidaknya bertahanlah sebentar demi mama nak.
__ADS_1
Tinggal kamu satu-satunya anak kami, kami harus memastikan semuanya aman, setelah itu kamu bisa pulang. Bisa tidak nak???" tanya Amara membujuk Albert
"Baiklah, satu hari.
Aku akan tinggal satu hari lagi di tempat ini"
"Baiklah, baiklah, setelag itu biar Kinar yang merawat mu di rumah, bagaimana Kinar???" tanya Ridwan menoleh pada keponakanya
"Itu pa...
Kinar tergantung sama pasien nya pah, kalau pasien nya bersedia, kalau tidak kita tidka bisa memaksa" ucap Kinar tak mau berada dalam perdebatan mereka
"Tante setuju"
"Papa juga setuju, kalau kau pulang, maka perawatan akan dilakukan Kinar di rumah dan tidak ada bantahan" ucap Lucky tegas
"Paaaa...." Albert menghembuskan nafas kesal, kini tak bisa mengubah keputusan papanya, karena percuma.
"Pa, biar Aku saja yang rawat kakak di rumah" ucap Mikhayla berusaha membantu Albert untuk merubah keputusan papanya
"Kamu tidak tahu apapun mengenai cidera, jika kamu yang merawat sebelum Albert sembuh, yang ada malah memperparah luka anakku saja" ucap Lucky tak senang.
Lucky memang tak begitu menyukai Mikhayla , ia menerima wanita itu tinggal hanya karena istrinya memohon.
Entah mengapa ia melihat sorot mata Mikhayla pada putranya tidak biasa, Lucky takut jika Mikhayla memiliki niat tersembunyi.
Sebagai orang yang sudah mengarungi hidup hampir setengah abad, ia bisa menilai dari hanya sekali melihat wajah seseorang.
"Maaf pa" ucap Mikhayla menunduk,
Dalam hatinya mengutuk Lucky, ia sulit sekali mengambil hati pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu, berbeda dengan istrinya yang langsung terenyuh begitu mendengar kisah sedihnya ya walau tak semuanya benar, ia memberi bumbu dalam ceritanya.
"Susah, sudah, yang penting kita fokus pada penyembuhan Albert.
Sekarang ayo kita pulang" ucap Amara
"Pa, ma, aku tinggal di sini saja, aku mau menjaga kak Albert" ucap Mikhayla meminta izin
"Baiklah sayang, kami pulang dulu ya"
"Ma..." lucky ingin melarang ,namun tangannya keburu di tarik oleh Amara, mereka lalu berpamitan dengan Ridwan dan Kinar
"Kinar kapan-kapan main ke rumah Tante ya, temani Tante ngobrol, Albert sama papanya sibuk, Tante kesepian" Rajuk Amara
"Iya Tante, kan besok kalau Albert di rawat di rumah Kinar kerumah Tante"
"Itu beda, kamu harus fokus sama anak nakal itu, biar dia gak buat khawatir Tante terus.
Susah tua hobinya buat kesal Tante sama om" adu Amara membuat Albert kesal mamanya membuka aibnya pada wanita yang baru mereka kenal
__ADS_1
"Benar tuh nak, semoga saja ini yang terakhir kalinya dia buat ulah, kalau masih buat ulah, om sama Tante akan jodohkan dia"
Glek
Alber menelan Saliva nya , ia melihat kesungguhan di kata-kata kedua orangtuanya, bagaimana mereka bisa berfikiran kolot berniat menjodohkan dia.
Albert tidak mau!!!!
"Baiklah kami pamit ya, assalamu'alaikum"
*Wa'Alaikum salam" jawab semua orang terkecuali Mikhayla
Setelah kepergian Lucky dan Amara, Ridwan juga pamit kembali ke ruangannya
Kini tinggal Albert, Mikhayla dan Kinar
"Loe puas??" tanya Albert sinis
"Hah, apa maksud loe?"
"Iya punya mulut lemes bener sih, pake ngadu sama mama papa" ucap Mikhayla ikut memprovokasi
"Ngadu?? aku???" Kinar tertawa kecil
"Enggak lucu tahu, norak" ucap Mikhayla
"Aku hanya merasa lucu aja, buat apa aku mengadukan kamu??? apa untungnya buatku?
Dan kamu belajarlah bersikap dewasa, sepertinya usiamu tak jauh berbeda dari usiaku.
Aku hanya mengabarkan pada papa Ridwan jika kamu memaksa pulang dengan konsisi ya...
Dan mana ku tahu kalau papa dan mama mu masih di ruangan papa Ridwan, sampai disini Paham???
Owh ya satu lagi, kamu jangan pernah menambah bara di api yang menyala, nanti terbakar" ucap Kinar menatap Mikhayla
"Lihat tuh kak, arogan banget gak sih, sudah wajahnya jelek, sombong lagi" adu Mikhayla namun Albert tak menanggapi, ia hanya menatap kepergian Kinar lalu memejamkan matanya tak perduli dengan Mikhayla yang terus menyerocos kesal
"Kak, di ajak ngomong malah merem" protes Mikhayla
Albert perlahan membuka matanya malas, ia melihat gadis di sampingnya yang cemberut
"Kamu mau kakak apa?? marah? membentaknya? kakak sedang sakit Miki, kepala kakak berdenyut.
Jika kau ingin menemani kakak di rumah sakit sebaiknya tutupi mulutmu rapat-rapat, okey???" tanya Albert menatap dik angkatnya
"Maaf kak, aku cuma kesal"
"Kakak mengerti, tapi ini bukan tempat kita, ini rumah sakit. terlebih dia adalah keponakan pemilik rumah alit ini, jika kamu buat onar bisa jadi kamu akan di blacklist dan tidak bisa menapakkan kakimu di rumah sakit ini lagi"
__ADS_1
"Baik kak" ucap Mikhayla lirih
"Anak pintar" ucap Albert menepuk adiknya