Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Siuman II


__ADS_3

Seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah sakit, Kinar masih di ruangan perawatan intensive untuk mencegah hal yang tidak diinginkan walaupun Kinar sudah siuman beberapa waktu lalu, namun karena ia shock akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri


Anggi duduk bangku, tepi tempat tidur sambil menggenggam erat tangan Kinar yang terasa dingin, Anggi terus berdoa dalam hati untuk kesembuhan Kinar, ia membelai wajah pucat putrinya dengan penuh kasih sayang


"Kuatkan hatimu ma, jangan biarkan Kinar melihatmu rapuh, walau kita ikut bersedih, tapi kita harus tegar dan memberi ia semangat untuk bisa melewati cobaan ini"ucap Satria menyentuh punggung istrinya yang terlihat shock


"Mama sangat sedih pa, kenapa putri kita harus mengalami kejadian menyedihkan seperti ini?" Isak Anggi


”Perbanyak istighfar, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya, kamu harus percaya itu.


Tegar Lah sayang, demi anak kita" ucap Satria menguatkan istrinya, Anggi menggenggam tangan suaminya yang berada di punggungnya, seolah tangan suaminya bisa memberinya kekuatan


"Anakku" ucap Kinar lirih, di dalam alam bawa sadarnya pun Kinar memanggil anaknya yang meninggal


"Sayang, mama dan papa disini"ucap Anggi menggenggam tangan putrinya


"Mama??? kenapa mama bisa disini? tanya Kinar memeluk mama kandungnya


"Mama hanya mampir sejenak sayang, mama hanya ingin menjemput cucu mama” ucap Widya sambil menoleh kearah tangannya


"Ma, itu anak siapa?? kenapa mama bawa anak bayi?" tanya Kinar menatap heran


"Anakmu titip mama dulu ya, teruskan hidupmu, seberat apapun hidupmu, kamu tak sendiri, ada mama Anggi dan papa Satria yang menunggumu


"Ma, jangan pisahkan aku dengan anakku ma,"


"Sayang, anakmu lebih baik ikut mama, agar ia tak menderita.


Teruskan hidupmu, jika apa yang kau genggam menyakitkan maka lepaskan.


Hidup terlalu indah untuk di habiskan untuk yang tak jelas, kuatlah, mama yakin kamu wanita yang kuat.


Ingat kamu tak sendirian" ucap Widya berjalan meninggalkan Kinar


"Ma jangan pergi" teriak Kinar, walau terlihat berjalan namun anehnya Kinar tak bisa mengejar mama kandungnya itu, maaa, , mama, jangan pergi,"


"Anakku" teriak Kinar langsung terduduk, air mata sudah membasahi pipinya


"Sayang, sayang tenang, istighfar ini mama" ucap Anggi langsung memeluk Kinar

__ADS_1


"Mamaaaa huhuhu, anakku ma, anakku" adu Kinar mulai menangis sesegukan, Anggi menepuk punggung Anggi lembut.


"Istighfar sayang, yang sabar, Allah lebih sayang anakmu, dia tabunganmu untuk membawamu ke surga"


"Ma Aku sudha menantikan kehadirannya ke dunia, aku ingin menimang anakku ma, tapi???" Kinar menggigit bibirnya, terasa amat sakit hatinya, serasa separuh jiwanya pergi


"Mama tahu kamu berat menerima kenyataan ini, tapi kamu harus kuat sayang, masih ada mama dan papa yang selalu ada untukmu"


"Ma, anakku ma" gumam Kinar masih tak percaya sudha kehilangan anaknya,


Dimas yang sudah mendengar kabar istrinya sadar segera masuk ke dalam ruangan,


"Sayang"panggil Dimas lirih yang melihat istrinya seperti orang linglung, memeluk mamanya sambil menangis, dengan mulut masih meracau "anakku"


Kinar menoleh kearah Dimas, tubuhnya bergetar hebat, giginya gemeretak seperti menahan amarah


"Pergiii, pergiiiii. suruh dia pergi ma" teriak Kinar histeris melempar bantal di dekatnya


"Sayang tenang, lukamu belum sembuh


"Suruh mereka pergi ma, Kinar tidak mau melihat dia lagi" ucap Kinar penuh kebencian, cinta yang dulu ia rasakan seolah telah mati Siring kepergian anak dalam kandungannya


”Sayang itu suamimu, kamu jangn seperti ini, mama tahu kamu sednag berduka karena kepergian anakmu, namun kamu jangan seperti ini pada nak Dimas" ucap Anggi yang tidak tahu menahu kejadian sebenarnya mengapa putrinya terjatuh dari tangga


"Nak, mohon pergilah dulu, mama mohon" ucap Anggi.


Satria yang mendengar teriakan putrinya masuk dan menarik tangan Dimas.


Setelah kepergian Dimas, Kinar memeluk mamanya dan menangis pilu


"Sayang??.." Anggi ingin bertanya, namun ia urungkan karena kinar terlihat sangat terpukul,


"Apa yang terjadi pada rumah tangga anakku??mengapa ia sepertinya sangat membenci Dimas, apa kecelakaan itu ada kaitannya dengan Dimas??, aku harus bertanya pada mas Satria" gumam Anggi


Setelah agak reda, Anggi menyodorkan air minum pada Kinar


"Ma Kinar mau pulang dan melihat makan anak Kinar"


"Iya tapi setelah kamu sehat ya sayang" ucap Anggi merapihkan anak rambut kinar

__ADS_1


"Bawa Kinar pulang ma, Kinar gak mau pulang kerumah pria itu" ucap Kinar penuh kebencian


"Sayang, mama tetap harus izin pada suamimu, dia lebih berhak daripada kami.


Setelah suamimu setuju, mama akan membawamu pulang"


"Aku gak mau kembali kesana ma" ucap Kinar lirih, ada kesedihan di kalimatnya


"Tetap saja kamu masih harus menurut padanya sayang, mama tak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian, namun jangan mengulang kesalahan waktu mama muda dulu, surga seorang istri berada pada suaminya, jika ada masalah kalian bisa selesaikan dengan kepala dingin, kabur dari masalah tak akan menyelesaikan masalah" Anggi berusaha mengingatkan putrinya hak dan kewajiban istri dalam rumah tangga


"Papa yang akan membawamu pulang, papa tak sudi kamu kembali padanya" ucap Satria langsung


"Pa, kamu bukan sebagai penengah dan pendamai, malah makin memperkeruh" Dengus Anggi kesal


"Terima.kasih pa" Kinar langsung memeluk Satria yang berada di samping mamanya


"Sama-sama sayang, jangan bersedih lagi ya, ikhlaskan semuanya, Allah punya hikmah di balik kejadian ini"Kinar mengangguk sambil menitikkan air mata


"Papa akan mengurus semuanya secepatnya, papa tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi, tapi papa akan memberimu waktu untuk berfikir masak-masak, papa harap keputusannya bukan karena emosi sesaat, walau sebenarnya papa ingin kamu putus hubungan dengan pria itu" Satria mengepalkan tangannya penuh emosi, Anggi merasa seperti orang bodoh tak mengerti perbincangan antara suaminya dan anaknya.


Alih-alih mendamaikan, Satria malah mendukung keputusan Kinar, apa yang terjadi sebenarnya, mereka menutupi sesuatu dari Anggi


"Mas, kita perlu bicara" ucap Anggi menatap lurus suaminya, Satria hanya mengangguk, mengerti apa yang akan di tanyakan oleh istrinya


"Sayang, mama sama papa keluar dulu ya, kamu istirahatlah, mama gak kan kemana-mana" ucap Anggi karena Kinar masih menggenggam tangan nya erat.


"Sebentar saja kok" timpal Satria yang melihat putrinya ragu


"Jangan biarkan dia kesini pa, Kinar gak mau..."


"Iya, iya, papa memgerti, papa akan meminta Adam menemanimu, bagaimana??” tanya Satria yang di balsa anggukan pelan anaknya


Satria menghubungi Adam, meminta bantuannya menjaga Kinar, Satria menjelaskan situasinya dan Adam mengerti, ia akan tiba beberapa saat lagi


"Kamu hutang penjelasan padaku mas" ucap Anggi berbisik


"Akan aku jelaskan semuanya sayang, bersabarlah" ucap Satria , Satria sedang memikirkan bagaimana menyampaikannya pada istrinya,


melihat keadaan Kinar saja ia shock berat, bagaimana jika ia tahu kejadian di balik musibah yang menimpa putrinya, apa Anggi kuat??

__ADS_1


Setelah Adam tiba, mereka langsung menuju cafetaria yang letaknya berada masih dalam lingkungan rumah sakit, Anggi terus mendesak mengatakannya, Satria menjulur waktu, ia memesan lemon tea Mint untuk istrinya, lalu menghela nafas dalam, menghembuskan nya perlahan


"Jadi..."


__ADS_2