
Setelah keterkejutannya Dimas hanya diam, ia tak banyak bicara begitu pula Kinar, hatinya hancur mendapati kenyataan berita kehamilannya malah makin memperburuk hubungan mereka, tapi Kinar tak menyesal, satu hal yang pasti, Kinar akan mempertahankan anak ini, merawat dan membesarkannya dengan atau tanpa Dimas sekalipun di sisinya.
Amanda datang menjenguk Kinar , terlihat pandangan tidak suka Amanda pada Dimas, membuat Dimas menghindar jika Amanda datang. Amanda wanita yang blak-blakan, terlalu terbuka ketidaksukaannya pada Dimas.
Ia sangat membenci kelakuan Dimas.
Kinar yang penasaran bagaimana Amanda bisa kenal dengan Adam,
"Jadi bagaimana kamu bisa kenal mas Adam???" tanya Kinar antusias ingin mendengar rinciannya dari sahabat barunya itu
"Dia pria yang ku ceritakan tempo hari, Dia yang menyelamatkanku"ucap Amanda tersenyum lebar
"Astaga ternyata dunia ini sempit"ucap Kinar tertawa yang di balas anggukan Amanda
"Jadi apa rencana mu kedepannya?" tanya Amanda mengalihkan pembicaraan
"Aku akan kembali, apa kamu mu ikut denganku?" tanya Kinar , namun Amanda menggeleng sambil tersenyum kecut
"Sekalipun aku sudah menyelesaikan kuliahku, aku kan berfikir beberapa kali kembali ke sana, ini terlalu ....." wajah cantik Amanda terlihat muram, Kinar tahu jika apa yang terjadi pada Amanda membuatnya trauma, namun sembunyi dan menghindar terus membuatnya tak akan keluar dari traumanya.
"Kamu tinggal wisuda saja,kabari aku jika kamu berubah pikiran. Aku akan bertanya pada suamiku apakah ia punya posisi kosong di perusahaannya"
"Jikalau ada, aku menolak Kinar, pria itu tidak bisa. menghargai istrinya sendiri, bagaimana dia bisa menghargai orang lain" ucap Amanda kentara tidak sukanya
"Dia tetap suamiku, aku tak bisa membencinya” ucap Kinar mendesah
"Aku tak berharap kamu membencinya juga, hidup itu terlalu indah untuk di habiskan dengan hal yang sia-sia.
masa depanmu bisa kamu ukir sendiri” ucap Amanda lirih.
"Jika itu setahu lalu, aku masih percaya, namun kini aku terikat padanya, aku tak berhak melakukan apapun.
Ada hal yang membuatku kehilangan hak itu, sekalipun ia membenciku, aku tetap akan bertahan disisinya”
"Menurutku itu sama sekali bodoh, maaf, tapi itu tak adil untuk dirimu, kamu berhak bahagia, bukan dengan pria seperti dia” ucap Amanda menghela nafas kesal
"Adik tak adil itu sudah konsekuensi dari keputusan yang ku ambil saat menikah dengannya, Suatu saat kamu akan mengerti”
"Aku harap" ucap Amanda menyerah, ia melihat kepasrahan dari ucapan sahabat barunya itu, walau baru mengenal beberapa Minggu, namun Amanda merasa seperti sudah mengenal lama.
__ADS_1
"Kalau begitu kabari aku jika kamu kembali ke tanah air, setidaknya aku harus memastikan pria itu tidak menelantarkan mu lagi dsini” ucap Amanda memandang sinis kearah Dimas yang terlihat dari jendela kaca
"Dia tidak akan, terima kasih kamu sudah perhatian padaku" ucap Kinar memeluk Amanda
"Kamu seperti kakak bagiku, jangan lupakan aku jika kamu sudah kembali, dan kabari aku perkembangan keponakanku disana" ucap Amanda mengelus perut Kinar yang masih rata, mereka tertawa kecil.
Setelah berpamitan Amanda meninggalkan ruangan tersebut.
.Dua hari kemudian
Dua hari sudah Kinar dirawat di rumah sakit, akhirnya Kinar sudah di perkenankan pulang, ia juga sudah sehat hanya kadang mual muntahnya masih datang
Dimas sudah mempersiapkan kepulangan mereka, ia telah lama berada di negara ini, meninggalkan pekerjaannya.Dimas sudah pusing dengan ocehan mamanya setiap kali menelponnya hanya menanyakan Kinar, seolah Kinar adalah anak mamanya dan bukan dia.
Dua hari sudah Kinar ulang dari rumah sakit, Dimas memberitahukan padanya jika besok mereka kaan kembali ke tanah air.
Kinar segera mengabarkan Tante Caroline dan Amanda, ia ingin mengucapkan terima kasih, terutama pada Amanda yang telah banyak menolongnya.
Keesokan paginya Kinar sudah rapih , travel bag sudah masuk bagasi mobil, ia langsung masuk mobil menuju bandara.
Kinar meminta Dimas menunggu kedatangan Tante Caroline dana Amanda, walau awalnya Dimas segan, namun akhirnya ia menuruti kemauan istrinya.
Mereka berdua tak menyadari kedatangan Caroline, kini gantian Caroline yang memeluk Kinar membelai kepala Kinar dan memberi ia nasihat, layaknya seorang ibu pada putrinya, Lalu giliran Adam, saat Adam ingin memeluk Kinar, sebuah tangan menarik Kinar kebelakang, rupanya Dimas sejak tadi melihat interaksi mereka dan ketika melihat Adam yang maju untuk mengucapkan selamat tinggal dengan cepat Dimas menarik istrinya dalam pelukannya,membuat semua orang terkejut.
"Sudah pamitannya, ayo kita masuk" ajak Dimas mengangguk ke arah Caroline dan Amanda tanpa berpamitan.
Adam mengepalkan tangannya kesal, namun juga tak bisa apa-apa, Dimas berhak atas Kinar karena Dimas adalah suami sah Kinar.
mereka saling melambai dan bayangan Kinar seta suaminya menghilang di balik pintu masuk keberangkatan bandara.
Amanda terlihat canggung saat Caroline menatap kearahnya.
"Siapa namamu??? tanya Caroline memperhatikan Amanda dari atas sampai bawah.
Caroline terlalu pintar untuk menangkap bagaimana pandangan mata gadis itu pada anaknya, ia menebak jika Amanda menyukai Adam, namun sayangnya ia harus mempunyai tekad kuat dan sabar, karena Adam mencintai Kinar, ya walaupun Kinar sudah bersuami, ia sulit berpaling pada wanita lain.
”Amanda Tante" ucap Amanda tersenyum lebar
"Jadi kamu yang anak saya sering bicarakan, salam kenal ya, panggil saja saya Tante Caroline" ucap Caroline yang di balsa anggukan Amanda.
__ADS_1
"Kamu pulang bareng kami saja" ucap Adam
"Ah gak usah mas, aku naik taxi saja" ucap Amanda menolak
"Sudah ayo, sekalian kita mampir makan , mama sudah lapar" ucap Caroline langsung menggandeng tangan Amanda, Amanda menatap Adam namun Adam mengangguk dan tersenyum. mereka lalu berjalan menuju mobil Adam yang terparkir .
Sementara Dimas dan Kinar sudah memasuki ruang tunggu, tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka.
”Bagaimana perasaanmu???" tanya Dimas tiba-tiba
"Aku senang karena akhirnya bis akan kembali ke tanah air" ucap Kinar antusias
"Maksudku, keadaanmu, apakah kamu merasa tak enak badan atau apa??? atau ada yang mau kamu makan?” tanya Dimas penuh perhatian
"Apa mas Dimas sudah bisa menerima berita kehamilanku??? apa dia bisa menerima anak ini ???” gumam Kinar dalam hati
Dimas menaikan alisnya sebelah karena Kinar hanya diam tak membalas pertanyaannya
"Apa kamu baik-baik saja???" tanya Dimas khawatir, walau ia belum bisa menerima berita kehamilan Kinar, namun karena rasa bersalahnya, ia tak mau Kinar merasa tak nyaman selama perjalanan.
sejujurnya Dimas sangat senang mendengar kabar Kinar hamil, namun masih ada keraguan disana.
Namun beberapa saat lalu ia sedikit lega karena Kinar terlihat tak menaruh perhatian lebih pada Adam, apakah karena ia disana atau bukan, entahlah, yang jelas ia sedikit lega.
"Aku baik-baik saja mas, bisa tolong belikan aku cemilan, aku selalu kelaparan" ucap Kinar lirih
"Baiklah, tunggu sebentar" ucap Dimas lalu berjalan menuju mini market yang berada i bandara.
Tak alam kemudian Dimas kembali membawa kantong plastik di tangannya.
Mereka lalu memasuki ruang tunggu keberangkatan.
Tak lama kemudian mereka masuk ke dalam pesawat dan setengah jam kemudian pesawat mereka lepas landas. Awalnya Kinar baik-baik saja, namun setelah tiga jam kemudian entah mengapa ia merasa amat mual.
Sepanjang perjalanan Kinar yang sedang hamil muda merasakan mabuk parah, ia sampai pucat dan terpaksa di infus kembali.
Mendengar berita kedatangan mantunya, Mariska sengaja menjemput mereka di bandara.
Sesampainya di bandara, Dimas mendorong istrinya dengan kursi roda membuat Mariska yang melihatnya langsung berlari menghampiri mereka, pandangan mata Mariska penuh kemarahan dengan Dimas, langsung memeluk sekaligus memarahi Dimas karena melihat Kinar yang datang dengan kursi roda
__ADS_1
"Dimas apa yang kamu lakukan pada Kinar? mengapa mantu mama sampai pakai kursi roda apa yang terjadi????”cerocos Mariska khawatir