
Dimas merasakan kepalanya sangat berat, pandangannya berkunang-kunang, ia terlalu lemah untuk bangun.
Dimas merasa bahagia sekaligus khawatir, setelah tahu jika Kinar merawatnya sejak tadi dengan pakaian yang masih basah, ia malah memperburuk keadaan, Dimas tak akan memaafkan dirinya jika Kinar sakit karenanya, namun ada rasa bahagia istrinya itu masih perduli padanya, dan ia menduga jika masih ada kesempatan di sana untuknya dan Kinar kembali rujuk.
Pintu kamar terbuka kembali, terlihat Tini membawa semangkuk bubur diatas nampannya dan segelas air putih
"Habiskan makananmu dan setelah itu pergi dari tempat ini, aku tak kaan menanggung jika kau akan terlibat masalah nantinya. Saat ini Bagus dan keponakannya sedang menuju ke villa ini, itu saran yang terbaik, atau kamu akan di habisi olehnya" ucap Tini serius, setelah itu ia meninggalkan kamar itu.
Di luar kamar Tini berpapasan dengan Kinar yang sudah mengganti pakaiannya
"Apa mas Dimas sudah sadar mba Tini?" tanya Kinar melihat Tini membawa nampan
"Sudah, tapi beliau ga mau di ganggu dulu, mungkin sekarang sedang makan, melihat dari makannya sepertinya ia belum makan seminggu" ucap Tini berbohong, sejak tahu permasalahan Kinar, Tini menaruh simpatik pada Kinar, sebagai sesama perempuan, Tini tahu bagaimana rasanya di khianati oleh suami sendiri,. itulah yang ia alami, beruntung Tini bertemu dengan Putu, saat itu Tini di depak keluar oleh suaminya dan langsung di talak malam itu juga, ia hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya,
"Ah baiklah" ucap Kinar,
"Kalau begitu saya permisi, mau meneruskan masak"
"Saya ikut mba" ucap Kinar sudah jalan sejajar dengan Mba Tini
"Loh ibu mau kemana? saya kan mau ke dapur masak" ucap Tini bingung
"Mau bantu mba Tini masak aja, daripada gak ada kerjaan" ucap Kinar menggandeng tangan mba Tina, membuat mba Tini terkejut
"Itu Bu Kinar sebaiknya melihat saja, saya takut kena marah pak Bagus" ucap Tini
"Tenang saja mba, saya yang tanggung jawab"ucap Kinar langsung mengambil celemek dan mengikat tinggi rambutnya, ia memang menyukai memasak, sebab ia bisa berkreasi sesuka hatinya
Kinar langsung asik memasak, sementara Tini menjadi asistennya membantu Kinar memotong sayuran dan lainnya.
Bau harum masukan langsung memenuhi ruangan dan merambat tertiup angin.
Dimas sudah selesai makan dan meminum obat yang tadi Tini bawakan, ia merasa kepalanya masih pusing, namun ia harua segera menemui Kinar atau pengorbanannya agar masuk ke dalam villa ini sia-sia belaka
Dengan perlahan Dimas bangkit dari tempat tidur, ia erjalan perlahan , Bu haru masakan membuatnya tanp sadar mengikutinya hingga dapur, di sana terlihat istrinya sedang masak, wajahnya terlihat sangat cantik dengan senyum menghias di bibir mungilnya, Dimas terpana, baru kali ini ia melihat Kinar memasak, ada kesenangan tersendiri terpancar dari diri Kinar
Namun senyum Kinar sirna ketika melihat siapa yang ada di ruang makan menatapnya tak berkedip
"Mas Dimas?" ucapnya langsung meletakkan alat masak dan menghampiri Dimas.
__ADS_1
Sikapnya terlihat dingin, walau ia terlihat khawatir
"Duduk lah mas, apa kamah sudah enakan?" tanya Kinar membantu Dimas duduk di kursi
"Apa kamu khawatir padaku?" ucap Dimas balik bertanya
"Apa aku harus menjawabnya?" ucap Kinar tak berniat membalas pertanyaan Dimas,
"Sayang, aku tahu kamu masih mencintaiku, kamu khawatir dengan keadaanku kan??” cecar Dimas
"Mas, apa itu masih berarti untuk di bicarakan?? aku tak berminat membahasnya mas"
"Tatap mataku, aku tahu kamu mencintaiku.
Kembalilah padaku sayang, jangan tinggalkan mas sendiri, ms sangat mencintaimu" ucap Dimas menangkup wajah istrinya
"Mas, please jangan buat aku makin menderita" ucap Kinar membuang wajahnya ke samping, ia tak mau Dimas melihat betapa ia mencintai pria ini, ia tak mau Dimas kembali mempermainkan hatinya lagi"
"Kinar , dengar kan mas, mas memang bersalah padamu, mas akan menceraikan Bella setelah anaknya lahir, please bersabarlah sebentar saja, kamu bisa marah, benci, bahkan memukul mas tapi mas mohon dengan sangat, jangan tinggalkan mas" Dimas berlutut di kaki Kinar sambil menangis, Begitu pula Kinar, tanpa sadar ia menyentuk puncak kepala suaminya,hatinya sangat sakit jika mengingat bagaimana Bella memamerkan kemesraannya, dan karena tertekan i sampai hilang kesadaran dan terjatuh dari tangga.
Kini anaknya sudah tak ada lagi, tak ada yang bisa menahan Kinar pergi dari Dimas.
"Maaf mas, aku tak bisa, keputusanku sudah bulat.
Di dalam kamar Kinar menangis tersedu-sedu.
Sementara Dimas masih terduduk lesu di lantai, tak lama kemudian Bagus, Rey dan anaknya masuk, mereka langsung mendekati Dimas.
Rey malah menarik baju Dimas dan siap menghajarnya
"Loe gak ngerti ya di bilang suruh menjauh?? Kakak gue udah gak sudi jadi istri loe, apa loe gak punya malu mish ngejar-ngejar kak Kinar???"
"Gue akan terus berusaha agr kinar kembali sama gue" ucap Dimas tak takut
Bugh
Sebuah bogem mentah bagus hadiahkan di wajah Dimas
"Pa, jangan kotori tangan papa dengan manusia rendahan ini" ucap Aditya mencibir Dimas
__ADS_1
"Bawa pria itu keluar sekarang, tanpa izin kami, jangan pernah biarkan pria ini masuk” ucap Aditya pada pak Aji dan Wawan. keduanya memapah Dimas yang masih lemas keluar rumah, Dimas terus berteriak memanggil nama Kinar, hingga tubuhnya menghilang dari pandangan mereka
"Mba Tini, dimana cucu saya?" tanya Bagus memanggil Tini
"Itu Bu Kinar di dalam pak"
"Baiklah, terima kasih sudah mengabarkan saya, tapi lain kali jika itu menyangkut Dimas, jangan biarkan Kinar tahu, apapun yang terjadi di luar" ucap bagus tegas
"Baik pak" ucap Tinia
Bagus lalu meminta Tini membuatkan teh hangat, ia sendiri yang mengantarkannya ke kamar Kinar
Tok tok tok
"Kinar, ini kakek" ucap Bagus, Kinar segera bangkit, menghapus air matanya, dan segera membuka pintu
"Ya kek" ucapnya parau
"Boleh kakek masuk?"
Kinar melihat kakeknya membawa nampan berisi teh hangat, ia dengan terpaksa membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Bagus masuk
"Apa kau baik-baik saja??" tanya Bagus yang berbasa-basi, tapa di katakan Bagus sudhantahu jika Kinar habis menangis, terlihat dari kedua matanya yang sembab
"Insha Allah kek"
"Kakek bawakan salak Bali kesukaanmu, lagi gak musim, tapi di villa kami ada yang berbuah" ucap kakek tersenyum sambil mengelus rambut Kinar
"Apa kau tidak senang?" tanya Bagus pura-pura kecewa
"Tidak kek, eh maksud Kinar senang, makasih banyak ya kek" ucap Kinar memeluk Bagus
"Mau temani kakek dan dua saudaramu makan???, Kami sudah sangat kelaparan sekarang" ucap Bagus
"Tapi Kinar sedang tak selera makan kek" tolak Kinar halus
"Kakek gak minta kamu makan, kaki cuma meminta kamu menemani kakek makan, kamu bis makan salak yang tadi kakek bawa bukan??"
Kini Kinar tak punya alasan lagi menolak, dengan patuh ia mengikuti Bagus menuju ruang makan, disana sudha ada Aditya dan Rey yang duduk dengan cemas
__ADS_1
"Kak..." Rey bangkit, namun Bagus menggelengkan kepala, membuat Rey kembali duduk dan menatap khawatir kakaknya.
"Harusnya tadi gue gak ikut ke villa kalau tahu begini, arrhggh sial, kak Kinar jadi terluka lagi sama pria brengsek itu" gumam Reyhan mengepalkan tangannya marah.