Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Perasaan Terakhir


__ADS_3

Albert terkejut dengan status Kinar, di usianya yang masih tergolong muda, ia sudah menjada, ya walau di negaranya tak memusingkan status, namun sedikit banyak juga berpengaruh.


Albert menggelengkan kepalanya, mengapa ia jadi memikirkan status Kinar??? bukankah ia membenci wanita itu, ya walau beberapa waktu belakangan ini dia bersikap baik, itu semua karena kedua orangtuanya menyukainya dan Kinar memperlakukan mereka tulus.


Albert juga mendengar banyak cerita mamanya tentang Kinar, gadis itu juga terlihat perduli dan sayang pada Amara, buktinya Kinar selalu menyempatkan diri bertandang atau mengajari mamanya membuat kue atau memasak, sehingga Amara tidak merasa lagi kesepian.


Walau sudah mengangkat anak, namun Mikhayla terlalu banyak menghabiskan waktunya di luar, padahal Miki hanya seorang manager di perusahaannya, ia lebih senang hang out dengan teman-temannya ketimbang langsung pulang dan menemani mama mereka.


Albert tak bisa memaksakan hal tersebut, Miki memilki privasinya sendiri, namun belakangan Albert jadi berfikir jika sikap Miki sedikit berubah dari awal diangkat anak dulu.


"Bro, sepertinya hubungan Dimas dan mantan istrinya Kinar, rumit" ucap Bernard yang menghampiri Albert yang sedang membuat minuman


"Maksud loe???" tanya Albert acuh tak acuh, ia paling tak suka menggubah di belakang orang


"Loe gak liat apa tadi, sorot mana Dimas, penuh cinta dan kerinduan" ucap Bernard lirih


"Dimas???, Dimas siapa lagi?"


"Azzzz loe ya, kadang lodingnya lama, pantes susah move on"


"Loe minta gue simpel lap kotor Nard???" ancam Albert kesal karena di hubungkan dengan gagal move on nya


"Lagian loe ya, bro Erlangga, itu nama lengkapnya Dimas Erlangga, masa loe lupa?" Dengus berndar kesal


"Astgaa gue lupa beneran.


kan loe yang nanganin proyekny, gue gak baca nama lengkap dia, sorry"


"CkCkCk kalau gue palsukan dokumen loe tanda tangan, habis perkara hidup loe.


Lain kali jangan percaya seratus persen sama orang, walaupun itu orang kepercayaan loe atau sahabat loe bro, karena kita tidak pernah tahu hati manusia.


Rambut boleh sama, hati siapa yang tahu" ucap Bernard memberi wejangan


"Udah ceramahnya???


apa loe mau bilang kalau loe suatu saat mau nipu gue???"


"Dasar bos gila" sungut Bernard lalu memilih bergabung bersama Carl dan Dimas.


Albert terkekeh kecil, Bernard adalah sahabat nya sekaligus saudara angkatnya.


walaupun mereka bersaudara angkat, namun Bernard bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.


Ia totalitas penuh dalam pekerjaan, di tempat kerja bahkan ia memanggil Albert bos, padahal Albert tak keberatan jika memanggil namanya sekalipun, namun namanya Bernard, ia tak mau dianggap di bilang karena koneksi keluarga, ia mau di pandang karena usahanya sendiri dan kerja kerasnya.


"Apa benar Dimas itu masih mencintai Kinar??? bagaimana mereka bisa cerai jika masih saling mencintai???


apa Kinar juga memiliki perasaan yang sama?


wanita itu ternyata memiliki kehidupan yang rumit, tapi ia masih bisa tersenyum, satu kata untuknya, gadis yang tangguh.


Astaga mengapa aku jadi memikirkan wanita itu, sial

__ADS_1


sepertinya benar ucapan Bernard, aku sudah gila!!!" Dengus Albert memaki dirinya sendiri.


Albert lalu membawa minumannya ke ruang tamu, jam makan malam tinggal setengah jam lagi, mereka memilih meneruskan pembicaraan bisnis mereka.


Sementara di kamar tamu, Kinar terlihat sedang menenangkan hatinya, ia tak pernah mendug jika akan bertemu lagi dengan mantan suaminya, di saat ia sudah move on, mengapa pria itu harus datang?


Kinar menghirup udara dalam, mengisi rongga dadanya lalu menghembuskan nya pelan.


Mereka sudah pisah, cepat atau lambat Kinar akan bertemu juga suatu saat nanti, jika tidak sekarang maka di waktu mendatang, jadi ia harus membiasakan diri.


Masa lalu akan tetap menjadi masa lalu, Kinar harus melangkah kedepan, dan Dimas adalah masa lalunya, Kinar tak mau kembali pada masa lalunya.


Kinar membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya, karena sehabis makan malam ia akan langsung pulang, ia rindu kamarnya sendiri di kediaman Ridwan, walau bisa di katakan kediaman lucky lebih besar dan mewah, namun tetap saja lebih enak rumah sendiri, rumah kakek nya Ridwan.


Kinar mengikat rambutnya ekor kuda, lalu menarik nafas dan menghembuskan, Kinar membuka pintu dan melangkah menuju kamar Amara, rupanya Amara sudah terbangun dan berpakaian rapih, kalau saja mereka tak berada di negara asing, Kinar tidak akan terkejut jika Amara memakai dress batik, cantik dan anggun


"Tante, Tante sangat cantik dan anggun" ucap Kinar tak bisa menutupi kekagumannya


"Ah sayang, terima kasih atas pujiannya, ini Bernard yang membelikannya, Tante suka sekali" ucap mara tak menyebutkan jika itu kado ulang tahun.


"Om mana Tan? ini sudah jam makna MLM, biar Kinar hangatkan makanannya dan Tante panggil om"


"Baiklah sayang, maaf merepotkan" ucap Amara lalu berjalan menuju ruang kerja suaminya, sementara Kinar menuju dapur.


Di kejauhan Dimas memperhatikan mantan istrinya, memandangnya tak berkedip.


Ia merasa ini hari Keberuntungannya karena bisa bertemu dengan Kinar, wanita yang selama ini ia rindukan.


"Kinar, apa kau sudah bertemu adikku??? dia single" ucap lucky membuat Michael melotot kearah kakaknya


"Kak, aku tak butuh kau promosikan" ucpa Michael kesal


"Hahaha om bisa saja" tawa Kinar canggung


Albert dan teman-temannya mendekat meja makan, lucky terlihat cuek melihat kedatangan putranya.


itu karena putra satu-satunya seakan tak perduli pada dirinya dan istrinya, walau Amara tak mengatakan apapun, namun lucky tahu jika Amara bersedih dengan sikap cuek Albert.


"Malam pa, ma, bro" sapa Albert meluk papanya, lalu mamanya


"Selamat ulang tahun ma" ucap Albert lalu menyerahkan kotak yang terlihat elegan pada Amara


"Terima kasih sayang" ucap Amara datar


"Hei bro, ada angin apa ke sini?" sapa Albert pada pamannya, Michael


"Mengunjungi adik ipar Yang sedang merayakan hari lahirnya" ucap Michael santai


Kinar melirik sekilas pada om dan ponakannya itu, keduanya tampan, namun Kinar bisa melihat jika


"Michael lebih tampan dan berkarisma, tunggu mengapa aku jadi mengagumi pria yang baru aku kenal???


apa pikiranku sedang terganggu???" gumam Kinar dalam hati

__ADS_1


"Pa, kenalkan ini Dimas Erlangga, klien kita yang berasal dari indonesia, beliau juga yang mengadakan pameran di mall kita" ucap Albert memperkenalkan Dimas


Amara langsung antusias, mereka lalu makan sambil membahas pameran kesenian dan kerajinan tangan dimana Bernard membeli kadonya


"Tante happy birthday, maaf aku gak tahu kalau Tante ulang tahun, kadonya nyusul ya Tan" ucap Kinar tersenyum malu


"Sayang kedatangan mu sudah kado buat Tante kok"


Mereka lalu makan, tak henti-hentinya pujian keluar karena masakan Kinar yang enak, terlebih Amara yang merindukan kampung halamannya, ia sampai menangis karena bahagia. ini merupakan kado terindah di hari jadinya.


Michael terus mencuri pandang ke arah Kinar, membuat Kinar merasa serba salah.


Setelah selesai makan, Kinar sedang merapihkan peralatan di bantu asisten rumah tangga, walau Amara sudah melarangnya, namun Kinar lebih nyaman berada di belakang.


"Kinar, bisa kita bicara?" tanya Dimas yang berdiri di uang makan berbatasan Dengan dapur


Kinar lalu menghampiri Dimas sambil tersenyum


"Apa yang mau mas bicarakan?"


"Mas rindu kamu, bisakah...."


"Tidak mas, tak ada yang bisa kita bicarakan tentang masa lalu kita, semua sudah berakhir.


Jalani hidup mas baik-baik.


perhatikan kesehatan mama dan sayangi mama, beliau kesepian" ucap Kinar


"Kau sudah berubah, tidak seperti dulu" keluh Dimas muram


"Semua orang akan berubah mas, aku harus terus maju menggapai masa depanku, ku harap kau juga optimis dengan masa depanmu, permisi, aku mau izin pulang sama Tante dan om lucky


"Kinar, biar aku mengantarmu"


"Terima kasih, tapi aku bawa kendaraan sendiri" ucap Kinar lalu bergegas masuk ke kamar tamu dan keluar sudah membawa tas.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, karena keasikan berbincang-bincang hingga mereka lupa waktu, Kinar lalu pamit pada Amara dan suaminya


"Sayang, biarkan Michael mengantarmu, Tante khawatir ini sudah larut.


Biar mobilmu besok supir yang antra ke rumah mu"


"Tapi Tan..."


"Tante mohon, ok???


Michael bisakah ?" tanya Amara menatap adik iparnya


"Ok kakak ipar., kak aku pamit" ucap Michael berpamitan pada Amara dan lucky, Kinar sudah tahu jika Michael bertubuh tinggi besar, namun saat di sampingnya, ia seperti anak kecil


Michel dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Kinar, lalu setelah menutupnya ia berlari kecil menuju kursi kemudi


"Pakai sabuk pengaman dokter cantik" ucap Michael mengedipkan sebelah matanya

__ADS_1


__ADS_2