
"Bu Bella yang sabar, insha Allah semua ada jalan keluarnya. Mengenai hasil pemeriksaan yang ibu jalani kemarin, hasilnya menunjukkan jika kanker ibu aktif kembali, mungkin karena hormon kehamilan ibu atau pola makan ibu yang tidak sehat.
Yang kedua kondisi janin ibu sangat mengkhawatirkan, janin ibu memiliki masalah kelainan jantung, kemungkinan untuk bertahan hidup kecil.
Kami menyarankan ibu untuk melakukan pengangkatan rahim"
"Ja..jadi dok?? maksudnya saya harus aborsi???" tanya Bella terkejut
"Ya, itu saran dari saya sebagai dokter, jika di pertahankan akan sangat membahayakan diri anda dan kesehatan anda, saya khawatir jika tidak segera melakukan tindakan, kanker anda akan menyebar dengan cepat"
Bella terdiam seperti orang linglung, putus sudah harapannya kembali pada Dimas.
Anak yang di gadang-gadang bisa memperbaiki hubungannya dengan Dimas malah terlahir cacat dnegan kelainan jantung, kalaupun anak itu ia lahirkan hanya akan menyusahkan ya kelak.
"Mengapa nasibku sial sekali, sudah bisa membuat Kinar pergi malah .... Arrrggghhh sial.
Aku harus mencari cara lain, aku tidak sudi mempertahankan anak cacat ini, lebih baik aku memikirkan kesehatan ku, aku bisa hamil lagi nanti" gumam Bella
"Baiklah dok, beri saya waktu satu bulan, jika tidak ada perubahan saya akan mengikuti saran dokter" ucap Bella
Setelah itu ia keluar dari ruangan tersebut, langsung menuju rumah.
Ketika sampai di rumah, suasana sepi, Bella langsung menuju dapur, ia tak menemukan makanan di meja, dengan marah Bella memanggil Dian.
Dian baru saja pulang sekolah, ia belum sempat masak karena Minggu ini ia sedang ujian kenaikan kelas, ia fokus belajar seperti yang Dimas minta.
"Diaaaaaaannn, sialan anak ini kemana sih??" teriak Bella tak senang, ia membuka tas nya dan menyalahkan rokoknya, mengambil segelas air dan kembali duduk, menghisap rokokny dalam, ia terus berfikir bagaiman keluar dari masalah ini.
Namun karen perutnya terus saja bernyayi dengan malas Bella berjalan menuju kamar pembantu yang berada di belakang rumah utama.
Harusnya Bella tadi makan di luar saja, karena mbok Asih mendadak pulang kampung karena anaknya sakit sehingga hanya ada Dian.
Bugh bugh bugh
Bella menggedor pintu kamar Dian dengan kencang, ia sudah diliputi emosi.
__ADS_1
Dian terlihat baru saja selesai sholat, ia sedang membuka mukenahnya dengan tergesa-gesa
"Kamu tuli ya??" teriak Bella marah
"Maaf nyonya, saya sedang sholat" ucap Dian lirih
"Menjawab lagi kamu, kalau saya panggil langsung datang"bentak Bella tak senang
"Bagaimana bisa datang nyonya, saya sholat, gak mungkin juga sama menyahut" ucap Diam memberanikan diri
"Kamu ya, gak tahu diri mentang-mentang suami saya baik sama kamu" Bella langsung menjewer kuping Dian membuat remaja itu meringis kesakitan
"Sakit nyonya ampun, sakit" teriak Dian memegangi kupingnya yang masih di jewer Bella sambil keluar dari kamarnya hingga dapur baru Bella melepaskannya.
Bella.langsung mendorong Dian hingga terjatuh, sebenarnya Dian tak melakukan kesalahan fatal, namun karena suasana hati Bella sedang buruk, ia melampiaskannya pada Dian
Dian memegangi kupingnya yang serasa sakit dan panas, terlihat memerah karena ulah Bella
"Buatkan makan cepat, gak perlu drama nangis segala" bentak Bella, Dian langsung bangkit, ia sampai mengigil kesakitan, langsung memasakkan Indomie, ia belum belanja sayuran sejak seminggu lalu , sehingga hanya ada Indomie dan telor.
Dian berjalan tergesa-gesa, hingga ia tersandung ujung meja dan sedikit kuah Indomie panas mendarat dengan sempurna ditangan Bella, membuat Bella menjerit kepanasan
"Diaaaannn, astaga kamu sengaja mau bunuh saya???" teriak Bella murka, ia yang sedang asik memegang ponsel sambil merokok sontak melempar ponselnya hingga terjatuh.
Dian langsung meletakkan mie rebus ya di meja dannhendak mengelap tangan bela yang kena cipratan kuah panas
"Ma..maaf nyonya, saya gak sengaja" ucap Dian ketakutan
Bella maju dan hendak mencolok mata Dian dnegan rokok, Dian otomatis menghalangi menahan rokok Bella dengan tangannya, hingga bara rokok menempel di telapak tangan Dian, bukan kasihan Bella.malah sengaja menyodorkan rokoknya hingga Dian berteriak kesakitan, telapak tangannya sangat skait karena terbakar, merah melepuh dan bau daging terbakar, Dian menangis tersedu-sedu
"Pakai matamu, sialan membuat mood ku tambah buruk" ucap Bella mengambil ponselnya yang jatuh dan memeriksanya, ia masih menatap tajam Dian lalu pergi meninggalkan ruang makan, tak lama kemudian terdengar pintu utama terbuka, Bella keluar rumah
Sementara Dian menangis kesakitan, ia menatap nanar tangannya yang terbakar, Dian langsung mencuci tangannya dengan berteriak menahan perih, bukan melepuh lagi, tapi seperti daging di panggang, menghitam.
Pak Ujang, tukang kebun di rumah itu langsung berlari dari pintu dapur, ia melihat Dian yang menangis kencang
__ADS_1
"Kenapa neng?? ada apa?" tanya mang Ujang khawatir
"Huhuhu, sakit mang tangan Dian" ucap Dian menunjukkan tangannya,
"Astaghfirullah, kenapa kamu sampai begini???" pekik mang Ujang ngeri
"Sakit mang" ucap Dian menangis
"Ayo kita ke klinik" ucap mang Ujang memapah Dian
"Mang Ujang ya bayar nanti" ucap Mang Ujang yang melihat Dian sedang berfikir, mereka lalu membawa Dian ke klinik terdekat.
Flash Back Off
"Dian jangan melakukan sesuatu yang membuat lukamu basah, kamu untuk sementara mba bebaskan dari pekerjaan" ucap Kinar lirih
"Siapa kamu berhak mengatur pembantu di rumah ini???" tanya Bella yang tak sengaja sedang berjalan ke belakang rumah
"Lalu kamu yang berhak gitu??? ingat Bella saya masih nyonya rumah yang sah disini, sedang kamu hanya seorang pelakor" ucap Kinar yang di liputi emosi karena ingat perlakuan bella.pada Dian, sementara Dian bersembunyi di belakang Kinar
Bella ingin melayangkan tamparan pada Kinar namun tangannya di tahan seseorang, Bella sangat marah karenanya
"Baj**an siapa yang berani padaku" geram Bella marah
"Jauhkan tangan kotor mu dari wajah istriku" ucap Dimas dingin, ia tadinya berniat memanggil Kinar karena mamanya mencarinya, namun saat melihat ada pertengkaran antara Bella dan Kinar, ia segera mendekati mereka takut sesuatu yang buruk terjadi dan tepat saat bella akan menampar Kinar, ia bisa menahannya
"Mmmas Dimas???" ucap Bella ketakutan karena mata Dimas yang melotot tajam seperti ingin membunuhnya
"Ayo Dian kita kedepan ucap Kinar langsung menarik tangan Fian tak perduli dengan Dimas, dan Bella..., ah Kinar tak ingin lama-lama di sana menonton pertunjukan drama dadakan.
Setelah Kinar pergi, Dimas langsung menyeret Bella sampai kamarnya dan menghempaskan ya, seolah Dimas tak perduli Bella yang sedang hamil
"Aku peringati untuk yang terakhir kalinya, jangan pernah menyentuh Kinar, atau aku akan membunuhmu" ucap Dimas lalu berjalan keluar dari kamar tersebut
Bella sangat marah, ia melempar benda apa saja yang berada di dekatnya, emosinya meluap-luap, begitu juga kebenciannya pada Kinar, semua karena Kinar kembali, Dimas jadi kasar padanya.
__ADS_1
"Gue akan menghancurkan loe Kinar, loe akan gue buat hancur berkeping-keping" gumam Bella lirih sambil memandang foto pernikahan Dimas dan Kinar yang terpajang di dinding kamar tersebut.