
Sesampainya di Jakarta, Kinar hanya istirahat satu jam, kemudian dia meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk mengunjungi mantan mertuanya, Mariska
Walau kini mereka hanya mantan mertua dan menantu, namun hubungan mereka sangat baik.
Kinar sangat menghargai Mariska waktu menjadi mertuanya wanita itu dengan tulus menyayanginya seperti putrinya sendiri.
Sudah lebih dari empat tahun mereka tidak bertemu, Kinar sangat rindu mantan mertuanya itu, walau bagaimanapun wanita itu sangat menyayangi Kinar, walau takdir berkata lain jika Kinar dan anaknya sudah bercerai, namun ikatan diantara mereka tetap terjalin, buktinya Damar saja sampai datang saat ia wisuda dan menitipkan salam untuk ya dari Mariska, itu menunjukkan betapa Mariska menyayangi Kinar walau kini Kinar notabene adalah orang lain.
Kinar sudha memasuki sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka, disana terlihat wajah teduh Mariska yang ia rindukan melambaikan tangan oadany, Kinar dengan antusia mendekati Mariska yang sedang duduk dengan seorang wanita yang tidak Kinar kenal
"Assalamu'alaikum ma,"
"Wa'Alaikum salam sayang, mama kangen kamu" ucap Mariska berlinang air mata
Kinar yang kini sudah berdiri di dekat Mariska terpaku di tempatnya dengan mulut mengagan dan mata tak percaya, wanita yang terakhir kali ia tinggalkan kini berada di kursi roda, bagaimana mungkin????
"Ma,mama ini, bagaimana????" tanya Kinar tersesat matanya memerah dan berkaca-kaca,
"Apa kau tidak mau memeluk mama??" tanya Mariska dengan senyum lebarnya, seperti biasa
"Mama, Kinar kangen mama, mama.kenapa sampai begini, apa yang terjadi sama mama??" tanya Kinar beruntun
"Mam. baik-baik saja nak, ini...
Mama sudah tua, ini hal yang wajar orangtua memiliki sedikit masalah dengan kesehatannya" ucap Mariska berusaha riang
Namun Kinar malah berhambur memeluknya dan menangis.
"Mama, apa yang terjadi pada mama, apa mama gak mau bilang sama Kinar?? apa mama masih anggap Kinar anak mama???"
"Kinar sayang, mama cuma terjatuh, itu sudah empat tahun lalu, sekarang mama sudah bisa berjalan walau hanya beberapa langkah, " ucpa Mariska menenangkan Kinar, mengelus punggung kinar dengan lembut.
seperti menenangkan seorang bocah yang sedang sedih, namun terbukti tangis Kinar akhirnya reda
"Ma, apa mama terjatuh setelah kinar pergi???" tanya Kinar menatap wajah wanita itu
"Bukan sayang, mama hanya kurang hati-hati hingga terjatuh, tak ada hubungannya denganmu" ucap.Mariska berkilah
"Kapan kamu kembali ke Jerman??"
"Besok ma, apa mau seharian ini menemani Kinar jalan-jalan??" tanya Kinar menatap penuh harap pada Mariska
__ADS_1
"Tentu saja mau, kapan lagi mama bisa jalan sama dokter cantik.
Nak mama sangat bangga padamu.
Owh ya kenalkan ini mba Siti yang merawat mama"
Kinar" ucap Kinar mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Siti
"Siti" ucap wanita muda yang terlihat seumuran dnegan Kinar.
"Kinar masih menata masa depan ma, masih on the way menuju cita-cita Kinar.
Kinar mohon doa dan restu mama ya??" ucap Kinar manja
"Tentu sayang, tanpa kamu minta mama sebagai Orangtua akan selalu mendoakan kamu, restu dan doa mama selalu mengiringi langkahmu" ucap Mariska membelai rambut panjang Kinar
"Makasih ma, oh ya mama mau pesan apa?? tanya Kinar.
Mereka lalu makan siang bersama, setelah itu mereka memilih menuju sebuah mall, kinar ingin membelikan beberapa potong pakaian untuk Mariska, sebagai permintaan maaf karena ia sampai tanah air tidak membawa apapun untuk cinderamata umat Mariska
Mereka berdua juga menikmati waktu kebersamaan mereka dengan bermanja diri di salon melakukan perawatan bersama.
"Mba, sejak kapan mama saya seperti itu??" tanya Kinar ingin mendengar kebenarannya dari suster yang merawat Mariska
"Itu, anu non , sejak lima tahun lalu.
Saya sih gak tahu persis kapannya, cuma denger dari asisten rumah tangga, ibu jatuh pingsan karena menantunya pergi ke negeri orang dan lama akan kembali"
Deg
Kinar merasa hatinya di remas dengan kuat, sakittttt,
Mariska menyembunyikan kenyataan jika sakitnya ia karena shock di tinggalkan Kinar menimba ilmu di luar
negri dalam waktu lama
"Ibu setiap malam tidur di kamar yang dulunya kamar menantunya, kadang terdengar ibu menangis, saya gak berani mendekat karena tak tahu harus berbuat apa" ucap Siti suster yang merawat Mariska
Mendengar itu Kinar merasa bersalah, karena perceraiannya bukan hanya menyakiti dirinya tapi wanita yang menjadi mertuanya itu.
Kinar merasa sangat berdosa pada mama mertuanya
__ADS_1
"Apa mama selalu makan teratur mba?" tanya Kinar sudah menitikkan air mata
"Sangat susah makan non, kadang kalau lapar sekali baru mau, itu pun di paksa, kondisinya makin drop saat..." Siti tak berani meneruskan ucapannya, ia menatap Kinar yang sudha berlinang air mata
"Saya adalah menantu,. mantan menantu mama Mariska" ucap Kinar seakan tahu maksud tatapan Siti, wanita itu membekap mulutnya, ia terlalu banyak berbicara.
"Ma..maafkan saya non, tolong jangan beritahu ibu kalau non tahu dari saya" ucap Siti menangkup kedua tangannya memohon
"Mba Siti, saya justru berterima kasih sama mba karena sudah merawat mama mertua saya dengan baik, terima kasih man, kedepannya saya mohon bantuan mba menjaga dan merawat mama saya, karena saya harus kembali ke Jerman meneruskan pendidikan saya" ucap Kinar memegang tangan Siti.
Siti tertegun, seorang anak majikan malah bersikap sangat menghormatinya, ia tersanjung.
Siti kini mengerti kenapa majikanya itu sangat menyayangi mantan menantunya, wanita ini luar biasa dalam pandangan mata Siti
"Non jangan sungkan, sudah kewajiban saya"
"Ini, ini kartu nama saya. saya akan menambah kan gaji mba Siti setiap bulannya, tapi saya mohon mba bersedia merawat mama sebaik mungkin"
"Saya gak bis Nerima uang non Kinar, karena saya sudha terikat kontrak kerja dengan gaji yang cukup dari Bu Mariska, saya gak mau serakah non" ucap Siti
"Mba, ini sebagai bentuk terima kasih mba sudha merawat mama, walau saya bukan lagi menantu beliau, saya sudha menganggap beliau mama kandung saya sendiri, sebagai anak saya gak berbakti dan hanya ini yang bisa saya lakukan, saya mohon mba,
Tolong rahasiakan ini dari semua orang, please mba" Kini gantian Kinar yang memohon dengan wajah sedih, Siti dengan ragu mengangguk.
"Besok kita bawa mama jalan-jalan mba, tolong persiapkan semua, kita akan menginap di vila keluarga saya di Bali"
"Bukannya non Kinar besok sudah kembali ke Jerman?" tanya Siti menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Saya batalkan, saya akan tinggal selama seminggu lagi di sini" ucap Kinar penuh keyakinan.
Tak ada salahnya ia tinggal lebih lama di tanah air
"Apa anda serius non??" tanya Siti tak yakin
"Tentu saja, sekali-sekali menyenangkan orangtua tak mengapa, karena aku akan kembali sekitar empat atau lima tahun mendatang, selama itu bisakah aku percayakan mama mertuaku padamu mba Siti??"
Mengapa non Kinar begitu percaya padaku padahal kita baru kenal?"
"Karena aku percaya, setiap anak seperti kita sangat ingin membahagiakan orangtuanya, kalaupun tidak bisa membuat mereka bahagia, memastikan mereka sehat dan terjaga baik, itu sudah cukup membuat kita bahagia" ucap Kinar tersenyum kecut.
Siti merenungi kalimat Kinar dan ia setuju sepenuhnya dengan perkataan Kinar, tanpa wanita itu minta ia kaan mengabdikan dirinya untuk merawat Mariska.
__ADS_1