
Kinar dan Dimas sudah sampai di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah, rumah tersebut tak lain adalah kediaman kedua orangtuanya Kinar, Pak Udin satpam rumah Kinar yang melihat kedatangannya segera membukakan pintu gerbang, mengangguk hormat pada Kinar, Kinar membalas tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.
Dimas tak mengerti mengapa Kinar harus bersikap seperti itu pada seorang security, orang itu memang di pekerjakan untuk menjaga dan membuka gerbang, namun istrinya bersikap sangat sopan padanya.
Setelah memarkirkan mobilnya Dimas keluar memandang sekeliling bangunan di depannya, walau terlihat mewah namun hanya dua mobil saja yang terparkir di garasi, Dimas mengerutkan alisnya,
"Apakah mereka hanya punya dua mobil???? di lihat dari rumahnya aku yakin mereka orang berada, apa mereka jatuh miskin??? itu lebih masuk akal karena Kinar saja sampi harus menjual dirinya dengan menikahi ku.
Aku harus mencari tahu kemana uang itu di gunakan oleh Kinar, namun saat ini aku tak mau bertanya pada Kinar, hubunganku dengannya baru di mulai, kau tak mau menjadi buruk lagi hanya karena uang itu” gumam Dimas dalam hati
"Mas, kok bengong??? ayo masuk" ajak Kinar menggandeng tangan suaminya
"Oleh-olehnya sayang" ucap Dimas teringat beberapa buah tangan yang ia beli di jalan
"Owh iya, aku lupa mas"ucapnya langsung membantu suaminya membawakan beberapa buah tangan untuk adik dan juga kedua orangtuanya.
Kinar membunyikan bel pintu, ia menunggu dengan tak sabar, tak berapa lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar , Kinar langsung memeluknya erat
"Assalamu'alaikum ma, ucapnya meriah tangan Anggi dan menciumnya lalu mendekapnya erat
Dua Minggu lalu mereka baru bertemu ketika menemani Anggi operasi, namun Kinar merasa sudah sangat lama dan ia sangat rindu mamanya
"Sayang, kamu kok datang gak kasih kabar???" tanya Anggi balas memeluk putrinya
Dimas memperhatikan mama Kinar, beliau wanita yang sangat anggun seperti istrinya, namun masih terlihat cantik walau usianya sudah menginjak lima puluh tahun, .
"Owh ya nak Dimas, apa kabar???" tanya Anggi menyapa mantunya
"Alhamdulillah baik ma, mama apa kabar??? maaf Dimas baru bisa menjenguk mama sekarang" ucap Dimas mencium punggung tangan mama mertuanya
"Gak apa-apa, Kinar sudah cerita kamu sibuk bener , ayo masuk. kebetulan mama lagi buat combro , mama teringat kamu jadi buat cemilan kesukaan kamu, eh ga taunya kamu kesini" ucap Anggi mengelus puncak kepala putri sulungnya itu
"Ma ,malu ada mas Dimas” ucap Kinar melirik suaminya sekilas, Anggi ikut melihat kearah Dimas dan tersenyum
"Biasanya Kinar tuh manja sama mama, karena ada kamu dia malu" ucap Anggi membuka kebiasaan Kinar
"Mama,.." ucap Kinar dengan wajah bersemu merah karena malu
” Silahkan duduk nak Dimas, mama buatkan minum dulu ya" ucap Anggi namun Kinar segera memegang tangan mama nya
__ADS_1
"Mama duduk ngobrol aja sama mas Dimas, aku buatkan minumnya" ucap Kinar lalu langsung berjalan menuju dapur
"Mama kamu apa kabar nak?? maaf ya mama belum mengucapkan terima kasih pada mamamu karena mamamu meminjamkan uangnya Tante bisa operasi.
Mama sebenarnya malu, baru saja jadi besan sudah merepotkan" ucap Anggi lirih
"Jadi uang itu buat pengobatan mamanya???? selama ini aku berfikir jika Kinar matre dan memanfaatkan mamaku, walau ku lihat ia sederhana sehingga aku tak berfikir kesana” gumam Dimas terkejut
"Nak Dimas???" panggil Anggi karena melihat Dimas terdiam
"Iya ma, jangan seperti itu, kita kan sudah menjadi keluarga, mama juga mama Dimas" ucap Dimas tersenyum lebar, Anggi merasa lega, ia menggenggam tangan mantunya, dengan mata berkata-kaca ia mengucapkan terima kasih
"Terima kasih nak, terima kasih. Kami akan usahakan membayarnya, tapi mama harap sedikit bersabar ya” ucap Anggi lega
"Ma, anggap saja mama sudah membayarnya. Dimas tak akan menagihnya ma, sudah kewajiban Dimas sebagai anak mama juga” ucap Dimas
"Tidak nak, mama...". Dimas langsung memotong ucapan mertuanya
"Dimas akan marah jika mama menggantinya, Apa mama tidak menganggap Dimas orang lain???” ucap Dimas berpura-pura marah walau dalam hatinya ia merasa sesak dan ada getir terasa disana
Bagaimana dia bisa menuduh Kinar yang tidak-tidak, Dimas merasa bersalah pada istrinya itu.
Amera gadis kecil yang pemalu, terutama dengan orang yang baru di lihatnya, sejak Anggi sakit, Amera lebih dekat dengan Kinar, karena Kinar yang merawat Amera sejak kecil.
"Sayang, ayo Salim sama om Dimas" ucap Anggi yang melihat putri bungsunya bersembunyi
Dengan malu-malu Amera maju dan bersalaman dengan Dimas, kemudian berlari kecil ke arah Kinar lagi, Kinar menggendong adiknya itu ,lalu duduk dan memangku Amera dalam pangkuannya.
"Raffa dan Raffi kemana ma?" tanya Kinar yang tidak melihat kedua adik kembarnya itu
"Mereka sedang berenang, sejak kemarin merengek minta berenang. Aisya yang mengantar mereka berenang, tahu sendiri sekarang adikmu sudah sekolah menengah pertama, mereka awalnya tidak mau kakaknya ikut, namun mama memaksa, mama khawatir pada si kembar jika pergi berdua saja" ucap Anggi
”Kalau Reyhan kemana ma?” tanya Kinar kemudian
"Rey bantu papamu di kantor nak" ucap Anggi , ada kesedihan dalam suaranya.
Dimas mengerutkan alisnya ia menatap istrinya seolah bertanya pada Kinar, namun Kinar memilih mengalihkan pandangannya pada adik bungsunya
Dimas penasaran mengapa di hari minggu pun papa dan adiknya masih ke kantor, Dimas mencium sesuatu yang janggal
__ADS_1
Anggi pamit ke dapur, dan Kinar pun pamit pada suaminya untuk membantu mama nya di dapur.
Kini tinggal si kecil Amera yang di minta menemani Dimas, walau ia masih sedikit takut namun ia hanya bisa duduk memeluk boneka pemberian Dimas erat
"Apa kamu menyukai bonekanya?” tanya Dimas lembut karena takut anak ini takut
”Hum, suka, Amera cuma punya satu boneka yang cantik. itu juga dari kak Aisya waktu kecil" ucap Amera dengan suara lucunya
"Apa kamu mau om belikan lagi boneka yang cantik???” tanya Dimas
"Makasih om, Amera gak boleh serakah, satu saja cukup. Uang harus di tabung " ucapnya dengan mimik muka serius
"Siapa yang beritahu begitu?" tanya Dimas tersenyum
"Kak, Kinar, mama juga bilang begitu”
"Terus Amera mau apa lagi?” tanya Dimas berusaha dekat dengan gadis kecil cantik itu.
Gadis kecil itu seperti boneka Barbie, cantik dan mungil.
terlihat Amera berfikir sejenak lalu berteriak senang
”Mau ice cream om, kemarin Gabby pamer ice cream banyak, Amera gak di kasih” ucapnya dengan wajah berubah sedih
"Baiklah om akan belikan, bagaimana sore nanti kita ke mall beli ice cream sekalian kita ke tempat bermain. Amera mau???”
"Mau om mau" ucapnya meloncat loncat kegirangan,
"Baiklah, nanti sore om sama kak Kinar akan bawa kamu jalan-jalan” ucap Dimas senang melihat keceriaan Amera.
Dimas sebenarnya tidak menyukai anak kecil, namun begitu melihat Amera ia sangat suka dan malah membayangkan jika ia memiliki anak dari Kinar pasti akan sangat bagus.
”Argh apa yang ada di otakku??? mengapa aku malah membayangkan punya anak dengan Kinar????
ini semua gara-gara mama" Dengus Dimas memijit kepalanya
Akhirnya mereka makan siang bersama, Satria juga Reyhan pulang kantor karena mendapat kabar jika Kinar dan suaminya mengunjungi mereka.
Dimas menatap wajah-wajah keluarga istrinya, mereka terlihat sangat bahagia melihat Kinar pulang. terlihat sekali keluarga ini begitu harmonis dan saling menyayangi.
__ADS_1
Namun setelah Dimas perhatikan, ada yang janggal, wajah Kinar tidak seperti mama , papa atau adik-adiknya. wajah Kinar.....