
Setelah acara resepsi Adam yang melelahkan, akhirnya mereka memutuskan liburan keluarga, mumpung mereka masih di Bandung dan Kinar belum kembali ke Jerman.
Sementara Ridwan dan istrinya sudah kembali ken Jerman terlebih dahulu karena tugas mereka sebagai dokter, walau pemilik rumah sakit dimana mereka bekerja, namun dedikasi mereka dalam dunia kedokteran patut di acungi jempol.
Satria dan keluarganya serta Nugraha dan istri serta anak dan menantu barunya juga ikut.
Tak ketinggalan Adji dan istrinya serta Wawan dan Arfan ikut juga dalam liburan tersebut.
mereka memilih menginap di villa.
Awalnya Arfan menolak diajak oleh kedua orangtuanya, namun Sinta memaksanya, sehingga akhirnya Arfan ikut walau dengan setengah hati karena ia khawatir keberadaanya akan membuat Kinar tak nyaman, mengingat wanita itu terakhir kali mengusirnya pergi, Ia menduga jika Kinar sangat membencinya karena kejadian tempo hari yang hingga detik ini masih ia sesali
Arfan hanya berusaha menghindar, ia memilih menyendiri, di kejauhan ia memperhatikan Kinar yang terlihat sangat bahagia dan kompak dengan para saudara dan saudaranya.
Ternyata seperti yang ia dengar dari Wawan jika Kinar tidak seperti pemikirannya.
Sejak kejadian itu Wawan masih marah pada Arfan, bahkan adik nya itu hanya mengucapkan sepatah dua patah kata dan tidak sedekat dulu lagi, ia tahu jika Wawan masih kecewa dengan apa yang ia lakukan.
Namun nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa di ubah lagi, namun Arfan berjanji dalam hatinya , ia tak akan gegabah lagi menilai orang menurut pemikirannya sendiri.
Semua keluarga sibuk dengan urusan masing-masing , sementara Kinar sedang asik memetik buah Strawberry dan memakannya, ia terlihat seperti anak kecil yang memperoleh mainan, matanya berbinar senang, sesekali ia tersenyum dan memakan buah strawberry dengan ekspresi lucu, terlebih saat ia mendapati yang masam.
Di kejauhan Arfan tertawa melihat kekonyolan Kinar, ia tak menyangka Kinar memiliki sisi lain dari dirinya, biasanya ia akan melihat Kinar yang tenang dan dewasa, berbeda sekali dengan dirinya saat ini.
Kinar tak sengaja melihat lurus dan pandangannya terpaku pada Arfan, kedua mata mereka saling bertemu, namun Kinar buru-buru memutuskan pandangannya dan bersiap pergi, ia merasa wajahnya memerah karena malu
"Apa pria menyebalkan itu melihatku sejak tadi???
Dasar aneh, senyum-senyum sendiri seperti orang gila, dasar cowok gak normal" umpat Kinar sambil berjalan menuju villa.
Kinar terus menggerutu hingga ia tak melihat kedepan dan
__ADS_1
Bruggh
Tubuh mungil Kinar tertabrak tubuh tegap tinggi milik Reyhan, Rey yang melihat kakaknya hampir terjatuh karena bertabrakan dengannya, secepat kilat menarik kakaknya, membantunya mendapatkan keseimbangannya lagi
"Ya Allah Rey, hati-hati kalau jalan, kakak gede gini masih kamu tabrak" gerutu Kinar sambil memegangi dadanya yang terkejut
"Kak, bukan Rey kak, tapi kakak yang nabrak Rey.
Kok jadi kak Kinar yang marah" protes Reyhan tak terima. Jelas-jelas kakaknya itu yang menabraknya, namun malah Reyhan yang kena semprot
"Oh iya kah, maaf de"
"Tau ah, lagian kakak mikirin apaan sih sampai bengong gitu, Rey Segede ini masih aja gak keliatan kakak tabrak"
"Gak mikir apa-apa"
"Apa???? gala.da pikiran???" goda Reyhan sengaja mau membuat Kinar marah
"Enak aja, gak ada pikiran artinya kakak gila" protes Kinar tak terima
"Mau tahu aja urusan orang" ucap Kinar langsung berjalan meninggalkan Reyhan
"Kak, kak Kinar, ditanya malah pergi" Reyhan langsung mengikuti kakaknya yang tertawa lirih sengaja mengerjai Reyhan, karena ia tahu Reyhan tipe orang yang sellau pasaran dan akan berusaha. mencari tahu
Brugh
Kali ini giliran Reyhan yang tak melihat mamanya sedang berjalan dengan papanya karena tikungan Reyhan tergesa-gesa dan tak melihat, wal hasil tubuh Anggi terpental kebelakang, beruntung Satria berhasil menariknya hingga Anggi jatuh di pelukan suaminya
"Astaghfirullah reyhaaaaan, apa kmu gak punya mata??? untung mama gak apa-apa" teriak Anggi dan Satria bersamaan
"Heheh kompak"
__ADS_1
"Kompak kepalamu gundul, dasar anak suka cari ulah" Mel Satria menjewer telinga putra sulungnya
"Pa, sakit pa, maaf Rey gak sengaja pa, ma"
ringis Reyhan memegangi kupingnya yang di jewer Reyhan
"Bagaimana kalau Adik atau kakak kamu yang kamu tabrak trus jatuh?? lain kali kalo jangan lari, apalagi tikungan, bahaya"
"Iya ma ,ini semua ulah kak Kinar, dia mengerjai ku" adu Reyhan. namun Kinar langsung memasang wajah sedih
"Loh kok kakak yang kena, kamu yang nabrak mama juga, kenapa jadi kakak yang salah.
Lin kali kalau jalan lihat-lihat dong.
marahin aja tuh ma, pa, Reyhan emang gitu" ucap Kinar mengompori, ia puas tertawa melihat Reyhan kena omel kedua orangtuanya
Reyhan hanya bisa pasrah selama setengah jam kena ceramah mama dan papa nya, ia hanya menunduk dan melempar sorot kesal pada Kinar.
Saat Anggi sudah puas marah, Kinar datang dengan beberapa.cangkir coklat panas andalannya dan cappucino spesial untuk adik tersayangnya , dan bolen yang ia beli tadi pagi saat belanja ke mini market di sekitaran villa
"Makasih sayang, kamu tahu aja kalau mama haus karena mengomeli si Rey ini"
"Rey ini kakak buatkan cappucino terbaik di dunia, ekstra cream" bisik Kinar menyogok adiknya
Reyhan tetap Dian tak menggubris ucapan Kinar, ia masih kesal Kinar mengerjainya hingga ia harus mendengarkan Omelan mamanya, hingga rasanya kupingnya bengkak
"Ah sayang sekali, padahal kakak buat dengan penuh cinta, kental dan kesukaan adik ku tersayang, tapi sayang dia gak suka, Raffa...."
"Borok sikut, udah ngasih di ambil lagi" ucap Reyhan langsung mengambil capuccino dari tangan Kinar sebelum kakaknya itu berikan ke adik kembarnya
Kinar hanya tersenyum walau dalam hatinya bersorak girang karena berhasil mengerjai adiknya
__ADS_1
Kinar akan merindukan saat-saat ini, berkumpul, bersenda gurau dan mengusili adik-adiknya, namun cita-citanya masih setengah jalan, ia harus tegar hidup jauh dari keluarganya demi impiannya.
Keesokan harinya mereka kembali ke Jakarta, karena besok Kinar harus kembali ke Jerman di karenakan liburannya telah usai, ia harus bergaul dengan buku-buku tebalnya juga pasiennya,