
Bella menatap bingung kepergian seluruh anggota keluarganya, ia merutuki dirinya yang bodoh, kini pasti semuanya keluarganya sangat membencinya, terutama papanya yang biasanya membela dirinya kini terlihat dingin menatap Bella.
Bella menyalahkan Adik tirinya itu, gara-gara mereka ia jadi lepas kendali, tapi bukankah ia memang selalu lepas kendali dan seluruh keluarganya selalu memaklumi?? tapi sekarang???
Bella ingin menyusul mereka kerumah sakit, namun ia tak tahu rumah sakit mana yang mereka tuju, akhirnya, Bella hanya duduk pasrah menyesali perbuatannya.
Bella sebenarnya sangat sayang dengan mamanya, namun sejak adanya David mamanya seakan melupakan dia, hanya ada papa tirinya yang super baik selalu berdiri di sampingnya.
sesungguhnya bela iri dengan kedua adik tirinya, ia juga ingin di perhatikan seperti dulu, namun caranya yang salah membuat mamanya seakan menjaga jarak dengannya.
Bella lalu berdiri dari duduknya, ia langsung menarik koper nya membuat asisten rumah tangga dirumahnya bingung
"Loh mba, mau di bawa kemana kopernya?" tanya si asisten rumah tangga
Bella menoleh sejenak, ia terdiam karena jujur ia tak tahu harus kemana lagi, hanya rumah ini tujuannya kembali, namun setelah kejadian ini, ia yakin semua orang akan membencinya dan ia sudah tak mau menetap disini
"Jika papa bertanya katakan saja aku menginap di rumah teman"ucap Bella kembali meneruskan langkahnya, Dua koper besar ia tarik dengan susah payah, hingga ia berhenti di depan pintu rumahnya, security yang membantunya mengangkat koper tadi menghampiri Bella
"Loh mba Bella mau kemana? baru juga sampai" tanya Pak Udin security yang sudah bekerja puluhan tahun di rumahnya
”Pak Udin, Bella mau minta tolong, panggilkan taxi ya, Bella mau menginap di rumah teman" ucap Bella berusaha menyunggingkan senyum, Pak Udin terkenal ramah dan baik padanya, hingga Bella menaruh hormat pada pak Udin
"Non pasti bertengkar ya sama den David dan Mirna???” tanya pak Udin tiba-tiba
Bella hanya menggeleng lemah
"Bapak kasih tahu ya non.
Semenjak Non pergi, ibu sakit-sakitan sampai terserang struk. Ibu non sayang banget sama non, hanya saja non selalu menganggap ibu non pilih kasih.
setelah mendengar non akan pulang, ibu non langsung sehat dan bisa berjalan, walau masih tertatih-tatih.
mengalah lah sedikit dengan adikmu, jangan kau but ibumu sedih diantara dua anak” ucap pak Udin menepuk bahu Belle lembut
ucapan ok Udin membuat hati Bella kosong, selama ini ia yang sudah di butakan rasa cemburu, ia harusnya bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya.
__ADS_1
Baru beberapa bulan lalu ia kabur hanya karena egonya, mencoreng muka orangtuanya karena meninggalkan negara ini beberapa hari menjelang pernikahannya, masih pantaskah ia berada di rumah ini dan berharap kasih sayang dari kedua orangtuanya???
Bella terduduk, tubuhnya tak bertenaga, ia menangis tersedu-sedu
Entah berapa lama ia menangis, Pak Udin yang melihat dari kejauhan hanya menghela nafas dan menatap kasian pada Bella.
Masa Kecil yang sulit karena di tinggal papa kandungnya,membuatnya haus kasih sayang.
Taxi sudah berada di luar, pak Udin sudah memberitahukan kepergian Bela kepada Marwan.
Marwan meminta Pak Udin membiarkan saja Bella pergi, untuk saat ini biarkan Bella merenungi kesalahannya, ia selama ini sudah salah mendidik Bella, ia harus tegas kali ini, Marwan hanya meminta pak Udin agar memberitahu pada supir taxi, agar mengirimkan alamat dimana anaknya turun.
Bella meraih ponselnya, entah mengapa yang ia ingat hanya nomor telepon Dimas,
Dengan ragu-ragu Bella menghubungi Dimas, ia tak yakin Dimas mau mengangkat teleponnya
"*Hallo...” suara bas seorang pria terdengar di ujung telepon, suara yang selalu ia rindukan, pria yang pernah ia sia-siakan
Tak ada jawaban dari Bella, ia bingung harus mengatakan apa-apa
”Hallo????” terdengar suara lagi di ujung telepon
”Apa mau mu?" tanya Dimas dingin
"Mas, aku di usir dari rumah, aku tak punya siapa-siapa, izinkan aku memakai apartemen mu mas beberapa Minggu sampai aku punya uang” ucap Bella memohon
"Apartemen??? Apa kau di Indonesia juga???? kenapa kau kembali?” tuntut Dimas terdengar tak senang
"Mas, mama sakit, aku kembali untuk menjenguk mama, namun adik tiriku membuat ulah sehingga aku harus pergi dari rumah.
sekali ini saja aku mohon bantuan mu” ucap Bella memelas belas kasihan Dimas, Dimas terdengar mendengus pelan, hening
”Segera ke apartemen, aku akan beri kuncinya padamu"ucap Dimas singkat
"Aku sudah berada di depan apartemen mu"
__ADS_1
"Hufh, baik" ucap Dima menghela nafas lalu mematikan panggilan teleponnya*.
Satu Jam Kemudian
Dimas tiba di apartemennya, dari kejauhan ia melihat Bella yang duduk di depan pintu apartemennya dengan dua koper besar, mukanya yang pucat serta penampilannya yang acak-acakan, semua orang yang mengenal Bella pasti tidak akan pernah menyangka akan melihat Bella berantakan seperti ini
"Eheemm" dehem Dimas menyadarkan lamunan Bella
”Mas,..." ucap Bella segera merapihkan rambut dan pakaiannya
Dimas menyodorkan kunci apartemennya, ia memperhatikan mantan kekasihnya itu, se benci apapun ia, bohong jika wanita ini tak membekas dihatinya, Dimas nyatanya masih perduli padanya.
"Sudah makan???"tanya Dimas kemudian
”Sudah” ucap Bella berbohong, padahal ia belum makan apapun sejak turun dari pesawat
”Masuklah, aku akan kembali beberapa menit lagi"ucap Dimas lalu melangkah pergi.
Bella terdiam bengong tak mengerti maksud Dimas, namun beberapa saat kemudian senyuman tersungging di bibirnya
"Dia masih perduli padaku” ucap Bella lirih, hatinya sangat senang.
Bella mendorong kopernya masuk ke dalam apartemen Dimas, bau maskulin memenuhi ruangan.
Apartemen ini dulunya di tinggali oleh Dimas, waktu mereka masih pacaran, bahkan mereka merencanakan akan tinggal di apartemen ini setelah menikah.
Senyum Bella kemudian berubah masam, ia merasa sangat bodoh karena meninggalkan Dimas, lelaki yang baik hati dan super pengertian itu.
Tak terasa air matanya menetes, penyesalan tiada gunanya lagi, ia merasa harus menebus kesalahannya dan menduga jika Dimas masih mencintainya, gak mungkin dalam waktu yang singkat Dimas bisa mencintai istrinya.
Bella akan merebut kembali Dimas yang memang miliknya.
Bella berjalan menuju kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, setelah dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang melilit di tubuhnya yang langsing
Bella merasa sangat haus, ia belum berpakaian segera menuju dapur untuk mengambil minum, ia menuangkan jus jeruk dari dalam lemari pendingin, meneguknya hingga habis.
__ADS_1
Tepat setelah itu, Dimas masuk kedalam apartemen, Bella terkejut, begitu pula Dimas, pemandangan di depannya membuat Dimas menelan Saliva nya dengan sulit.
wanita yang pernah hampir menjadi istrinya itu, kini berdiri dengan hanya memakai handuk, dengan rambutnya yang masih basah tergerai menampilkan keseksian tersendiri