Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Kecelakaan Atau...????


__ADS_3

"Tolong, tolong, tolong ada ibu-ibu jatuh"


Teriakan seorang pemuda membuat tempat itu dengan cepat di penuhi orang-orang yang penasaran, ada yang ingin menolong ada juga Yaang hanya menonton atau malah mengambil foto wanita tua itu, seolah jiwa kemanusiaan mereka sudah mati, mengabadikan penderitaan di depannya tanpa ada rasa empati sedikitpun, begini lah protes sesungguhnya di negeri ini


Seorang pria setengah baya memeriksa kondisi wanita tua itu lalu segera meminta petugas keamanan memanggil ambulance, wanita ini masih bernyawa walau sangat lemah. ia melarang siapapun memegangnya karena takut malah memperparah cideranya.


Seorang pria berbadan besar dengan mudah menyeruak keramaian, dengan tubuh besar tingginya, ia mampu menyingkirkan kerumunan untuk melihat apa yang terjadi, betapa ia terkejut melihat siapa yang terbaring di sana


"Bu, Bu Mariskaaaaa??? teriaknya langsung mendekati tubuh Bu Mariska yang tak berdaya dan darah ada di sekitarnya, sepertinya ia terjatuh dari tangga. Dendi memaki dirinya sendiri yang tak bisa menjada bos nya sekaligus ibu angkat nya itu


"Maaf mas, sebaiknya jangan disentuh, saya takut malah menambah cideranya, sebentar lagi ambulance datang" ucap si bapak menenangkan Dendi yang berniat mengangkat tubuh Mariska.


Dendi bersimpuh seperti anak kecil, menangis.


Ia tak perduli bagaimana orang memandangnya, ia sangat khawatir dengan ibu angkatnya itu


"Bu, bertahanlah Bu,, ambulance akan segera datang. ucap Dendi lirih dengan suara parau.


Terdengar suara ambulance mendekat, tak lama mereka sampai dan langsung membawa Mariska menuju rumah sakit, Dendi terus menggenggam tangan Mariska yang lemah.


Ia merasa gagal menjadi asisten Mariska, ia gagal sebagai anak melindungi ibunya.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, tim dokter segera melakukan tindakan darurat karena melihat luka yang di derita Mariska.


Dendi sudah mengabari Dimas, mungkin sebentar lagi Dimas akan tiba di rumah sakit, Dendi mengusap wajahnya kasar. Harusnya ia bersikeras ikut Mariska ke atas. Dendi merasa semua tidka mungkin kebetulan adalah kecelakaan, pasalnya Mariska bersama Bella wanita ular itu. Ia sangat yakin jika kecelakaan ini ada hubungannya dengan wanita itu.


Dendi langsung menghubungi anak buahnya, meminta mereka memeriksa cctv yang ada di mall tersebut, tidak akan sulit karena mall tersebut merupakan milik Mariska. Dendi juga meminta anak buahnya mencari keberadaan Bella, ia sangat curiga pada wanita itu.


Ditambah, saat memegang tangan Mariska di ambulance ,ia melihat jika jari tangan Mariska terluka dan kuku jari telunjuknya patah, pasti terjadi sesuatu sebelum ia terjatuh, Dendi harus menyelidiki itu.


Dimas sampai di rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruangan operasi, terlihat Dendi dengan wajah lusuhnya menunduk penuh rasa bersalah


Bugh


sebuah bogem mentah mendarat di wajah tampan Dendi, namun Dendi hanya diam , pasrah menerima bogem mentah dari Dimas, dari sudut bibirnya mengeluarkan darah mengadakan kencangnya tonjokan Dimas mendarat di wajahnya.


"Loe ngapain aja hah, jaga mama aja gak bisa???

__ADS_1


loe asisten pribadi mama, tapi bisa gak tahu kalau mama kecelakaan.


Apa loe masih anggap mama adalah mama loe, setelah kejadian ini?.


Loe gak bisa melindungi mama Den, Gue kecewa sama loe, apapun alasan loe" ucap Dimas yang jatuh terduduk di sebelah Dendi, keduanya kembali tenang, mereka tak mau di usir dari sana


Satu jam kemudian ruang oeprasi terbuka, Dendi dan Dimas langsung menghampiri dokter yang menangani operasi Mariska, dokter menjelaskan secara singkat jika operasi Mariska berjalan lancar dan hanya tunggu perkembangannya.


Karena Mariska mengalami geger otak, tulang tangan dan bahunya serta kakinya patah, dokter hanya menyimpulkan jika itu karena gaya dorongan, bukan semata-mata karena terjatuh mengingat parahnya pasien.


Dimas maupun Dendi terduduk lesu, air mata menetes dari sudut mata keduanya


"Loe harus tanggung jawab Den, mama jadi seperti ini" ucap Dimas lirih


"Gue yang salah, gue akan cari penyebab ibu bisa jatuh" ucap Dendi mengepalkan tangannya.


Di kejauhan terlihat Damar yang berlari mendekat kearah mereka


"Bagaimana kak, mas, keadaan mama?" tanya Damar


"Operasinya sudah berhasil, tinggal menunggu mama sadar" ucap Dimas lirih


dua orang perawat terlihat mendorong sebuah tempat tidur dimana Mariska terbaring diatasnya setelah operasi, terlihat ia belum sadarkan diri, selang oksigen dan infusan terpasang di tubuhnya, Dimas, damar dan Dendi mengikuti perawat tersebut menuju ruangan perawatan intensive.


Mariska di masukkan ke ruangan intensive, memasang alat di dada Mariska kini banyak alat menempel di tubuhnya yang pucat membuat ketiga pria yang melihatnya dari balik kaca menyesakan air mata


"Mama..." ucap Dimas lirih. Ia masih teringat mamanya baru saja beberapa waktu lalu menasihatinya, kini ia terlihat tak berdaya di atas tempat tidur itu.


”Ba..bagaimana mama" ucap Kinar yang terlihat sangat shock dengan berita yang di berikan Damar


"Sayang, kenapa kamu bisa disini??" tanya Dimas yang melihat istrinya sangat khawatir, matanya bengkak karena menangis dan wajah cantiknya di penuhi keringat, sepertinya karena sangat khawatir ia lupa jika ia hamil dan berjalan cepat menuju kemari


"Mas, kamu jahat. kenapa kamu gak kasih tahu jika mama kecelakaan?? jika bukan karena Damar memberitahuku, aku tak pernah tahu. Dia mama ku juga mas" ucap Kinar Yeng melihat tatapan tajam Dimas yang diarahkan ke Damar.


Dimas hanya tak mau istrinya shock dan tertekan karena mendengar keadaan mamanya


”Maafkan mas ya sayang, mas hanya khawatir padamu" ucap Dimas lembut menuntun istrinya untuk duduk.

__ADS_1


wanita ini keras kepala, bahkan ia tak sadar jika perutnya sudah membesar masih tetap setengah berlari kesini.


"Kak , minum dulu , Kakak pasti kecapean" ucap Damar menyodorkan air mineral kearah Kinar


"Aku ingin tahu keadaan mama" ucap Kinar menolak


"Dokter masih memeriksa kak, kami belum masuk juga, jika kakak tidak minum, kasian anak kakak pasti haus karena kakak berjalan cepat kesini


"Ya Allah aku sampai lupa jika aku hamil"ucap Kinar menepuk dahinya sendiri, sementara Dimas tersenyum canggung, sambil menggeleng pelan


"Setelah menjenguk mama kamu pulang ya?? biar Damar yang mengantarmu.


Mas yang akan menjaga mama”


"Aku mau Disni menjaga mama juga" ucap Kinar menatap nanar ruangan kaca di depannya


” Apa kau tidak kasihan pada anak kita? kamu sedang hamil sayang, jangan terlalu lelah" ucap Dimas lembut


"Benar kak, sebaiknya kakak pulang saja dengan kak Dimas, biar aku yang menjaga mama" ucap Damar


"Ada saya juga disini mba, gak usah khawatir, damar dan saya yang akan menjaga ibu" ucap Dendi menimpali.


Dimas ingin protes, namun melihat istrinya menurut, akhirnya ia pasrah pulang mengantar Kinar.


Setelah Dimas dan Kinar menjenguk secara bergantian masuk ke dalam ruangan perawatan tersebut, mereka pulang kerumah, kini tinggal Dendi dan Damar


"Sepertinya mas punya alasan membantuku mengusir kak Dimas, pasti mas mencurigai sesuatu" ucap Damar yang sangat dekat dengan kakak angkat sekaligus asisten pribadi mamanya ini


"Kau memang adikku yang sangat cerdas"


"Apa ini suatu pujian untukku kak?" tanya Damar tersenyum


"Bisa dibilang begitu.


Kecelakaan ibu menurut mas tidak wajar,


Mas menemukan jika kuku tangan ibu patah dan ada luka di tangan ibu bukan hanya satu, sepertinya ibu terjatuh karena memperebutkan sesuatu.

__ADS_1


Setelah mas periksa, ada sesuatu yang hilang dari tas ibu"


__ADS_2