
Hari ini Freya sudah di perbolehkan pulang, ia sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat penyangga, walau ia tak suka, namun demi pemulihannya ia harus mau.
karena walinya papanya malah justru meminta Freya duduk manis di kursi roda dan ia yang akan mendorongnya
"Pa, aku belum lumpuh, aku masih punya kaki berjalan walau masih cidera. lagi pula Tante Kinar juga memintaku latihan.
aku akan berjalan dengan bantuan tongkat penyangga daripada harus duduk di kursi itu seperti lumpuh saja" Dengus Freya marah
"Gak apa-apa kok mas, Freya bisa berjalan pelan-pelan ya, kalau Freya sudah gak sanggup, freya bisa istirahat." ucap Kinar lembut.
ia tahu jika Freya tipikal orang yang tak mau di lihat lemah, ia punya ego yang tinggi walau usianya masih sangat belia.
"Iya Tante, Freya akan hati-hati dan pelan aja kok.
Freya tahu kaki Freya belum bisa kembali normal, semua butuh proses." ucap Freya dewasa membuat Kinar menjadi gemas dan mencubit hidung bangir Freya
"Anak pintar, Tante jadi tambah sayang deh" ucap Kinar mencium puncak kepala Freya.
"Tan, tante ikut pulang kan?? Freya bosan di mobil cuma ada papa yang kaku itu" ucap Freya membuat Michael melotot, ia dikatai kaku oleh putri semata wayangnya
"Uhm, Tante masih ada urusan sih, sore nanti Tante harus ke kampus" ucap Kinar tak bisa bohong
"Please, nanti ke kampus nya di antara papa Freya aja.
Tante kan hari ini gak bawa mobil" ucap Freya
"Loh darimana Freya tahu Tante g bawa mobil???" tanya kinar bingung, ia memang sengaja tak membawa mobil karena akan di jemput oleh Rasya, kebetulan Rasya
"Itu...." Freya bingung harus jawab apa, ia tak mungkin mengatakan jika ia memata-matai Kinar dan tahu jadwal Kinar dari kuliah sampai praktek.
dan pagi ini secara kebetulan ia akan pulang, dan Kinar kebetulan sekali tak membawa mobilnya sehingga ada alasan papanya nanti mengantarnya ke kampus.
Makin banyak waktu yang mereka habiskan, makin dekat mereka, siapa tahu cinta akan mengetuk hati Kinar.
"itu Freya nebak aja, kadang Freya kalau nebak suka tepat" ucap Michael menyelamatkan putrinya
"Heheh iya begitu Tan, papa benar" ucap frya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Baiklah, sebentar Tante hubungi Rasya dulu, takut Rasya nya keburu kesini" ucap Kinar.
sebenarnya ia ingin ke toko buku setelah menjenguk Freya, baru dari toko buku di jemput Rasya ke kampus, namun ia tak bisa menolak kemauan Freya, ia tak tega melihat Freya sedih
Kinar membantu Freya berjalan, sementara Michael membawa barang-barang Freya, Kinar yang melihat Michael kesulitan membawa barang Freya yang banyak, mendekati Michael
"Sini aku bawakan"
"Enggak usah, bisa kok" ucap Michael canggung
"Kalau kamu bawa semua gitu, yang ada nanti kamu nabrak tembok, sini ku bantu, daripada celaka" ucap Kinar mengambil dua boneka Freya salah satunya merupakan pemberiannya untuk Freya
"Makasih"
"Gak masalah, aku hanya takut kamu di kira Potter lagi " ucap Kinar menahan tawa, sementara Michael hanya nyengir
Ia tak bisa genit semenjak Kinar tahu ia sudah memili anak, ia tak mau image nya burik di depan Freya walau sejujurnya ingin sekali ia menggoda gadis pujaan hatinya itu.
Sementara di kediaman Lucky
"Apa kamu bilang???" tanya Amara dan lucky serentak
__ADS_1
"Kinar janda ma, pa.
dia pernah menikah dan punya anak.
itu kurang lebih lima tahun atau enam tahun lalu.
Dia bukan wanita baik-baik" ucap Miki
"Miki, mama gak suka kamu menjelekkan dokte rkinar.
Mama tahu kamu ga pernah suka sama dokter Kinar, tapi bukan berarti kamu bisa memfitnahnya" ucap Amara marah
"Benar kata mamamu, dokter Kinar tak terlihat pernah menikah, kalaupun pernah menikah dan cerai, pasti ada sesuatu yang terjadi.
setiap orang mau menikah hanya sekali, tapi kadang takdir berkata lain, jadi kita tak bisa menyimpulkan baik buruknya seseorang dari statusnya" ucap lucky tak senang, karena ia menikah dengan Amara juga bukan seorang perjaka, melainkan duda beranak satu.
walau sebenarnya lucky amat menyayangkan status Kinar, tapi ia gak bisa berfikiran picik.
sejauh yang ia tahu, Kinar adalah wanita baik-baik, cerdas dan sopan
"Aku bicara fakta pa, dia menikahi sama seorang pengusaha bernama Dimas Erlangga" ucap Mikhayla menambahkan
Miki gak mau mundur begitu saja sampai kedua orangtuanya membenci Kinar, dengan begitu tak ada penghalang bagi Miki mendekati Kakak angkatnya , Albert.
"Dimas?? Dimas Erlangga???" gumam Amara, sementara lucky berfikir keras dimana ia pernah mendengar nama tersebut
"Ma, namanya seperti gak asing ya???"
"Iya pa, Dimas, Dimas....." Amara coba mengingat ingat
"Dimas Erlangga itu rekan bisnis aku ma, pa" ucap Albert yang baru tiba di kediaman orangtuanya.
Mereka tak menyadari kedatangan Albert karena sedang serius berbincang
"Ya, Miki benar, Dimas Erlangga rekan bisnis kita adalah mantan suami Kinar.
Mereka sudah bercerai enam tahun lalu.
tapi bukan berarti Kinar bersalah, justru perceraian itu karena kesalahan Dimas"
"Maksud kamu nak???" tanya Amara penasaran
"Mereka menikah karena perjodohan.
Mamanya Dimas meminta tolong pada Kinar untuk menikahi putranya demi nama baik keluarga, karena calon istri Dimas pergi menjelang hari pernikahan mereka.
Mamanya Dimas menawarkan sejumlah uang yang kala itu di perlukan oleh Kinar, mama Kinar gagal ginjal dan kronis harus segera di operasi.
Kinar sangat menyayangi kedua orangtuanya, sehingga ia mengorbankan masa depannya dan menikah dengan Dimas.
Awalnya Dimas membencinya, menyiksanya, namun sifat lemah lembut Kinar meluluhkan hatinya, hingga keduanya jatuh cinta dan Kinar hamil
saat itu datanglah mantan kekasih Dimas yang pergi saat hari pernikahan mereka, ia mengejar Dimas dan berujung Dimas tidur dengan wanita itu dan mengaku hamil.
Dimas yang merasa bertanggung jawab menikahi mantannya itu secara sembunyi-sembunyi, namun mantannya malah berusaha mendekati Kinar dan bersahabat dengan Kinar, hingga akhirnya terbongkarlah semua, Kinar jatuh dari tangga, cideranya cukup parah, ia sampai koma dan kehilangan anaknya, sebulan kemudian ia baru siuman dari koma dan terbukalah semua kebohongan mantan kekasih Dimas, anak yang ia kandung bukan darah daging Dimas, melainkan anak mantan kekasihnya di Paris. Kinar akhirnya di ceraikan Dimas karena ia terjebak lagi dalam permainan mantan kekasihnya.
ia depresi dan baru bangkit setahun belakangan.
saat Kinar kembali ke tanah air pun ia hanya menjenguk mantan mertuanya yang ia anggap mamanya sendiri,
__ADS_1
begitulah cerita Dimas pada kami" ucap Albert mengakhiri ceritanya.
Amara memeluk suaminya dan menangis, sebagai sesama wanita ia tahu bagaimana rasa sakit dan hancurnya Kinar, namun wanita itu tegar dan mengejar impiannya demi menghapus rasa sakitnya.
"Mama.... mama sedih sekali mendengarnya pa.
Kinar, Kinar kasian sekali huhuhu" Amara kembali menangis
"Aku juga bersimpatik pada Kinar, bagiku statusnya tidaklah penting, yang aku tahu dia wanita kuat"
"Apa kau...."
"Pa, jika Kinar menyukaiku, aku mau menjadi suaminya.
bukan krena aku ksian, tapi karena aku yakin dia pendamping hidup yang baik" ucap Albert membuat lucky dan Miki terkejut, namun tidak dengan Amara
"Mama mendukungmu" ucap Amara tersenyum
"Kak, kau gila?? dia janda.
apa kata teman-temanmu nanti jika kau menikahi seorang janda dan pernah punya anak.
di luar sana banyak wanita yang lebih dari Kinar" tentang Miki, padahal ia marah karena bukan ia yang di harapkan Albert
"Teman?? apa Bernard dan Carl yang kau maksud???
come on Miki, mereka malah sudah lebih dulu mengejar Kinar" ucap Albert kesal.
pasalnya ia kini malah di ejek oleh Bernard dan Carl
dulu ia membenci dan meremehkan Kinar, begitu tahu kinar sebenarnya, kini ia ingin bersaing dengan kedua sahabatnya itu.
"Papa rasa kamu juga harus bersaing dengan om mu" ucap lucky tersenyum
"Whaaaattt??? kenapa om ikutan suka Kinar pa???" tanya Albert tak terima.
Dari semua segi Albert menang, tapi dari segi kesuksesan, Albert kalah telak dari om nya.
tapi Albert yakin Kinar tak akan mau dengan pria berumur seperti Michael, terlebih Michael sudah punya anak yang menginjak besar
"Aku yakin aku akan jadi pemenangnya" ucap Albert penuh percaya diri
"Jangan mimpi, mereka saja sekarang sedang masak di dapur bersama" ucap Amara memanasi anaknya
"Apa???yang benar ma? kok bisa?" tanya Albert tak suka
"Freya pulang dari rumah sakit hari ini, kau bahkan melupakan Freya dan tidak menjenguknya begitu tiba di Jerman" ucap Amara memarahi putranya
"Astaga, Albert akan menjenguknya sekarang, pamit pa , ma" ucap Albert mencium tangan papa mama nya, begitu mau jalan, lucky dengan cepat menarik kerah baju Albert
"Eiiitttt Dian dan duduk.
kalau mau bersaing secara sehat, biarkan om mu menikmati harinya dengan Kinar, next baru kau" ucap lucky yang di angguki Amara
"Mengapa Kalina malah mendukung kak Albert dengan wanita itu sih" Dengus Miki kesal
"Memang ada masalah??? selama wanita itu baik, sopan dan berbudi pekerti baik, kami akan setuju.
bukan wanita matre yang gak tahu span santun dan cara menyayangi orang tua" sindir Amara membuat Miki merasa tersenyum dan langsung bungkam seribu bahasa.
__ADS_1
dalam hatinya memaki kedua orangtua angkatnya, denah jari mengepal di bawah meja.
"Siaaalll, kenapa jadi bumerang buat gue?" gerutu mikhayla