Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Pemulihan


__ADS_3

Setelah menikmati memanjakan diri ke salon, makan malam bersama, Kinar mengantar Mariska pulang kerumahnya, wajah wanita itu di hiasi senyum bahagia, senyum yang sudah hilang bertahun-tahun lamanya.


Setelah mengantar Mariska ke.kamarnya, Kinar menuju dapur membuat juice buah untuk Mariska.


Dian yang sangat senang dengan kedatangan Kinar sudah menanti berbicara sedang tadi, ternyata Dian sudah membuatkan dua gelas juice satu buat Mariska dan satunya lagi untuk Kinar


"Mba Kinar Dian kangen" ucap Dian yang kini ikut tinggal di rumah Mariska, memang awalnya Dian tinggal di kediaman Orangtua Kinar, ia meneruskan sekolahnya hingga taman sekolah menengah atas.


Setelah Dimas akhirnya bercerai dengan Bella, Dian yang merasa kasian pada Mariska akhirnya memilih tinggal dengan Mariska atas persetujuan Kinar, tentunya ia tetap melanjutkan pendidikannya.


kini Dian seorang mahasiswi tingkat akhir, wajahnya pun sudah banyak berubah, kini terlihat tambah cantik dan matang.


"aku juga kangen kamu, gimana kuliahnya?? kapan wisuda" tanya Kinar antusias


"Wisuda pertengahan tahun ini, itu pak Satria meminta Kinar kerja di perusahaan beliau tapi ibu Mariska meminta Dian kerja di perusahaanya, Dian bingung mba"


"Ikuti kata hatimu, karena saat kamu nyaman, disana kamu bisa kerja dengan maksimal"


"Tapi kasian ibu Mariska , Dian izin bekerja di perusahaan Bu Mariska aja ya mba"


"Ya terserah kamu enaknya, mba mendukung.


Biar nanti mba kasih tahu papa"


"Makasih mba" ucap Dian lega.


Setelah bercakap-cakap lumayan lama, akhirnya Kinar pamit, ia harus segera pulang karena sudah malam.


Sejak berada di rumah Mariska, tak seorangpun membahas tentang Dimas.


Kinar menduga jika Dimas tidak tinggal satu rumah dengan mamanya dan Kinar tak mau tahu menahu tentang pria yang pernah menjadi suaminya itu


Kinar pulang ke rumah orangtuanya, ia belum menjelaskan perubahan rencananya, berharap kedua orangtuanya tidak keberatan akan niatnya menunda kepulangannya beberapa waktu untuk menghabiskan waktu dengan Mariska.


Ternyata saat tiba di rumah, Satria dan Anggi nampak duduk di ruang keluarga, biasanya pada jam sekarang keduanya sudah masuk ke kamar dan istirahat.


Rupanya mereka seperti sengaja menunggu Kinar


"Mama, papa, kalian belum tidur??"


"Belum sayang, sini duduk dekat mama" ucap Anggi lembut


Kinar lalu duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya, nampak wajah mereka terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa Jeung Mariska baik-baik saja?" tanya Anggi menanyakan kabar mantan besannya


"Baik ma, beliau titip salam buat kalian"


"Alhamdulillah, mama dan papa lega" ucap Anggi tersenyum


"Ma, pa, Kinar tidak jadi pulang besok, Kinar akan pulang seminggu lagi" Anggi dan Satria saling pandang, mereka tak menduga Kinar berubah pikiran, apa ini semua karena ia bertemu Mariska???

__ADS_1


"Kenapa kamu berubah pikiran nak?" tanya Satria TKA bisa menutupi penasarannya


"Pa, ma, Kinar mau minta izin.


Kinar mau menemani mama Mariska selama disini.


Kinar merasa kesehatan mama Mariska yang menurun, ada andil Kinar di dalamnya" kesedihan terlintas di mata putri mereka membuat Anggi sedih


"Nak, semua sudah suratan takdir"


"Benar kata papamu sayang, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri" ucap Anggi membelai rambut panjang putrinya, ternyata keputusannya tepat, ia sengaja tak mengabari keadaan Mariska, bukan karena benci atau tak suka dengan mantan besannya itu, namun semua demi masa depan Kinar.


Jika Kinar tahu mertuanya lumpuh karena struk, sudah bisa ia pastikan Kinar akan kembali sebelum menggapai mimpinya.


"Maafkan kami tidak memberitahumu, semua kami lakukan untuk masa depanmu juga"ucap Satria merasa bersalah


"Kinar gak menyalahkan kalina kok ma, pa.


Oleh karena itu Kinar ingin menebusnya, ingin membuat mama Mariska bahagia saat Kinar di sini"


"Mama mengizinkanmu nak"


"Papa juga" ucap Satria membuat Kinar sangat bahagia.


Ia anak paling beruntung di dunia karena memiliki orangtua seperti mereka berdua.


Keesokan Harinya


Setelah sarapan Kinar langsung menuju kediaman Mariska, Dian yang sudah tahu Kinar akan datang dengan antusias menunggu kedatangan Kinar di teras rumah.


Satria meminta Rey menemani Kinar sekaligus sebagai bodyguard buat para wanita yang ikut dalam mobil tersebut.


Kinar juga mengajak Dian ikut serta, mereka berlima lalu menuju villa keluarga Kinar yang berada di puncak.


Kinar berharap udara yang bersih dan pemandangan alam yang baik, bisa membantu dalam pemulihan mertuanya.


Semalam ia sampai menghubungi dosennya untuk berkonsultasi mengenai Terapy yang baik dan car apenanganan pasien dengan riwayta struk.


selama seminggu ini ia akan membantu Mariska dalam penyembuhannya, sekaligus mengajarkan Dian dan Siti, bagaimana melakukan Terapy di rumah


Kinar menghabiskan liburannya di vila orangtuanya dipuncak lalu lanjut menuju Bali.


Kesehatan Mariska berangsur membaik secara signifikan.


Dokter yang menanganinya pun di buat tak percaya, pasalnya empat tahun Mariska mengalami penyembuhan yang lambat, namun begitu Kinar datang baru empat hari langsung menunjukkan hasil yang memuaskan.


Kinar sengaja tujuan liburannya kali ini adalah Bali, selain berlibur juga berziarah kubur ke makan kakek dan neneknya.


Kali ini Satria mengusulkan mereka sekeluarga akan ikut juga ke Bali, sehingga Kinar merasa sangat bahagia, tidak percuma dia memperpanjang liburannya.


Sesampainya di Bali hari masih pagi, mereka langsung menuju kediaman putu yang kini di tempati oleh Bagus.

__ADS_1


Bagus dan Prapti serta anak mereka sangat senang mendapat kunjungan dari saudara mereka. Akhirnya menjadi pertemuan keluarga.


Setelah beristirahat sebentar mereka semua menuju makan putu, sementara Mariska, Dian dan Siti memilih tinggal di rumah.


Sekembalinya Kinar dari makan, ia langsung mengajak Mariska ke pantai, kebetulan cottage yang merupakan kediaman kakeknya berada di pinggir pantai dengan pasir putihnya yang indah.


Mereka semua bermain di pinggir pantai.


Kinar menuntun Mariska berjalan di pasir pantai, butiran pasir bagus untuk merangsang syaraf kakinya.


Hingga menjelang siang mereka memilih kembali dan hanya duduk-duduk di gazebo yang memang tersedia di sana.


"Nak, apa kamu sekarang bahagia??? mama senang kini kamu banyak tersenyum dan wajahmu cerah"


"Aku bahagia ma, aku telah mengikhlaskan semua sehingga jalan hidupku lebih mudah"


" Mama senang mendengarnya, itu cukup membuat mama lega. Tak ada penyesalan lagi.


Jika Allah mencabut nyawa mama kini, mama ikhlas" ucap Mariska tersenyum lebar


"Mam jangan ngomong gitu, Mama akan sehat dan hidup seribu tahun lagi" ucap Kinar memeluk Mariska


"Amiiinnnnnn"


Setelah makan siang, Mariska memilih masuk ke kamar dan istirahat, walau kondisinya berangsur pulih namun setelah sekian lama tidak berjalan dalam kurun waktu lama membuat kaki dan badannya sakit semua.


Sementara Kinar dan Dian sedang mencuci piring di bantu Aisya, ketiganya nampak seperti adik kakak yang kompak.


Si kecil Amera pun akhirnya ikut membantu karena melihat saudari nya sibuk di dapur sambil sesekali di selingi tawa.


"Seperti mempunyai satu anak perempuan ya pa, lihat Dian kini makin cantik.


Mama sangat menyukai anak itu, dia baik, sopan dan pandai,calon istri ideal"


"Satu lagi ma, dia pintar masak"


"Iya , papa benar.


Mama berharap ia bisa menjadi menantu kita, ya kan pa???"


"Uhuk, uhuk uhuk"


Reyhan terbatuk-batuk mendengar ucapan kedua orangtuanya.


Menantu?? apa mereka berniat menjodohkan Rey dengan Dian, ya walau dian imut dan cantik, tapi gadis itu galak dan judes pada Reyhan.


Bagaimana jika Dian jadi istrinya, bisa-Bisa Reyhan akan masuk dalam group Suami-Suami Takut Istri


Ih enggak banget" gumam Reyhan sambil menggeleng dengan tubuh yang bergidik ngeri


"Loh kamu kenapa Rey??? makannya minum itu pelan-pelan, aneh gitu anak kamu pa"

__ADS_1


"Mungkin Reyhan memang setuju dengan usul kita sayang, nah kan jadi lah Dian menantu kita


"Whaaaattt, pa, ma, gak lucu" teriak Reyhan kesal, ia langsung bangkit dan pergi, sementara Satria dan Anggi tertawa terbahak-bahak


__ADS_2