Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Pergi


__ADS_3

Sebulan kemudian


Satria sudah mengurus berkas kepindahan Kinar untuk menuntut ilmu di Jerman dimana Ridwan tinggal dan sedang merintis rumah sakitnya yang baru disana beberapa tahun silam


Surat cerai pun sudah di kantongi Kinar, kini ia dan Dimas tidak memiliki hubungan apapun.


Kinar menatap akte cerainya, ia tersenyum kecut, kahirnya kini ia sah berstatus janda,, status yang untuk beberapa orang sangat memalukan, namun bagi Kinar itu pilihan.


Tak ada seorangpun mau menjadi janda, jika boleh memilih ia juga ingin punya keluarga harmonis seperti mama dan papanya, menikah sekali seumur hidup, namun takdir siapa yang tahu????


Kinar memasukkan lagi akte cerainya, lalu meleyltaknanya di tumpukan dokumen di kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di kasur, kamar yang kembali ia tempati lima bulan ini, besok ia akan bertolak ke Jerman, meninggalkan tanak kelahirannya, orangtuanya, afik-adiknya, dan pria itu, pria yang pernah Ada dalam hatinya, meninggalkan masa llaunya di sini.


Kinar menguatkan hatinya, ia harus bangkit, karena hidup terus berlanjut.


Masa lalu bukan untuk ia tatapi, tapi masa depan yang harus ia gapai.


Drtttttt, drtttttt, drttttt


ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Adam,


"Assalamu'alaikum, Kinar kamu sudah tidur?" tanya Adam


"Wa'alaikum salam, belum, kalau aku tidur gak mungkin juga jawab teleponku kan?" ucap Kinar membuat Adam tertawa kecil


"Iya juga sih, hehehe, by the way aku ganggu kamu gak??? aku di bawah, biasakan kita bertemu???" tanya Adam yang baru mengetahui rencana kepergian Kinar beberapa jam lalu, ia langsung melajukan kendaraannya menuju kediaman orangtua Kinar.


Adam memaki sahabatnya yang tak lain adalah adik Kinar Reyhan yang tidak memberitahukan kabar tersebut, justru ia tahu menjelang kepergian Kinar, Adam merasa gamang, ia kembali harus jauh dengan wanita yang ia cintai, atau haruskan ia menyusul Kinar????


"Oh baiklah, Kinar akan segera turun" ucap Kinar merapihkan rambutnya, ia mengikat tinggi hingga lehernya yang jenjang terekspose


Kini wajah dan tubuh Kinar terlihat lebih fresh, berbeda sekali ketika ia menikah dengan Dimas, mungkin karena ia tak merasa tertekan lagi dan ia merasa jiwanya bebas kembali.


Kinar bukan orang yang menuntut kesempurnaan, sehingga ia memang jarang merawat diri ke salon atau dokter kulit, namun Anggi dan Aisya memaksa Kinar untuk perawatan dan ibu anak itu melakukan perawatan bersama,


Satria sengaja menyuruh istrinya untuk menghabiskan banyak waktu dengan Kinar, agar Kinar lupa akan masalahnya dan kesedihannya.


Bagaimanapun kedua orangtuanya tahu bahwa kinar terluka karena perceraiannya, hanya saja sepeti biasa, putrinya itu tidak pernah menampilkan emosinya, Kinar menutup rapat-rapat perasaanya dan berusaha tegar


Adam terlihat sedang berbicara dengan Reyhan, keduanya terlihat sangat akrab walau usia mereka terpaut jauh


"Bro gue tinggal dulu ya, tuh kak Kinarnya udah datang" ucap Reyhan menepuk punggung Adam


Adam menatap kedatangan Kinar tak berkedip, sementara jantungnya berdetak dengan kencang, terlebih melihat senyum Kinar,ia semakin gugup.


"Ya Allah cantiknya wanita impianku, semoga Allah membukakan hatimu untukku Kinar, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu dan menantimu" ucap Adam tak berkedip menatap Kinar


Kinar menatap sahabat kecilnya itu, walau pria itu pernah menyatakan cintanya, namun entah mengapa di dalam hati Kinar, ia menganggap Adam sebatas teman, entah kapan perasaan itu bisa berubah, Kinar tak tahu.

__ADS_1


Namun ia juga merasa tak enak jika Adam berharap lebih padanya, jujur Kinar sangat merasa nyaman berada di dekat Adam, tapi apakah rasa nyaman cukup membuatnya menerima Adam??? bahkan rasa cinta pun tak pernah bisa mengekang suatu hubungan.


"Hai mas Adam, sudah lama???" tanya Kinar malu-malu ia menunduk karena malu ditatap Adam yang tak berkedip


"Ah, baru kok, baru beberapa menit yang lalu" ucpa Adam gugup


"Oh" ucap Kinar singkat


"Kata Rey kamu akan meneruskan kuliahmu yang tertunda???" tanya Adam membuka percakapan


"Iya mas, aku harus melanjutkan hidupku, aku ingin mengejar cita-citaku yang pernah kandas" ucpa Kinar tersenyum kecut, jika saja ia meneruskan kuliahnya mungkin saja ia sudah di akhir pendidikannya dan mendapat gelarnya


"Apa harus ke Jerman???" tanya Adam lirih


"Apa mas???"


"Mengapa harus ke Jerman??? mengapa gak ketempat lain atau meneruskan disini?????”


"Itu....., papa yang mengatur" ucap Kinar kemudian


"Ku bisa menentukan sendiri, maaf aku tak sopan" ucap Adam yang menyadari jika ucapannya tak pantas


"Aku ingin konsentrasi mengejar impianku mas, dan Jerman adalah tempat yang menurutku sesuai, di samping memang bagus, aku ingin papa dan mama berhenti khawatir denganku, disana ada kakek Ridwan, beliau akan menjadi orangtua kedua ku, sehingga mama dan papa disini bisa tenang, di samping itu, disana aku belajar melupakan semuanya"


"Aku akan rindu kamu" ucap Adam lirih yang masih bisa di dengar oleh Kinar


"Apa mas????" tanya Kinar pura-pura tak mendengar


"Mas, teknologi modern sekarang, kita bisa telepon atau video call" ucap Kinar tersenyum lebar


"Apa tak apa aku akan gangguin kamu kapanpun" ucap Adam


"Tentu, jik akau tka sibuk, kita akan berbicara panjang lebar"


"Aku pegang ucapan mu"


"Tentu" ucap Kinar


"Jadi besok jam berapa kamu berangkat???" tanya Adam yang khawatir Kinar harus istirahat lebih awal


"Jam tujuh mas, aku akan jalan jam tujuh pagi"


"Aku akan mengantarmu" ucap Adam cepat


"Jika kau tak sibuk tentu saja, lagi pula aku akan menghabiskan beberapa tahun di sana, aku akan merindukan sahabat terbaikku" ucap Kinar menggenggam tangan Adam


"Kapan ku bisa menganggap mu bukan sekedar sahabat kina???? apakah perasaanku padamu tak cukup membuatmu mencintaiku dan merubah sahabat jadi kekasih????" teriak batin Adam mendengar ucapan Kinar

__ADS_1


melihat raut wajah Adam yang murah, Kinar tahu jika Adam kecewa saat ia mengatakan sahabat, namun ia tak mau memberi harapan kosong, ia tak mau Adam berharap lebih padanya, sementara ia sendiri tak yakin.


"Aku akan merindukan pria sepertimu yang membuatku nyaman, kau yakin siapapun yang menajdi pendamping kelak akan beruntung mendapatkan mu" ucap Kinar kemudian.


"Aku harap wanita itu kamu, aku tahu kamu belum bisa menerimaku, tapi aku tak akan menyerah, aku akan menunggumu sampai kau bisa menerimaku" ucap Adam lirih


"Mas itu... aku tak berani berkata apapun atau menjanjikan apapun, tapi terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini mas" ucap Kinar berbinar


"Tak perlu berterima kasih, cukup terima aku" canda Adam lalu ia tertawa, ada nada sedih di tawanya


"Baiklah princess selamat istirahat, aku akan kembali ke sini besok pagi, mimpikan aku" ucap Adam mengecup kening Kinar, ia lalu pamit pulang setelah mengucapkan salam.


Kinar mengantar Adam sampai pintu keluar, i. masih berdiri menatap mobil Adam yang keluar dari gerbang rumahnya, menatap langit malam yang berbintang


"Semoga Allah memberimu wanita yang hebat seperti u mas, aku tak pantas untukmu" ucap Kinar lirih


"Apa nak Adam sudah pulang sayang??? tanya Satria yang entah sejak kapan berada di belakang Kinar


"Aduh papa bikin kaget aja" sungut Kinar membuat Satria tertawa


"Cie yang kaget, kamu aja terlalu fokus liat mas arjuna nya pulang, jadi papa datang ga tahu deh"


"Ih papa sok tahu, siapa juga yang Arjuna, mas. Adam cuma sahabat kecil Kinar pa"


"Sahabat menikah banyak loh sayang" sambar Anggi yang muncul dari balik pintu


"Ya ampun mama nyaber aja kaya bensin" ucap Kinar yang di goda kedua orangtuanya


"Mama sama papa tahu kalau Adam menyukaimu, apa kau tidak bisa membuka hatimu untuknya nak???" tanya Satria menatap putrinya


"Papa???" senggol Anggi yang tak mau anaknya tersinggung


"Kinar belum berfikir ke sana pa, ma.


Biarkan waktu yang menjawab, jika mas Adam jodoh Kinar maka kami suatu saat akan bersatu, tapi untuk saat ini Kinar hanya merasa nyaman dengan mas Adam"


"Cinta bisa timbul dari rasa nyaman ya kan pa??" tanya Anggi meminta pendapat suaminya yang di balas anggukan Satria


"Tapi Kinar gak mau memberi harapan yang nantinya membuat mas Adam kecewa, biarkan semuanya berjalan apa adanya"


"Papa setuju dengan kamu nak.


jangan memberi janji dan harapan yang tak bisa kau tepati" ucap Satria yang di balas anggukan anak dan istrinya


"Lihat pa, sudah lama kita gak menikmati pemandangan malam dari teras depan begini,"


"Iya ma, sepertinya makan pisang goreng enak nih" ucap Satria memberi kode keras istrinya

__ADS_1


"Huh papa bilang aja mau makan pisang, pake alasan" ucap Anggi cemberut,


"Kinar yang buat ma, mama tunggu di sini sama papa aja" ucap Kinar lalu bangkit, ia membiarkan kedua orangtuanya menikmati indahnya malam berduaan tanpa gangguan


__ADS_2