
"Bisa dibilang begitu.
Kecelakaan ibu menurut mas tidak wajar,
Mas menemukan jika kuku tangan ibu patah dan ada luka di tangan ibu bukan hanya satu, sepertinya ibu terjatuh karena memperebutkan sesuatu.
Setelah mas periksa, ada sesuatu yang hilang dari tas ibu"
"Maksud mas ?? apa sesuatu yang hilang itu berharga mas?? tolong jelaskan , jangan membuatku mati penasaran" ucap Damar tak sabaran.
Dibandingkan dengan Dimas, Dendi lebih dekat dengan Damar, karena damar tetap menganggap ia kakak walau pada kenyataanya ia hanya anak angkat Mariska.
"Sebuah amplop berisi bukti-bukti kejahatan seseorang, dan...”
"Tunggu, tunggu, jadi maksud mas mama pergi ke mall itu bukan buat belanja??? melainkan menemui seseorang atau tepatnya berunding dengan seseorang dan bukti di tangganya adalah sesuatu yang akan membuat orang itu tak berkutik????”
"Tepat” ucap Dendi memuji kecerdasan adiknya
"Mama selama ini tidak punya musuh, tapi ada seorang yang membuat ia tak tenang, apa ini ada kaitannya dengan Bella??" tanya Damar mulai membaca situasi
"Seperti dugaan mu, "
"Kalau benar wanita ini, kita harus menjebloskan dia ke penjara.
Dia mungkin lolos saat membawa kabur uang pernikahan, namun tidak kali ini.
Apa bukti yang di rebut Bella kita masih punya duplikatnya?" tanya Damar penuh harap
"Tentu saja, ibu tak akan gegabah, hanya saja bukti foto USG dan keterangan bayi yang di kandung Bella saat ini, hanya satu” Dendi menyesal lupa menduplikat nya
"Itu bisa kita cari akal untuk mendapatkannya, hanya saja kita sekarang perlu bukti bahwa Bella pelakunya.
Aku sudah mengirim anak buahnya ke area TKP dan akan segera dapat informasi dalam beberapa jam "
"Aku sangat yakin wanita. itu adalah Bella, dan aku tak akan melepaskannya begitu saja kali ini" ucap Damar mengepalkan tangannya geram
Seminggu Kemudian
Sejak selesai operasi hingga saat ini, Mariska belum juga tersadar, ia masih koma, membuat seluruh keluarga diliputi rasa sedih.
Yang paling menyesakkan adalah, mereka tidak mempunyai bukti keterlibatan Bella, karena Bella memilki alibi kuat, jika selepas bertemu dengan Mariska, ia langsung melakukan perawatan di salon dan keterangannya di dukung bukti kuat dari petugas salon.
Kamera pengawas pun tak bisa membantu banyak, karena di tempat kejadian tak tersedia kamera pengawas, hanya bagian luar, itupun tak membantu karena baik Bella maupun Mariska tidak tertangkap kamera pengawas saat keluar dari lift di lantai itu, dimana kamera pengawas di lantai itu rusak.
"Sial, sudah seminggu mama koma, dan kita tidka mendapat bukti akurat keterlibatan Bella” Dengus Damar kesal
__ADS_1
"Sabar, jangan salah bertindak, lebih baik kita perketat penjagaan mama, karena mama adalah saksi kunci kecelakaan itu, jangan sampai...."
"Aku mengerti, seseorang jika terdesak akan melakukan hal yang di luar nalar, termasuk membunuh mama. Aku akan berjaga disini" ucap Damar.
"Kita bergantian saja, aku tak mau kuliahmu terganggu"
"Baik kak" ucap Damar lirih
Sementara di tempat lain
Dimas sedang melamun di ruang kerjanya, sejak pertemuan tak sengaja nya dengan Bella dir umah sakit, membuat ia tak tenang.
Ditambah kondisi mamanya belum menunjukkan perkembangan, hatinya masih sangat khawatir.
Pekerjaannya Dimas di kantor jadi berantakan dan ia jadi uring-uringan dan mudah marah.
Kelvin sudah mengetuk ruangan Dimas, namun tak terdengar jawaban dari dalam , sehingga Kelvin langsung masuk tanpa menunggu jawaban.
Dilihatnya Dimas sedang termenung sambil menyangga dagunya, Kelvin menghela nafas, ia tahu jika saat ini Dimas sedang banyak pikiran
"Ehem" Kelvin berdehem membuat lamunan Dimas buyar
"Astaga kau membuatku jantungan" ucap Dimas terkejut, sementara Kelvin dengan santai duduk di sofa tak perduli umpatan Dimas yang terkejut.
”Tidak, kondisi mama belum stabil, akan sangat berbahaya memindahkan perawatan mama saat ini.
Dan sampai saat ini aku belum mendapatkan kejelasan kasus mama murni kecelakaan atau memang ada orang yang berbuat jahat pada mama, tapi siapa????
Mama tidak punya musuh" ucap Dimas seolah
"Terkadang musuh tak terlihat , siapapun bisa jadi musuh, bahkan orang terdekat kita bisa menjadi musuh kita”ucap Kelvin menyindir Dimas, namun Dimas bukan type yang peka terhadap sindiran, ia lebih ke orang yang berterus terang
Kelvin sebenarnya sudah mencurigai Bella sebagai pelaku, di tampak ketika bertemu dengan Damar dan Dendi, ia mengetahui jika Mariska sebelum kejadian bertemu dengan Bella, hanya saja sialnya kamera pengawas yang mengarah ketempat kejadian rusak, sehingga bukti tidak di dapat.
"Kelv, gue mau ngomong sesuatu, gue minta pendpaat loe” ucap Dimas lirih , ia seolah segan menatap Kelvin saat bicara membuat Kelvin mengerutkan dahinya
"Tumben banget di kantor loe bahas masalah pribadi" ucap Kelvin santai, Dimas langsung memandang wajah Kelvin, sahabat nya ini seperti paranormal yang serba tahu
Setelah menghela nafas Dimas meneruskan ucapannya
"Jika suatu saat loe nikah, dan pernikahan loe mencintai istri loe, namun karena suatu kesalahan, loe making love sama wanita yang harusnya loe jauhi, dan wanita itu hamil, apa yang akan loe lakukan???" tanya Dimas gelisah takut Kelvin bisa menebak siapa wanita yang di maksud
"Gak melakukan apa-apa, kan itu insiden. tapi jika wanita yang making love sama gue masih virgin dan gue dan punya istri walau gue mencintainiatri gue, gue
tetap harus tanggung jawab sama wanita itu, dengan catataan wanita itu wanita baik-baik, bukan wanita yang hanya memanfaatkan gue.
__ADS_1
Ya loe kan tau sendiri bro, di luaran sana banyak banget wanita yang dalam tanda kutip.
Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka dan akan menyingkirkan sesuatu yang dianggap mengancam rencananya"ucap Kelvin panjang lebar, sementara Dimas hanya mengangguk-angguk
"Gue cuma mau bilang satu hal, jangan membuat keputusan yang akan loe sesali seumur hidup loe.
Rumah tangga loe terlalu berharga untuk di korbankan demi sesuatu yang tak pasti" ucap Kelvin bangkit
"Loe mau kemana Kelvin???" tanya Dimas yang melihat Kelvin bangkit
"Gue mau kerumah sakit" ucap Kelvin cuek langsung keluar dari ruangan Dimas, Dimas menyambar jaket dan kunci mobilnya
”Kelvin tunggu, gue ikut loe” teriak Dimas yang sudah melihat Kelvin di depan lift
Mereka lalu beriringan menuju rumah sakit tempat Mariska di rawat kali ini Kelvin tidak berminat satu mobil dengan Dimas,
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruang perawatan Mariska, disana ada Dendi yang baru sampai dan Damar yang ingin pulang karena semalam ia yang bertugas jaga
"Bagaimana perkembangan mama?" tanya Dimas pada adiknya itu
"Belum ada perubahan kak, Kakak coba temui dokter, bagaimana tindakan yang harus kita lakukan" ucap Damar pada Dimas
"Baiklah, kau pulanglah istirahat, ah lebih baik pulang kerumah Kakak saja biar kakak ipar mu memasakkan sesuatu untukmu, kulihat wajahmu pucat" ucap Dimas untuk pertama kalinya ia terlihat perhatian tulus pada Damar, biasanya ia cuek dan tak perduli
"Aku tak mau menyusahkan kak Kinar, dia sedang hamil, pasti dia saja sulit mengurus dirinya dengan perut yang sudah mulai membesar"
"Ah iya juga, pulang kerumah mama saja kalau begitu.
Aku tinggal” ucap Dimas langsung melangkah pergi meninggalkan mereka menuju ruang dokter.
"Bagaimana ada perkembangan???" tanya Kelvin yang melihat Dimas sudah pergi
"Belum, masih buntu" ucap Kelvin menghela nafas kecewa
"Tapi aku mau kasih tahu kalian satu hal, sepertinya Dimas sudah kemakan umpan Bella, entah apa yang akan terjadi jika dia meneruskan rencananya, walau sudah ku nasihati, ia pria yang susah sekali di beritahu, dan kalian semua tahu itu"
"Maksud kak Kelvin??? Kak Dimas berfikiran untuk menikahi Bella karena kehamilannya????" geram Damar
"Entahlah, sepertinya, dia tidak mengatakan secara gamblang, tapi aku menangkap maksudnya"
"Kita harus menggalakannya, kita perlu bukti karena tanpa bukti, Dimas tidak akan percaya, kakakmu hanya percaya segala sesuatu dengan bukti konkrit, bukan ucapan.
Kecuali sebelum ia bertindak, ibu terbangun dari komanya dan menceritakan kebenarannya" ucap Dendi dengan wajah tegang
”Semoga saja" ucap Kelvin lirih, sementara Damar larut dalam pikirannya sendiri, Damar tak akan pernah memaafkan Kakaknya jika sampai Dimas menyakiti Kinar, ia bersumpah dalam hati.
__ADS_1