Kinar Istri Bayangan

Kinar Istri Bayangan
Serangan Jantung


__ADS_3

Rahang Marwan menegang seirieng mendengar cerita putrnaaya, sedangkan tangannya mengepal kencanng, hingga ia menggebrak meja kerjanya.


Merah padam sudah wajahnya menahan marah.


"Jadi begitu pa ynag terjadi pad Adrian, ia membantu kakak menjadi antek kebohongan akrena terpaksa di dera rasa karena beretrima kaish pada keluarga kita, tapi batinnya meronta" ucap David menggeleng samar


"Papa ternyata salah selama ini, papa gagal nak, semua yang terjadi ada andil papa di dalamnya, semua karena papa terllau memanjakan kakakmu itu.


Papa berfikir jika kasih sayang ynag appa berikan untuk menghapus traumanya karena kehilangan papa kandungnya, nyatanya justru kasih sayang Marwan membentuk karakter Bella yang sekarang ini, Marwan sangat menyesal, ia menangis lirih


"Jadi waktu kamu menjemputnya di bandara??? bukan kamu tak bisa menemukannya kan???" tanya Marwan pada David. David mengangguk dan mulai menceritakan semua. mendengar kenyataan bahwa putranya tak salah apa-apa hati Marwan sakit, selama ini ia sudah bersikap tidak adil pada putranya-putrinya


"Apa yang harus kita lakukan pa??? jika membiarkannya kakak akan semakin berulah, sepertinya ia butuh psikiater, David menduga jika saat ini saja dia berani bertaruh nyawanya sendiri, tidak mungkin di kemudian hari ia bisa menyakiti orang sekitarnya demi ambisinya, berbahaya


"Papa mengerti, sementara jangan sampai mamamu tahu, papa khawatir dengan kesehatannya, walau terlihat cuek, papa tahu mamamu sangat khawatir dengan keadaan kakak mu"


"Iya pa. David mengerti.


Apa yang harus kita lakukan pa?? jika telat sedikit saja wanita itu akan di penjara untuk kesalahan yang tidak dia lakukan"


"Beri papa waktu berfikir, papa akan melakukan yang terbaik demi kakakmu dan kelurga kita. Kamu istirahat dulu, hari sudah malam" ucap Marwan lirih


"Baik pa, papa juga istirahat, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam" ucap Marwan menatap punggung anaknya yang keluar dari ruang kerja


"Kenapa kamu jadi seperti ini nak??? papa bener-benar sedih mendengar ini" ucap Marwan menarik rambutnya frustasi


Keesokan harinya


Adrian memberikan bukti kehamilan Bella, David yang tak mengerti istirah kedokteran mengerutkan alisnya bingilung melihat hasil USG di tangannya.


"Itu adalah usg anak Bella, usia kandungannya empat Minggu lebih awal dari dia berhubungan dengan pria bernama Dimas, dengan kata lain saat berhubungan sebenarnya Bella sudah hamil anak pria lain"

__ADS_1


"Jadi Bella.sengaja memanfaatkan kehamilannya untuk menjebak mantan kekasihnya menikahinya begitu???" tanya David lalu mengangguk pelan


"Lalu ini??" tertera hasil laboratorium mengenai kesehatan Bella


Adrian terdiam lama lalu kemudian menghela nafas


"Waktu di Paris, Bella menjalani operasi kanker, rupanya dalam beberapa bulan ini kankernya aktif kembali"


"Saat ia hamil???astaghfirullah" ucap David terkejut


"Ya, sahabatku sudah menyarankan ia mengugurkan kandungannya demi keselamatannya, karena jika sel kanker seterlah operasi masih begitu aktif hanya hitungan bulan, di khawatirkan itu kanker ganas"


"Astagfirullah ini pasti berat untuk kak Bella, ia harus kehilangan ank yang ia sayangi, pilihan sulit" gumam David liirh


"Kamu salah" sangkal David menggeleng cepat


"Maksud loe?” cecar David


"Innalilahi, ya Allah kak Bella.


Aku sungguh enggakemgerti jalan pikirannya"


ucap David menghela nafas sambil mengelus dada dengan tingkah kakak tirinya itu


"Sekarang apanyang akan kita lakukan???" tanya Adrian"


"Kita harus membicarakan ini dengan papa,segera" ucap David lalu menemui papanya yang saat ini sedang berada di kantor


David dan Adrian langsung menuju kantor dimana papa Marwan bekerja. Tanpa mereka sadari, seorang wanita paru baya mendengarkan percakapan mereka, setelah keduanya pergi, wanita itu nangis dengan kerasnya


"Astaghfirullah , ya Allah ampuni hamba.


ini semua kesalahan hamba sampai putri hamba seperti itu, huhuhu" Heny memegangi dadanya yang terasa sesak,

__ADS_1


"Ma, mama kenapa??? kak David, mas Adrian toloooong" teriak Melia yang tidak tahu jika kedua kakak dan kakak sepupunya itu sudah pergi keluar


"mbok Iyem mbok, tolong mama mbok" teriak Melia sudah bercucuran air mata melihat mamanya mendelik sulit bernafas sambil memegangi dadanya


Mbok Iyem langsung memanggil pekerja pria di rumah tersebut, mengangkat tubuh nyonya besarnya ke mobil, sementara mbok Iyem di kursi penumpang ,Melia langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Heny langsung ditangani oleh team doktor, sementara Melia terduduk lesu tak bertenaga, masih menyisakan Isak tangis, disebalahnya mbok Iyah yang berusaha menenangkannya.


Karena Melia yang shock, mbok Iyem lah yang mengabari tuan besar nya


Empat puluh menit kemudian Marwan , David dan Adrian datang, wajah mereka terlihat tegang.


Melia langsung memeluk papanya begitu Marwan sampai dokter keluar dan mengabarkan jika Heny sudah melewati masa kritisnya, serangan jantung dadakan.


Arwan mengusap wajahnya kasar, ia merasa tertekan, masalah Bella, kini kesehatan istrinya


"Mama tadi berteriak kak Bella sambil terus beristighfar, Melia gak tahu ap yang terjadi pa" adu Melia kini sudah sedikit tenang


Marwan menatap keponakan juga anaknya, menduga jika Heny mendengar sesuatu dari mereka.


Melia pulang sama mbok ya, biar papa sama.kakakmu juga om mu yang menunggu disini"


"Gak pa, Melia mau jaga mama" ucap Melia kekeuh


"Gantian sayang, biar sekarang kami yg menjaga, nanti sorean papa pulang kok, Melia besok bisa jaga mamamu siang harinya" ucap Marwan lembut, akhirnya Melia menurut, mbok Iyem membawa putri bungsu majikannya pulang.


Kini tinggal mereka bertiga


"papa sudah punya solusi,"ucap Marwan tiba-tiba, ia membisikkan sesuatu pada David dan Adrian


"Saya setuju om," ucap Adrian


"Aku juga pa, itu lebih baik" ucap David.

__ADS_1


__ADS_2